#NP BCL – Kecewa

Aku pernah membaca di mana kalimat ini

Jika kamu kangen dengan orang tersebut, segera datangi selagi jarak dapat kamu capai.

 Untuk kali ini aku berusaha mengikuti kalimat ini. Aku rindu kamu.

Jadi, tergeraklah keinginanku untuk mempersiapkan diri tepat sembilan puluh menit yang lalu, mematut diri di depan cermin. Apakah kemeja dengan motif garis yang menjadi pilihanku atau kaos putih polos saja yang akan aku kenakan dan memadukannya dengan jaket denim yang aku beli di pasar loak tetapi masih terlihat keren untuk aku kenakan. Memilih celana berbahan apa yang cocok dengan atasan yang aku pilih. Memilih sepatu dari deretan koleksi yang aku punya. Look what do yo do, Gin,  kangen sama kamu saja, aku begitu norak mempersiapkan diri hanya untuk bertemu dengan kamu.

Berkendara malam hari atau lebih tepatnya tengah malam menurut banyak orang akan menyebabkan masuk angin. Namun rinduku menggebu, seolah rindu ini akan menjadi penghangat tubuhku selama perjalanan menuju tempatmu. Mungkin keputusan Tuhan saat ini memisahkan kita di dua tempat berbeda menjadi alasan aku mempunyai rindu yang tidak dapat diukur dalam satuan berat. Namun, aku diajarkan dari kondisi ini adalah dapat menabung sabar dengan pelan-pelan. Suatu saat aku yakin, Tuhan mengijinkan atap yang sama menjadi peneduh kita berdua. Hanya saja, Tuhan belum begitu yakin dengan keingananku, keinginanmu. Dua keinginan yang entah bagaimana mengukurnya namun aku yakin, kamu menginginkan hal yang paling sederhana. Selalu bersama.

Jadilah aku menyunggingkan senyum, membayangkan senyum kamu yang selalu menghiasi pikiranku setiap malam-malam menjelang istrahat. Yang mengingatkan aku bahwa dunia ini sangat indah dan tidak begitu rumit ketika aku merasa lingkungan sekitar tidak lagi bersahabat. Yang mengusik duniaku setiap kali aku berusaha untuk mengabaikan semua tawaran-tawaran yang memungkinkan aku untuk lebih terpuruk. Dari senyumanmu, aku dapat lebih mengerti dan lebih paham bahwa kamu sinar penerang yang aku sangat tunggu sekaligus embun pembasuh kekecewaanku pada cinta.

Aku memutuskan untuk meredakan semua kecamuk rindu yang ada di benak. Memutar arah menuju kedai kopi. Terima kasih kepada pengusaha yang telah menyediakan tempat dua puluh empat jam untuk menampung orang-orang sepertiku yang tengah dimabuk rindu. Rindunya bukan selusin, sekodi atau berapa ratus eksemplar. Rindu yang aku punya tidak bertepi. Menanggalkan semua gejolak rindu ini dengan secangkir espresso ukuran sedang. Aku tahu, nikmat kafein ini akan menambah adrenalinku karena membuat terjaga sepanjang waktu lalu dalam durasi itu, rindu ini akan makin bergejolak. Dan sembari mensesap minuman pesanan, aku tergugah untuk mereduksi gejolak rasa ini yang kian menjadi dengan menuliskan sesuatu apapun pada selembar kertas. Menuliskan semua kekisruhan rasa yang timbul selama dalam perjalanan. Terbersit juga bahwa aku layak memperjuangkan apa yang aku yakin dan apa yang menjadi keyakinanku setelah Tuhan dan keluargaku, adalah kamu. Rumah yang akan aku tuju dan sebagai alasan terbaik dan terkuat untuk aku pulang.

Aku sadar, aku adalah orang yang kesekian kalinya yang hadir dalam hidupmu. Namun, aku merasakan hal langka selama aku hidup. Indahnya jatuh cinta adalah hal langka. Ketika melihat senyum dan pendar cahaya di matamu, aku tergugah untuk mencari tahu makna itu semua.

Namun pada akhirnya, rindu ini sedikit memudar ketika aku mendapati bahwa kenyataan pahit itu masih saja mengikutiku. Gerbang tempat tinggalmu memang terbuka, namun kamu belum ada di sana. Aku bernegosiasi kepada rindu layakkah aku tinggal sementara untuk menunggu dia pulang?, sebelum rindu menjawab pertanyaanku, akhirnya aku harus mengiyakan logika. Diperkuat dengan kabar bahwa kamu memang belum pulang dari aktivitas kerja.

Aku mengendarai kendaraan dengan hati yang sedikit hampa. Masih ada rindu yang masih mengepul di sana. Semakin aku menyadari pesan yang aku terima dari kamu yang membutuhkan waktu untuk diri kamu sendiri bahwa aku adalah orang asing yang mencoba mengusik duniamu. Aku pilu dalam perjalanan pulang dan menyesalkan diri kenapa rindu ini semakin menjadi saat mencoba berbaring memejamkan mata namun tidak bisa.

Jauh di dalam sana, hatiku meringis pelan dan pasti. Tersedu-sedu meluapkan kekecewaan kepada diri sendiri. B etapa bodohnya diriku membiarkan rindu yang tidak bertuan ini memperbudak dengan keji.

Maafkan aku, Gin. Aku tahu, apa yang aku lakukan ini sangat keliru. Sangat keliru.

Iklan

Tentang Hujan

Mungkin ini namanya yang berproses dalam hidup. Semua harus ditenggak kayak minum air putih yang ada kerak, kemungkinan ada bakteri yang masuk, ada sedikit apek sesekali dan beragam kemungkinan yang akan dirasakan setelah cairan ini melewati tenggorokan. (Edisi enggak bisa tidur setelah menyetir selama dua jam lebih perjalanan dengan roda dua yang sangat biasa saja sebenarnya, tetapi menjadi luar biasa karena diguyur hujan dan sempat terjadi insiden yang nyaris membuat dan menyumbangkan satu kejadian kecelakaan di rekam jejak laka lalu lintas Kepolisian Bajera Tabanan Sana)

Well, sampai di mana tadi? I got some crackers here. *enggak perlu posting bendanya ya, yang jelas gue enggak tahu kenapa gue ngambil biskuit merakyat ini dan sudah habis empat potong*.
Hmm, guyuran hujan memang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Untuk penikmat hujan, guyuran air ini sangat memberikan efek halusinasi akut. Ada yang berusaha menyembunyikan kesedihannya dan menangis di tengah-tengahnya. Cliche, but some people does. Ada yang hujan-hujanan untuk mendapatkan kebahagiaan sederhana, layaknya anak kecil, meskipun tubuh berbalut setelan kemeja kantor yang bersimbah keringat dan asam. Pun ada beberapa orang yang memang dengan sengaja mengundang hujan untuk terlibat dalam skenario photografi mereka sebagai penunjang dalam membuat portfolio pameran yang sangat berbeda. Bahkan ada sedikit orang yang hanya duduk termenung menyesali kepergian waktu dan di sela-sela keluh kesah bathin itu diperdengarkan serangkaian simponi hujan. Beberapa sisanya ada yang bersuka cita menyambut kedatangan hujan di balik selimut, dengan senyum sinis masing-masing dan berterima kasih bahwa doa kaum ini terkabul dan membatalkan semua rencana indah yang akan dijalankan oleh segelintir orang. 

Ada sekelompok orang yang membenci kedatangan hujan yang tanpa diundang merusak beberapa keinginan atau perencanaan hidup yang sudah dimatangkan jauh-jauh hari. Yang sudah menjadwalkan kunjungan khas malam minggu harus pupus dan rela menebus cita-cita ini di kesempatan berikutnya. Yang mempunyai rencana kemping lucu di halaman rumah, merelakan tendanya koyak karena terjangan air hujan. Batalnya perjanjian seseorang yang sudah menunggu harap cemas di suatu resto lengkap dengan paduan busana yang sangat menawan, namun yang ditunggu tidak kunjung datang karena sempat kehujanan dalam perjalanan.

Semuanya mempunyai cerita tentang hujan. Termasuk gue.

Hujan ujian ini benar-benar tidak masuk akal awalnya. Gue bersandar pada waktu yang terus bergulir. Hujaman demi hujaman ujian ini tidak dapat disangka-sangka ternyata dapat menyebabkan beragam akibat yang tidak dapat dipecahkan maksudnya apa. Do i look hyperbola? Of course yes. Bagaimana tidak. Maksud dari pesan yang telah dienkripsi dengan sederhana ini – Thank to division who made this simple algorytm by You, My Lord – masih belum dapat gue cerna dengan cara yang paling sederhana : disimak, didengar, dibaca dengan penuh segala kerendahan hati, namun tidak berujung pada jawaban yang dicari.

Gue sedang mencari padanan kalimat yang tepat terhadap apa yang sedang gue alami ini. Semua bak penampung hujan ujian ini sudah ingin segera dijamah oleh pikiran untuk dicari solusinya. Kadang,bak penampung ini sangat mengganggu pikiran. You know that when your basket fill full with dirty clothes dan bawaannya gemas untuk segera dicuci, namun elo memilih untuk goleran. 

I Need some extra miles hoilday to turn off this kinda notification of problem. Yes, here we go, enjoy your vocation at My Mind Hero.

#NP Dewa – Pupus

Mungkin, Tuhan sedang ingin mengajakku untuk ikut kelas akselerasi.

Sempat terpikir seperti itu ketika pikiran ini diupayakan untuk memainkan permainan dan ritme yang sama tentang patah hati. Menikmati setiap remah dan puing yang berserakan ke hamparan tandusnya harapan yang kian mengering. Aku pernah dan masih ingat bagaimana ladang harapan ini begitu terpelihara dengan baik, mendapat sentuhan perawatan premium dari hati yang paling amat ringkih. Cintaku.

Berfoya-foya di kesunyian malam adalah dambaan orang seperti aku yang tengah berusaha melepas belenggu sedih. Ingin sekali mengekang siksa patah hati ini menjadi sesuatu yang orang lain lakukan seperti seorang pemenang dalam pertarungan dari kumpulan orang-orang pecundang. Namun, tetap saja, sebagai pemenang dari kumpulan para pecundang adalah pecundang yang unggul. Menyedihkan sekali label ini.

Waktu mengajarkanku untuk tetap dingin ketika menghadapi hantaman cobaan yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak dapat menjabarkan secara pasti, satuan manakah yang dapat mengukur dan jumlah besaran yang akan dipakai dalam menakar hantaman cobaan hidup. Namun begitu, kali ini aku menyadari hantaman terbesar yang sedang aku hadapi adalah kehilangan jejak kamu.

Mungkin bagi sebagaian orang, memilki sebuah kehilangan adalah pertanda bahwa yang tidak dapat dinegosiasi kembali dengan waktu. Waktu memperkenalkan. Waktu menguji. Waktu pula memisahkan. Otoritas waktu bersifat kaku. Tidak dapat diajak kerja sama. Namun uniknya, waktu dapat dibeli dengan berbagai pertimbangan.

Mengagumi kini masih seperti awal mengenalmu. Tidak berkurang, tidak berlebih. Sekiranya terombang ambing oleh ego kita masing-masing, takaran kekagumanku selalu ada porsinya. Tidak kurang dan tidak berlebih. Namun yang patut aku mau tahu, apakah hal itu juga berlaku di kamu? Apakah sudut pandang terhadap kadar takaran kekaguman atau kesukaan atau keseganmu kepadaku seperti yang aku terka?

Menduga-duga untuk sesuatu yang tidak pasti adalah sebuah kewajaran yang akan terendap oleh pusara waktu suatu saaat nanti. Dan menduga-duga bahwa suatu saat kamu inginkan keberadaan aku di sampingmu sebagai pendengar tentang bagaimana kamu melalui hari itu dengan lugaskah atau tertekankah atau varian rasa yang diciptakan Tuhan untuk manusia dan setelah menit di mana kamu mengakhiri keluh kesahmu, aku di sana segera memelukmu dengan hangat sembari membisikkan kalimat pereda. Atau mungkin, aku menawarkan secangkir teh hangat madu yang telah aku seduhkan khusus untuk kamu? Ataukah kamu hanya akan terpaku saja ketika lontaran pertanyaan bagaimana harimu dari mulutku? Menduga-duga bahwa sepihak inikah rasa yang aku punya ketika rasa cecap yang aku tawarkan kepadamu akhirnya tidak bertuan? Tidak bertuan karena semua hal yang aku duga adalah kesemuan semata.

Menduga-duga seperti menduakan kepercayaan yang telah aku semai di hamparan ladang tandus yang telah aku airi dengan segala bentuk kepercayaan yang aku punya. Lahan ladang ini akan menjadi subur akan bibit cita-cita tentang kita berdua. Aku telah merencanakan bahwa suatu saat nanti akan tiba masanya, aku menyambut tanganmu untuk bersama memanen apa yang telah kita tanam dan rawat bersama.

Tetapi hidup ini tidak semudah yang diangankan, bukan? Tuhan memiliki cara dalam menentukan skenario masing-masing insan-NYA. Atau kemungkinan yang paling buruk, semua angan tidak akan pernah terwujud. Dalam satu kesepakatan, hal itu bisa terjadi jika pejuang angan itu mengalami keterpurukan. Terpuruk segala upayanya karena bertepuk sebelah tangan

Aku sudah cukup bahagia, pasangan sebagai penyempurna

Kebangun dengan pikiran yang masih ke mana-mana itu adalah sangat mengganggu. Apalagi saat ini, kepala gue kayak mau pecah. Ada martil yang terbuat dari empedu?

Udah lama pengen nulis ini sebenernya, tapi baru kesampaian sekarang. Gue pernah baca di mana gitu ya. (Anggap aja gue lupa)

Gue mapan dan mandiri. Kesempurnaan dari bahagia yang gue punya sudah terpenuhi. Ada atau tidaknya pasangan, tidak akan mengurangi kebahagiaan yang udah terbentuk.

Wah salute bener yang bisa ngomong begini. Well, mari analisa bareng-bareng.

Kalau gue menganalisa terhadap orang yang mengutarakan pernyataan ini – hanya sudut pandang ya, jangan dianggap too much nanti – adalah seseorang yang telah melalui rangkaian cobaan hidup yang sangat kompleks. Mungkin ada puluhan lusin kekecewaan, kesengsaraan, kepedihan dan tangisan yang sudah tersimpan rapi di rak file yang tidak mungkin diungkap ke orang lain. Jangankan memikirkan pasangan, orang ini lebih berpikir bagaimana caranya bisa hidup dan berjuang di tengah kolam cobaan. Agar bisa terus bernafas di dalamnya. Himpitan cobaan datang silih berganti. Sekali lagi, memikirkan pasangan hidup yang dapat terlibat dalam proses hidup menjadi lebih baik tidak pernah terpikirkan. Kalau kata kasarnya, elo sibuk kerja terus, pacaran aja nggak sempet.

Mungkin sebagai orang yang belom pernah bisa mempunyai pasangan hidup – masih penjajakan sih (enggak perlu curcol gitu kenapa, nyet?) – mungkin gue akan berujar dengan kalimat pernyataan yang sama. Lemme straight this point of view.

Fokus kepada hal-hal yang dikejar membuat perubahan pola pikir berubah secara signifikan. Kejar target karir yang sangat tinggi, promosi jabatan yang diinginkan, cita-cita jangka pendek, menengah dan jangka panjang yang masih berhubungan dengan materi harus dapat dicapai – meskipun mempunyai pasangan ada di dalam cita-cita – tetapi bukan menjadi prioritas. Hidupnya semata-mata untuk karir. (Analisa pertama done)

Mungkin, cara merayakan kekecewaan terhadap penggalan pahit masa lalu menjadi pondasi keyakinan orang ini di kehidupan sekarang, menjadi bahan bakar semangat untuk mencapai apa yang dimau, terkecuali pasangan. Mungkin, masih terjebak dengan luka yang belom sembuh. Penyembuh luka yang tertoreh itu belom ditemukan. Traumatisnya mengakar banget ya kalo gini. (Analisa kedua done)

Kedatangan pasangan di hidup seseorang kadang menjadi ketakutan sendiri. Ada loh yang takut jika pasangannya merusak perlahan dunia yang telah menemaninya selama mencapai dan menemani hidup sendiri. Jangankan nanti satu atap, sekedar menemani makan siang saja pun kayaknya bakalan tidak bisa dinikmati dengan santai. (Analisa ketiga done)

Well, dari semua analisa itu, gue masuk yang mana ya? Point ketiga mode on : pernah. Point kedua mode on : pernah banget.

Udah mau ngomong gitu aja lewat tulisan ini. Analisa demi analisa emang nggak sinkron, hanya saja yang patut dipertanyakan : Seberapa lama kenyamanan sendiri ini akan tetap dapat dinikmati tanpa melibatkan pasangan hidup? Bukankah nanti, manusia akan menua dan butuh teman hidup?

Mean while i have to nenggak antalgin for this headache. Gilaaaa sakit banget.

 

 

#Merayakan #Ketulusan

Tulisan hari ini meyakinkan bahwa aku mampu berdiri lagi dari keterpurukan langka : berhenti menuliskan semua isi kepalaku. Termasuk malam ini.

Mungkin, sabtu malam ini adalah sabtu terbaik yang aku catat di prasasti kenangan yang bersemayam khusus di salah satu sudut bagian tubuh terpenting manusia. Hati dan perasaaan sebagai seorang manusia yang memiliki simpati dan empati.

Jatuh Cinta tidak separah itu ternyata, kata Logika kepada hati. Sebuah retorika sebenarnya mempunya dua sisi yang sangat pantas untuk diulas. Namun aku enggan untuk membahas hal ini. Biarlah kali ini, aku memainkan sebuah lagu dengan lirik yang sama sekali tidak aku pahami maknanya dengan partitur yang masih baru dan sedang akan di-aransemen dengan musik yang belum aku ketahui komposisinya.

Sebuah pertanyaan yang memicu kepalaku terus menggagungkan hal ini sepanjang perjalananku menuju dimensi lain : Haruskah aku lanjutkan atau mungkin aku harus berhenti mengejar kamu? Yang hanya sekedar memberi ruang semu namun memaniskan. Atau kenyataan pahit, jalan yang aku tempuh tidak berujung pada tujuan yang aku tuju yakni dermaga. Dermaga yang tengah bersandar sebuah perahu yang dibangun oleh semangat optimis dan rasa cinta yang tinggi. Perahu yang siap berlayar dan meninggalkan dermaga untuk kemudian berkelana menyusuri setiap jengkal perairan. Semakin manis rasa yang ditinggalkan, menyekanya pun enggan, maka sebaiknya apa perlu aku pertaruhkan semua hal yang  telah dikorbankan meski hal itu tidak lumrah dan sangat tidak memungkinkan?

Entah kenapa, jika hal itu tidak aku lakukan, akan menjadi beban pikiran. Sekalipun jawaban tidak akan terlontar dari bibir kamu, aku akan sangat mengerti. Karena cara aku dalam merayakan rasa penasaran adalah melakukannya tanpa memikirkan apakah hal itu membuang waktuku atau tidak. Perkara berhasil tidaknya, aku tidak begitu ambil pusing. Sekali lagi, yang aku tahu bahwa aku telah melakukan hal yang benar terhadap apa yang sedang aku perjuangkan. Meski menurut kamu sendiri, aku sangat bodoh dan tergesa-gesa  memutuskan tindakan itu. Aku tidak peduli lagi. Aku yang mempunyai cara sendiri dalam mengutarakan dan menunjukkan seberapa besarnya keinginan aku untuk memiliki kamu. Hanya itu saja.

Aku tidak pernah mengusik masa lalu. Masa di mana aku sudah mencoba cara satu dan cara lain untuk meraih hatimu. Meski aku gagal suatu saat nanti. Namun bgitu, izinkan dan biarkan aku melihat untuk mendapatkan hatimu dengan caraku. Tidak perlu kamu merisaukan apakah luka yang timbul nanti betapa pedih dan sangat koyak, tidak perlu dipikirkan. Tidak perlu juga memikirkan bagaimana luka pedih itu sembuh dan pulih.

Kamu pasti akan berpikir sekilas, bagaimana aku dengan mudah menyerahkan hati ini kepada kamu. Sekali lagi, ini adalah bagian dari kenangan yang ingin aku punya. Dan aku melibatkan sosok kamu, sedikit saja. Mohon maaf sekiranya, aku tidak bisa memberi imbalan materi yang pantas.

 

PKS – PERJANJIAN KERJA SAMA VS PERJANJIAN KERJA SUARA – PART 2

Setelah lama break dari nulis karena banyaknya kesibukan, now i’m ready again.

Baru sampai di mana ini ya?

kemaren gue hutang cerita mengenai judul di atas ya? well, here we go.

Oke, gue hanya menyimak aja obrolan itu tanpa merespon apa-apa selain kalimat pendek “oh begitu”. Jujur saja, yang gue tangkap waktu itu paham dan gue banget kayaknya. Berbekal pengalaman kerja yang gue punya, tentu untuk hal yang dijabarkan oleh Mas Didit, gue mengerti banget. Hanya saja, ada part yang belum gue klik sama posisi pekerjaan yang dimaksud oleh Mas Didit ini.

Dan benar saja, part obrolan yang belom klik ini adalah gue handle kerjaan selain event bidang apalagi ya? Pertanyaan lain muncul : kenapa enggak ada surat perjanjian kerja atau apalah yang benar-benar legal? Setidaknya, jika suatu saat nanti ada wan prestasi dari pihak pemberi kerja – dalam hal ini Mas Didit – gue nggak bisa klaim apa-apa dong ya? Dan masih banyak pertanyaan demi pertanyaan yang menggelembung di benak gue.

Dan pada akhirnya, yang hanya bisa gue dengarkan saat itu “Elo kerja sama gue berdasarkan kepercayaan aja. Elo bagus kerjanya, gue apresiasi dengan setimpal” kata Mas Didit. Omongan dia ini enggak bisa banget gue jadikan pegangan. Yah, elo semua tahu kan, lidah manusia tidak bertulang, bisa saja omongan A diingkari menjadi omongan B. Tanpa perlu pikir panjang lagi, gue mengiyakan bergabung karena mengingat kerjaan di Bank tempat gue membina karir sangat mentok. Mentoknya karena apa? Nanti gue ceritakan lagi di kesempatan lain, ya.

Well, Awal September 2016, officially gue ikutan kerja di bawah naungan PT yang bergerak di bidang penjualan komputer dan solusi IT. Lokasi tempat usaha – dulu gue menyebut lokasi ini dengan sebutan Kantor, seperti orang kebanyakan menyebut demikian. Tetapi kali ini, gue enggan menyematkan istilah “kantor”. – di sebuah komplek rukan yang ada di Harco Mangga Dua. First Impression, like really? I get office like…ya sudah, mau diapain lagi. Hanya dua kata “ya sudah” ini saja yang berlaku sepanjang hari gue terapkan. Dikenalin sama staffnya yang udah mengabdi selama 8 tahun, ya sudah. Dikenalin sama orang accounting dan merangkap sebagai orang pajak, ya sudah. Ruangan kerja ada di lantai lima, which is harus naik tangga lumayan capek dan ditambah sudut elevasinya kebangetan, ya sudah. Kehilangan kenyamanan kerja yang dulu, ya sudah. And every single words ya sudah-thing tadi, gue akhiri dengan helaan nafas yang panjang. Perubahan memang membuat kita dipaksa untuk terbiasa dengan hal yang baru. Terbiasa tekan tombol lift ke lantai 20-an, maka sekarang harus terbiasa melatih kaki untuk menaiki anak demi anak tangga yang nggak begitu banyak, tetapi cukup melelahkan.

pexels-photo-374074

Oh tentu saja. Suprisingly, difasilitasi segala macam berupa email korporate, notebook baru, motor honda bebek dan akses penting yang membuat gue sedikit jumawa. Damn, gue dipercaya banget. Uhuy. (I tell you, ya, ini perasaan yang sebenarnya biasa saja dan kesannya gue paksakan senang dengan keberadaan fasilitas ini. Kenapa begitu? Buat gue, kerja di bank pride-nya jauh lebih besar dan ketemu sama orang-orang penting yang buat gue semakin termotivasi. I dont know why, first impression gue kurang engaged kali ini. Sure, ini bukan pertanda yang baik buat gue. But in the end, ya sudahlah ya.

Jalan beberapa hari, gue memulai status karyawan “percobaan” di perusahaan ini. Komitmen gue, tiga bulan di tempat ini enggak bisa berkembang, maka dengan segala rasa hormat yang tersisa, gue harus rela ganti pekerjaan lagi. Gue masih punya waktu yang sama untuk submit CV ke beberapa perusahaan melalui jobsid, jobstreet or whatever. Gue memberikan waktu untuk percaya dan bisa jalanin kerjaan ini apalagi di bidang yang sudah lama enggak gue geluti : IT.

Sempat timbul rasa percaya diri ketika akan dipinang oleh perusahaan ini, namun gue merasakan janggal ketika di minggu kedua dan minggu-minggu selanjutnya.Are you kidding me?

Ruangan yang cukup besar dan sistem sharing-room dengan atasan yang duduk di meja paling selatan, di meja tengah ada senior (baru sebulan kerja di tempat ini) dan ada meja gue yang difasilitasi monitor tambahan untuk bisa menyelesaikan pekerjaan lebih banyak dan tentu lebih banyak task yang bisa gue ambil. Demi memenuhi tantangan yang bernada sombong itu “Gue pengen elo bisa menyaingi kemampuan gue. Gue sebagai leader lo, gue akan mempush elo ke level yang paling maksimal. Kalo emang elo sampai mencret, mencret sekalian”…begitu titah Mas Didit yang mulia ini.

Seiring berjalannya waktu, ada masa yang membuat gue ingin keluar segera mungkin. Durasi perjalanan Mampang – Harco Mangga Dua – Mampang sangat menguras masa muda gue. Perjalanan yang tumben gue lakukan dengan motor sekalipun sangat menguras emosi, tenaga dan waktu gue. Coba ya, gue bandingkan – dan mungkin elo semua yang terbiasa naik kendaraan umum akan mengiyakan apa yang gue jabarkan kali ini – dulu terbiasa arah Mampang – Sudirman dengan durasi yang cukup selow, sekitar empat puluh menit dengan menggunakan moda transportasi umum Transjakarta. Biaya yang dikeluarkan pulang pergi setiap harinya sebesar Rp 5.500,00. Dan dengan transportasi ini, gue bisa melanjutkan tidur ketika ada jatah kursi kosong yang tersedia. Bahkan, buku-buku yang gue beli bisa dengan leluasa gue baca sambil berdiri. Bukan begitu, wahai pengguna jasa Transjakarta?

Kenyataannya berubah, bok.

Difasilitasin oleh perusahaan bukan berarti surga, justru jadi neraka level satu. Gue jadi merasakan apa yang dirasakan oleh pengendara motor senior. Menahan sabar karena antrian kendaraan yang ingin sesegera mungkin mendahului dan tiba di tujuan, asap knalpot yang itemnya kadang-kadang ngalahin kulit gue, belom lagi menahan denging telinga akibat bunyi klakson yang sahut menyahut dari depan sampai ke belakang antrian – udah kayak mau lahiran aja deh – dan ditambah lagi, pengujian sabar karena harus terjebak di situasi seperti itu.

Bukan begitu, wahai para pengguna motor senior?

Seminggu jadi biker lumayan, minggu kedua mulai bosen, minggu-minggu berikutnya…ehmmm ya sudah. Tetapi ditambah dengan drama “motor yang sudah diservis dan minta jajan karena ban bocor” itu sangatlah tidak seksi. Yeah right, sexy my ass.

Idealnya, motor sebagai kendaraan operasional adalah tanggungan perusahaan bukan? Setidaknya apa yang gue tahu saat itu. Si Revolinah ini kalo jadi manusia berjenis kelamin cewek, masuk kriteria boros. Setiap ada kesempatan pasti minta jajan servis. Dan ngenesnya adalah ketika gue tanyakan dan konfirmasi mengenai biaya yang timbul, si accounting dan si Mas Didit berujar sama ” Reimburse tidak bisa cair”.

Crap oh well crap…

 

(to be continue…)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PKS – Perjanjian Kerja Sama vs Perjanjian Kerja Suara – Part 1

“Pokoknya nanti, elo akan kerja dengan dinamika yang sangat tinggi. Elo pasti akan suka”.

Obrolan ini terjadi di sebuah resto di kawasan PIK sana, di hari minggu dan matahari sedang terik-teriknya menyinari dataran jakarta utara dan sekitarnya.

Anyway, familiar nggak dengan kalimat ini? well, ini yang gue alamin ketika dihire oleh sebuah perusahaan yang bergerak di industri teknologi informatika. (Bahasanya di-hire, hahahhaa, kebagusan ye? Yawes, biar lebih keren dan terlihat matching, gue gunakan istilah di-hire). Lanjut…!!!

Gue sebenarnya ogah posting tulisan ini, karena terlalu personal banget buat gue. Tetapi, gue mau ulas pengalaman ini agar menjadi cermin buat para junior gue yang tengah berjuang mencari pekerjaan di Jakarta atau di mana pun, agar pola pikirnya kepakek dan bener-bener rasional. Apalagi dalam mencari pekerjaan ini ada sangkut pautnya dengan persahabatan.

Pertemanan seseorang dengan pribadi yang lain sangat diuji banget, kadang-kadang. Ujiannya meliputi sebagian aspek bahkan seluruh kehidupan. Dan gue mengalami (lagi) phase ini. Jadi ceritanya, gue sedang hunting posisi di perusahaan-perusahaan di Sudirman yang memungkinkan mengangkat gue jadi staff mereka. Dengan jejak pengalaman yang gue punya – enggak perlu gue pamerin CV gue ya, hehehe – cukup acceptable-lah untuk diangkat jadi staff baru mereka. Namun begitu, sebagus apapun CV yang gue punya, selalu kalah bersaing dengan permainan channel orang dalam. To be honest, I’m sick of it. Tetapi, galah kesempatan selalu gue lontar dan tancapkan. Berkali-kali.

Nah, ketika dalam proses berupaya untuk mendapatkan posisi baru dan meninggalkan posisi lama di kantor yang lama, sebuah tawaran datang dari seorang teman akrab yang kebetulan juga dari Bali. Gue kira hubungan pertemanan kami hanya berlanjut dalam platform BBM, Whatsapp, Facebook or LINE. Nyatanya berlanjut sampai sekarang. Singkat kata, ketika ada kesempatan gue bercerita sama temen gue ini – oh ya, nama temen gue ini namanya Cika (bukan nama sebenarnya) – bahwa gue sedang akan pindah dari kerjaan lama. Dengan alasan, gue sudah jenuh dengan status karyawan outsourcing. Dan gue sempat utarakan juga bahwa kontrak kerja gue akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan, tepatnya akhir Agustus 2016.

Obrolan kami berlanjut hanya di LINE saja. Diskusi berbagai hal dan mengulang memori kenangan tentang masa-masa kami sekantor dulu. Dan hingga akhirnya, part obrolan kami seperti ini.

She : kamu di sana udah berapa lama?

Me : x tahun.

She : dapat berapa kamu di sana?

Me : xxx sekian

Yak, dan panjang lagi pembahasan kami. As a bitch friend – jangan diartikan dengan makna lain yeee – , maka obrolannya pun akan ngalor ngidul seperti itu. Hehehe. Membahas kedongkolan kerjaan masa lalu, masa-masa di mana kami ngamen bareng lintas kota, gimana galau-galaunya Cika dengan cowok sebelumnya bahkan bela-belain nelpon malam buta hanya untuk gue perdengarkan tangisan galaunya itu. Yes, hanya karena cowok. She really love that asshole boy friend. Selang beberapa hari, gue mendapati chat yang lain dan berkesan angin surga banget. Yeah right, ke surge aja gue belum, ini  sok-sokan memberi ungkapan angin surga. Hahaha.

Di hari minggu awal Agustus, gue diundang makan bareng. Dan akhirnya bisa ketemu juga dengan Cika ini, setelah beberapa kali hanya sekedar wacana dan (sempat) di-php-in juga untuk ketemuan. Temen baik aja masih suka PHP-in ya? Apalagi orang lain yang baru kenal. Noted to my self, kala itu. Ibu kota dengan segala lingkungan yang dinamis, dapat saja mempengaruhi seseorang berubah menjadi lebih baik atau menjadi semakin buruk. Dan gue sempat mengecap Cika ini, sedikit berubah. Hmmm, I think I’ve skip this part, sebelum ada pertumpahan darah. Hahhaa.

 

Back to story. Jadi, awalnya di Setiabudi One – my choice, lebih dekat dengan – dan karena repot dengan urusan parkir, Cika ngabarin gue untuk keluar dari gedung dan ke seberang jalan arah ragunan. Tempat makannya di Kemang aja, katanya. Ya sudah, sebagai yang diajak makan, gue nurut-nurut aja deh.

And here we go. Apa yang dibahas di salah satu resto di Kemang itu adalah sebagai obrolan pembuka dan memperkenalkan diri antara gue dan calon suaminya Cika. Walau sebenarnya, basa basi sudah terjadi di dalam mobil. As stranger and outsider, gue hanya mengiyakan dan ketawa sekedarnya selama di mobil dan mengurangi kadar SKSD dengan calon suaminya Cika. By the way, namanya Didit and his name is alias. Teteup pakek alias untuk menjaga privasi orang. Ya kan, Mas Didit?

Selama obrolan hangat kami yang mengulas tentang pekerjaan dan mengenai pribadi masing-masing dan sembari mengunyah daging terenak di dunia yang dihidangkan oleh pihak resto, gue diberikan ruang untuk mengenal karakter Mas Didit ini.

 

“Jadi ya, bok, lakik eyke ini orangnya galak, tapi asyik dan baik. Nanti santai aja ya, jangan tegang.” Demikian briefing yang gue terima sebelum pertemuan ini dan memang seperti yang diceritakan oleh Cika. Dan di gue sendiri ada sedikit rasa segan. Kalau ketemu orang kayak gini, pasti crangky abis berurusan dengan details. Dan karena dalam rangka berkenalan dengan calon bos, maka gue nggak boleh berpikiran yang tidak-tidak bukan? So, I did. Oh wait, kalau masalah fisik, si Mas Didit ini tinggi-lah, pantesan si Cika  betah, bisa dipanjat banget Mas Didit. Dalam bahasa kekinian, panjatable.  Yes, artikan sendiri maknanya ya.

Makanan yang dipesan kloter pertama tuntas dan setengah porsi kloter kedua terpaksa dibawa pulang karena masing-masing perut kami sudah tidak mampu menampung potongan daging ini. Obrolan tiga jam kurang di resto ini cukup memberikan gambaran, tentunya dari pihak Mas Didit sudah mengetahui potensi gue ini

Dalam perjalanan pulang, akhirnya muncul obrolan mengenai peluang bekerja di Company Mas Didit ini.

“Gue butuh orang yang bisa memvisualkan gagasan gue ke dalam suatu bagan atau animasi. Company gue memang membutuhkan orang-orang kreatif. Orang-orang yang dapat menuangkan gagasan gue ke dalam satu proses yang dapat menghasilkan….(panjang bener bahasannya, so teknikal. Jadi anggap aja Mas Didit lagi berceloteh ya)…Dan menurut gue, elo itu kreatif karena sudah menghasilkan buku, dan Cika juga sudah cerita gimana elo selama ini.

Oke, gue hanya menyimak aja obrolan itu tanpa merespon apa-apa selain kalimat pendek “oh begitu”. Jujur saja, yang gue tangkap waktu itu paham dan gue banget kayaknya. Berbekal pengalaman kerja yang gue punya, tentu untuk hal yang dijabarkan oleh Mas Didit, gue mengerti banget. Hanya saja, ada part yang belum gue klik sama posisi pekerjaan yang dimaksud oleh Mas Didit ini.

Kelanjutan cerita ini? Nanti ya, setelah gue selesai ngucek cucian yang udah lama gue rendam dari kemarin. To Be Continue dulu…