#NEWYORK #MeetYou #ASAP

city-road-street-buildings res

Selamat pagi, Senin 2 Mei 2016. Greeting tidak biasa dari gue. Setelah sekian lama menganggur menulis di media ini. Alasannya? terlalu banyak alasan yang telah gue buat dan akan berakhir basi juga nantinya. Iya kan?

Sudah Bulan Mei, apa yang udah elo lakuin, Damar?

Pertanyaan ini terus mengiang-ngiang di benak gue. Sama halnya bulan-bulan sebelumnya. Atau bahkan di awal Tahun 2016, ketika sunrise pertama di hari pertama bulan Januari, pertanyaan yang menyapa adalah “Hayo, resolusi elo tahun ini apa aja, Dam?”. Mbok ya sopan dikit gitu ya, ketok pintu dulu kek. Duduk, minum dan rehat bentar.Masih pagi sudah ditodong sama pertanyaan yang enggak bisa dijawan dengan spontan. Dan satu pertanyaan belum terjawab, muncul pertanyaan berikutnya “Tahun ini jangan kebanyakan wacana ya, Dam?!”. Voice Over di kepala gue minta dikeplak pakek martil kayaknya.

Bulan Januari berakhir, Voice Over di kepala gue bertanya, “Sudah ngapain aja sebulanan ini, Damar Adhi Sanjaya?”. Gue sendiri diem dengan pertanyaan yang datang dari diri sendiri. jawaban untuk berkilah “Udah banyak dong. Jalan-jalan, ngegym, nonton dan banyak lagi.”.

“Thats not the point, Dude!” secara visual, kalau gue diomelin begini, yang gue lakuin adalah ngeloyor pergi dari si tukang ngomel.

Bulan Februari, si Voice Over datang lagi dengan pertanyaan yang berbeda tetapi maksudnya sama “Step berikutnya mau ngapain, Dam?”. Intonasi suara pertanyaan ini biasa aja, tapi agak jleb juga.

Bulan Maret, si Voice Over notice “Jangan kebanyakan keinginan kalau eksekusi mini, Dam!”

Bulan April, si Voice Over berkacak pinggang – eaaa berkacak pinggang, anggap aja begitu ya. yang bersangkutan sudah kehilangan akal gimana menasehati gue yang agak badung ini – “Mau sampai kapan elo begini, Dam?”.

Pertanyaan terakhir membuat gue termenung. Dalem banget. Pertanyaan ini merujuk ke segala aspek. Musti jawab gimana ya?

foto di atas, sebelum gue berceloteh dengan voice over di kepala gue sendiri,adalah salah satu view kota New York. Sebelahan sama Jonggol. zzzz. Yang jelas, untuk melihat langsung kota ini, dibutuhkan waktu penerbangan sekitar 23 jam. New York menjadi landscape yang selalu masuk dalam film-film Hollywood, kayak Sex and City misalnya. “Orang-orang datang ke New York dengan dua asalan, Cinta dan Labels”. Jangan ditanya kalimat versi inggrisnya, gue lupa. LOL.

Tapi, buat gue, kedatangan gue nanti ke New York adalah ingin menikmati suasana Central park yang termasyur itu. Mari bermain visual, gue yang semakin matang di umur 33, badan tegap muscle padat berisi, pakai setelan kemeja putih, celana  bahan warna abu-abu glossy, sepatu vantofel – bener ya nulisnya? – pakai kacamata hitam, di tangan kanan pegang hot chocolate ukuran grande starbucks, duduk di taman menikmati musim semi di Central Park.

pexels-photo-27031i

Semakin jatuh cinta sama New York, apalagi semenjak Penulis favorit gue, Ika Natassa menuturkan cerita mengenai kota ini dalam The Architecture Of Love. Gue makin tergerak untuk segera ke sana. Tujuan gue, Central Park.

Tetapi, Voice Over di kepala gue malah nyeletuk gini, “Cieh yang mau ke New York, tapi sekedar wacana doang, minim usaha.

ada satu kalimat sederhana yang membuat gue harus mengupayakan segera mimpi ini, “Stop made of stories and excuses. Kerja keras segera mungkin!”. Kalimat ini datang dari seseorang yang sudah berumur 35 tahun. Berpenampilan lebih mature dan berkecukupan materi.

Dia adalah Damar Adhi Sanjaya.

Iklan