#BUKANUNTUKDIJALANI #PART2

SEPULUH

Ada ribuan alasan untuk menjelaskan kondisi ketika seseorang menghadapi situasi yang menyudutkan. Alasan hujan turun dapat dijelaskan secara teori. Datangnya pujian dapat dijelaskan dengan bahasa psikologis. Datangnya kebahagiaan dapat dijelaskan dengan alasan skeptis. Bahagia menghampiri karena sudah pantas untuk bahagia. Bocah lima tahun akan sumringah dengan memamerkan gigi susunya ketika mendapatkan mainan yang diinginkannya. Seorang Ibu di pinggiran kota besar mendapatkan lonjakan rejeki karena barang dagangan berupa nasi kebulinya laku sebelum siang hari. Buat aku sendiri? Setidaknya buatku, enam bulan terakhir belakangan ini sangat mengesankan. Di atas level bahagia manapun. Walaupun sementara waktu. Bagaimana aku menjelaskannya? Semuanya terjadi begitu saja.

“hay, sudah lama menunggu?” sapanya dengan hangat sembari mengulur tangannya untuk kemudian aku balas dengan menjabat tangannya. “Satria”, katanya kembali memperkenalkan dirinya. Aku  sedikit grogi dengan melihat langsung bagaimana fisik visual dari orang yang aku ajak bertatap muka langsung. Wajahnya terlihat dewasa dengan rambut sedikit klimis, tinggi badan di atas rata-rata dengan berat badan ideal. Setidaknya menurut pengkuran estimasiku. Walau bukan pertama kalinya mengalami hal seperti ini, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Entahlah.

“enggak kok. Lumayan. Sorry, bawaan dari kantor banyak begini.”

Aku sendiri sangat malu membawa tas gym yang dengan sengajanya aku bawa serta di acara blind-date hari ini. Well, sebenernya bukan blind date. Ini cuman pertemuan casual aja, untuk mempertegas kembali obrolan yang terjadi di sosial media khusus kalangan LGBT. Dan beruntung juga, aplikasi semacam itu hanya berorientasi pada kenikmatan sesaat, namun untuk kali ini, aku sedang mendapatkan peruntungan yang baik. Bertemu di publik area.

“haha. Santai saja. Kita mau ngobrol di mana?”

“Di dalem aja?”

“kita di luar aja deh. Agak bosen kalau dalam mall.”

“oke. Yuk.”

Aku mengikutinya dari belakang. Suasana tegang yang aku rasakan sedikit mencair.  Orang ini jarang senyum kayaknya, pikirku. Hal-hal yang sedang bermain di kepalaku saat itu, bagaimana membangun suasana yang hangat dan obrolan yang menarik. Karena kadang, dua orang asing bertemu dan mencoba mengenal satu sama lain secara langsung, buatku butuh effort yang sangat luar biasa. Walaupun pekerjaanku bersinggungan dengan orang berbagai karakter di lapangan, aku sangat memikirkan hal-hal yang cenderung tidak memancing hal-hal awkward. Momen awkward

“Sep, Di sini aja ya, biar kamu nggak kejauhan ambil mobil dari gedung.”

“Boleh”.

Kami akhirnya memilih untuk menikmati roti bakar dekat plaza blok M untuk menghemat waktu.Pilihan yang sangat biasa bagi rakyat jelata sepertiku, namun sosok Satria ini bagaimana? Apakah pantas makan di pinggiran seperti ini? Melihat pembawaannya yang cukup mengesankan ini?. Dua porsi roti bakar dan dua gelas teh hangat manis untuk kami berdua sebagai menu penikmat obrolan kami. Memang ya, takdir kudapan dibuat bukan sekedar penghilang lapar, namun sebagai pelengkap suasana hangat. Kami benar-benar menikmati sajian sederhana ini. Eh, memangnya sudah boleh menggunakan istilah “kami” saat ini?. Calm down, Sep.

Sepertinya hanya aku yang berusaha menghidupkan suasana dalam obrolan ini, dan lawan bicara di depanku ini hanya mengamatiku dengan sorot mata yang tidak bisa aku terka. Mencoba tertarik dengan topik pembahasanku tentang pekerjaanku yang mungkin akan terdengar menjemukan untuk disimak. Seandainya aku bisa dapat memahami sorot mata itu atau mungkin akan aku selami sedalam apa makna sorot mata itu. Dan sorot mata itu juga yang membuat salah tingkah. Sajian roti bakar di hadapanku bahkan hampir tidak dapat aku habiskan dalam waktu singkat. Atau ada kemungkinan lain yang terpapar dalam sorot mata laki-laki ini? Mungkin. Aku hanya pandai berasumsi, seperti sekarang. Berasumsi dalam percakapan bodoh melalui whatsapp bahwa apa yang aku duga memang seharusnya sudah aku sadari jauh sebelum enam bulan berjalan. Tanpa perasaan apapun yang bersemi di hatinya. Mungkin.

“Dan konyolnya, aku terlalu memaksakannya, Sat”

Kalimat ini yang mampu aku sampaikan. Hapus, ketik, hapus, ketik, repeat again. Dalam benakku mengumpat “Kamu bodoh, Sep. Kamu bodoh! Membiarkan akal sehat kamu terjajah oleh keajaiban yang terlalu kamu percayai. Keajaiban yang kamu harapkan terlalu besar. Kamu bodoh, Sep. Bodoh!”

“Jangan menyalahkan diri sendiri gitu, Sep.”

“Sampai ketemu nanti malam ya.”

“Loh bukannya hari Jumat?”

“Malam ini”

“oke. Aku tunggu di tempat pertama kali ketemu”

329_brasil-gay-beach

SATRIA

Jika diijinkan memutar waktu, ijinkan aku kembali ke masa enam bulan yang lalu. Itu saja. Enam bulan ketika tanganku usil mengunduh aplikasi kencan buta. Yang hanya didominasi one-night-love. Pathetic. Untuk butuh teman mengobrol saja, aku harus menyuntikkan aplikasi nggak penting kayak gitu ke deviceku. But the hell, its done. Sekalinya membuat keputusan untuk sekedar menyapa pengguna di aplikasi itu, aku bingung untuk meneruskan obrolan yang terjadi ke arah mana. Apakah berlangsung sekedar obrolan di room chat itu, ataukah berlanjut ke follow up berikut. Getting fuck off. Sorry, for those words. In fact, most of them – the member of users – play that role. Looking for body-fucking. Semua hal-hal yang berbau kesehatan menjadi terpinggirkan. Dan apakah hal ini pantas untuk diterima oleh seorang single seperti aku? I dont think so.

Menyendiri dalam hitungan tahun itu bukan keputusanku. Keadaan yang memaksaku untuk berada di zona itu. Zona yan mengharuskan aku untuk memprioritaskan segala keegoanku, menyenangkan diri sendiri, pergi ke manapun aku pergi tanpa batasan untuk sekedar berlibur atau sekedar menghabiskan beberapa lembar dollar di berbagai negara – Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Maladewa, Shanghai, Jepang – mengejar mimpi-mimpi yang sempat tertimbun di benak sampai akhirnya dapat aku tarik dari timbunan mimpi ke dunia nyata. Sisi positif menjadi lajang – sekalipun di dunia yang tidak dianggap oleh orang timur – nampaknya sangat indah. Tanpa ikatan apapun. Tanpa ada pertanyaan dari orang terdekat bernada khawatir atau sekedar ingin tahu, “lagi di mana?”

Namun, justru waktu mengajarkan hal yang sedang berusaha mengalihkan duniaku. Kembali jatuh cinta. Waktu begitu menggodaku dengan cecaran cara yang beberapa kali aku abaikan. Konsentrasiku tidak boleh tergoyahkan. Sudah cukup jatuh cinta beberapa tahun yang lalu itu berakhir. Jatuh cinta pada sosok yang salah. Aku tidak dapat menjelaskan kenapa jatuh cinta kepada sosok yang aku anggap awalnya “tersedia” buatku dan aku rela melakukan apapun demi bersama dia. Seperti keledai dungu. Namun, keledai ini akhirnya tersadar bahwa cinta sempurna itu tidak pernah ada di dunia nyata. Dan di dunia yang tidak pernah sah di mata orang timur.

Aku pernah membaca kiasan ini, entah di mana. Kiasan atau perumpamaan atau prosa atau hanya sekedar kalimat bijak yang berujar “hidup ini seperti lapangan parkir”, selalu ada mobil yang datang untuk singgah, entah untuk keperluan yang singkat atau untuk singgah cukup lama di sana karena untuk urusan besar. atau bahkan memutuskan untuk tinggal sementara waktu untuk memikirkan ke mana tujuan selanjutnya. dan pada akhirnya semua kendali mobil ada di pengemudinya. akan meninggalkan lapangan parkir lalu berlalu begitu saja. atau akan berencana kembali lagi untuk urusan yang sama.

buat gue, orang yang gue kenal dan menamakan dirinya dengan nama unik, masih aku anggap mobil yang hanya sekedar parkir.

“Sepuluh”

Kesan unik ketika ia mempertegas namanya, walaupun bagiku nama itu terlalu unik buatku. Angka sepuluh? Its means a lot. At least for his parent, right?

Dan yang membuat aku tertarik ketika larut dalam obrolan panjang di kedai roti panggan itu, kumis tipis yang tidak dapat aku tolak keberadaannya. Menambah kharisma yang dimiliki laki-laki ini. Namun, saat ini dan seterusnya, apakah aku masih pantas memuja kharisma yang timbul gara-gara kumis itu? Adakah hak yang masih melekat di sini, di hati yang paling dalam, setidaknya kali terakhir malam ini?

SEPULUH

“Tapi janji ya, kamu menanggapi pembahasan ini tanpa melibatkan emosi negatif?”

Aku bisa apa, Sat. Dari awal menjalin keseriusan dengan kamu, segala daya upaya aku kerahkan. Dan kenapa dengan gampangnya kamu mengatakan hal logika seperti itu? Atau apalah yang menurut prinsipmu itu benar berdasarkan logika. Atau kamu berfikir, hubungan ini selayaknya arena bermain seperti di mall-mall yang suka kamu kunjungi itu?

“saya pulang dari kantor jam 10, karena masih ada beberapa berkas yang harus dibereskan.”

“oke, enggak apa-apa. Saya tunggu di sana.”

Bodoh rasanya. Dibayang- bayangi oleh ketakutan diri sendiri bahwa semua ini akan berakhir terlalu cepat. Aku terlalu membiarkan sisi ketakutanku menjalar ke mana-mana. Ketakutan itu pun berbuah dengan tidak manis. Keputusanku mengirimkan pernyataan “aku sedang berencana mengijinkan kamu sama orang lain.” Seandainya pernyataan ini keluar dari mulutku langsung, mungkin responnya akan berbeda. Namun, pernyataan tadi lepas begitu saja melalui pesan instan digital. Andai saja, ada teknologi yang dapat memutus ketakutanku, saat di mana aku masih berkutat dengan rajinnya. Tentang ketakutan kehilangan orang yang aku cintai.

 

Iklan

#BukanUntukDijalani #Part3

pexels-photo-405254

Jika rindu datang bertandang, sebaiknya apa yang harus aku lakukan?”. Pertanyaan ini datang sesaat setelah pigura cantik berhiaskan prada perak bermotif ukiran khas Ubud menjadi objek pandanganku, di kala aku sedang berusaha menyelesaikan kewajiban masa laluku. Kadang, ada hutang yang tidak pernah habis untuk dibayar. Hutang budi.

Belenggu pikiran seperti ini, bagaimana cara melepaskannya? Adakah cara lain untuk melepaskan bayang-bayang hutang budi dari pikiranku? Atau cara yang paling sederhana sekalipun?

Dedaunan berhamburan diterbangkan angin sore. Burung-burung telah kembali ke sarang dan bersiap melanjutkan dongeng perjuangan untuk menjadi penerbang ulung di kaumnya kepada para penerusnya yang baru menetas sehari lalu. Senja telah tersemat hingga tenggelam di ufuk barat. Sementara, para penggiat malam mulai terbangun dari lelap tidurnya. Si burung hantu nampak mulai merapikan bulu-bulunya yang halus, mencoba mendendangkan melodi yang berbeda nanti malam. Tentang sunyinya malam ibu kota yang tidak lagi sunyi.

Seharusnya aku tidak memikirkan keputusan beberapa hari yang lalu. Tidak seharusnya. Yang perlu aku mantapkan saat ini adalah apa yang menjadi tujuan dan prioritasku. Karier. Yang perlu aku kuatkan dalam menghadapi hari-hari berikutnya adalah mental dan keyakinanku. Mental harus tetaplah terjaga, bagaimana pun caranya. Dan tentang keyakinanku, bahwa apa yang aku lalui saat ini hanyalah masalah irama dalam hidup. Semua orang mengalaminya, namun memiliki fase yang berbeda. Tetapi dengan inti yang sama. Inti dari hidup memberi warna atau diwarnai. Hidup ini seperti bentangan kanvas putih polos. Bidang ini akan terhiasi oleh baragam warna yang kita mau, anek pola dan motif atau gradasi yang kita kehendaki. Asalkan jodoh dan nasib memberi izin dan kuasa dalam memilih kuas dan warna yang cocok terpoles di atas kanvas itu.

Sudah hampir tiga puluh menit yang lalu aku di sini, menghabiskan segelas green tea latte ukuran grande, semangkuk mie rebus buatan Kang Jodi dan beberapa pemberitahuan panggilan terabaikan.

“Kita pernah membahagiakan satu sama lain. Saling menyakiti pun pernah, lalu inti dari pemikiran kamu apa, Sat?”

Percakapan ini seharusnya tidak pernah terjadi dalam platform messengger manapun. Sungguh.

Aku dapat membayangkan bagaimana sorot mata yang meminta penjelasan detil dariku. Senyum di wajahku membentang ala kadarnya.

“sebelum aku menjawab, jawab dulu pertanyaanku, boleh?”

“apa?”

“tadi pagi dan menjelang makan siang ini, kamu sudah cukup makan?”

“sudah, dua kali malah. Lalu?”

“:)”

“lalu?”

Aku berhenti mengirimkan simbol senyum itu. Aku harus benar-benar memilih dan memilah kata-kata uag seharusnya disampaikan dalam percakapan ini. Sedikit saja ada keliru, maka runyam selamanya. Menyampaikan isi pikiran secara singkat dalam aplikasi itu tidak mudah. Seperti membuat sebuah prosa yang harus disetorkan kepada guru bahasa Indonesia. Guru yang sedang aku hadapi saat ini adalah beliau. Beliau yang memintaku untuk membuat sebuah prosa. Prosa penjelasan tentang bagaimana kelanjutan hidup kami masing-masing.

“Aku harap semuanya baik-baik saja, Sep. Kita pernah diskusi ini sebelumnya kan? Masih inget kan?”

“iya…”

“Bagian mana yang paling kamu inget, Sep?”

“Udah deh, Sat, jangan bertele-tele. Fokus sama apa yang kamu mau sampaikan. Waktuku sedikit.”

“Tapi janji ya, kamu menanggapi pembahasan ini tanpa melibatkan emosi negatif?”

“Iya, janji”

“Aku mikirin omongan kamu lusa kemarin mengenai keputusan tidak langsung kamu tentang peluang yang baik menurut kamu dan mengasumsikan peluang ini juga sangat baik buat aku.”

“Keep going, Sat.”

“setelah kamu melontarkan pernyataan itu, aku nggak ambil pusing awalnya. Aku mengira, itu kondisi kamu sedang butuh untuk diperhatikan. Tetapi setelah itu, aku coba mencerna sekali lagi pernyataan kamu, berkali-kali. Kamu pun pasti merenung juga sebelum mengajukan pernyataan ini ke aku, kan, Sep?”

Merangkai kalimat ini tidak semudah jika disampaikan secara langsung, secara verbal. Semoga pilihan kata-kata tadi tidak begitu tajam. Dan semoga logika kamu jalan ya, Sep.

“Jadi, kesimpulan kamu apa? Dan ending dari semua ini gimana, Sat?”

Good Move, Sep. Tetap demikian ya.

“Pemikiran aku dan kamu pada dasarnya sama. Kita sama-sama punya hidup masing-masing, termasuk ritmenya Cepat, sedang atau perlahan. Dan kita dipertemukan dalam sebuah wadah yang justru membuat kita dapat mengenal satu sama lain.”

“Dan konyolnya, aku terlalu memaksakannya, Sat.”

 

Jarak memangku, hati memanjatkan doa…

Setiap kali aku menatap ke dalam pancaran matanya, aku selalu teringat akan hal ini “Coba selami sorot pandang mata itu, benarkah bernyawa? Benarkah kebenaran dan kesungguhan itu mutlak keberadaannya?”

Ketika terakhir kali aku menatap kedua matanya ia pun diam. Aku meraba wajahnya dengan kedua tanganku. Mengusap barisan alisnya yang begitu tegas. Mataku tak kuasa untuk berkedip beberapa kali hanya karena apa yang aku lakukan. Dalam benakku berujar, “Jika aku adalah masa depanmu, perjuangkan aku detik ini, bisakah?”

Aku membenci ketika bentang jarak akhirnya menjadi kenyataan yang harus aku dan dia hadapi. Tidak mudah untuk memulai hal yang mustahil, tetapi terlalu sulit untuk memikirkan resiko yang akan aku hadapi jika konsekuensi yang aku terima nanti, jika aku mendapatkan keinginan seperti ini. Jarak jauh.

Aku pergi untuk beberapa saat, dan disela-sela keputusanku, ia hadir bersama keputusan bijakku. Aku mengenalnya karena beberapa alasan. Alasan-alasan lain sebagai alibi  saja. Yang menjadi alasan utamanya adalah, bahwa aku membutuhkan dia. Semua alasan kenapa semesta mendukungku dengan keputusan yang aku ambil, adalah hal itu. Aku menginginkan kamu. Kamu inginkan aku.

Dalam pergulatan semu, aku meyakinkan diri, mampukah aku memberikan tampuk kepercayaan yang kerap ringkih ini kepada orang yang ku pandang ini? mampukah aku mendapatkan hal yang lebih berharga dibandingkan kepercayaan yang aku miliki? Mampukah ia menjaganya? aku menjadi kelu. Aku menjadi patung. Terdiam sendiri, hempasan air laut turut menemaniku ketika memutuskan sebab ini.

Muncul satu pertanyaan penting buatku, mampukah kamu di sana memandang dan merasakan langit yang sama denganku di sini? Ketika kau menganggukkan kepala padaku, aku akan menjadi rumah tujuan dari rindu yang dulu tak pernah bertuan. Mampukah kamu mengisi rumah itu dengan hal-hal yang teduh dan menghangatkan?

Parkir Hati

Dewa cinta itu

tengah singgah
menjalin dan menenun sutra kasih sayang
merajut dan menyulam bersama sang kekasih, Dewi cinta

hingga ujung penantian
penantian yang tiada bertepi
ku tutup syair kesendirian
akhiri saja
semua ini akan sia-sia
Gumamku dalam angan besar

mirip layaknya sebuah
parkiran
hatiku masih terpakir
terpakir tanpa ada komando
begitu urakan
pada lapangan parkir hati

nan jauh di ujung sekelilingku
nampak pula
komando-komando cinta
pluit-pluit puitis menjerit
memekikkan telinga
penantian akan komando
komando yang dapat berulah
berulah rapi
merapikan ritme roda hati
ritme suara hati
menjemput setiap pluit komando
cinta

sebuah ungkapan
terlontar
kesabaran akan penantian
kehadiran jodoh
sangatlah benar
benar akan kenyataannya
benar akan keberadaanya
bahkan…
semua takluk akan penantian itu
sangatlah indah

indah di sisi ujung
sesak di tengah hati
semua ada pembandingnya
sama saja seperti
dua sisi mata uang yang berlainan

namun, kendaraan hati
tak jua terparkir
terparkir untuk terpikir
bagaimana
siapa
akankah
hatiku terparkir
pada zona indah
dalam lapangan parkir mahadaya
luas tak bertepi
yang ku sebut
Parkiran Hati

Lukisan Hati Sang Perjaka

berdiri kukuh
pada tepinya malam
dingin menusuk kulit ari

bagimana kabar
kisah klasik malam minggu ku?
apakah sama seperti
yang ku lewatkan malam ini

betapa keras
betapa abadinya senyum
kesendirian itu
bisakah di pralina
bisakah di hapuskan
dan tergantikan oleh
bisikan mesra cicak

namun terlalu iri
dengan semuanya
bahkan sepotong roti kenikmatan
tak jua ku rasakan
nikmat

hatiku masih terpaku
baiknya tercabut oleh waktu
akan hadirnya diriku
yang termangu
serta menyambut
apa yang ku sebut
Malu…

Malu karena ku sendiri
tiada seorangpun dengar
isak perjaka muda
seperti ku
Malu karena ku sendiri
sendiri habiskan waktu
sedangkan kalbu-kalbu
membising di benakku
Malu karena ku hina
hina terabaikan
dari dunia maya
dan Malu
karena sosok adam dan hawa
tak jua mengunjungi
hanya tuk dengarkan sapaan
“sudahkah kau sampaikan pesan cintaku padanya?”

sayap, ranting dan dewi

aku ingat
dulu…
saat waktu hentikan
kepakan sayap-sayap
rantau
ku hinggap
padanya
salah satu ranting
ranting kokoh
berbuah keteduhan

dan bila
ku ulang lagi
ingatan itu kian
kuat
ku istirahat
untuk sejenak
dan ku lepaskan
penat-penat
sayapku

dan semakin kuat
ingatan itu
terulang lagi
ada bidadari tengah
menenun awan
dekat rasanya
terlempar senyum
dari bibir tipisnya
dan merona sudah
pipi suburku

“apa yang kau lakukan itu, dewi?”
tiada jawab ku
peroleh
hanya geraknya jadi
jawabnya
“kau akan menebar benih hujan?”
tiada untaian kata pun
ku peroleh

ku hela nafas panjang…
ku tahan dalam-dalam
Dewi tak nampak
lagi di depanku

namun ingatanku terhenti
terhenti pada titik
titik yang begitu ego
tak dapat bergerak
mundur pun enggan
diam mematung
dan ku sadari
sayap-sayap rantau
telah rapuh
ranting singgahan
begitu keropos
namun saja
bagitu cepat berlalu
dan tersadarku
tak ingat satu pun
apa yang ku rasakan

dan…
ku sadar
dan ku pahami
aku tak ingat
bagaimana terbang
dengan sayap-sayap kebanggaan
memiliki pun aku tak percaya
lalu tentang Dewi yang ku temui?
tidak
tidak ingat
tidak tahu satupun
tidak akan pernah sadar
bahwa hal itu
dunia
yang ku khayalkan

 NB : sudah pernah diposting di catatan Facebook milik penulis.

Koma

Dear penakluk hati…

kamu tahu, aku dalam keadaan koma ketika ku menyapamu diseberang sana. Aku tengah menikmati pengobatan yang rutin ku jalani tiap hari. Tapi seperti normal saja bukan? tidak terlihat bahwa aku begitu sekarat dengan pengobatan yang melelahkan itu.

Sepanjang malam itu, aku menyapamu, bersenda gurau. Aku membaringkan diri saat itu, hanya saja berusaha untuk setia melanjutkan percakapan itu. Aku tidak begitu ambil pusing dengan posisi koma yang sudah lama hinggap dalam kurun 3 tahun terakhir.

Kenapa begitu hangat percakapan itu. Aku mulai menikmatinya. Teduh dan seakan sakit yang ku alami selama ini sedikit ringan. Ada apa sebenarnya? aku tak tahu. Yang aku tahu saat itu, adalah mengalihkan rasa sakit kedalam keteduhan dalam percakapan itu.

Kamu tahu? 3 tahun yang lalu, aku merasakan sesuatu yang pantas didapatkan oleh tiap orang. Masa-masa itu tidak pernah aku lupakan, ketika kepenatan, keindahan dan hiruk pikuk rasa tercurah dalam satu jalinan yang orang dewasa menyebutnya sebagai hubungan istimewa dibawah naungan cinta. Aku tidak setuju dengan pendapat pribadi dewasa itu sebelumnya, karena cinta adalah sebuah pengabdian yang tidak terikat, tidak ternilai, tidak berwujud. Dan sampai sekarang aku belum tahu bagaimana menjabarkan dari cinta itu sendiri. Dan kenapa Tuhan menciptakan cinta diantara kami, percikan-percikan kecil dari-Nya. Hanya saja, yang aku tahu, Cinta diciptakan untuk membudayakan manusia dikehidupan mereka, mengangkat derajat mereka dan memberi suatu kehormatan rasa dalam hidup.

Namun dalam kenyataanya, ada yang salah dengan pemberian Tuhan ini. Mungkin dapat aku katakan disini, sosok pembalik tabiat menyalahgunakan cinta ini sebagai pemuas bejatnya. Seonggok obsesi dan sebongkah materi menjadi alasannya. Dan berbagai intrik-intrik yang lain terselubung juga didalamnya. Sang pembalik tabiat ini berusaha mengendalikan pribadi-pribadi yang ingin mendapatkan sesuatu melalui jalan sesat. Dan kamu tahu? akulah korbannya.

Awalnya, aku bergumul dengan cinta ini. Manisnya aku rasa, pahitnya aku telan. Sungguh dinamika yang wajar dikala insan tengah termabukkan oleh cinta. Aku kira, masa-masa ini bersifat kekal. Dugaanku kali ini keliru, untuk sekian kalinya. Aku merasa hanya sebagai alat pemuas, tidak lebih dari sebuah aksesoris dari sekian koleksi yang dia punya.Tidak bisa aku pungkiri, aku kehilangan semua, aku sekarat, dan saat itu, aku koma.

Hari demi hari aku merasakan lumpuh didalam sana. Entah bagian yang mana, aku tidak bisa menjangkaunya. Aku hanya pemain amatir yang terlalu bodoh dengan apa yang ku mainkan. Dan aku merasa ketidakpantasanku mendapatkan sesuatu diluar tanggungjawabku, menjadi layak aku terima. Dimana algojo keadilan saat itu? aku bertanya dengan histeris, namun gema suara berdalih menjawab “Tidak ada yang pantas dan tidak ada yang adil untukmu”.

Kamu tahu? aku berkata pada diriku “Kamu hanya seonggok kotoran yang tidak pernah terpakai lagi. Tidak akan pernah.” Dan sekali lagi, aku merasakan kelumpuhan dalam hal yang lain. Aku merapatkan diri kedalam barisan keputusasaan. Sementara sorotan mata tajam iba menghampiriku. Hanya menghampiriku, tidak lebih. mencoba untuk menasehati, namun aku mengacuhkannya. Aku egois. Sebatang kara karena perlakuan tidak adil itu aku rasakan.

Hari demi hari terlewati dengan percuma. aku koma, tidak bisa merasakan apa-apa lagi dalam posisi seperti itu. Bulan pertama aku mencoba bangkit, tapi gagal. aku tenggelam lagi. Bulan kelima aku menguatkan diri, aku kalap dan koma lagi. Seakan sia-sia saja usaha ku waktu itu.

Mungkin keadilan saat itu tidak berpihak kepadaku.aku berpikir, sudahlah jalani hari tanpa melibatkan unsur (cinta) itu. Sedikit demi sedikit aku mulai bangkit dan meski terperosok kembali dalam kondisi koma itu, aku menikmatinya. Entah tetesan air mata tercecer dimana-mana, aku tidak tahu. dan pasti kau bertanya, pernahkah kau berpikir untuk mengakhiri drama sementara ini? Kamu harus tahu, aku ini sudah sangat bijak menikmati koma, bukan berarti mati sebagai kunci berikutnya untuk melepaskan diri dari koma itu. Sungguh pikiran yang kacau jika aku menurutinya. dan asal kamu tahu, aku tidak mau melakukannya, karena pembalik tabiat itu terlibat lagi dalam urusan pribadiku, antara aku dan kondisi koma yang aku alami.

Namun malam kemarin menjadi jawaban kunci atas penantianku. Pembuktian bahwa keadilan masih berpihak padaku terwudud. Kita sempat terlibat dalam percakapan dan senda gurau nan akrab bukan? Karena percakapan nan teduh itu, sedikit demi sedikit membangunkan aku dari koma itu. Bukan sakit yang aku rasakan, tapi sebuah harmoni nyaman dan syahdu yang ku dapatkan. Kau takkan pernah menyangka itu. Dan kau pikir aku membual? hahaha. kau bisa saja menuduhku bahwa aku hanya pembual kelas teri.

Ada sesuatu yang aku lihat dari sorot matamu. Aku tak tahu apa? Sorot mata yang hangat, teduh dan bersahabat. Mungkinkah saat itu kamu tengah menyelesaikan perawatan rutin untuk matamu? Hanya kamu yang tahu. Aku hanya senang melihat sorot mata itu. Maaf aku melakukannya lagi, lagi dan lagi,tanpa seizin darimu. Tiba-tiba saja aku terdiam, apakah aku merasakannya? Aku mengacuhkannya, karena ketahuan diriku yang menuntunku untuk selalu tahu diri dalam kondisi yang pantas untukku, namun tidak pantas aku dapatkan. Kamu pasti bingung membacanya bukan? jangan terlalu dipikirkan, hanya aku yang tahu 🙂

Ada yang lain dari sorot matamu itu. Sorot mata yang mengisyaratkan kepatutan untuk bangkit. Serta pengharapan kesempatan lainnya yang pantas aku dapatkan. Mungkin kamu bisa memberikan jawaban atas teka-teki yang mengalir dalam benakku. Dapatkah kau menjawabnya? Aku tidak menuntut mendapatkan jawaban apa yang aku harapkan. Hanya saja, aku merasa teduh jikalau sorot mata itu ku tatap. Aku tidak punya alasan yang cukup, kenapa aku harus melakukannya. Yang pasti, yang aku tahu…aku bangkit dari koma.