#just #flow #thesystem

Semangat bulan mei.  Ya ngga kerasa ud nginjek bulan mei. Special month for spesial guy. *lagi nunjuk diri sendiri.

Anyway, gue ini sebenernya mau nyampein apa di postingan kali ini? Nope. I just wanna put my spirit into words. Lewat blog ini sih tepatnya. Unek2 yang menggumpal bak awan mendung berwarna abu-abu gelap, yang sudah tidak tahan menahan debit air yang sangat banyak itu, dan siap dimuntahkan ke pangkuan bumi. Seperti itulah kiranya yang gue rasakan kali ini. Kerasa banget, kalo kebiasaan menulis jika ditinggalkan dalam interval waktu yang cukup panjang, seolah-olah tergerus oleh aliran kemalasan yang dibuat-buat. Ujung-ujungnya gue ngga produktif lagi. Sedih ya. Gue jadi inget tumpukan project yang belom kelar sama sekali. Ada 1 buku yang belom kelar. Isssssshh.

Kesibukan gue kali ini semakin bertambah. Kalo dulu, waktu senggang yang gue punya diprioritaskan untuk liburan and menulis, sekarang ngga bisa mikirin liburan lagi. Kenapa?

Boleh dibilang, keputusan menjadi seorang agen asuransi adalah keputusan yang paling berani dalam sejarah hidup gue. Serius, ketika gue terjun dlm bidang ini yang memang dulunya secara ngga langsung berjibaku dengan bidang investment,  I’ve felt something different. Beda banget sama kerjaan utama gue yang sekarang. (Honestly gue ud boring banget kerja sbagai asisten). Kerjaan utama yang sekarang ngga lebih sekedar  penyambung hidup di ibu kota. Gaji yang gue dapetin pun kalah jauh sama gaji security,  ato yang paling parah deh, gaji gue dibawah income tukang odong2. Gue ngga percaya awalnya. Tp Menurut pengakuan pelakunya sendiri (baca : abang odong2nya), income sebulan bisa diangka 4,1 jita. What the…

Sudahlah, lupakan kecemburuan ini sejenak. Yang paling penting adalah gmana caranya menghasilkan income yang lain? Haruskah gue bergambling ria lagi?

Jawabannya cukup singkat. Mau ato enggak hidupnya cukup melulu sepanjang umur? Sedangkan kebutuhan makin meningkat dari waktu ke waktu? (Sebenernya ini adalah jawaban bukan pertanyaan lagi kan?)

Bersmbung dulu deh…anak kosan mau beberes..

Iklan

sembilu sang bayu

Begitu sempurna, hembusannya menawarkan kedamaian ketika kau pijakkan semua lelah kakimu diatas hamparan beriak pasir hitam pekat.

Tapi gundukan baris batu besar menghalanginya.

Namun, pelipur gelut rindu dari tanah jawa, aku sampaikan dalam gurat pena ini kepada pulau dewata.

Posted from WordPress for BlackBerry.

soto ayam ghedor depan plaza senayan

Hari ini random banged. Semua makanan tiba2 aja punya kaki sendiri, dan mendekat ke gue. Gue yang jalan menunduk pasrah, wait terlalu dramatisir. Gw nunduk karena chating and blesin email yang masuk. Uda males meratapi penghuni dompet yang gagg bertahan lama di ruang sempit dekil dan apek. Mereka memantaskan diri untuk pergi secepatnya dri rumah mungil mereka.

Well, gw seperti biasa mengawali hri itu dengan menumpang si dobel sik (baca : 66). Di Bali juga ada kok, malah bisa berenang and open tabel (baca : table). Tapi berhubung gw agak ambisius dan terlanjur sombong, gw ngga pernah open tabel di 66 Bali.

Anyway… Barusan gw bahas tentang makanan. Makanan malam ini super duper datangnya pake taxi alphard. (Stop, suka2 gw menganalogikannya seperti apa. Yang jelas malam ini, gw kekenyangan.

Perhentian perut gw ternyata masih ada satu porsi lagi. Gw hrus say thank full sama perjaka muda eksmud yang loyal. Ini kali kedua gw ditraktir setelah traktiran pulang dengan mobil bleki, kali ini traktiran makan dan traktiran pulang. Asooy banged. Gw ngga usah feeling sorry ke dekil. Karena tangan gw yang notabene penuh daki en keringet, engga menjamah lipetan kulit item kesayangan gw itu. Amanlah pokoknya.

Gw diajak makan di depan plaza senayan. Itu adalah tempat yang menurut gw adalah tempat kongkow yang prestisius. (Alasan kenapanya, gw cman bisa jawab : deket lapangan golf). Simpel.

Pilihan traktiran kali ini, jatuh ke gerobak soto yang aduhai ngalahin kece si suprix, motor butut gw yang uda diadopsi sama juragan barunya. (Kangen kamuh cibi #eh). gerobak soto itu membrandingkan dirinya dengan tajuk utama “Soto Ayam Ghedor”. Sampai disini, gw engga terlalu menaruh curiga dengan gerobak soto ini. Apalagi ke operatornya (baca : pemilik). Gw cman sedikit worry aja. Worry karena ntar gw hrus merogoh kocek dalem2, scara makan di tempat yang prestisius.

Dan langsung saja, si pemuda perjaka cool kece bin eksmud, selanjutnya kita panggil Dev, melakukan pesanan. “Sotonya loro ya buk.” Si ibu menganggukan kepala dengan segera. Ditangannya sudah tersaji semangkuk soto yang menunggu last of touching for kuah soto. Kuah soto sudah dituang, dan….

“Braaaggggg!!!!”

Gw kaget setengah kencing. Gw shock. Gw protes dong ke ibunya. “Wah si ibuk, pelan2 dong. Ngajak berantem neh?” Gw yang dasarnya emg gampang sewotan kalo digertak bgni (padahal sebenernya pengen cabut), cman bisa mencak2 gitu sebelum akhirnya sang suami tercinta si ibu memberikan greeting polos seperti. “Selow om, namanya juga perkenalan.” Gw diem. Dev ngga komen, cman mesem2 aja. Bahaya ini, kadar norak gw bertambah hanya gara2 gertakan ibu2 penjual soto ini. Gw memilih untuk cengengesan, dan pilihannya hanya itu. Kalo bisa sih, gw maunya setup layer tancep sklian sound sistem, ngadain nobar di lapaknya pemilik soto ini, buat membayar rasa bersalah gw, karena mencak2 si ibu engga jelas. I feel sorry mam, saya terlalu khilaf berbuat seperti itu.

Dan sampe akhirnya, selama perbincangan gw selama makan bareng Dev, otak kanan ato kiri yang berhasil menyimpulkan algoritma yang ciamik. Otak gw berhasil memberikan gambaran paling rumit, melebihi rumitnya pacaran ababil masa kini yang konon katanya pacaran sangat serius dan berujung pada garis2in silet di tangan mereka masing2. (Oke, sudah mulai ngaco. STOP).

Dan akhirnya, setelah soto itu tuntas dan bebas berkeliaran di lambung gw, otak gw menghasilkan kesimpulan. Kenapa soto itu membrandingkan diri dengan titel SOTO AYAM GHEDOR. Sensasi di akhir penyajian soto itu terletak di botol kecap besar menjulang gagah diantara piring dan panci kuah soto. Botol pekat hitam itu, di gebrak di meja gerobak dengan sensasi “bRaaaaag”. Sekali lagi… “Braaag…” Dan lagi “bragggg….” (Sebenernya sih cman sekali, gw aja yang suka reply. Karena gw inget, konon kalo kita melakukan sesuatu yang sama sampe 3x berturut, akan mendapatkan piring cantik”)

Terjawab sudah misteri branding soto ini. Dan secara rasa, lambung gw serasa digebrak. Sakit dong bor? Enggaklah Ler, enak super duper nendang. Nampol banged. Pas. Gw hrus mengaktifkan paket nodong gw yang selama ini gw nonaktifkan karena kinerja paket nodong yang gw punya sangat tidak masuk akal, dan sedikit mahal. Masa iya, bru dpt gratisan setelah kirim sms 10 kali. Engga bisa gitu dong.

Dan akhirnya, gw pun hanya bisa menempatkan soto ini dalam kenangan gw melalui foto ini. Simpel, blur dan agak kurang cahaya. Harap maklumlah, ngambilnya juga dri hape bebeh gw yang bgitu gw sayang, sama seperti sayang gw ke kopaja, meski tarifnya agak sombong dikit jadi 2500.

Perjalanan yang menyenangkan hari ini. I must be say thank you to My Lord. Ditengah kondisi petikemas gw yang uda hampir tidak ada penghuninya, Beliau menggerakkan umat yang lain dan mengarahkan kepada gw.

Quote : jangan pernah buang makanan. Kalo ayam pesanan lo ngga habis, bungkuslah. Dan berikan kepada teman lo yang lg perlu asupan gizi tambahan.

Ps : kalo temen lo ngga mau sama makanan bekas lo, lebih baik lo simpen and kasih ke orang yang temui di lorong2 jembatan penyebrangan yang selalu mentengadahkan tangannya demi sesuap nasi. Dan lo memberikan sesuap daging kepada mereka.