PKS – Perjanjian Kerja Sama vs Perjanjian Kerja Suara – Part 1

“Pokoknya nanti, elo akan kerja dengan dinamika yang sangat tinggi. Elo pasti akan suka”.

Obrolan ini terjadi di sebuah resto di kawasan PIK sana, di hari minggu dan matahari sedang terik-teriknya menyinari dataran jakarta utara dan sekitarnya.

Anyway, familiar nggak dengan kalimat ini? well, ini yang gue alamin ketika dihire oleh sebuah perusahaan yang bergerak di industri teknologi informatika. (Bahasanya di-hire, hahahhaa, kebagusan ye? Yawes, biar lebih keren dan terlihat matching, gue gunakan istilah di-hire). Lanjut…!!!

Gue sebenarnya ogah posting tulisan ini, karena terlalu personal banget buat gue. Tetapi, gue mau ulas pengalaman ini agar menjadi cermin buat para junior gue yang tengah berjuang mencari pekerjaan di Jakarta atau di mana pun, agar pola pikirnya kepakek dan bener-bener rasional. Apalagi dalam mencari pekerjaan ini ada sangkut pautnya dengan persahabatan.

Pertemanan seseorang dengan pribadi yang lain sangat diuji banget, kadang-kadang. Ujiannya meliputi sebagian aspek bahkan seluruh kehidupan. Dan gue mengalami (lagi) phase ini. Jadi ceritanya, gue sedang hunting posisi di perusahaan-perusahaan di Sudirman yang memungkinkan mengangkat gue jadi staff mereka. Dengan jejak pengalaman yang gue punya – enggak perlu gue pamerin CV gue ya, hehehe – cukup acceptable-lah untuk diangkat jadi staff baru mereka. Namun begitu, sebagus apapun CV yang gue punya, selalu kalah bersaing dengan permainan channel orang dalam. To be honest, I’m sick of it. Tetapi, galah kesempatan selalu gue lontar dan tancapkan. Berkali-kali.

Nah, ketika dalam proses berupaya untuk mendapatkan posisi baru dan meninggalkan posisi lama di kantor yang lama, sebuah tawaran datang dari seorang teman akrab yang kebetulan juga dari Bali. Gue kira hubungan pertemanan kami hanya berlanjut dalam platform BBM, Whatsapp, Facebook or LINE. Nyatanya berlanjut sampai sekarang. Singkat kata, ketika ada kesempatan gue bercerita sama temen gue ini – oh ya, nama temen gue ini namanya Cika (bukan nama sebenarnya) – bahwa gue sedang akan pindah dari kerjaan lama. Dengan alasan, gue sudah jenuh dengan status karyawan outsourcing. Dan gue sempat utarakan juga bahwa kontrak kerja gue akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan, tepatnya akhir Agustus 2016.

Obrolan kami berlanjut hanya di LINE saja. Diskusi berbagai hal dan mengulang memori kenangan tentang masa-masa kami sekantor dulu. Dan hingga akhirnya, part obrolan kami seperti ini.

She : kamu di sana udah berapa lama?

Me : x tahun.

She : dapat berapa kamu di sana?

Me : xxx sekian

Yak, dan panjang lagi pembahasan kami. As a bitch friend – jangan diartikan dengan makna lain yeee – , maka obrolannya pun akan ngalor ngidul seperti itu. Hehehe. Membahas kedongkolan kerjaan masa lalu, masa-masa di mana kami ngamen bareng lintas kota, gimana galau-galaunya Cika dengan cowok sebelumnya bahkan bela-belain nelpon malam buta hanya untuk gue perdengarkan tangisan galaunya itu. Yes, hanya karena cowok. She really love that asshole boy friend. Selang beberapa hari, gue mendapati chat yang lain dan berkesan angin surga banget. Yeah right, ke surge aja gue belum, ini  sok-sokan memberi ungkapan angin surga. Hahaha.

Di hari minggu awal Agustus, gue diundang makan bareng. Dan akhirnya bisa ketemu juga dengan Cika ini, setelah beberapa kali hanya sekedar wacana dan (sempat) di-php-in juga untuk ketemuan. Temen baik aja masih suka PHP-in ya? Apalagi orang lain yang baru kenal. Noted to my self, kala itu. Ibu kota dengan segala lingkungan yang dinamis, dapat saja mempengaruhi seseorang berubah menjadi lebih baik atau menjadi semakin buruk. Dan gue sempat mengecap Cika ini, sedikit berubah. Hmmm, I think I’ve skip this part, sebelum ada pertumpahan darah. Hahhaa.

 

Back to story. Jadi, awalnya di Setiabudi One – my choice, lebih dekat dengan – dan karena repot dengan urusan parkir, Cika ngabarin gue untuk keluar dari gedung dan ke seberang jalan arah ragunan. Tempat makannya di Kemang aja, katanya. Ya sudah, sebagai yang diajak makan, gue nurut-nurut aja deh.

And here we go. Apa yang dibahas di salah satu resto di Kemang itu adalah sebagai obrolan pembuka dan memperkenalkan diri antara gue dan calon suaminya Cika. Walau sebenarnya, basa basi sudah terjadi di dalam mobil. As stranger and outsider, gue hanya mengiyakan dan ketawa sekedarnya selama di mobil dan mengurangi kadar SKSD dengan calon suaminya Cika. By the way, namanya Didit and his name is alias. Teteup pakek alias untuk menjaga privasi orang. Ya kan, Mas Didit?

Selama obrolan hangat kami yang mengulas tentang pekerjaan dan mengenai pribadi masing-masing dan sembari mengunyah daging terenak di dunia yang dihidangkan oleh pihak resto, gue diberikan ruang untuk mengenal karakter Mas Didit ini.

 

“Jadi ya, bok, lakik eyke ini orangnya galak, tapi asyik dan baik. Nanti santai aja ya, jangan tegang.” Demikian briefing yang gue terima sebelum pertemuan ini dan memang seperti yang diceritakan oleh Cika. Dan di gue sendiri ada sedikit rasa segan. Kalau ketemu orang kayak gini, pasti crangky abis berurusan dengan details. Dan karena dalam rangka berkenalan dengan calon bos, maka gue nggak boleh berpikiran yang tidak-tidak bukan? So, I did. Oh wait, kalau masalah fisik, si Mas Didit ini tinggi-lah, pantesan si Cika  betah, bisa dipanjat banget Mas Didit. Dalam bahasa kekinian, panjatable.  Yes, artikan sendiri maknanya ya.

Makanan yang dipesan kloter pertama tuntas dan setengah porsi kloter kedua terpaksa dibawa pulang karena masing-masing perut kami sudah tidak mampu menampung potongan daging ini. Obrolan tiga jam kurang di resto ini cukup memberikan gambaran, tentunya dari pihak Mas Didit sudah mengetahui potensi gue ini

Dalam perjalanan pulang, akhirnya muncul obrolan mengenai peluang bekerja di Company Mas Didit ini.

“Gue butuh orang yang bisa memvisualkan gagasan gue ke dalam suatu bagan atau animasi. Company gue memang membutuhkan orang-orang kreatif. Orang-orang yang dapat menuangkan gagasan gue ke dalam satu proses yang dapat menghasilkan….(panjang bener bahasannya, so teknikal. Jadi anggap aja Mas Didit lagi berceloteh ya)…Dan menurut gue, elo itu kreatif karena sudah menghasilkan buku, dan Cika juga sudah cerita gimana elo selama ini.

Oke, gue hanya menyimak aja obrolan itu tanpa merespon apa-apa selain kalimat pendek “oh begitu”. Jujur saja, yang gue tangkap waktu itu paham dan gue banget kayaknya. Berbekal pengalaman kerja yang gue punya, tentu untuk hal yang dijabarkan oleh Mas Didit, gue mengerti banget. Hanya saja, ada part yang belum gue klik sama posisi pekerjaan yang dimaksud oleh Mas Didit ini.

Kelanjutan cerita ini? Nanti ya, setelah gue selesai ngucek cucian yang udah lama gue rendam dari kemarin. To Be Continue dulu…

 

Iklan

#Lembaran #Baru #2017

Masih segar dalam ingatan gue, hingar bingar perayaan pergantian tahun baru berupa letupan cahaya warna warni di langit Jakarta dan sekitarnya, semalam. Meriah. Begitu riuh menggelegar dengan bentuk dan ukuran yang beragam.

fireworks

Begitu meriah di atas sana. Di berbagai sudut langit penjuru mata angin, suara gemuruh saling bersahut-sahutan malam itu, menandakan bahwa lembaran 2016 berakhir dalam hitungan beberapa jam, disusul beberapa menit dan sang detik mengambil tempatnya, mulai menghitung mundur…

10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1…

ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one…

*count down yang sama dalam berbagai bahasa di belahan bumi manapun*

Dan di bawahnya, ada ribuan pasang mata yang menatap penuh harap, penuh keikhlasan, penuh kebanggaan terhadap pencapaian yang telah direngkuh selama kurun waktu 366 hari di tahun 2016.

Tidak serta merta, hal-hal baik saja berlalu di tahun ini. Hal-hal baik yang mendatangkan akibat bahagia yang tidak terukur beratnya, penyebab gelak tawa yang tidak dapat diukur berapa harganya, atau hanya sekedar sunggingan kecil di wajah penuh arti. Namun, tidak ada salahnya hal-hal buruk yang mengendap, berlalu begitu saja atau timbul kepermukaan, ketika kesempatan mengingat hal-hal buruk itu menggoda pikiran, keberadaan mereka diakui sebagai bagian dari kisah harmoni selama 2016.

Mungkin, ada bentuk kekecewaan tersedak dan terdesak oleh waktu….

Mungkin, barisan rindu bertuan maupun tidak merapatkan barisan masing-masing untuk tetap di tempatnya…

Mungkin, penantian yang diharap akan segera berakhir, harus menunggu tanpa kejelasan entah sampai kapan…

Mungkin, ada beberapa rasa mungkin yang tidak dapat diuraikan dalam kalimat sederhana

Mungkin, ada harapan sederhana…tidak ingin hidup sendiri lagi

Mungkin, ada harapan jangka pendek, ciuman acak dengan orang asing di malam pergantian tahun baru…

Apapun bentuk mungkin, masing-masing pemilik pasang mata malam itu, memiliki harapan yang sama : menjadi lebih baik.

Pergantian tahun tidak ubahnya seperti membuka lembar baru dalam sebuah buku baru dengan tebal halaman sebanyak 365 halaman. Lembar-lembar putih polos ini siap untuk tuliskan kisah-kisah apapun yang ingin tertulis di setiap lembarnya, sesuai dengan apa yang diinginkan si penulisnya. Setiap orang sebagai penulisnya, kuasa kisah yang akan tertulis berada di tangannya sendiri,  yang didukung dan melibatkan : keputusan dan kesempatan.

Selamat tahun baru 2017.

#DAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga Belas

Tidak ada sisa menit yang terbuang sia-sia. Setidaknya untuk enam bulan yang lalu. Aku dapat dengan cepatnya memanfaatkan waktu untuk mencapai apa yang aku rasa dan wajib dicapai setiap harinya. Bagiku, waktu adalah sahabat yang mengerti apa yang aku mau – bahkan minuman soda yang termasyur itu jelas kalah saing – dan lebih dari sekedar sahabat, waktu menuntunku untuk sadar lebih realistis. Realiatis tentang peran kesadaran.

Aku mengerti dengan klimaks, bahwa waktu tidak dapat dikompromi. Sehingga, kesepakatan kami waktu itu adalah aku dan waktu berkelana setiap hari, menyelesaikan setiap puzzle acak yang akan menentukan kehidupanku selanjutnya. Waktu mengajarkan cara untuk berpikir taktis terhadap keping godaan Sale dengan digit angka fantastis. Waktu juga mengajakku untuk melihat lebih jauh lagi bagaimana memantik semangat yang meredup. Dan waktu menjawab, betapa cukupnya tabungan sabar yang aku miliki selama ini. Dan waktu yang menyadarkan, bahwa kamu mengibakan orang lain bukan karena cinta.

Dan benar, waktu dengan sengajanya menghardikku. “You waste my power to build a shit of your shit. Stop it, pal”. Deru jantung mungkin tidak sekencang gemuruh roda besi kereta di landasan rel sepanjang sudirman-kota, namun iramanya yang cukup mengganggku. Apakah iya, aku hanya membuang kekuatan waktu hanya untuk menikmati apa yang aku pegang saat ini?

#MembeliKenangan

One Upon time…

No, no, no. Enggak kayak gitu memulainya. Lets start in beginning.

Jadi begini, dalam perjalanan menuju tempat kerja – sebenarnya gue enggan menyebut tempat kerja itu sebagai kantor – dengan motor dinas yang dipercayakan kepada gue sebagai kendaraan dinas. Untuk pertama kalinya, gue sebagai pelaku kemacetan. Menyumbangkan satu motor ke balada macet ibu kota. Siap dihardik oleh orang-orang asing di jalanan karena tidak sengaja memotong jatah jalan atau menjadi objek klakson mobil-mobil mentereng mahal, SUV atau mobil LCGC (bener nggak sih nulisnya?). Jika kebetulan sedang beruntung, gue akan mengalami yang namanya diserempet oleh motor atau mobil. Belum sesiap itu ternyata gue. Belum siap untuk menerima cercaan kalimat yang memuat penghuni Ragunan. Dan sekali lagi, gue belum siap untuk tua di jalan dengan menyetir kendaraan sendiri untuk menuju lokasi kerja. Gue belum siap. Namun, gue telah membeli kenangan dengan tindakan yang telah gue lakukan. Membeli Kenangan berupa rasa pegal akibat menyetir dan menghadapi macet di jalanan Ibu Kota.

Isitlah Membeli Kenangan ini bukan sekedar romansa cinta. Romansa cinta ada di dalam romansa hidup. Membeli Kenangan adalah keputusan yang dapat terjadi begitu saja, tanpa paksaan dari pihak ketiga. Membeli Kengangan pun dapat terjadi karena hasil menimbang, antara lajur positif maupun lajur yang berseberangan dengan positif itu sendiri. Misalnya, seperti keputusan seorang Ayah yang menghadiahi anak semata wayangnya yang telah berhasil meraih predikat terbaik di sekolahnya, berupa perjalanan liburan ke Disney Land dengan harapan bahwa si anak akan lebih memacu diri untuk lebih baik dan baik lagi dalam mencapai prestasi akademik di sekolah. Pun seorang pramusaji pria yang baru saja mendapatkan gaji pertama dan berencana akan membelikan adik perempuan satu-satunya sebuah boneka teddy bear sebagai sosok pengganti dan teman bermain jika si pramusaji sedang bekerja.

Kenangan dapat dibeli dengan selembar mata uang komitmen. Setelahnya, selembar nota konsekuensi tidak tertulis akan diterima nanti setelah proses pembelian ini sudah terjadi. Pembelian dapat terjadi jika hal-hal siap untuk ditukarkan. Topiknya berat ya? Hehehe. Coba gue sederhanakan dengan analogi yang lain.

Sebagai bagian dari manusia yang dihadapkan oleh begitu banyak pilihan-pilihan dalam hidup, gue sebagai pendatang dari pulau seberang yang mencoba adu nasib dan sedikit gambling dengan keadaan tempat yang tidak begitu asing bernama Jakarta, secara tidak langsung apa yang gue lakukan ini adalah Membeli Kenangan. Membeli biasanya melibatkan uang dan selalu bersinggungan dengan uang. Untuk apa yang telah gue sampaikan tadi, bahwa kedatangan gue ke Jakarta adalah dalam misi Membeli Kenangan. Jika dilihat dari perspektif gue, maka Membeli Kenangan yang gue maksud menukarkan mata uang komitmen berupa waktu dan ego gue yang begitu besar – well, actually, kadar ego manusia pada dasarnya sama, namun akan jadi berbeda tolok ukurnya ketika sesama manusia berhadapan dan menghadapi ego manusia lainnya – dan bukti pembelian kenangan yang sudah gue lakukan adalah selembar nota konsekuensi yang akan gue terima nanti. Lembaran ini tidak berwujud, namun hanya dapat dirasakan. Dan untuk saat ini, gue sudah menerima lembar nota konsekuensi ini dengan begitu puas. Begitu pun lembar demi lembar mata uang komitmen yang telah gue gelontorkan untuk mendapatkan lembar-lembar lain dari nota konsekuensi.

Berbicara mengenai Membeli Kenangan, ada sebuah potongan obrolan di armada Bus Way, rute Dukuh Atas – Ragunan, dan gue sedang perjalanan menuju rumah sewa daerah Mampang. Obrolan ini terjadi – FYI, obrolan ini hasil menguping diam-diam, hehe – melibatkan seorang perempuan berumur tiga puluhan yang bercakap-cakap di telepon genggamnya.

“Untunglah kemarin gue pas sakit, udah ada pegangan kartu rumah sakit. Lumayan banget keluar angka tagihannya pas gue intip bentar dari susternya. Dua digit, Ren. Dua Digit. Dan kayaknya, elo perlu juga deh. Buat jaga-jaga, Ren. Kayak beli payung di cuaca panas…”

Mengutip potongan obrolan tadi, maka dapat disimpulkan bahwa si Mbak yang pernah sakit telah Membeli Kenangan yang sangat berharga. Jika ia tidak memiliki kartu rumah sakit, itu berarti ia akan mengeluarkan dana yang mencapai dua digit dan akan menambah beban finansial si Mbak. Si Mbak telah menukar selembar komitmen untuk selembar nota konsekuensi. Lembar nota konsekuensi ini sudah dirasakan langsung oleh mbaknya.

Potongan obrolan tadi hanya sebagai contoh dalam hidup nyata bahwa Membeli Kenangan telah dilakukan di saat yang tepat dan didasari oleh pemikiran yang bijak. Setiap orang mempunyai cara berpikir taktis, rumit atau sederhana. Berdasarkan potongan obrolan tadi, si Mbak telah berpikir panjang secara taktis bahwa apa yang telah ia beli suatu saat akan berguna bahkan sangat menolongnya. Mempertimbangkan berbagai sudut panjang dengan pendekatan “bagaimana nanti kalau…”. Dan akhirnya terbukti. Kartu rumah sakit menolongnya ketika ia dihadapkan dengan kondisi sakit. Rasa dari Membeli Kenangan yang telah ia lakukan adalah kelegaan. Lega, akhirnya ia dapat sembuh dan ditangani dengan baik oleh jasa dokter, para suster dan staff rumah sakit tempat ia dirawat. Tidak ada perasaan khawatir bahwa ia akan mengeluarkan dana cadangan untuk menutupi biaya yang timbul selama dirawat di rumah sakit. Dan menjadi lega dan bahagia karena ia telah memutuskan keputusan yang tepat.

Kadang atau sering kali ketika memutuskan sesuatu dalam Membeli Kenangan, selalu kita sadari bahwa ketika lembar nota konsekuensi yang kita rasakan sangat menyakiti pikiran dan perasaan, yang tidak lain bahwa si sesal akan selalu datang belakangan untuk mendaftar (Candaan terkini yang mengatakan, penyesalan selalu datang terlambat, kalau datangnya tepat waktu namanya pendaftaran).Si sesal menghantui pikiran dan menyiksa perasaan yang dapat menimbulkan rasa bersalah yang sebenarnya tidak ada gunanya sehingga pada akhirnya, rasa bersalah yang mendera ini akan menyita waktu, emosi dan tenaga. Sekali lagi, keputusan Membeli Kenangan dapat didukung oleh kondisi yang kondusif atau bahkan sangat tidak ideal. Dan rasa kenangan yang telah dibeli itu akan terasa manis, pahit, asam, asin atau kombinasi rasa-rasa yang ada di dunia ini, tergantung bagaimana kita bertindak untuk memutuskan Membeli Kenangan itu, di saat yang tepat dan ideal atau tergesa-gesa atau dengan keterpaksaan. Apa pun rasa kenangan itu, lembaran mata uang komitmen selalu ada di tangan kita, namun siapkah kita menerima lembaran nota konseskuensi ketika Membeli Kenangan itu terjadi?

 

Menabung sabar dan usaha untuk mobil keluarga

“Bapak antar kamu ke airport ya?” beliau berujar menawarkan tumpangan ketika saya berkemas-kemas barang bawaan untuk esok harinya dibawa ke Jakarta – setahun yang lalu – dan kembali bergabung dengan para kalangan urban dan melanjutkan usaha dalam rangka membuat jadi nyata impian-impian yang dapat diwujudkan di kota besar itu. Just simple dream, earn more money, buat saya waktu itu.

Walau sebenarnya saya sangat berberat hati meninggalkan rumah – setidaknya menikmati suasana rumah selama lima hari dalam rangka merayakan hari raya Nyepi – seolah sudut hati yang lain ingin berontak dengan fakta yang sedang saya nikmati kala itu. Bapak yang sudah berumur, mengantarkan saya ke airport dengan mengendarai sepeda motor. Untuk perjalanan yang ditempuh, dari rumah menuju airport membutuhkan waktu setidaknya dua setengah jam dengan laju kendaraan rata-rata. Kalau dulu saya selalu semangat jika berpergian jauh dengan Bapak, namun seiring berjalannya waktu, saya justru khawatir dengan keselamatan dan kesehatan Bapak. Saya merasa segan jika beliau mengantar saya. Namun, Ibu tidak kalah semangat untuk meyakinkan saya sebelum kami berangkat. “Biarlah Bapak kamu yang antar ke bandara, toh Bapak kamu itu masih kuat kan? Bapak kamu juga belum pernah sama sekali ke bandara setelah direnovasi”.

Kadar bahagia saya sebagai bungsu dari dua bersaudara sedikit berkurang dengan adanya keterlibatan rasa sedih yang membaur di dalam kebahagiaan itu sendiri. Merasa masih diperhatikan dan masih diperlakukan sebagai bocah kecil oleh seorang Ayah yang kini sudah menua, membuat saya bertekad untuk menghadiahkan sesuatu yang diinginkan oleh Bapak selama ini. Sebuah mobil keluarga.

Sejak kecil saya sudah dikenal sebagai bocah yang sangat suka berkhayal. Salah satunya mempunyai sebuah mobil keluarga yang dapat membawa kami secara fisik ke tujuan yang letaknya cukup jauh dan membawa serta suasana kasih dan sayang keluarga kami di dalam mobil itu. Nyaman bercengkrama selama perjalanan, interior dalam mobil yang elegan dan dilengkapi oleh hiburan yang cukup untuk mengisi kekosongan waktu yang tercipta selama perjalanan.

Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Anggap saja saya sedang mengafirmasi diri bahwa suatu saat nanti, mobil impian yang menjadi kendaraan sehari-hari untuk kedua orang saya – termasuk melindungi beliau-beliau dari teriknya matahari dan guyuran hujan – sementara waktu saya wujudkan. Tepatnya setelah perayaan hari raya Nyepi tahun ini, saya membawa keluarga jalan-jalan sebelum saya terbang kembali ke Jakarta. Saya menyewa sebuah mobil dengan anggaran yang sangat terbatas. Pilihan saat itu, saya  jatuhkan ke mobil keluarga produksi Nissan dengan line-up Grand Livina tahun 2014. Menurut pengakuan pemilik mobil ini, Livina selalu menjadi pilihan untuk disewa. Mendapat penjelasan yang sangat logis, saya menjadi semakin mengerti mengapa pada akhirnya Nissan Grand Livina menjadi pilihan keluarga.

img1bc.png.ximg.l_4_m.smart

Sebuah keluarga mempunyai nilai-nilai keakraban – cinta, kasih sayang, toleransi dan memahami – sangat perlu dijaga dan berkesinambungan di mana pun dan kapan pun. Nilai-nilai inilah yang dimasukkan Nissan dalam merancang sebuah kendaaraan untuk keluarga. Saya pikir Nissan menganggap bahwa merancang sebuah kendaraan saja tidak cukup. Sebuah kendaraan – khususnya mobil – bukan sekedar melakukan fungsi dasarnya sebagai kendaraan, namun justru harus dapat menjadi sebuah rumah kedua bagi penghuninya. Sejauh apapun perjalanan yang ditempuh, penumpang di dalamnya harus dapat merasa tidak sedang dalam perjalanan. Dan Nissan Grand Livina merepresentasikan dengan tepat apa yang dibutuhkan oleh para keluarga di Indonesia, khususnya saya sendiri. Dan hal-hal tadi yang telah saya dapatkan di mobil ini. Apa yang saya dan keluarga rasakan benar-benar nyaman di dalam mobil ini, bagasi yang luas dan lega, jok yang empuk dan pas dan issue yang paling mendasar bagi keluarga sederhana saya adalah konsumsi bahan bakar mobil ini cenderung irit. Mungkin teknologi mesin terbaru yang sudah diterapkan di mobil ini. Dan hal ini yang membuat saya semakin kuat untuk ‘mengadopsi’ mobil ini nanti.

Ada sebuah ungkapan yang pernah saya baca di media sosial yang berujar kurang lebih seperti ini “Merantaulah sejauh mungkin dan kamu akan merasakan makna pulang”. Dan buat saya ungkapan ini benar adanya. Namun, makna pulang saya di kesempatan berikutnya jauh lebih bermakna dengan menambah kebahagiaan Bapak dan Ibu dengan menghadiahkan sebuah mobil impian dan dambaan keluarga sederhana yang bermanifestasi dalam Nissan Grand Livina.

#BUKANUNTUKDIJALANI #PART1

pexels-photo

SATRIA

Beberapa orang membenci bergulirnya waktu terlampau cepat. Sangat cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam dan begitu seterusnya dan berlalu tanpa permisi. Hak waktu memang ditakdirkan begitu. Seolah, tampuk kendali ada mutlak di genggaman sang waktu. Memang begitu adanya. Berlalu tanpa permisi, tanpa jeda tanpa ada yang menahan. Waktu dapat diulur, namun tetap saja akan menjadi sia-sia jika tujuannya untuk sekedar membuang waktu. Namun, sisi baiknya, waktu dapat bermanfaat bagiku. Setidaknya seminggu belakangan ini. Terlalu singkat namun berharga buat egoku yang sempat kehilangan kebebasannya, seperti dulu. Sempat terenggut beberapa saat dan akhirnya, kebebasannya kembali mengambil alih kehidupanku. Seperti dulu.

Sebulan berlalu, mengerjakan banyak hal yang tertunda, menyingkirkan semua alasan yang menumpuk dan membakarnya dengan berbagai cara. Aku tahu, kedengarannya terlalu klise. Secara harfiah, membakar diartikan mengenyahkan suatu benda dengan bara api. Jika itu memang sebuah benda. Perlakukannya akan berbeda jika wujudnya tidak berwujud, seperti tumpukan alasan menunda yang telah berlalu beberapa pekan ini. Caraku membakar alasan ini, menyelesaikannya. Mencari tahu jawaban yang pantas dari alasan-alasan ini. Hampir semua jawaban sangat logis. Dan aku kembali menikmati egoku yang dulu, logika yang mendominasi.

Namun, ada sesuatu yang hilang. Bagian yang tak pernah aku pikirkan untuk mendapatkannya dalam hidup. Setidaknya beberapa tahun terakhir. Berteman dengan sepi awalnya sangat menakutkan buatku. Namun perlahan, sepi ini semakin bijak dan bersahabat denganku. Mengenal sepi ternyata tidak seburuk itu. Sepi sudah mengajarkan banyak hal untuk orang sepertiku. Sungguh. Sepi tidak begitu menakutkan. Ia hanya berusaha singgah dan mengisi hari-harimu untuk sementara waktu. Awalanya begitu. Namun, ia betah menghinggapi sehingga kekosongan yang dirasa sangat membuat orang yang dihinggapi kesepian berkepanjangan, hingga timbul pemikiran berikutnya, membunuh sang sepi. Dan keputusanku tepat. Membunuh kesepian dengan kegiatan yang sangat banyak. Hampir sepanjang waktu yang aku punya, dua puluh empat jam setiap hari, satu bulan dan tiga ratus enam puluh lima hari berlalu dengan berharga. Waktu menjadi teman terbaikku beberapa tahun belakangan. Dan sebenarnya, aku bisa dapat menerima kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku harapkan hadir dalam hidupku itu. Cinta.

“Siapa yang kamu bohongi sebenarnya, Sat?”

SEPULUH

“Seandainya kamu dapat mengerti bagaimana cara setiap orang dan bagaimana ia memperlakukan kesempatan. Kamu enggak akan sesepat ini menanggung rasa ketakutanmu, ya kan?”

Kalimat terakhir yang mendapatkan perlakuan khusus sampai dengan saat ini. Percakapan yang terjadi untuk terakhir kalinya. Di tempat yang tidak terhormat. Kurir pesan digital. Hanya bermodalkan perangkat lunak dan paket data. Sudah. Begitu saja tanpa ada kesan dramatis yang aku harapkan. Ada yang tahu cara melupakan percakapan ini?

SATRIA

Melepas penat malam ini dengan cara seperti yang biasa seperti malam-malam sebelumnya. Segelas Green Tea Latte ukuran grande dan tablet di meja pojok, Starbuck Skyline Thamrin. Perfect time. Seharusnya, pulang lebih awal untuk mengemasi pakaian untuk keperluan dinas esok hari. Mengejar penerbangan paling pagi, sebelum ayam-ayam koleksi Bang Zul ujung jalan kebangun dan mendendangkan nyanyian rutin yang enggak bisa ditolak oleh tetangga sekitar, termasuk aku.

Hujan mengurai hawa pengap polusi malam ini. Dahaga pertiwi yang begitu besar, terobati dengan guyuran debit air yang cukup banyak. Semoga pertiwi bahagia karenanya. Jika aku memantaskan diri, izinkan aku mengumpakan kesempatan yang aku punya sebagai hujan yang diharapkan pemilik ladang harapan di ujung sana. Pemiliknya yang terlalu takut dan sesat dengan perasaannya sendiri.  Kalimat yang akhirnya aku lontarkan kepada sang kurir pesan digital itu sekaligus membuat sesak di dada berkurang adalah kejujuranku berikutnya yang harus diakui.

“kesempatan itu akan selalu ada, Sep. Tergantung bagaimana kamu memanfaatkannya dengan bijak.”

SEPULUH

Aku masih ingat nasehat bijak yang aku dengar beberapa waktu belakangan ini, “Apapun yang menjadi takdir jodoh kamu, jika memang dibuat untuk kamu, dia akan kembali lagi ke kamu. Hanya saja, jalan kembalinya yang tidak biasa, dan kamu harus menerima cara-NYA memperlakukan jodoh kamu itu, baik jodoh materi, jodoh pertemuan, waktu dan orang.” Nasehat mama selalu dan ampuh menenangkan aku.

“iya ma, Sepu ngerti maksud mama”. Aku memeluk mama sekali lagi dengan erat. “Yang paling penting sekarang, mama buka kado dari Sepu ya. Ulang tahun kali ini mama harus dapat yang spesial dari Sepu. Jangan ditolak ya, Ma.”

Respon semacam  ini yang mampu aku sampaikan ketika menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuaku di Bintaro sana, beberapa hari yang lalu. Tempat yang terlalu nyaman untuk dibenci namun terlalu sayang untuk ditinggali lama-lama. Namun, buatku, mama memberikan komplemen pantas atas semua alasan-alasanku yang terkesan omong kosong itu. Hanya saja, aku merasakan kebohongan meletup. Sedikit. Tidak begitu besar, namun cukup membuat aku terdiam sesaat. Kebohongan berupa perasaan yang masih sedikit belum terpuaskan oleh keputusan dan ketakutanku sendiri.

Namun, kali ini, menghabiskan waktu di kantor dan menyelesaikan laporan bulanan dan hanya ditemani Mas OB, bukan jadi pilihan yang bijak. Keharusan menjalani rutinitas ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaanku. Lembur untuk kelangsungan karir adalah keharusan. Benar bukan? Namun, lembur ini terasa ringan karena senyum di wajah kembali membentang. Beberapa kali cermin aku tatap, sungguh sumringah yang aku rasakan, dan merasakan keanehan yang aku rasakan dalam waktu bersamaan. Namun, yang pasti, alasan mengapa aku tersenyum sumringah?

Karena seseorang telah mengembalikan senyum di wajahku dengan tepat. Aku selalu ingat nasehatnya “karena hasil tidak akan mengkhianati usaha.” Benar. Usahaku berbuah manis. Aku tidak sabar menunggu kedatangannya, usai dinas luar kotanya.

#BUKANUNTUKDIJALANI #PART2

SEPULUH

Ada ribuan alasan untuk menjelaskan kondisi ketika seseorang menghadapi situasi yang menyudutkan. Alasan hujan turun dapat dijelaskan secara teori. Datangnya pujian dapat dijelaskan dengan bahasa psikologis. Datangnya kebahagiaan dapat dijelaskan dengan alasan skeptis. Bahagia menghampiri karena sudah pantas untuk bahagia. Bocah lima tahun akan sumringah dengan memamerkan gigi susunya ketika mendapatkan mainan yang diinginkannya. Seorang Ibu di pinggiran kota besar mendapatkan lonjakan rejeki karena barang dagangan berupa nasi kebulinya laku sebelum siang hari. Buat aku sendiri? Setidaknya buatku, enam bulan terakhir belakangan ini sangat mengesankan. Di atas level bahagia manapun. Walaupun sementara waktu. Bagaimana aku menjelaskannya? Semuanya terjadi begitu saja.

“hay, sudah lama menunggu?” sapanya dengan hangat sembari mengulur tangannya untuk kemudian aku balas dengan menjabat tangannya. “Satria”, katanya kembali memperkenalkan dirinya. Aku  sedikit grogi dengan melihat langsung bagaimana fisik visual dari orang yang aku ajak bertatap muka langsung. Wajahnya terlihat dewasa dengan rambut sedikit klimis, tinggi badan di atas rata-rata dengan berat badan ideal. Setidaknya menurut pengkuran estimasiku. Walau bukan pertama kalinya mengalami hal seperti ini, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Entahlah.

“enggak kok. Lumayan. Sorry, bawaan dari kantor banyak begini.”

Aku sendiri sangat malu membawa tas gym yang dengan sengajanya aku bawa serta di acara blind-date hari ini. Well, sebenernya bukan blind date. Ini cuman pertemuan casual aja, untuk mempertegas kembali obrolan yang terjadi di sosial media khusus kalangan LGBT. Dan beruntung juga, aplikasi semacam itu hanya berorientasi pada kenikmatan sesaat, namun untuk kali ini, aku sedang mendapatkan peruntungan yang baik. Bertemu di publik area.

“haha. Santai saja. Kita mau ngobrol di mana?”

“Di dalem aja?”

“kita di luar aja deh. Agak bosen kalau dalam mall.”

“oke. Yuk.”

Aku mengikutinya dari belakang. Suasana tegang yang aku rasakan sedikit mencair.  Orang ini jarang senyum kayaknya, pikirku. Hal-hal yang sedang bermain di kepalaku saat itu, bagaimana membangun suasana yang hangat dan obrolan yang menarik. Karena kadang, dua orang asing bertemu dan mencoba mengenal satu sama lain secara langsung, buatku butuh effort yang sangat luar biasa. Walaupun pekerjaanku bersinggungan dengan orang berbagai karakter di lapangan, aku sangat memikirkan hal-hal yang cenderung tidak memancing hal-hal awkward. Momen awkward

“Sep, Di sini aja ya, biar kamu nggak kejauhan ambil mobil dari gedung.”

“Boleh”.

Kami akhirnya memilih untuk menikmati roti bakar dekat plaza blok M untuk menghemat waktu.Pilihan yang sangat biasa bagi rakyat jelata sepertiku, namun sosok Satria ini bagaimana? Apakah pantas makan di pinggiran seperti ini? Melihat pembawaannya yang cukup mengesankan ini?. Dua porsi roti bakar dan dua gelas teh hangat manis untuk kami berdua sebagai menu penikmat obrolan kami. Memang ya, takdir kudapan dibuat bukan sekedar penghilang lapar, namun sebagai pelengkap suasana hangat. Kami benar-benar menikmati sajian sederhana ini. Eh, memangnya sudah boleh menggunakan istilah “kami” saat ini?. Calm down, Sep.

Sepertinya hanya aku yang berusaha menghidupkan suasana dalam obrolan ini, dan lawan bicara di depanku ini hanya mengamatiku dengan sorot mata yang tidak bisa aku terka. Mencoba tertarik dengan topik pembahasanku tentang pekerjaanku yang mungkin akan terdengar menjemukan untuk disimak. Seandainya aku bisa dapat memahami sorot mata itu atau mungkin akan aku selami sedalam apa makna sorot mata itu. Dan sorot mata itu juga yang membuat salah tingkah. Sajian roti bakar di hadapanku bahkan hampir tidak dapat aku habiskan dalam waktu singkat. Atau ada kemungkinan lain yang terpapar dalam sorot mata laki-laki ini? Mungkin. Aku hanya pandai berasumsi, seperti sekarang. Berasumsi dalam percakapan bodoh melalui whatsapp bahwa apa yang aku duga memang seharusnya sudah aku sadari jauh sebelum enam bulan berjalan. Tanpa perasaan apapun yang bersemi di hatinya. Mungkin.

“Dan konyolnya, aku terlalu memaksakannya, Sat”

Kalimat ini yang mampu aku sampaikan. Hapus, ketik, hapus, ketik, repeat again. Dalam benakku mengumpat “Kamu bodoh, Sep. Kamu bodoh! Membiarkan akal sehat kamu terjajah oleh keajaiban yang terlalu kamu percayai. Keajaiban yang kamu harapkan terlalu besar. Kamu bodoh, Sep. Bodoh!”

“Jangan menyalahkan diri sendiri gitu, Sep.”

“Sampai ketemu nanti malam ya.”

“Loh bukannya hari Jumat?”

“Malam ini”

“oke. Aku tunggu di tempat pertama kali ketemu”

329_brasil-gay-beach

SATRIA

Jika diijinkan memutar waktu, ijinkan aku kembali ke masa enam bulan yang lalu. Itu saja. Enam bulan ketika tanganku usil mengunduh aplikasi kencan buta. Yang hanya didominasi one-night-love. Pathetic. Untuk butuh teman mengobrol saja, aku harus menyuntikkan aplikasi nggak penting kayak gitu ke deviceku. But the hell, its done. Sekalinya membuat keputusan untuk sekedar menyapa pengguna di aplikasi itu, aku bingung untuk meneruskan obrolan yang terjadi ke arah mana. Apakah berlangsung sekedar obrolan di room chat itu, ataukah berlanjut ke follow up berikut. Getting fuck off. Sorry, for those words. In fact, most of them – the member of users – play that role. Looking for body-fucking. Semua hal-hal yang berbau kesehatan menjadi terpinggirkan. Dan apakah hal ini pantas untuk diterima oleh seorang single seperti aku? I dont think so.

Menyendiri dalam hitungan tahun itu bukan keputusanku. Keadaan yang memaksaku untuk berada di zona itu. Zona yan mengharuskan aku untuk memprioritaskan segala keegoanku, menyenangkan diri sendiri, pergi ke manapun aku pergi tanpa batasan untuk sekedar berlibur atau sekedar menghabiskan beberapa lembar dollar di berbagai negara – Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Maladewa, Shanghai, Jepang – mengejar mimpi-mimpi yang sempat tertimbun di benak sampai akhirnya dapat aku tarik dari timbunan mimpi ke dunia nyata. Sisi positif menjadi lajang – sekalipun di dunia yang tidak dianggap oleh orang timur – nampaknya sangat indah. Tanpa ikatan apapun. Tanpa ada pertanyaan dari orang terdekat bernada khawatir atau sekedar ingin tahu, “lagi di mana?”

Namun, justru waktu mengajarkan hal yang sedang berusaha mengalihkan duniaku. Kembali jatuh cinta. Waktu begitu menggodaku dengan cecaran cara yang beberapa kali aku abaikan. Konsentrasiku tidak boleh tergoyahkan. Sudah cukup jatuh cinta beberapa tahun yang lalu itu berakhir. Jatuh cinta pada sosok yang salah. Aku tidak dapat menjelaskan kenapa jatuh cinta kepada sosok yang aku anggap awalnya “tersedia” buatku dan aku rela melakukan apapun demi bersama dia. Seperti keledai dungu. Namun, keledai ini akhirnya tersadar bahwa cinta sempurna itu tidak pernah ada di dunia nyata. Dan di dunia yang tidak pernah sah di mata orang timur.

Aku pernah membaca kiasan ini, entah di mana. Kiasan atau perumpamaan atau prosa atau hanya sekedar kalimat bijak yang berujar “hidup ini seperti lapangan parkir”, selalu ada mobil yang datang untuk singgah, entah untuk keperluan yang singkat atau untuk singgah cukup lama di sana karena untuk urusan besar. atau bahkan memutuskan untuk tinggal sementara waktu untuk memikirkan ke mana tujuan selanjutnya. dan pada akhirnya semua kendali mobil ada di pengemudinya. akan meninggalkan lapangan parkir lalu berlalu begitu saja. atau akan berencana kembali lagi untuk urusan yang sama.

buat gue, orang yang gue kenal dan menamakan dirinya dengan nama unik, masih aku anggap mobil yang hanya sekedar parkir.

“Sepuluh”

Kesan unik ketika ia mempertegas namanya, walaupun bagiku nama itu terlalu unik buatku. Angka sepuluh? Its means a lot. At least for his parent, right?

Dan yang membuat aku tertarik ketika larut dalam obrolan panjang di kedai roti panggan itu, kumis tipis yang tidak dapat aku tolak keberadaannya. Menambah kharisma yang dimiliki laki-laki ini. Namun, saat ini dan seterusnya, apakah aku masih pantas memuja kharisma yang timbul gara-gara kumis itu? Adakah hak yang masih melekat di sini, di hati yang paling dalam, setidaknya kali terakhir malam ini?

SEPULUH

“Tapi janji ya, kamu menanggapi pembahasan ini tanpa melibatkan emosi negatif?”

Aku bisa apa, Sat. Dari awal menjalin keseriusan dengan kamu, segala daya upaya aku kerahkan. Dan kenapa dengan gampangnya kamu mengatakan hal logika seperti itu? Atau apalah yang menurut prinsipmu itu benar berdasarkan logika. Atau kamu berfikir, hubungan ini selayaknya arena bermain seperti di mall-mall yang suka kamu kunjungi itu?

“saya pulang dari kantor jam 10, karena masih ada beberapa berkas yang harus dibereskan.”

“oke, enggak apa-apa. Saya tunggu di sana.”

Bodoh rasanya. Dibayang- bayangi oleh ketakutan diri sendiri bahwa semua ini akan berakhir terlalu cepat. Aku terlalu membiarkan sisi ketakutanku menjalar ke mana-mana. Ketakutan itu pun berbuah dengan tidak manis. Keputusanku mengirimkan pernyataan “aku sedang berencana mengijinkan kamu sama orang lain.” Seandainya pernyataan ini keluar dari mulutku langsung, mungkin responnya akan berbeda. Namun, pernyataan tadi lepas begitu saja melalui pesan instan digital. Andai saja, ada teknologi yang dapat memutus ketakutanku, saat di mana aku masih berkutat dengan rajinnya. Tentang ketakutan kehilangan orang yang aku cintai.