Draf Email Rama Part 1

Dear Sita,

Apa kabarmu hari ini? Bagaimana tidur semalam? Nyenyak? Semoga saja nyenyak yang kau dapatkan disertai dengan rajutan mimpi yang indah, seindah matamu.

Bolehkah aku tahu, kegiatanmu hari ini? Maaf, bukan menjadi wewenangku untuk mengetahui semua hal tentang kegiatanmu. Hanya saja keingintahuanku apa yang akan kau kerjakan hari ini akan menjadi relief tersendiri di hari-hariku, terutama hari ini.

Kalau boleh aku jujur, beberapa waktu yang lalu, aku mendatangi tempat yang sering kau datangi. Kau masih ingat? aku berikan petunjuknya sehingga kau dapat menerka tempat mana yang aku maksud. hehe

Tempat ini tidaklah susah untuk kau capai. Ketika kau merasa jenuh, kau datang membawa keranjang kayu yang sering kau bawa. Keranjang itu berisikan beberapa makanan dan tentunya sesuatu hal yang tidak dapat kau lupakan ketika kau pergi ke tempat ini, kamera saku berwarna biru langit. Sampai disini, kau sudah dapat menerka tempat yang ku maksud bukan?

Benar. Benar sekali. Kebun melati dekat pabrik susu itu. Kau pasti sudah menduganya bukan? Dan maafkan aku, bila aku mulai bertingkah sepertimu. Aku mulai membawa hal-hal seperti yang pernah kau bawa ke tempat ini. Seperti membawa keranjang dengan isi yang sama, beberapa makanan dan kamera saku berwarna biru. Hanya saja, warna biru yang ku inginkan tidak senada dengan milikmu. Aku sudah mencarinya ke berbagai sudut kota, namun tidak satupun yang menjualnya. Dan satu barang tambahan terselip dalam keranjang itu, yakni syal biru milikmu. Masih ingatkah dengan syal biru itu? Sekedar mengingatkan, syal rajutan berhiaskan motif burung dara di masing-masing ujungnya. Aku mengambilnya secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu. Namun aku ragu, kau tidak tahu bahwa aku mengambilnya. Kesalahanku bertambah lagi kepadamu, Sita.

Pertama kali, kau mengajakku ke tempat itu, bagiku sungguh menarik. Kau berkata, kau hanya mengajak orang-orang tertentu untuk datang ke tempat rahasiamu ini. Dan akulah salah satu orang yang beruntung, yang termasuk dalam kategori orang-orang tertentu. Aku sangat menghargai itu dan sudah menjadi kewajiban aku untuk menjaga kepercayaan yang kau berikan padaku.

Dan, awalnya aku merasa aneh ketika duduk sendirian di kebun melati ini. Walaupun pemiliknya mengijinkan untuk duduk-duduk menikmati hawa segar di kebun itu beserta sengat harum dari aroma melati, tetap saja menit-menit pertama terasa aneh bagiku. Namun perlahan pasti, aku mulai terhanyut buaian suasana kebun itu. Dengan sengaja aku mengalungkan syal biru itu di leherku. Lalu mengambil kamera saku, melakukan hal yang kau lakukan selama di kebun teh itu, mengabadikan setiap sudut dari kebun melati itu. Aku tidak sepandai yang kau pikirkan, Sita. Gambar yang ku ambil tidak seindah dan sebagus yang kau ambil. Gambar yang kuambil, cenderung buram. Kadang-kadang berlebihan cahaya. Entah ada kesalahan pada kamera ataukah hanya aku yang tidak dapat menggunakan kamera canggih seperti itu. Entah bagaimana denganmu, Sita. Bagaimana kau melakukannya? Adakah hal menarik yang kau dapatkan ketika kau duduk di tengah-tengah kebun melati itu? Kenikmatan apa yang kau rasakan? Aku lupa bertanya hal ini kepadamu. Dan kau pun sebenarnya akan mengatakan apa yang harus aku ketahui.

Namun, bagiku tak mengapa. Itu masalah ruang pribadi yang mungkin tidak ingin kau bagi dengan semua orang, termasuk diriku.Kau memiliki dunia yang indah. Hanya kau dan duniamu. Itu hanyalah masalah waktu, bagaimana ia mengijinkan aku untuk mengenalmu lebih dalam. Dan aku harap, email ini menjadi salah satu media untuk dapat mengenalmu lebih dalam.

Sita, bolehkah aku bertanya kepadamu? ada beberapa pertanyaan yang bertubi-tubi di kepalaku. Dapatkah aku menanyakannya satu per satu? Lagi-lagi, aku harus meminta maaf atas permintaanku ini, karena secara tidak langsung membuat waktumu terbuang percuma, hanya karena omong kosong ini. Maaf ya? Kalau kau membaca ini, aku harap kau membalasnya dengan emoticon senyum, seperti ini :).

Aku belum mengetahui secara pasti, apakah perasaan yang kau pendam selama ini. Kau begitu misterius bagiku. Kau tersenyum dan selalu seperti itu seolah belenggu masalah tidak pernah ada dalam tiap episode kehidupanmu. Adakah yang kau sembunyikan dariku, Sita? Dan sekali lagi, aku berharap aku mendapatkan jawaban yang bijak darimu, Sita.

Seperti Selasa minggu lalu, kau hadir dalam mimpiku. Mengapa tiba-tiba kau hadir di mimpiku. Saat itu, kau mengenakan gaun yang tidak begitu biasa. Terlihat biasa namun tidak. Entah bagaimana aku mendeskripsikannya. Dunia mimpi memang susah untuk ditebak. Kau datang dengan begitu anggun, dan melambaikan tangan ke arahku. Dan memanggil namaku. Iya benar, kau memanggil namaku. Terdengar merdu ketika kau meneriakkan namaku. “Hay Rama…”. Kau meneriakkan namaku tiga kali. Aku hanya menoleh ke arahmu, dan melemparkan senyum hangat kepadamu. Entah mengapa, bibirku kelu, tidak dapat membalas sapaan akrabmu itu. Aku sudah berusaha untuk membalasnya, karena aku pikir akan keterlaluan jika aku membisu tanpa membalas sapaanmu. Dan yang terjadi hanyalah kebisuan belaka. Dan sampai detik ini, aku hanya masih bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan kamu, Sita? Mengapa kau nampak berbeda di mimpiku. Tidak seperti biasanya. Apakah kau mempunyai semacam kemampuan untuk berubah menjadi malaikat seperti yang kau tampilkan dalam mimpiku? Entahlah, aku butuh penjelasan darimu Sita, aku memohon padamu.

Aku harap semua pertanyaanku ini akan terjawab jika kau bersedia menjawabnya kelak.

Dari seorang yang merindukan senyummu
Rama.

Iklan