#NP BCL – Kecewa

Aku pernah membaca di mana kalimat ini

Jika kamu kangen dengan orang tersebut, segera datangi selagi jarak dapat kamu capai.

 Untuk kali ini aku berusaha mengikuti kalimat ini. Aku rindu kamu.

Jadi, tergeraklah keinginanku untuk mempersiapkan diri tepat sembilan puluh menit yang lalu, mematut diri di depan cermin. Apakah kemeja dengan motif garis yang menjadi pilihanku atau kaos putih polos saja yang akan aku kenakan dan memadukannya dengan jaket denim yang aku beli di pasar loak tetapi masih terlihat keren untuk aku kenakan. Memilih celana berbahan apa yang cocok dengan atasan yang aku pilih. Memilih sepatu dari deretan koleksi yang aku punya. Look what do yo do, Gin,  kangen sama kamu saja, aku begitu norak mempersiapkan diri hanya untuk bertemu dengan kamu.

Berkendara malam hari atau lebih tepatnya tengah malam menurut banyak orang akan menyebabkan masuk angin. Namun rinduku menggebu, seolah rindu ini akan menjadi penghangat tubuhku selama perjalanan menuju tempatmu. Mungkin keputusan Tuhan saat ini memisahkan kita di dua tempat berbeda menjadi alasan aku mempunyai rindu yang tidak dapat diukur dalam satuan berat. Namun, aku diajarkan dari kondisi ini adalah dapat menabung sabar dengan pelan-pelan. Suatu saat aku yakin, Tuhan mengijinkan atap yang sama menjadi peneduh kita berdua. Hanya saja, Tuhan belum begitu yakin dengan keingananku, keinginanmu. Dua keinginan yang entah bagaimana mengukurnya namun aku yakin, kamu menginginkan hal yang paling sederhana. Selalu bersama.

Jadilah aku menyunggingkan senyum, membayangkan senyum kamu yang selalu menghiasi pikiranku setiap malam-malam menjelang istrahat. Yang mengingatkan aku bahwa dunia ini sangat indah dan tidak begitu rumit ketika aku merasa lingkungan sekitar tidak lagi bersahabat. Yang mengusik duniaku setiap kali aku berusaha untuk mengabaikan semua tawaran-tawaran yang memungkinkan aku untuk lebih terpuruk. Dari senyumanmu, aku dapat lebih mengerti dan lebih paham bahwa kamu sinar penerang yang aku sangat tunggu sekaligus embun pembasuh kekecewaanku pada cinta.

Aku memutuskan untuk meredakan semua kecamuk rindu yang ada di benak. Memutar arah menuju kedai kopi. Terima kasih kepada pengusaha yang telah menyediakan tempat dua puluh empat jam untuk menampung orang-orang sepertiku yang tengah dimabuk rindu. Rindunya bukan selusin, sekodi atau berapa ratus eksemplar. Rindu yang aku punya tidak bertepi. Menanggalkan semua gejolak rindu ini dengan secangkir espresso ukuran sedang. Aku tahu, nikmat kafein ini akan menambah adrenalinku karena membuat terjaga sepanjang waktu lalu dalam durasi itu, rindu ini akan makin bergejolak. Dan sembari mensesap minuman pesanan, aku tergugah untuk mereduksi gejolak rasa ini yang kian menjadi dengan menuliskan sesuatu apapun pada selembar kertas. Menuliskan semua kekisruhan rasa yang timbul selama dalam perjalanan. Terbersit juga bahwa aku layak memperjuangkan apa yang aku yakin dan apa yang menjadi keyakinanku setelah Tuhan dan keluargaku, adalah kamu. Rumah yang akan aku tuju dan sebagai alasan terbaik dan terkuat untuk aku pulang.

Aku sadar, aku adalah orang yang kesekian kalinya yang hadir dalam hidupmu. Namun, aku merasakan hal langka selama aku hidup. Indahnya jatuh cinta adalah hal langka. Ketika melihat senyum dan pendar cahaya di matamu, aku tergugah untuk mencari tahu makna itu semua.

Namun pada akhirnya, rindu ini sedikit memudar ketika aku mendapati bahwa kenyataan pahit itu masih saja mengikutiku. Gerbang tempat tinggalmu memang terbuka, namun kamu belum ada di sana. Aku bernegosiasi kepada rindu layakkah aku tinggal sementara untuk menunggu dia pulang?, sebelum rindu menjawab pertanyaanku, akhirnya aku harus mengiyakan logika. Diperkuat dengan kabar bahwa kamu memang belum pulang dari aktivitas kerja.

Aku mengendarai kendaraan dengan hati yang sedikit hampa. Masih ada rindu yang masih mengepul di sana. Semakin aku menyadari pesan yang aku terima dari kamu yang membutuhkan waktu untuk diri kamu sendiri bahwa aku adalah orang asing yang mencoba mengusik duniamu. Aku pilu dalam perjalanan pulang dan menyesalkan diri kenapa rindu ini semakin menjadi saat mencoba berbaring memejamkan mata namun tidak bisa.

Jauh di dalam sana, hatiku meringis pelan dan pasti. Tersedu-sedu meluapkan kekecewaan kepada diri sendiri. B etapa bodohnya diriku membiarkan rindu yang tidak bertuan ini memperbudak dengan keji.

Maafkan aku, Gin. Aku tahu, apa yang aku lakukan ini sangat keliru. Sangat keliru.

Iklan

Tentang Hujan

Mungkin ini namanya yang berproses dalam hidup. Semua harus ditenggak kayak minum air putih yang ada kerak, kemungkinan ada bakteri yang masuk, ada sedikit apek sesekali dan beragam kemungkinan yang akan dirasakan setelah cairan ini melewati tenggorokan. (Edisi enggak bisa tidur setelah menyetir selama dua jam lebih perjalanan dengan roda dua yang sangat biasa saja sebenarnya, tetapi menjadi luar biasa karena diguyur hujan dan sempat terjadi insiden yang nyaris membuat dan menyumbangkan satu kejadian kecelakaan di rekam jejak laka lalu lintas Kepolisian Bajera Tabanan Sana)

Well, sampai di mana tadi? I got some crackers here. *enggak perlu posting bendanya ya, yang jelas gue enggak tahu kenapa gue ngambil biskuit merakyat ini dan sudah habis empat potong*.
Hmm, guyuran hujan memang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Untuk penikmat hujan, guyuran air ini sangat memberikan efek halusinasi akut. Ada yang berusaha menyembunyikan kesedihannya dan menangis di tengah-tengahnya. Cliche, but some people does. Ada yang hujan-hujanan untuk mendapatkan kebahagiaan sederhana, layaknya anak kecil, meskipun tubuh berbalut setelan kemeja kantor yang bersimbah keringat dan asam. Pun ada beberapa orang yang memang dengan sengaja mengundang hujan untuk terlibat dalam skenario photografi mereka sebagai penunjang dalam membuat portfolio pameran yang sangat berbeda. Bahkan ada sedikit orang yang hanya duduk termenung menyesali kepergian waktu dan di sela-sela keluh kesah bathin itu diperdengarkan serangkaian simponi hujan. Beberapa sisanya ada yang bersuka cita menyambut kedatangan hujan di balik selimut, dengan senyum sinis masing-masing dan berterima kasih bahwa doa kaum ini terkabul dan membatalkan semua rencana indah yang akan dijalankan oleh segelintir orang. 

Ada sekelompok orang yang membenci kedatangan hujan yang tanpa diundang merusak beberapa keinginan atau perencanaan hidup yang sudah dimatangkan jauh-jauh hari. Yang sudah menjadwalkan kunjungan khas malam minggu harus pupus dan rela menebus cita-cita ini di kesempatan berikutnya. Yang mempunyai rencana kemping lucu di halaman rumah, merelakan tendanya koyak karena terjangan air hujan. Batalnya perjanjian seseorang yang sudah menunggu harap cemas di suatu resto lengkap dengan paduan busana yang sangat menawan, namun yang ditunggu tidak kunjung datang karena sempat kehujanan dalam perjalanan.

Semuanya mempunyai cerita tentang hujan. Termasuk gue.

Hujan ujian ini benar-benar tidak masuk akal awalnya. Gue bersandar pada waktu yang terus bergulir. Hujaman demi hujaman ujian ini tidak dapat disangka-sangka ternyata dapat menyebabkan beragam akibat yang tidak dapat dipecahkan maksudnya apa. Do i look hyperbola? Of course yes. Bagaimana tidak. Maksud dari pesan yang telah dienkripsi dengan sederhana ini – Thank to division who made this simple algorytm by You, My Lord – masih belum dapat gue cerna dengan cara yang paling sederhana : disimak, didengar, dibaca dengan penuh segala kerendahan hati, namun tidak berujung pada jawaban yang dicari.

Gue sedang mencari padanan kalimat yang tepat terhadap apa yang sedang gue alami ini. Semua bak penampung hujan ujian ini sudah ingin segera dijamah oleh pikiran untuk dicari solusinya. Kadang,bak penampung ini sangat mengganggu pikiran. You know that when your basket fill full with dirty clothes dan bawaannya gemas untuk segera dicuci, namun elo memilih untuk goleran. 

I Need some extra miles hoilday to turn off this kinda notification of problem. Yes, here we go, enjoy your vocation at My Mind Hero.

Aku sudah cukup bahagia, pasangan sebagai penyempurna

Kebangun dengan pikiran yang masih ke mana-mana itu adalah sangat mengganggu. Apalagi saat ini, kepala gue kayak mau pecah. Ada martil yang terbuat dari empedu?

Udah lama pengen nulis ini sebenernya, tapi baru kesampaian sekarang. Gue pernah baca di mana gitu ya. (Anggap aja gue lupa)

Gue mapan dan mandiri. Kesempurnaan dari bahagia yang gue punya sudah terpenuhi. Ada atau tidaknya pasangan, tidak akan mengurangi kebahagiaan yang udah terbentuk.

Wah salute bener yang bisa ngomong begini. Well, mari analisa bareng-bareng.

Kalau gue menganalisa terhadap orang yang mengutarakan pernyataan ini – hanya sudut pandang ya, jangan dianggap too much nanti – adalah seseorang yang telah melalui rangkaian cobaan hidup yang sangat kompleks. Mungkin ada puluhan lusin kekecewaan, kesengsaraan, kepedihan dan tangisan yang sudah tersimpan rapi di rak file yang tidak mungkin diungkap ke orang lain. Jangankan memikirkan pasangan, orang ini lebih berpikir bagaimana caranya bisa hidup dan berjuang di tengah kolam cobaan. Agar bisa terus bernafas di dalamnya. Himpitan cobaan datang silih berganti. Sekali lagi, memikirkan pasangan hidup yang dapat terlibat dalam proses hidup menjadi lebih baik tidak pernah terpikirkan. Kalau kata kasarnya, elo sibuk kerja terus, pacaran aja nggak sempet.

Mungkin sebagai orang yang belom pernah bisa mempunyai pasangan hidup – masih penjajakan sih (enggak perlu curcol gitu kenapa, nyet?) – mungkin gue akan berujar dengan kalimat pernyataan yang sama. Lemme straight this point of view.

Fokus kepada hal-hal yang dikejar membuat perubahan pola pikir berubah secara signifikan. Kejar target karir yang sangat tinggi, promosi jabatan yang diinginkan, cita-cita jangka pendek, menengah dan jangka panjang yang masih berhubungan dengan materi harus dapat dicapai – meskipun mempunyai pasangan ada di dalam cita-cita – tetapi bukan menjadi prioritas. Hidupnya semata-mata untuk karir. (Analisa pertama done)

Mungkin, cara merayakan kekecewaan terhadap penggalan pahit masa lalu menjadi pondasi keyakinan orang ini di kehidupan sekarang, menjadi bahan bakar semangat untuk mencapai apa yang dimau, terkecuali pasangan. Mungkin, masih terjebak dengan luka yang belom sembuh. Penyembuh luka yang tertoreh itu belom ditemukan. Traumatisnya mengakar banget ya kalo gini. (Analisa kedua done)

Kedatangan pasangan di hidup seseorang kadang menjadi ketakutan sendiri. Ada loh yang takut jika pasangannya merusak perlahan dunia yang telah menemaninya selama mencapai dan menemani hidup sendiri. Jangankan nanti satu atap, sekedar menemani makan siang saja pun kayaknya bakalan tidak bisa dinikmati dengan santai. (Analisa ketiga done)

Well, dari semua analisa itu, gue masuk yang mana ya? Point ketiga mode on : pernah. Point kedua mode on : pernah banget.

Udah mau ngomong gitu aja lewat tulisan ini. Analisa demi analisa emang nggak sinkron, hanya saja yang patut dipertanyakan : Seberapa lama kenyamanan sendiri ini akan tetap dapat dinikmati tanpa melibatkan pasangan hidup? Bukankah nanti, manusia akan menua dan butuh teman hidup?

Mean while i have to nenggak antalgin for this headache. Gilaaaa sakit banget.

 

 

#Merayakan #Ketulusan

Tulisan hari ini meyakinkan bahwa aku mampu berdiri lagi dari keterpurukan langka : berhenti menuliskan semua isi kepalaku. Termasuk malam ini.

Mungkin, sabtu malam ini adalah sabtu terbaik yang aku catat di prasasti kenangan yang bersemayam khusus di salah satu sudut bagian tubuh terpenting manusia. Hati dan perasaaan sebagai seorang manusia yang memiliki simpati dan empati.

Jatuh Cinta tidak separah itu ternyata, kata Logika kepada hati. Sebuah retorika sebenarnya mempunya dua sisi yang sangat pantas untuk diulas. Namun aku enggan untuk membahas hal ini. Biarlah kali ini, aku memainkan sebuah lagu dengan lirik yang sama sekali tidak aku pahami maknanya dengan partitur yang masih baru dan sedang akan di-aransemen dengan musik yang belum aku ketahui komposisinya.

Sebuah pertanyaan yang memicu kepalaku terus menggagungkan hal ini sepanjang perjalananku menuju dimensi lain : Haruskah aku lanjutkan atau mungkin aku harus berhenti mengejar kamu? Yang hanya sekedar memberi ruang semu namun memaniskan. Atau kenyataan pahit, jalan yang aku tempuh tidak berujung pada tujuan yang aku tuju yakni dermaga. Dermaga yang tengah bersandar sebuah perahu yang dibangun oleh semangat optimis dan rasa cinta yang tinggi. Perahu yang siap berlayar dan meninggalkan dermaga untuk kemudian berkelana menyusuri setiap jengkal perairan. Semakin manis rasa yang ditinggalkan, menyekanya pun enggan, maka sebaiknya apa perlu aku pertaruhkan semua hal yang  telah dikorbankan meski hal itu tidak lumrah dan sangat tidak memungkinkan?

Entah kenapa, jika hal itu tidak aku lakukan, akan menjadi beban pikiran. Sekalipun jawaban tidak akan terlontar dari bibir kamu, aku akan sangat mengerti. Karena cara aku dalam merayakan rasa penasaran adalah melakukannya tanpa memikirkan apakah hal itu membuang waktuku atau tidak. Perkara berhasil tidaknya, aku tidak begitu ambil pusing. Sekali lagi, yang aku tahu bahwa aku telah melakukan hal yang benar terhadap apa yang sedang aku perjuangkan. Meski menurut kamu sendiri, aku sangat bodoh dan tergesa-gesa  memutuskan tindakan itu. Aku tidak peduli lagi. Aku yang mempunyai cara sendiri dalam mengutarakan dan menunjukkan seberapa besarnya keinginan aku untuk memiliki kamu. Hanya itu saja.

Aku tidak pernah mengusik masa lalu. Masa di mana aku sudah mencoba cara satu dan cara lain untuk meraih hatimu. Meski aku gagal suatu saat nanti. Namun bgitu, izinkan dan biarkan aku melihat untuk mendapatkan hatimu dengan caraku. Tidak perlu kamu merisaukan apakah luka yang timbul nanti betapa pedih dan sangat koyak, tidak perlu dipikirkan. Tidak perlu juga memikirkan bagaimana luka pedih itu sembuh dan pulih.

Kamu pasti akan berpikir sekilas, bagaimana aku dengan mudah menyerahkan hati ini kepada kamu. Sekali lagi, ini adalah bagian dari kenangan yang ingin aku punya. Dan aku melibatkan sosok kamu, sedikit saja. Mohon maaf sekiranya, aku tidak bisa memberi imbalan materi yang pantas.

 

PKS – Perjanjian Kerja Sama vs Perjanjian Kerja Suara – Part 1

“Pokoknya nanti, elo akan kerja dengan dinamika yang sangat tinggi. Elo pasti akan suka”.

Obrolan ini terjadi di sebuah resto di kawasan PIK sana, di hari minggu dan matahari sedang terik-teriknya menyinari dataran jakarta utara dan sekitarnya.

Anyway, familiar nggak dengan kalimat ini? well, ini yang gue alamin ketika dihire oleh sebuah perusahaan yang bergerak di industri teknologi informatika. (Bahasanya di-hire, hahahhaa, kebagusan ye? Yawes, biar lebih keren dan terlihat matching, gue gunakan istilah di-hire). Lanjut…!!!

Gue sebenarnya ogah posting tulisan ini, karena terlalu personal banget buat gue. Tetapi, gue mau ulas pengalaman ini agar menjadi cermin buat para junior gue yang tengah berjuang mencari pekerjaan di Jakarta atau di mana pun, agar pola pikirnya kepakek dan bener-bener rasional. Apalagi dalam mencari pekerjaan ini ada sangkut pautnya dengan persahabatan.

Pertemanan seseorang dengan pribadi yang lain sangat diuji banget, kadang-kadang. Ujiannya meliputi sebagian aspek bahkan seluruh kehidupan. Dan gue mengalami (lagi) phase ini. Jadi ceritanya, gue sedang hunting posisi di perusahaan-perusahaan di Sudirman yang memungkinkan mengangkat gue jadi staff mereka. Dengan jejak pengalaman yang gue punya – enggak perlu gue pamerin CV gue ya, hehehe – cukup acceptable-lah untuk diangkat jadi staff baru mereka. Namun begitu, sebagus apapun CV yang gue punya, selalu kalah bersaing dengan permainan channel orang dalam. To be honest, I’m sick of it. Tetapi, galah kesempatan selalu gue lontar dan tancapkan. Berkali-kali.

Nah, ketika dalam proses berupaya untuk mendapatkan posisi baru dan meninggalkan posisi lama di kantor yang lama, sebuah tawaran datang dari seorang teman akrab yang kebetulan juga dari Bali. Gue kira hubungan pertemanan kami hanya berlanjut dalam platform BBM, Whatsapp, Facebook or LINE. Nyatanya berlanjut sampai sekarang. Singkat kata, ketika ada kesempatan gue bercerita sama temen gue ini – oh ya, nama temen gue ini namanya Cika (bukan nama sebenarnya) – bahwa gue sedang akan pindah dari kerjaan lama. Dengan alasan, gue sudah jenuh dengan status karyawan outsourcing. Dan gue sempat utarakan juga bahwa kontrak kerja gue akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan, tepatnya akhir Agustus 2016.

Obrolan kami berlanjut hanya di LINE saja. Diskusi berbagai hal dan mengulang memori kenangan tentang masa-masa kami sekantor dulu. Dan hingga akhirnya, part obrolan kami seperti ini.

She : kamu di sana udah berapa lama?

Me : x tahun.

She : dapat berapa kamu di sana?

Me : xxx sekian

Yak, dan panjang lagi pembahasan kami. As a bitch friend – jangan diartikan dengan makna lain yeee – , maka obrolannya pun akan ngalor ngidul seperti itu. Hehehe. Membahas kedongkolan kerjaan masa lalu, masa-masa di mana kami ngamen bareng lintas kota, gimana galau-galaunya Cika dengan cowok sebelumnya bahkan bela-belain nelpon malam buta hanya untuk gue perdengarkan tangisan galaunya itu. Yes, hanya karena cowok. She really love that asshole boy friend. Selang beberapa hari, gue mendapati chat yang lain dan berkesan angin surga banget. Yeah right, ke surge aja gue belum, ini  sok-sokan memberi ungkapan angin surga. Hahaha.

Di hari minggu awal Agustus, gue diundang makan bareng. Dan akhirnya bisa ketemu juga dengan Cika ini, setelah beberapa kali hanya sekedar wacana dan (sempat) di-php-in juga untuk ketemuan. Temen baik aja masih suka PHP-in ya? Apalagi orang lain yang baru kenal. Noted to my self, kala itu. Ibu kota dengan segala lingkungan yang dinamis, dapat saja mempengaruhi seseorang berubah menjadi lebih baik atau menjadi semakin buruk. Dan gue sempat mengecap Cika ini, sedikit berubah. Hmmm, I think I’ve skip this part, sebelum ada pertumpahan darah. Hahhaa.

 

Back to story. Jadi, awalnya di Setiabudi One – my choice, lebih dekat dengan – dan karena repot dengan urusan parkir, Cika ngabarin gue untuk keluar dari gedung dan ke seberang jalan arah ragunan. Tempat makannya di Kemang aja, katanya. Ya sudah, sebagai yang diajak makan, gue nurut-nurut aja deh.

And here we go. Apa yang dibahas di salah satu resto di Kemang itu adalah sebagai obrolan pembuka dan memperkenalkan diri antara gue dan calon suaminya Cika. Walau sebenarnya, basa basi sudah terjadi di dalam mobil. As stranger and outsider, gue hanya mengiyakan dan ketawa sekedarnya selama di mobil dan mengurangi kadar SKSD dengan calon suaminya Cika. By the way, namanya Didit and his name is alias. Teteup pakek alias untuk menjaga privasi orang. Ya kan, Mas Didit?

Selama obrolan hangat kami yang mengulas tentang pekerjaan dan mengenai pribadi masing-masing dan sembari mengunyah daging terenak di dunia yang dihidangkan oleh pihak resto, gue diberikan ruang untuk mengenal karakter Mas Didit ini.

 

“Jadi ya, bok, lakik eyke ini orangnya galak, tapi asyik dan baik. Nanti santai aja ya, jangan tegang.” Demikian briefing yang gue terima sebelum pertemuan ini dan memang seperti yang diceritakan oleh Cika. Dan di gue sendiri ada sedikit rasa segan. Kalau ketemu orang kayak gini, pasti crangky abis berurusan dengan details. Dan karena dalam rangka berkenalan dengan calon bos, maka gue nggak boleh berpikiran yang tidak-tidak bukan? So, I did. Oh wait, kalau masalah fisik, si Mas Didit ini tinggi-lah, pantesan si Cika  betah, bisa dipanjat banget Mas Didit. Dalam bahasa kekinian, panjatable.  Yes, artikan sendiri maknanya ya.

Makanan yang dipesan kloter pertama tuntas dan setengah porsi kloter kedua terpaksa dibawa pulang karena masing-masing perut kami sudah tidak mampu menampung potongan daging ini. Obrolan tiga jam kurang di resto ini cukup memberikan gambaran, tentunya dari pihak Mas Didit sudah mengetahui potensi gue ini

Dalam perjalanan pulang, akhirnya muncul obrolan mengenai peluang bekerja di Company Mas Didit ini.

“Gue butuh orang yang bisa memvisualkan gagasan gue ke dalam suatu bagan atau animasi. Company gue memang membutuhkan orang-orang kreatif. Orang-orang yang dapat menuangkan gagasan gue ke dalam satu proses yang dapat menghasilkan….(panjang bener bahasannya, so teknikal. Jadi anggap aja Mas Didit lagi berceloteh ya)…Dan menurut gue, elo itu kreatif karena sudah menghasilkan buku, dan Cika juga sudah cerita gimana elo selama ini.

Oke, gue hanya menyimak aja obrolan itu tanpa merespon apa-apa selain kalimat pendek “oh begitu”. Jujur saja, yang gue tangkap waktu itu paham dan gue banget kayaknya. Berbekal pengalaman kerja yang gue punya, tentu untuk hal yang dijabarkan oleh Mas Didit, gue mengerti banget. Hanya saja, ada part yang belum gue klik sama posisi pekerjaan yang dimaksud oleh Mas Didit ini.

Kelanjutan cerita ini? Nanti ya, setelah gue selesai ngucek cucian yang udah lama gue rendam dari kemarin. To Be Continue dulu…

 

#Lembaran #Baru #2017

Masih segar dalam ingatan gue, hingar bingar perayaan pergantian tahun baru berupa letupan cahaya warna warni di langit Jakarta dan sekitarnya, semalam. Meriah. Begitu riuh menggelegar dengan bentuk dan ukuran yang beragam.

fireworks

Begitu meriah di atas sana. Di berbagai sudut langit penjuru mata angin, suara gemuruh saling bersahut-sahutan malam itu, menandakan bahwa lembaran 2016 berakhir dalam hitungan beberapa jam, disusul beberapa menit dan sang detik mengambil tempatnya, mulai menghitung mundur…

10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1…

ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one…

*count down yang sama dalam berbagai bahasa di belahan bumi manapun*

Dan di bawahnya, ada ribuan pasang mata yang menatap penuh harap, penuh keikhlasan, penuh kebanggaan terhadap pencapaian yang telah direngkuh selama kurun waktu 366 hari di tahun 2016.

Tidak serta merta, hal-hal baik saja berlalu di tahun ini. Hal-hal baik yang mendatangkan akibat bahagia yang tidak terukur beratnya, penyebab gelak tawa yang tidak dapat diukur berapa harganya, atau hanya sekedar sunggingan kecil di wajah penuh arti. Namun, tidak ada salahnya hal-hal buruk yang mengendap, berlalu begitu saja atau timbul kepermukaan, ketika kesempatan mengingat hal-hal buruk itu menggoda pikiran, keberadaan mereka diakui sebagai bagian dari kisah harmoni selama 2016.

Mungkin, ada bentuk kekecewaan tersedak dan terdesak oleh waktu….

Mungkin, barisan rindu bertuan maupun tidak merapatkan barisan masing-masing untuk tetap di tempatnya…

Mungkin, penantian yang diharap akan segera berakhir, harus menunggu tanpa kejelasan entah sampai kapan…

Mungkin, ada beberapa rasa mungkin yang tidak dapat diuraikan dalam kalimat sederhana

Mungkin, ada harapan sederhana…tidak ingin hidup sendiri lagi

Mungkin, ada harapan jangka pendek, ciuman acak dengan orang asing di malam pergantian tahun baru…

Apapun bentuk mungkin, masing-masing pemilik pasang mata malam itu, memiliki harapan yang sama : menjadi lebih baik.

Pergantian tahun tidak ubahnya seperti membuka lembar baru dalam sebuah buku baru dengan tebal halaman sebanyak 365 halaman. Lembar-lembar putih polos ini siap untuk tuliskan kisah-kisah apapun yang ingin tertulis di setiap lembarnya, sesuai dengan apa yang diinginkan si penulisnya. Setiap orang sebagai penulisnya, kuasa kisah yang akan tertulis berada di tangannya sendiri,  yang didukung dan melibatkan : keputusan dan kesempatan.

Selamat tahun baru 2017.

#DAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga Belas

Tidak ada sisa menit yang terbuang sia-sia. Setidaknya untuk enam bulan yang lalu. Aku dapat dengan cepatnya memanfaatkan waktu untuk mencapai apa yang aku rasa dan wajib dicapai setiap harinya. Bagiku, waktu adalah sahabat yang mengerti apa yang aku mau – bahkan minuman soda yang termasyur itu jelas kalah saing – dan lebih dari sekedar sahabat, waktu menuntunku untuk sadar lebih realistis. Realiatis tentang peran kesadaran.

Aku mengerti dengan klimaks, bahwa waktu tidak dapat dikompromi. Sehingga, kesepakatan kami waktu itu adalah aku dan waktu berkelana setiap hari, menyelesaikan setiap puzzle acak yang akan menentukan kehidupanku selanjutnya. Waktu mengajarkan cara untuk berpikir taktis terhadap keping godaan Sale dengan digit angka fantastis. Waktu juga mengajakku untuk melihat lebih jauh lagi bagaimana memantik semangat yang meredup. Dan waktu menjawab, betapa cukupnya tabungan sabar yang aku miliki selama ini. Dan waktu yang menyadarkan, bahwa kamu mengibakan orang lain bukan karena cinta.

Dan benar, waktu dengan sengajanya menghardikku. “You waste my power to build a shit of your shit. Stop it, pal”. Deru jantung mungkin tidak sekencang gemuruh roda besi kereta di landasan rel sepanjang sudirman-kota, namun iramanya yang cukup mengganggku. Apakah iya, aku hanya membuang kekuatan waktu hanya untuk menikmati apa yang aku pegang saat ini?