Pantai Lara 3 : Ratna

Pukul 05.00. Aku terjaga dari lelap tidurku. Mataku membuka perlahan, dan berusaha untuk mengatup lagi. Namun, seakan antara keinginan dan reaksi tubuh sendiri tidak sejalan, justru membuatku gusar. Ya benar, mataku enggan untuk mengatup lagi, sedangkan keinginanku untuk berbaring dan tenggelam dalam selimut beludruku tidak dapat ku kabulkan.

Segera saja aku bangkit, menanggalkan belaian hangat selimut beludru merahku. Aku terduduk di tepian ranjang, sembari memandang ke arah daun jendela. Masih terlihat gelap. Sang mentari belum hadir menggodaku dengan sinar paginya. Dan sedikit terperanjat, aku mengingat sesuatu hal yang harus aku lakukan hari ini. Aku memeriksa kalender mini yang ada di atas mejaku. Ah, benar saja. Pantas aku tersadar begitu cepat pagi ini. Aku harus segera bergegas menuju tempat yang seharusnya aku datangi.

Sebenarnya, hal ini tidak harus aku lakukan. Pergi untuk melakukan sesuatu yang bodoh. Hanya saja aku telah berjanji kepada diriku sendiri, untuk mengunjungi tempat ini tepat 11 hari setelah kejadian yang tidak ku ijinkan terjadi dalam lembaran hidupku. Tepat akhir tahun lalu, 31 Desember 2010. Kepekaanku atas kejadian itu masih terasa. Sayatan secara fisik memang sudah sirna, namun sayatan yang aku rasakan secara bathin, belum sepenuhnya beranjak dari tempatnya. Masih kurasakan perih di dalamnya. Dalam keadaan seperti ini, aku memang membutuhkan suasana yang mendukung untuk pemulihan diriku. Semua kerabat dan teman terbaik yang aku punya, memberikan itu. Hanya saja, beberapa diantaranya aku merasakan hambar.

Tibalah Kakiku menginjak bibir tempat ini. Hembusan sang bayu menerpaku, seakan menyambutku dan berkata “Selamat datang”. Dan ku tanggalkan alas kakiku. Ku hirup dalam udara pagi ini dalam-dalam, hingga akhirnya ku hembuskan pelan. Ku lakukan berulang kali, dan sedikit kedamaian aku temukan.

Aku berjalan menyusuri bibir pantai. Di tangan sebelah kiri, telah terjinjing plastik berukuran sedang warna merah, yang berisikan segenggam bunga warna-warni dan sebuah amplop putih.

Langkah kakiku terhenti, dan memandang ke arah lautan lepas. Gemuruh ombak masih sayup-sayup ku dengar. Ku perhatikan arlojiku, waktu telah menunjukkan pukul 05.50. Pandanganku beralih menuju kantong plastik yang ku bawa serta. Ku buka amplop putih yang turut serta ada didalam bungkusan kecil itu. Dan segera saja, ku keluarkan isinya. Nampak barisan kalimat dengan tinta hitam dengan tulisan yang begitu indah, tersusun rapih dilembaran kertas putih polos.

Untuk Galih, penggalan kasih yang selalu kuakui.
Terima kasih kau telah membawa hal-hal yang konyol, yang aku pinta ke pantai ini. Agak sedikit merepotkanmu. Maafkan aku galih.

Kau tahu, mungkin dalam waktu yang akan datang, kau akan sering mengunjungi tempat ini. Alasannya mengapa, kau akan mencari tahu dengan sendirinya. Karena aku tahu, kau mulai terbiasa dengan apa yang aku pinta.

Kau masih ingat, ketika kau menceritakan bagaimana kakimu gatal karena menginjakkan kakimu untuk pertama kalinya diatas buliran pasir putih tempat ini. Seakan kau terbakar, ingin segera beranjak pergi. Ketika itu, aku hanya berusaha mengingatkanmu, melalui bahasa tatapan mataku. Kau berusaha menolaknya, namun pada akhirnya, kau dapat mengatasi rasa gatal yang timbul. Itu semua hanya fantasi yang ada dalam pikiranmu, sehingga itu menjadi kenyataan. Masihkah ingat kau dengan kejadian itu, Galih? Saat itu, kau mengenakan pakaian kerjamu, lengkap dengan dasi kesayanganmu, berwarna biru langit.

Tempat ini memang memberikan arti tersendiri bagiku. Sebelum aku mengenalmu, hampir semua waktu luang, ku habiskan di tempat ini. Sampai sekarang pun, kau masih bertanya-tanya, mengapa aku begitu damai dengan tempat ini, sehingga bermalam pun aku rela disini. Benar bukan? Kau tidak usah mengelak ketika membaca bagian ini, karena itu sama saja membohongi dirimu sendiri.

Baiklah, aku ceritakan sekarang. Tapi berjanjilah kepadaku, setelah membaca seluruh suratku ini, simpan bulir-bulir air mata yang terbit di kedua sudut bola matamu. Karena aku tidak ingin melihat kau terjerembab dan berselimut pilu. Aku ingin kau bahagia, meski aku tidak bisa memberikan kebahagiaan itu secara fisik. Namun, dari tempatku berpijak, aku bisa melihat dan merasakan apa yang kamu rasa. Terkadang, itu pun tidak adil bagiku, hanya merasakan perasaanmu sepihak. Tetapi, aku tidak akan menuntut itu padamu. Barisan kata yang ingin aku garis bawahi untukmu adalah, Aku ingin Kau berharga untukku, seperti mentari yang selalu memberikan seberkas cahaya untuk pagi.

Pertama kali aku datang ke tempat ini, bersama Kakek, saat aku berusia 3 tahun. Beliau tersenyum dan sedikit terpingkal melihat ekspresi polosku, bermain air, hampir bergelut dengan ombak hingga akhirnya pakaianku basah oleh permainan ombak pantai ini. Saat itu, Kakek berkata “Wah, nana, Om Ombaknya nakal ya, kamu dibuat basah”. Aku hanya terdiam saat itu, hanya melakukan hal yang sulit dicerna bagi pikiran orang dewasa, yakni mencubit ombak. Aku berusaha mencubit ombak itu dengan semangat. Kakek hanya tersenyum dengan tingkah polosku. Dan sebentar saja, aku mulai bosan, dan mulai merengek nyaring kepada kakek. “Om ombaknya nakal” teriakku. Dan akhirnya, tangis mungilku pecah. Kakek segera menghampiriku, dan mulai menggendongku. Kakek bilang kepadaku “Om Ombak engga nakal, Ratna. Om Ombak hanya mau berteman dan akrab sama Ratna.” Aku tidak perduli dengan omongan Kakek, dan tangisku pun pecah sejadi-jadinya. Hingga akhirnya, Kakek membawaku pulang, tepat digendongan punggung ringkih itu.

Terlihat konyol bukan? Menurutmu, Nana kecil dengan nana besar, adakah perbedaannya? Jangan kau jawab Galih, karena mungkin aku akan mengejarmu dan mulai mencubit bagian sensitif dari tubuhmu, yakni pinggang sebelah kiri.

Aku ingat sekali, ketika Kakek pergi selamanya saat usiaku 8 tahun, aku merasa terpukul dengan hal itu. Tidak ada lagi dongeng usang yang ia bagikan kepadaku sebelum aku tidur siang, Belaian tangan renta tak lagi mengelus rambut ikalku. Tidak ada lagi yang membuatkanku teh jahe hangat. Dan tidak ada lagi yang mentraktirku kue cubit yang dibeli dengan uang pensiunan Kakek. Hingga akhirnya, seminggu setelah Kakek pergi, aku pun ke tempat ini. AKu berteriak ke arah laut lepas. Meneriakkan nama Kakek dengan sekencang-kencangnya. Tangisanku tersedu-sedu. Hingga akhirnya, sang bayu seakan turun dan membelaiku pelan. Hembusannya seperti tangan kakek membelai rambutku. Namun, kali ini, seluruh anggota badanku, merasa tersentuh oleh hembusannya. Sejuk yang kurasa. Mendamaikan asa yang berontak.

Pada malam harinya, aku bermimpi, bertemu dengan sesosok yang begitu damai. Ia mengulurkan tangan, sembari menyebutkan namanya, Bayu. Perawakannya seperti kakakku, Yuda. Kau masih ingat bukan? Dia ingin menjadikanku sebagai temannya. Dia berkhilah, bahwa Kakek meminta bantuannya untuk menemani kesendirianku, setelah Beliau terlebih dahulu menghadap dan berbagi pengalaman serta bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi selama hidup. Dan Kakek sudah menceritakan semua tentang aku kepada Bayu. Namun, sebagai anak yang masih polos, aku hanya bisa mengiyakan dan mengganggukkan kepala.

Itulah mengapa aku sering ke pantai ini. Aku merasa nyaman jika sesuatu hal buruk terjadi padaku, maka pantai ini pelarianku. Dan Bayu, Sang Angin setia bersamaku, mengeringkan pipiku yang basah oleh karena guyuran air mataku. Dengan leluasa aku bercerita dan bercengkrama dengannya, meski hal itu sangat ganjil untuk kau terima Galih. Tetapi inilah sisi lain yang tidak kau sadari, dan mengapa baru aku ceritakan sekarang.

Galih, maafkan aku ketika aku berbohong kepadamu beberapa waktu yang lalu. Ketika aku mengatakan padamu, bahwa aku harus berkunjung ke suatu tempat diluar kota, dan aku harus pergi sendiri. Saat itu, aku tidak mengatakan tujuan pasti kepergianku. Semata-mata aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Aku mendengar kabar, bahwa di hari yang sama ketika aku berangkat, Kau tengah berjuang dalam lomba Sains tingkat Propinsi. Aku tidak mau mengacaukan konsentrasimu.

Aku bingung, bagaimana awalnya menulis surat ini. Aku takut, sebelum usai kau membaca seluruh goresan pena yang tertuang dalam lembaran ini, kau sudah merobeknya terlebih dahulu. Namun, aku yakin,kau tidak akan melakukan itu.

Galih, aku tahu ini sangat berat bagimu. Kita bersama dalam hitungan waktu yang tidak begitu lama. Namun, goresan pelangi yang kau torehkan dalam kanvas hidupku, memberikan nuansa lain. Meski aku diijinkan menikmati semua ini hanya sebentar, kau sudah memberikan semuanya apa yang akan dan sudah aku inginkan. Aku sangat merasa berdosa, belum dapat memberikan sesuatu yang istimewa untukmu. Aku hanya merepotkanmu. helai demi helai kasih sayang kau tenun untuk menemani sisa-sisa kesempatanku hidup di dunia. Kau sabar dengan semua sisa-sisa yang tersisa apa yang aku punya.

Dan bunga yang kau bawa serta ini, apakah sudah sesuai dengan apa yang aku pinta? Aku menginginkan bunga yang sama dengan namaku. Ratna. Apakah kau sudah mengusahakannya? Maaf meragukanmu. Tebarkanlah bunga-bunga ini ke laut lepas, sebagai tanda bahwa aku merindukan pantai ini. Lakukanlah setiap bulannya, di tanggal 11. Karena tanggal itu menjadi tanggal berharga bagi kita. Tanggal yang menegaskan kita, bahwa kita adalah Galih dan Ratna yang berucap janji sebagai dua insan yang saling mengasihi dalam naungan cinta.

Aku tidak akan memaksa kau, untuk terus melakukannya selama hidupmu. Aku tidak boleh egois, hidupmu harus berlanjut. Ketika Ratna lainnya menghampirimu, berjanjilah kepadaku. Perlakukan ia, seperti memperlakukanku. Perlakukan dengan kasih sayang. Dan, ketika kau siap untuk memulai merenda kasih yang baru, tanggalkanlah permintaanku ini. Berjanjilah.

Walau fisikku sudah terbenam dibawah sana, namun jiwaku akan selalu ada bersamamu. Setiap hela nafasmu, aku ada disana. Tetaplah menjadi Galih yang aku kenal.

Dari seorang yang merindu,
Ratna

Air mataku tidak tahan keluar dari sumbernya. Aku menahan tangis dan sesak yang timbul karena membaca surat terakhir ini. Hanya ini yang ia sisakan untukku. Aku jatuh bertekuk lutut. Kakiku lemah bergetar. Ku kepalkan kedua tanganku, hingga akhirnya ku hentakkan pada hamparan pasir yang ada di depanku. “KENAPA!!! KENAPA SECEPAT ITU KAU MENGAMBILNYA!!! KENAPA!!!” Teriakku lantang. Tidak ada seorang pun yang akan menjawab teriakan parau seperti ini. Hanya deburan ombak bertalu-talu mengiringi isakan tangisku. Aku berusaha tegar, aku berusaha mengumpulkan puing-puing ketegaran yang masih tersisa. Ku jumput dan mulai menebarkan sedikit demi sedikit bunga-bunga ini, seperti yang ia pinta. Air mataku tak kuasa mengalir deras. Aku berusaha bangkit, berdiri tegap.

Bagiku, ini perpisahan yang indah.”Aku hanya berharap, semoga kau melihatku disini selalu tersenyum untukmu, dan temani kesendirianku ketika aku datang ke pantai ini, membisikkan kata-kata sederhana di daun telingaku melalui bantuan sahabatmu, Sang bayu. Aku akan mengerti.” Kataku sembari menebar bunga-bunga Ratna. Kakiku masih belum bergetar. Deburan ombak menerpa kakiku, seakan berkata “Menepilah, tenangkan pikiranmu. Aku akan sampaikan salammu kepadanya.”

Aku enggan beranjak dari tempatku berdiri. Dan setelah itu, aku tidak ingat bagaimana sekelilingku berwarna pucat lalu gelap.

Iklan

Pantai Lara 2 : Ganendra

Senin, bulan ke delapan, minggu pertama.

Aku putuskan untuk menepi dari kebisingan dan hiruk pikuk pekerjaan yang sangat menyita waktu.
Hampir 3 bulan belakangan, aku tenggelam dan larut dalam kesibukanku. Ada saja yang aku
kerjakan. Entah itu mengerjakan sesuatu hal yang paling konyol atau yang paling berharga,
menuliskan semua apa yang sudah aku kerjakan.

Ku kemudikan kendaraan roda duaku menuju sebuah tempat penglarut kebosanan.Pantai Lara. Biasanya
tempat ini selalu aku kunjungi setiap beberapa waktu. Hampir setiap minggu aku kunjungi, hanya
sekedar menikmati hawanya, ato hanya sekedar menyempatkan diri untuk sekedar menikmati jajanan
yang disediakan oleh para pedagang disana. Namun karena kesibukanku, kebiasaan lamaku ini, tidak
bisa aku lakukan. Sekali lagi, alasanku adalah : karena kesibukanku.

Waktu tengah menunjukkan pukul 15.23 pada Arloji hitamku.”ah, sudahlah. Bolos kerja beberapa
jam, bukan jadi urusan yang besar kan.” kataku pelan. Demi menyemangati diri sendiri. Aku
bukanlah tipikal orang yang suka membolos kerja. Aku pekerja keras. Hanya saja, tingkat
kejenuhan seseorang bisa saja muncul tiba-tiba bukan?. Dan itulah yang aku rasakan sekarang.
Setibanya di pintu masuk pantai dan menyelesaikan urusan kontribusi kebersihan, segera saja ku
parkir kendaraan roda duaku pada tempat yang telah disediakan. Hari itu hari kerja, namun
sebagai salah satu tujuan objek wisata, para wisatawan mancanegara selalu ramai datang dan pergi
ke tempat ini. Dan aku pun salah satunya. Walaupun, kali ini, pakaian yang aku kenakan tidak
mencerminkan sebagai wisatawan. Tidak menjadi masalah bukan?

Segera saja, aku membenahi diri dan memilih tempat yang terbaik untuk berteduh. Kebetulan juga,
hari itu lumayan terik. Ku susuri jalan kecil disepanjang pinggir pantai. Semakin dinamis saja
pantai ini. Berbeda dengan kunjunganku sebelumnya, Lima bulan yang silam.

Mataku memandang jauh ke depan, arah selatan pantai. Berusaha mencari lokasi yang strategis.
Meski hari beranjak sore, namun masih menyisakan terik yang begitu menyengat. Sesekali
gerombolan anak-anak kecil berlarian menuju ke arahku. Entah apa yang mereka kejar. Mungkin
mainan baru dari salah satu anak orang kaya, yang lagi pamer. Atau mungkin sedang melakukan
permainan kejar-kejaran. Dan sebentar saja, kumpulan pepohonan waru berhasil kutemukan.
Nampaknya rindang dan teduh. Dan bonus buatku, sepi. Tanpa pikir panjang lagi, segera saja ku
percepat langkah kakiku menuju tempat itu. “Terima kasih Tuhan”, ucapku dalam hati.

Kumpulan pepohonan waru itu nampak begitu menggodaku. Menawarkan keteduhan khas. Segera saja,
aku melepaskan seluruh barang bawaanku. Sepatu kerja ku lepas. Hingga akhirnya terduduk
menghadap ke arah laut lepas. Ku hirup dalam-dalam hawa pantai itu. Ku hembuskan kembali. Begitu
seterusnya. Hingga benar-benar aku merasakan ketenangan yang aku cari.

Semilir angin pantai berhembus, membelai helaian rambutku yang sudah mulai panjang. Aku
membiarkannya. Dari kejauhan, aku masih bisa memperhatikan gerombolan anak kecil tadi, sedang
memainkan bola kaki dengan penuh riang dan semangat. Sedangkan sudut pantai yang lain masih
menyisakan beberapa gambaran lainnya. Masing-masing memiliki kepentingan tersendiri. Para
nelayan yang tengah menyiapkan peralatan melautnya untuk malam nanti. Para penjaga pantai masih
setia bersiaga. Dan di sudut ini, aku terduduk menyendiri.

Sebenarnya ada alasan yang sangat mendasar kenapa akhirnya aku memilih untuk ke tempat ini lagi.

Ada sedikit nanah yang tersisa dari masa lampau. Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana
menyembuhkan, mengeringkan nanah yang masih nyeri aku rasakan. Seiring waktu, seharusnya nanah
masa lampau bisa mengering dan akhirnya menghilang dengan seiring berjalannya waktu. Namun,
kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkan kesembuhan total seharusnya. Bukankah itu menjadi hak
bagi semua orang?

Entahlah….

Aku mencoba kembali untuk mengeringkan nanah ini. Dengan kedatanganku kemari, berharap semuanya
akan kembali normal. Mendapatkan kembali jati diriku. Aku merindukan sosok diriku sendiri dan
ketegaran yang pernah menjadi bagian hidupku. Namun sekarang, sehelai pun aku tidak memeliki
jejak-jejak ketegaran itu.

Aku rebahkan badanku. Menghempaskan beban penatku diatas gundukan milyaran butiran pasir. Aku
nyaman dengan butiran-butiran ini. Ku silangkan kedua tanganku, hingga akhirnya menjadi alas
kepalaku untuk berbaring. Hempasan sang bayu kembali seakan memahami apa yang aku rasakan. Ia
memang memahami keberadaanku disini, apa tujuanku. Ia memelukku dengan terpaan pelan dan
mendamaikan gejolak yang selama ini aku pendam. Pikiranku mungkin sedikit tamak, aku ingin Ia
berwujud sebagai sosok yang bisa memelukku, memberikan sandaran bahu, terlarut dalam rangkaian
cerita yang aku lontarkan. Namun, itu hanya keinginan egoku. Kalau pun ia berwujud seperti yang
aku harapkan, lalu bagaimana dengan pribadi-pribadi yang lain, yang juga ternyata merindukan
terpaan serta hembusan-Nya?. Bukankah, itu terlalu egois?

Ku hirup udara disekitarku. Menahannya beberapa saat, hingga akhirnya ku hembuskan pelan. Aku
masih bisa merasakan kedamaian yang Ia tawarkan melalui tempat ini. Aku harus bersyukur, sampai
saat ini aku dapat menikmatinya. Ku pejamkan mataku. Mencoba merasakan, mengerti dari maksud
hembusan sang bayu. Begitu tenang. Jika kau membayangkannya, seperti apa yang aku rasakan, maka
aku bisa gambarkan seperti ini. Ketika kau jatuh terjerembab ke dalam siksa derita, ia datang
menghampirimu. Bukan memberikan laso yang kau harapkan, namun jalan lain keluar dari siksa itu
sendiri. Ketika kau bertanya padanya, maka hembusan pelan yang ia berikan sebagai kepantasan Ia
memelukmu. Menenangkanmu, dengan membelai ragamu, “Kamu akan baik-baik saja, kawan”

Jauh. Sangat jauh anganku melayang. Gaung mesin kapal tidak bisa mengusik anganku yang tengah
larut. Larut dalam hamparan ribuan kubik kekecewaan. Bagaimana aku mengatakannya. Harta yang aku
anggap berharga selain keluarga, adalah sahabat dan cinta. Aku bersahabat dengan pribadi yang
ambigu, meski aku begitu mengenalnya telah jauh, namun masih sulit untuk menebak bagaimana ia
memperlakukan ku dibelakang. Ketika ia tidak bersamaku. Ketika haru biru tidak bersama kami.
Ketika kami terpisah oleh ruang pribadi masing-masing. Apakah ia sedang merencanakan sesuatu
yang tidak aku ketahui tentang keakraban yang sudah terjalin ini? Adakah beriak kesalahan yang
ia sembunyikan dari ku? Ato mungkin aku tanpa sengaja telah melukainya? Ia kini tidak seperti
yang ku kenal. Ia hanya larut dalam dunianya sendiri. Menari dan menyanyi dengan ironi yang
tercipta hanya untuk dia sendiri.

Pandanganku masih terpaku menggantung di atas sana. Dilangit sore dengan gurat pucat ke merahan.
Indah sekali. Sedikit teralihkan. Damai yang Ia tawarkan. Bagaimana cara menjelaskan kepada ia
yang menjadi sahabatku. Bahwa ia berubah seiring waktu tanpa aku sadari.

Pikiranku masih berantakan dengan apa yang tengah aku hadapi. Belum puas rasanya,
keingintahuanku dengan perubahan dramatis yang terjadi pada sahabatku. Sedikit asa yang ia
sisakan ketika berpapasan denganku. Aku masih ingat, bagaimana cara ia memperlakukanku dengan
dingin.

“Kamu apa kabar?”

“aku selalu berusaha baik. Bagaimana dengan kamu, Sas?”

“Sama seperti kamu”

Itu saja yang ku ingat. Selebihnya, hanya sebatas obrolan kecil yang sudah membasi.

Namanya Sastra, sahabatku terdahulu ketika kami masih bersama, bercengkrama dan bergulat dalam
kegiatan dan rutinitas yang sama. Kami dipertemukan dalam momen yang tidak disangka. Kami
berpapasan dalam suatu acara kolosal. Ia adalah seorang pribadi yang begitu perfeksionis,
amibisius dan supel. Sangat berbeda dengan pribadiku. Pesimitif, Moody dan sedikit tertutup.
Namun, siapa sangka, kelebihan dan kekurangan itu melengkapi persahabatan kami. Ia banyak
mengajarkan ku bagaimana harus bersikap. Bahwa, hentikan sikap yang aku punya. Bahwa aku akan
banyak kehilangan kesempatan yang tidak terduga. Aku harus bisa melunak dengan sikap negatifku
ini. Dan aku harus bisa berubah demi kebaikan ku nanti.

Dibalik pribadinya yang begitu mendekati sempurna, Tuhan menyertakan kelemahan lain yang imbang.
Ego-nya sangat tinggi. Ia sangar ketika pendapatnya tidak dihargai. Apa yang menjadi pola
pikirnya, harus dapat diterima oleh orang lain.

Sedapat mungkin aku memberikan cara tafsir pemahaman jalan pikir setiap orang berbeda.
Kepadanya, aku mempunyai cara untuk bisa sedikit menekuk ego kerasnya. Karena itulah komitmen
kami di awal, ketika kami memutuskan untuk menjalin persahabatan bagaikan saudara. Memang itulah
menjadi tanggung jawab serpihan dari sahabat itu sendiri. Saling mengingatkan dan mendukung.

Begitu banyak kenangan yang berputar dengan sendirinya ketika aku mengingat sedikit bagian
penggalan pengalaman bersama sahabatku, Sastra.

Entah kapan kami terakhir bertegur sapa. Baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi.
Aku tidak bisa mengingatnya kapan terakhir kali kami melakukannya.

“Ternyata kamu disini”

Aku tersentak kaget. Aku benar-benar tersadarkan dari lamunanku. Aku bangkit dengan begitu
cepat. Aku hanya mematung dan ternganga seakan tidak percaya dengan apa yang ku hadapi saat ini.

“Sastra…!!!”

“Ada apa Ganendra?”

aku tidak percaya. Ia berdiri tepat di hadapanku dengan stelan baju kerja.

Sastra hanya tersenyum simpul. Lalu ia duduk, tepat dimana aku berdiri.

“Kebiasaanmu ini memang tidak pernah lepas untuk datang ke pantai ini ya?” tanya ia kemudian.
Sastra memandang jauh ke arah laut lepas. Pandangannya tajam menghunus. Aku masih terdiam. Masih
tidak percaya dengan penglihatanku kali ini.

“Aku masih tidak percaya dengan tindakanmu sebagai bentuk protes kepadaku. Kenapa Gan?”

aku belum bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahku kelu. Tidak bisa mengutarakan apa yang harus aku
katakan di depan Sastra. Karena pertemuan ini, sekali lagi sangat dan terlalu dramatis buatku.
Kami bertengkar hebat. Aku menghargai ia sebagai sahabatku sampai aku merelakan diriku
dipermalukan di depan umum. Jika aku ingat kejadian itu, mungkin aku semakin tidak ikhlas
melihat ia didepanku. Namun, entah apa yang menahanku sehingga aku mematung dan terpaku di
tempatku. Aku hanya bisa memasukkan tanganku ke dalam saku celana kerjaku. Kami berdiam satu
sama lain cukup lama.

“Kenapa akhirnya kamu disini?” tanyaku akhirnya.

pertanyaanku tidak dijawabnya. Kembali kami membisu. Hanya deburan ombak yang mendominasi
diantara kebisuan kami.

“Sementara kamu berusaha meyakinkan aku, kamu pun tidak hirau dengan apa yang kamu lakukan. Kau
bodoh Gan!!!”

Sastra berdiri tepat dihadapanku. Mata kami saling berpandangan satu sama lain. Pandangannya
begitu tajam. Dengan sorot mata siap menghunus. Namun sekejap saja. Seakan ia tahu, bara
kemarahan yang timbul dari sorot mataku sendiri.

“Plakkk!!!!”

Hening.

Sastra hanya terengah-engah. Aku masih terdiam. Dan berusaha untuk tenang. Panas yang aku
rasakan di belahan pipi kiriku. Aku masih tetap tidak bergeming. Sastra sudah berpaling. Ku
perhatikan dengan seksama bahasa tubuhnya. Ia seakan menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
Namun, ia dikendalikan oleh egonya. Ia enggan untuk menyesal.

“Terima kasih Sas. Setidaknya aku tahu, apa yang kamu tahan selama ini.” kataku pelan.
“Setidaknya ini menjadi bukti bahwa aku memang tidak selayaknya menjadi sahabat yang
memuliakanmu. Yang bisa mendengarkan egomu, yang menuruti semua kerasnya inginmu.”

Sastra menoleh kearahku. “Lalu kenapa kamu lakukan itu kemarin lusa? KENAPA?!!!”. Suaranya
memekikkan telingaku. Namun aku tidak terganggu dengan hal itu. Ia menarik kerah kemejaku.
“Kenapa Ganendra? Kenapa?!!!” Teriaknya lagi. Aku berusaha menenangkan diri. Aku membiarkan
luapan emosi Sastra keluar begitu saja. Aku tahu ini sangat beresiko, namun apa daya, ego Sastra
begitu besar.

Kerah kemejaku sedikit melonggar dan segera saja ia hempaskan dengan kasar. Aku berusaha menarik
nafas dengan dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan.

“Kamu pikir, dengan tindakanmu tempo hari bisa bikin aku tenang Gan?” teriaknya lagi. “Kau
begitu bodoh dengan sikapmu itu. BODOH!!! Keledai dungu yang hanya bisa dicocok hidungnya.
Manusia macam apa kau ini? Sudah berkali-kali aku katakan, jangan pernah bertindak konyol”.

Mungkin saat inilah, aku berbicara. AKu berusaha menenangkan diri, sedangkan bathin bergejolak
ingin pergi dari pantai ini. Namun, aku tidak bisa menyimpan ini terlalu larut lebih dalam.

“Bisakah kamu bertindak dan berlaku selayaknya laki-laki dewasa, Sas?” kataku mengawali
perbincangan yang mungkin akan alot. “Apakah sudah lama kau tahan itu? Menamparku dengan begitu
keras? Katakan padaku, apa yang kau dapat setelah menamparku? Apakah kamu puas? Apakah kamu
merasakan perih yang ditinggalkan oleh tanganmu sendiri? Apakah kamu menyesal setelahnya?
Apakah…..”. Belum selesai ku luapkan emosiku, Sastra menghambur pelukan erat kepadaku. Erat.
Tidak kuasa aku menahannya. Aku berusaha tenang.

Yang terdengar hanya isakan tangis penyesalan. Aku tidak bergeming saat itu. Pikiranku
menerawang jauh lurus ke titik yang paling ujung dari tempatku berdiri. Hembusan angin menerpa
kami sesekali.

“Maaf Gan, maaf gan. Aku menyesal. AKu menyesal.”. Sastra semakin erat mendekap. “Aku menyesal
tidak mendengarkan sahabatku sendiri. Aku khilaf. Maafkan aku Gan. Maafkan aku.” serunya
diiringi isakan tangis yang semakin menjadi. Baru kali ini, aku memperhatikan ia serapuh ini.
Karena yang aku tahu, Sastra adalah pribadi yang kuat.

Sepatah kata pun tidak meluncur dari mulutku. Mulutku terkunci. Aku membiarkan ia meluapkan
penyesalan yang begitu besar kepadaku. Dalam hati aku bersyukur, akhirnya Tuhan, Kau sadarkan ia
dengan begitu jelas. Aku tidak tahu,bagaimana Kau tunjukkan jalan kebenaran, namun Kau sudah
kembalikan ikatan persahabatan kami, dengan cara yang indah.

“Aku tidak percaya kau lakukan itu di depan umum, demi melindungi aku. Aku tidak pantas dapatkan
itu kemarin jika hasilnya seperti ini. Kenyataan ini terlalu pahit dari empedu. Aku tidak pantas
kau bela. Harga dirimu lebih berharga dari egoku, Gan.” Isak tangisnya sedikit mereda. Aku
berusaha melepas dekapan keras Sastra. Dadaku sedikit tertekan. Kedua bahunya ku pegang erat.

“Sas, aku sadar saat itu yang aku pikirkan perfeksionis yang kau miliki. Bahwa semuanya harus
sempurna. Apalah dayaku yang jauh dari sikapmu yang sempurna itu. Aku hanya menjalankan tugas
sebagai seorang sahabat”. Kataku membela diri. “Aku tidak ingin membuat kau dikecewakan oleh
keadaan. Namun aku keliru melakukannya. Karena secara tidak langsung, aku membiarkanmu diatas
angin. Sehingga akhirnya terjadilah seperti ini. Kau larut dan terhempas terlalu jauh.” Kataku
lagi. Sastra berusaha mendengarkan sembari menghapus sisa isakan air mata yang sempat membasahi
pipi tirusnya.

“Pengorbananmu itu terlalu Gan.”

“Maksud kamu?”

“Kau tidak sadar, kau sendiri mengorbankan persahabatan kita. Tidakkah itu terlalu berharga
buatmu hingga akhirnya kau abaikan itu? Apakah kesungguhanmu menganggapku sebagai bagian dari
keluarga hanya bersifat sementara saja?”

Aku tertegun mendengarnya. Miris. “Tentu saja sangat berharga. Kau tahu itu, Sas. Aku sudah
menganggapmu sebagai bagian dari keluargaku yang hilang. Bagian keluarga beda darah yang
diijinkan oleh-Nya untuk aku miliki.”

“Lalu kenapa kau lakukan itu Ganendra?” Tanya Sastra menggarisbawahi.

“Aku hanya ingin mempertahankan perfeksionismu…” kataku melemah.

“Dan kau menghilang begitu saja?” tanya sastra lagi. “Kau menghilang tanpa memberiku kabar
dan..”

“Kau sendiri yang bilang padaku, jangan pernah ganggu hidupku lagi” kataku memotong pembicaraan.

“Tapi, itu bukan berarti kamu dengan seenak hati mengakhiri begitu saja.” Sastra mengiba.

“Aku akui, aku hanyut dalam duniaku sendiri. Itu juga sebagai akibat perbuatan bodohmu itu.”

“Dan sampai kapan kita akan saling menyalahkan satu sama lain?” tanyaku akhirnya. “Bukankah inti
dari persahabatan itu sendiri adalah saling mengerti, memahami, mengingatkan dan memuliakan satu
sama lain?” kataku lagi. Ia terdiam. “Bukankah ada semacam perjanjian yang tidak terlihat, bahwa
bagaimana pun kondisi sahabat kita, kita tidak akan pernah melupakannya, sedikitpun tidak akan
meninggalkan dan sedapat mungkin selalu menganggapnya ada setiap jengkal umur persahabatan itu
sendiri.”

Dan kami pun larut dalam canda tawa. Kami bernostalgia. Sudah lama kami tidak bertatap muka
seperti saat ini. Ia masih seperti dulu. Namun, sangat berbeda hari ini. Tanggul egonya sudah
karam. Kami berbincang lama hingga larut menenggelamkan kebersamaan dua insan sahabat.

“Sas, mungkin memang pantai ini yang meredakan kemelut yang terjadi diantara kita. Dan jujur,
aku merasa sakit ketika lembaran tanganmu mendarat dengan indah di wajahku.”

Sastra hanya tersenyum kecut.

“Please forgive me.”pintanya

Sastra mengiba lagi. Aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Dan aku harus mengucapkan
terima kasih kepada pantai ini. Menampung dan menerima semua kondisi yang dirasakan oleh semua
orang, mereka duduk dan bercengkrama. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadamu, Wahai
Pantai Lara… Selara apapun namamu, kau tetap misteri bagiku. Kau tawarkan kepedihan usang,
namun manjakan kemuliaan. Adakah hal lain yang tidak aku dapatkan selama ini?

Pantai Lara

Sudah sepeluh menit aku menyusuri tepian pantai ini. Semakin kencang saja sang bayu berhembus. Betapa dinginnya malam itu.

Bintang-bintang tengah asyik memainkan lagu kesukaannya malam itu. Mereka berdecit dan berkejar-kejaran memainkan kemilaunya, namun tidak dapat ku dengar apa yang mereka katakan padaku. Hanya temaram cahaya-Nya yang bisa ku lihat dari bawah sini. Kelap kelip.

Langkah kakiku semakin jauh, entah kemana garis pantai ini berakhir. Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Yang aku tahu saat ini hanya menikmati malam, sama seperti malam sebelumnya. Suasana sudah sangat hening malam itu. Hanya deburan ombak yang berkejar-kejaran saja yang bisa ku dengar. Sesekali burung camar nampak terdengar dari kejauhan, namun sayup-sayup saja.

Ku hentikan langkah gontai kakiku. Ku hampiri seonggok batu karang yang begitu besar dan kokoh. Batu itu tidak begitu besar, namun terlihat teguh ditengah deburan ombak yang mencoba menumbangkannya. AKu ingin duduk diatasnya. Entah atas dasar apa, aku hanya ingin duduk diatasnya.

Ku perhatikan disekelilingku. Hanya kepekatan malam yang kulihat. Mungkin saja terjadi kerusakan pada penglihatanku. Mungkin, aku ke dokter mata saja lusa, untuk memeriksanya. Sudah lama aku merasakan sakit dikedua bola mataku. Namun sementara ini, aku hanya menahannya.Deburan ombak masih setia memainkan simfoni kesendirianku. Setidaknya, aku bisa sedikit berdamai dengan egoku.

Pantai ini selalu menjadi saksi bisu selama beberapa waktu terakhir. Namun ketidakberdayaanku semakin menjadi-jadi, melihat pantai ini tersiksa dengan kedatangan sampah-sampah dari segala penjuru arah. Adakah yang salah dengan pantai ini, hingga akhirnya pantai ini menjadi tempat pelampiasan atas sampah-sampah ini? Entahlah, aku hanya tidak berdaya dengan apa yang aku lihat dengan pantai ini. Namun pantai ini tidak bisa berbuat banyak. Dia seakan ikhlas dengan apa yang terjadi. Namun, aku tidak bisa menjelaskan kepada diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa menjadi sosok “pantai”. Pantai, suatu muara besar yang menjadi pintu masuk bagi air-air yang mengalir, yang sudah menempuh ratusan lintasan untuk mencapainya, hingga akhirnya menjadi satu dalam muara besar ini. Segala bentuk warna air yang mengarah menuju pantai, bersatu padu dalam muara. Betapa bijaknya sikap dari tempat yang bernama Pantai ini.

Aku ingin meniru sikap seperti ini. Namun apalah daya, aku hanya manusia biasa.

Kembali ku pandangi langit malam itu. Segerombolan awan hitam nampak mendekat, namun tidak mengurangi keceriaan bintang-bintang memainkan sinarnya. Sekali lagi aku memuji keagungan ciptaan Tuhan, betapa cantiknya bintang-bintang diatas. Aku ingin menikmati semarak keceriaan diatas sana lebih lama lagi. Akhirnya kuputuskan membaringkan tubuhku diatas batu karang itu.
Sang bayu tidak henti-hentinya berhembus disekelilingku, seakan memaksaku beranjak dari tempat itu. Memang, deburan ombak semakin kencang yang aku rasa. Namun, aku ingin tinggal lebih lama lagi.
Baru saja ku baringkan tubuh, tiba-tiba saja telepon genggamku berdering. AKu pikir, aku akan tidak terganggu didaerah pantai, dengan keyakinan jangkauan jaringan alat telekomunikasi pasti akan melemah atau justru akan berkurang sama sekali.

Terlihat dilayar, sebuah nomor yang tidak ku kenal, berusaha memaksaku untuk menjawab panggilannya. Sudah 3x panggilan itu aku abaikan. Entah keenggananku untuk menerimanya. Namun akhirnya, aku harus mengalah.

“ya, hallo?”

Tidak ada respon dari telepon yang ku jawab. Sial. Inikah kenikmatan yang dicari dari seorang diseberang sana yang berusaha memanggilku?

“Hallo?”kataku lagi. Dua panggilan sapaan halo, aku rasa sudah cukup terhormat bagiku untuk melakukannya. Namun Hening.

“Hallo?” kataku lagi. Ku pandangi layar telepon genggamku. Tanpa pikir panjang lagi, percakapan monolog ku akhiri sampai disitu. “Siapa itu? Sudahlah.”, keluhku dalam bathin. Ku pandangi kembali telepon genggamku. Banyak kenangan yang terjadi bersama telepon itu. Aku ingin melupakannya. Canda tangis bahagia haru masih bisa aku rasakan.

Dulu, sudah lama aku menginginkannya. Telepon genggam yang kudapatkan dari hasil jerih payah tabunganku. Dengan telepon genggam yang kumiliki, semakin membuat komunikasiku lancar dengan orang-orang yang berkepentingan. Entah itu teman, sahabat, saudara, kenalan. Atau hanya sekedar memesan makanan dimalam hari, ketika lapar dan dahaga menghampiriku. Dan berawal dari sebuah telepon genggam juga, aku mendapatkan sebuah hubungan teristimewa. Mungkin orang-orang menyebutnya sebagai pacaran. Namun aku tidak menyebutnya demikian. Sebuah hubungan istimewa lebih dari cukup bagiku, tidak kurang tidak lebih.

Hubunganku tidaklah istimewa seperti rekan-rekanku yang lain. Tidak Ada bunga, makan malam dan malam minggu. Pertengkaran mungkin menjadi sesuatu yang lumrah bagi sebuah hubungan. Aku pun mengalaminya, hanya saja tidak kami lakukan secara tatap muka. Jika orang lain bertemu secara jiwa dan raga, maka kami hanya mempertemukan jiwa melalui kata-kata dalam sebuah pesan. Selalu begitu, hari ke hari. Menurutku ini sangat aneh. Namun semakin menyenangkan. Entahlah, kesenangan apa yang kudapatkan.

Kami memang sudah cukup lama menjalaninya. Kepercayaan yang menjadi pondasi dasar dan utama bagi sebuah hubungan, kami pertaruhkan. Aku pernah mendengarkan sebuah bualan yang tidak bisa aku abaikan. “Kalian memang berjauhan, namun apakah kalian sanggup dengan hubungan lintas jarak ini? Apakah kau sangat mempercayainya? APa yang dia lakukan disana sesuai dengan apa yang dikatakannya di sms? Mungkin saja dia berbohong bukan?” Bualan ini sebenarnya sangat menyebalkan bagiku. Toh yang menjalani, adalah kami berdua. Kenapa bualan ini hadir mematahkan semangat kami dalam membina hubungan yang tidak biasa ini? Bualan ini muncul dari mulut seorang kawan, yang dapat aku katakan disini, dia tidak merelakan keadaanku yang kesepian dikala semua insan memadu kasih dengan pasangannya. Aku menghargai kecemasan itu, namun aku belum cukup alasan untuk menerimanya. Dan bualan itu, berlalu begitu saja, namun mengendap dalam benakku. Kemungkinan itu selalu ada.

Pikiranku masih terbawa jauh dalam arus kenangan lama. Pandanganku masih terpaku menatap langit. Sang bintang masih setia bermain tanpa mengenal lelah. Sang bayu pun tak henti-hentinya membujukku untuk beranjak dari tempatku berbaring. Aku acuhkan kembali.

Ku perhatikan dengan dalam kenangan yang terjadi bersama telepon genggam itu. Ternyata, apa yang aku jalani selama ini memang sia-sia saja, gumamku dalam hati. Kepercayaan yang telah kubangun dan keserahkan, hancur tidak berwujud hanya dalam beberapa detik saja. Aku masih terngiang-ngiang kejadian itu. Aku tidak bisa melupakannya. Aku juga berhak seperti yang lain Tuhan. AKu hanya ingin merasakan kebahagiaan seperti yang orang lain dapatkan. Ataukah aku belum pantas untuk mendapatkan secangkir saja teh kebahagiaan itu? Kenapa Kau begitu padaku Tuhan? Kenapa kau hadirkan kepahitan rasa dalam teh itu? Apakah aku pantas merasakannya? tanyaku dalam hati. AKu tidak marah kepada-Nya. Hanya saja itu sebuah perasaan dari ego yang tidak terbendung, yang tidak dapat aku kendalikan. Namun aku sangat beruntung, aku tidak mengucapkannya.

Aku mencoba mencari pesan gambar yang kuterima sudah lama. Sampai sekarang, aku masih menyimpannya. Berharap pesan itu adalah bohong, namun kenyataan tidak bisa kuubah. Pesan gambar itu memang nyata, tanpa rekayasa. Aku pun sudah memeriksanya. Pesan gambar itu aku terima dari sahabatku yang secara kebetulan satu rekan kerja dengan orang yang kujalin hatinya itu. Aku tidak tahu, motif apa sahabatku mengirimkan pesan gambar itu. Lama aku menyadarinya. Awalnya, aku pikir, dia melakukannya karena dia cemburu. Namun itu tidak mungkin, dia sendiri sudah memiliki seseorang yang sudah dicintainya, bahkan sebuah rencana yang lebih besar dan sakral sudah dicanangkan oleh mereka berdua. Pikiranku buntu. Pada akhirnya, aku sadar. Sahabatku sayang kepadaku dan mencoba membuka mata dan hatiku, sebuah kenyataan yang harus aku lihat dengan mata kepala sendiri.

Ku pandangi kembali pesan gambar itu. Dalam gambar itu, nampak seorang yang sangat aku kenal bersama pribadi yang lain. Mereka nampak begitu bahagia. Senyum ketir kembali terbit diwajahku. Entah untuk keberapa kalinya. Mereka bercumbu mesra diatas ranjang, yang menjadi pilihanku ketika aku menghadiahkan khusus untuknya.

Tidak terasa, setitik demi setitik air mata berjatuhan dipipiku. Aku juga manusia. Kadang ketegaranku ada batasnya.

Dulu kami sangat berpegang teguh atas hubungan ini, dan menjanjikan atas segala akibat yang timbul dari hubungan ini. Bahkan, harga diriku sebagai seorang yang dikenal sebagai pribadi yang rapuh kembali ku pertaruhkan. Karena aku pikir, aku akan memberikan kesempatan kepada diriku sendiri untuk menikmati manisnya madu cinta yang sudah lama tidak ku nikmati. Namun aku keliru. Aku menampuh jalan yang salah. AKu tidak layak mendapatkan perlakuan seperti ini atas egoku sendiri. Begitu pun dengan dirinya. Ia berjanji, dia akan memegang teguh janji putih yang kami ucapkan sebelumnya. Sesekali kami bertemu, jiwa dan raga kami bersatu, dalam sebuah pertemuan singkat kami.

Aku masih ingat malam itu, ketika kami hanya duduk berdua pada sebuah kafe ternama dikotaku. Sebuah makan malam, dalam rangka merayakan hari jadiku. Dan ia datang jauh dari kota seberang, hanya untuk membuktikan betapa berartinya aku bagi hidupnya. Dan aku terkesan. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan sedikitpun. Kebahagianku bukan hanya malam menjadi hari jadiku. Namun berlanjut hari kedua. Kami memutuskan menghabiskan waktu ke sebuah tempat yang tidak kalah romantisnya, disebuah desa yang menyajikan panorama alami nan segar. Hari ketiga, kami berbelanja di sebuah pasar seni, hari keempat, kami memutuskan untuk berdiam diri dirumah, berbincang satu dengan yang lain. Hingga akhirnya, hari kelima, aku mengantarkannya ke bandara. Aku tidak rela melihat kepergiannya kala itu, dari sudut jendela, ia melambaikan tangannya. Kenangan demi kenangan berputar begitu saja diotakku. Tentang bagaimana dia mendengkur. Bagaimana rambut dia berantakan di pagi hari. Bagaimana kami bertengkar ringan. Begitu seterusnya.

Dan aku tersadar kembali. Aku terjaga dalam lamunanku. Ku buka kelopak mataku. Sudah berapa lama aku tertidur di sini, pikirku. Ku perhatikan arlojiku. Hampir jam 6 pagi. Sedikitpun aku tidak merasakan kedinginan akibat hembusan sang bayu. Ternyata, bermalam beralaskan batu karang, berselimut angin pantai dan beratapkan langit penuh dengan bintang-bintang.

Segera saja aku bangkit, dan telepon genggam yang sudah lama ku genggam, ku lemparkan arah laut. Dengan tenaga penuh ku lemparkan, tanpa pikir panjang lagi. Dan langsung saja, telepon genggam yang ku lempar, langsung larut dalam deburan ombak. Aku hanya memandanginya. “Sudah saatnya aku bangkit, itu sudah berlalu. AKu harus memulai dari awal lagi.”, kataku dalam hati.

Ku pandangi kembali disekitarku, nampak para nelayan sudah datang dari melaut, dan mulai merapatkan perahu-perahu mereka ke bibir pantai. Beberapa diantara mereka, nampak tersenyum kepadaku. Aku membalas senyum ke arah mereka.

Kuhirup udara pagi ini. Begitu segar, sangat menyegarkan. “Terima kasih atas keteduhan yang kurasakan tadi malam, sekarang aku harus melanjutkan hidup”, kataku pelan. Ucapan terima kasih ini aku tujukan kepada batu karang, pantai, bintang-bintang, ombak dan teruntuk semua yang membuatku bermalam di pantai itu.

Dan langsung saja aku meninggalkan batu karang itu, menuju arah kendaraanku yang masih berdiri mematung ditempatnya. Dan tidak mungkin, pemandangan pagi ini aku lewatkan begitu saja. matahari terbit. Begitu indahnya. Sebuah isyarat kepadaku, untuk melanjutkan hidup. Apapun yang terjadi, matahari akan terus terbit di arah Timur dan tenggelam di ufuk Barat. Akan selalu seperti itu. Matahari akan menawarkan keteduhan disaat ia terbit, penyiksaan terik dikala siang hari dan kesejukan di senja hari.Karena begitulah hidup, manis dan pahit bersatu padu dalam cangkir kehidupan.
by
D.A.S