Sebilah cercaan perasaan

Ada beberapa minggu yang jeda dan gue nggak menulis apapun di website ini. For Gods Sake!

Setelah beberapa kali mengalami patah hati, kayaknya bukan menjadi hal yang istimewa perihal patah hati ini ya.

I wanna scream out. Very loud. Current me rn.

Bagaimana menjabarkan kegelisahan yang terjadi beberapa minggu ini?

Undescribe.

Aku tahu bahwa kelak suatu saat nanti, ada masa bahagia yang akan terbayar di dalam penantian. Ada gelak tawa yang akan terbit. Ada sumringah yang berarti terpancar dari setiap wajah yang selalu mendukung dan mencoba mengajakmu bangkit lagi, melanjutkan ketertatihanmu di saat terjatuh.

Nggak sanggup lanjutin part-nya. Too emotional 😐

Iklan

#BeranjakPergi #EngganMelupakan

Mungkin ini tahap transisi yang paling menyebalkan setiap kali gue untuk berkonspirasi dan bernegosiasi dengan pikiran dan hati. Told ‘ja. Emang susah untuk melupakan kenangan sama gebetan. Its was risky to forget all of memories. Let me share short story. Of course still about past person.

Gue harus mulai dari mana ya?

Jadi, perkara melupakan seseorang yang telah mencuri sebagian besar perhatian dan sebagian kewarasan yang gue punya. Seriously. Until i get this stress because i cant control that feeling. I said like as passengger of roller coaster. Enggak akan pernah tahu bagaimana menggambarkan rasa yang muncul saat tanjakan itu dijajal, setiap kelokan curam dijajal dengan kecepatan yang tidak selow bahkan saat turunan. Aku merasa di fase seperti itu. Fase menaiki roller coaster.

Lucu nggak sih, saat semua fakta yang terkuak terpapar di timeline social media manapun elo terhubung dengan (mantan) gebetan – facebook, twitter, instagram dan masih banyak lagi – harus ditelan pahit fakta itu sembari berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Sedangkan hati di dalam sana tidak bisa dibohongi, ingin menjerit sekencangnya.

Jalanan Kerobokan nampaknya menjadi jalan yang enggan gue lalui beberapa minggu yang lalu. Seperti umat penganut cinta mati yang lain, gue jadi trauma lewatin jalanan itu, just because there is too much memories about that person. Masih ingat bagaimana gue berusaha mengendap-endap untuk menyiapkan makan siangnya dan mengantarkan makanan itu langsung ke rumahnya dan tentu ada pesan singat “selamat menikmati makan siang” di atas bilah post it berwarna kuning. Masih ingat malam di mana gue dengan setianya berkendara cukup jauh ke rumahnya hanya untuk memberikan pelukan terbaik demi mententramkan hatinya yang tengah gundah – enggak habis pikir, kenapa gue bisa begitu kuat menahan angin malam? – hanya untuk memeluk tubuhnya dan merasakan detak jantungnyayang tidak beraturan? Dan gue masih ingat bagaimana decit pintu kamar menganga dan sebuah senyum yang meluluhkan dunia gue saat awal bertemu dan hingga gue dibuat gila karenanya. Perkara senyum yang membentang di wajahnya, enggak bisa gue sangkal lagi, bahwa gurat senyum terbaik yang pernah gue temukan.

Apakah gue terlalu tergesa-gesa untuk menawarkan diri saat itu sebagai stranger yang bersikeras memaksa dia sebagai dermaga terakhir?

Ps : based on friend experience.

#mengenangmu – sebuah perjalanan melupakan

Mungkin aku sedang dikutuk lagi oleh waktu. Mungkin.

Mungkin juga aku sedang dikoyak perasaan sendiri. Mungkin.

Mungkin juga aku sedang menikmati karma buruk yang sedang aku terka-terka selama ini. Bisa jadi.

Mungkin juga akunya aja yang bego? Sangat mungkin.

Jatuh cinta kepada orang yang datang dengan misi iseng-iseng sebaiknya diabaikan saja. Aku lupa mengabaikan syarat ini. Dan namanya juga iseng-iseng, hasilnya pun iseng-iseng. Aku menikmayi buah iseng-iseng yang terlalu diseriusin. Mau tahu hasilnya? Patah hati yang dibarengi dengan sakit hati.

Awal tahun 2018 aku mengira akan menjadi tahun yang akan membawa banyak peluang perubahan lebih baik – selalu berharap begitu saat pergantian tahun – menata diri lebih bijak dan dewasa, dan kesempatan lain berupa : lebih hidup dengan cinta tanpa batas. Namun sayangnya, racun cinta itu sendiri aku dapatkan beberapa minggu belakangan ini.

Kamu tahu nggak rasanya membenci orang yang kamu suka dan mencintainya dalam waktu yang bersamaan? Walaupun ia datang dengan misi iseng-isengnya? Walaupun ia hanya butuh pelarian dari dunianya yang monoton? Dan iseng-isengnya, kamu terjebak dalam kubangan iseng-iseng itu sendiri.

Wait…istilah apa sih ini? LOL

Biarkan aku menuliskan semua hal yang kusut terjadi di kepalaku beberapa minggu belakangan ini. Boleh?

You know what? Ive done stupid things. Rela bepergian malam hanya untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada dia yang datang secara iseng-iseng itu berupa pelukan yang ia mau. Tanpa berpikir panjang dan membuat pembenaran bahwa orang ini memang butuh untuk ditemani. Kenapa waktu itu aku tidak menyelesaikan konflik dalam kepalaku dengan ujaran “Halah, toh lahir dia sendirian. Manja amat. Namun, sayangnya, suara makian seperti ini kalah dengan suara yang lebih bijak lagi “mungkin dia memang butuh untuk ditemani”.

Kebodohan berikutnya : rela menunggu beberapa jam hanya untuk memberikan kejutan. Respon sebelum kejutan itu berjalan ” i hate you. Kita udah bicarakan ini baik-baik kan?”. My fault. “I need my time” katanya…okay.

Bisa dibayangkan gimana perasaan aku di atas motor saat berkendara menuju pulang ke rumah? Empty.

Ketika aku berusaha untuk mengikuti permainan dia, mulai menjauh pelan-pelan, maka seharusnya hal-hal seperti ini tidak pernah muncul, misalnya ” are you okay?” Atau “ke mana aja?”. Apa yang harus aku lakukan sebenarnya?

Segala postingan yang bersangkut paut tentang dia, terpaksa dihapus dengan alasan “proses melupakan butuh tindakan yang total”.

Namun begitu, aku lupa bahwa dalam proses benar-benar lupa, album kenangan di kepala dan hati masih dengan setianya bertengger di atas prioritas hidup. Salah ya?

#NP BCL – Kecewa

Aku pernah membaca di mana kalimat ini

Jika kamu kangen dengan orang tersebut, segera datangi selagi jarak dapat kamu capai.

 Untuk kali ini aku berusaha mengikuti kalimat ini. Aku rindu kamu.

Jadi, tergeraklah keinginanku untuk mempersiapkan diri tepat sembilan puluh menit yang lalu, mematut diri di depan cermin. Apakah kemeja dengan motif garis yang menjadi pilihanku atau kaos putih polos saja yang akan aku kenakan dan memadukannya dengan jaket denim yang aku beli di pasar loak tetapi masih terlihat keren untuk aku kenakan. Memilih celana berbahan apa yang cocok dengan atasan yang aku pilih. Memilih sepatu dari deretan koleksi yang aku punya. Look what do yo do, Gin,  kangen sama kamu saja, aku begitu norak mempersiapkan diri hanya untuk bertemu dengan kamu.

Berkendara malam hari atau lebih tepatnya tengah malam menurut banyak orang akan menyebabkan masuk angin. Namun rinduku menggebu, seolah rindu ini akan menjadi penghangat tubuhku selama perjalanan menuju tempatmu. Mungkin keputusan Tuhan saat ini memisahkan kita di dua tempat berbeda menjadi alasan aku mempunyai rindu yang tidak dapat diukur dalam satuan berat. Namun, aku diajarkan dari kondisi ini adalah dapat menabung sabar dengan pelan-pelan. Suatu saat aku yakin, Tuhan mengijinkan atap yang sama menjadi peneduh kita berdua. Hanya saja, Tuhan belum begitu yakin dengan keingananku, keinginanmu. Dua keinginan yang entah bagaimana mengukurnya namun aku yakin, kamu menginginkan hal yang paling sederhana. Selalu bersama.

Jadilah aku menyunggingkan senyum, membayangkan senyum kamu yang selalu menghiasi pikiranku setiap malam-malam menjelang istrahat. Yang mengingatkan aku bahwa dunia ini sangat indah dan tidak begitu rumit ketika aku merasa lingkungan sekitar tidak lagi bersahabat. Yang mengusik duniaku setiap kali aku berusaha untuk mengabaikan semua tawaran-tawaran yang memungkinkan aku untuk lebih terpuruk. Dari senyumanmu, aku dapat lebih mengerti dan lebih paham bahwa kamu sinar penerang yang aku sangat tunggu sekaligus embun pembasuh kekecewaanku pada cinta.

Aku memutuskan untuk meredakan semua kecamuk rindu yang ada di benak. Memutar arah menuju kedai kopi. Terima kasih kepada pengusaha yang telah menyediakan tempat dua puluh empat jam untuk menampung orang-orang sepertiku yang tengah dimabuk rindu. Rindunya bukan selusin, sekodi atau berapa ratus eksemplar. Rindu yang aku punya tidak bertepi. Menanggalkan semua gejolak rindu ini dengan secangkir espresso ukuran sedang. Aku tahu, nikmat kafein ini akan menambah adrenalinku karena membuat terjaga sepanjang waktu lalu dalam durasi itu, rindu ini akan makin bergejolak. Dan sembari mensesap minuman pesanan, aku tergugah untuk mereduksi gejolak rasa ini yang kian menjadi dengan menuliskan sesuatu apapun pada selembar kertas. Menuliskan semua kekisruhan rasa yang timbul selama dalam perjalanan. Terbersit juga bahwa aku layak memperjuangkan apa yang aku yakin dan apa yang menjadi keyakinanku setelah Tuhan dan keluargaku, adalah kamu. Rumah yang akan aku tuju dan sebagai alasan terbaik dan terkuat untuk aku pulang.

Aku sadar, aku adalah orang yang kesekian kalinya yang hadir dalam hidupmu. Namun, aku merasakan hal langka selama aku hidup. Indahnya jatuh cinta adalah hal langka. Ketika melihat senyum dan pendar cahaya di matamu, aku tergugah untuk mencari tahu makna itu semua.

Namun pada akhirnya, rindu ini sedikit memudar ketika aku mendapati bahwa kenyataan pahit itu masih saja mengikutiku. Gerbang tempat tinggalmu memang terbuka, namun kamu belum ada di sana. Aku bernegosiasi kepada rindu layakkah aku tinggal sementara untuk menunggu dia pulang?, sebelum rindu menjawab pertanyaanku, akhirnya aku harus mengiyakan logika. Diperkuat dengan kabar bahwa kamu memang belum pulang dari aktivitas kerja.

Aku mengendarai kendaraan dengan hati yang sedikit hampa. Masih ada rindu yang masih mengepul di sana. Semakin aku menyadari pesan yang aku terima dari kamu yang membutuhkan waktu untuk diri kamu sendiri bahwa aku adalah orang asing yang mencoba mengusik duniamu. Aku pilu dalam perjalanan pulang dan menyesalkan diri kenapa rindu ini semakin menjadi saat mencoba berbaring memejamkan mata namun tidak bisa.

Jauh di dalam sana, hatiku meringis pelan dan pasti. Tersedu-sedu meluapkan kekecewaan kepada diri sendiri. B etapa bodohnya diriku membiarkan rindu yang tidak bertuan ini memperbudak dengan keji.

Maafkan aku, Gin. Aku tahu, apa yang aku lakukan ini sangat keliru. Sangat keliru.

Tentang Hujan

Mungkin ini namanya yang berproses dalam hidup. Semua harus ditenggak kayak minum air putih yang ada kerak, kemungkinan ada bakteri yang masuk, ada sedikit apek sesekali dan beragam kemungkinan yang akan dirasakan setelah cairan ini melewati tenggorokan. (Edisi enggak bisa tidur setelah menyetir selama dua jam lebih perjalanan dengan roda dua yang sangat biasa saja sebenarnya, tetapi menjadi luar biasa karena diguyur hujan dan sempat terjadi insiden yang nyaris membuat dan menyumbangkan satu kejadian kecelakaan di rekam jejak laka lalu lintas Kepolisian Bajera Tabanan Sana)

Well, sampai di mana tadi? I got some crackers here. *enggak perlu posting bendanya ya, yang jelas gue enggak tahu kenapa gue ngambil biskuit merakyat ini dan sudah habis empat potong*.
Hmm, guyuran hujan memang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Untuk penikmat hujan, guyuran air ini sangat memberikan efek halusinasi akut. Ada yang berusaha menyembunyikan kesedihannya dan menangis di tengah-tengahnya. Cliche, but some people does. Ada yang hujan-hujanan untuk mendapatkan kebahagiaan sederhana, layaknya anak kecil, meskipun tubuh berbalut setelan kemeja kantor yang bersimbah keringat dan asam. Pun ada beberapa orang yang memang dengan sengaja mengundang hujan untuk terlibat dalam skenario photografi mereka sebagai penunjang dalam membuat portfolio pameran yang sangat berbeda. Bahkan ada sedikit orang yang hanya duduk termenung menyesali kepergian waktu dan di sela-sela keluh kesah bathin itu diperdengarkan serangkaian simponi hujan. Beberapa sisanya ada yang bersuka cita menyambut kedatangan hujan di balik selimut, dengan senyum sinis masing-masing dan berterima kasih bahwa doa kaum ini terkabul dan membatalkan semua rencana indah yang akan dijalankan oleh segelintir orang. 

Ada sekelompok orang yang membenci kedatangan hujan yang tanpa diundang merusak beberapa keinginan atau perencanaan hidup yang sudah dimatangkan jauh-jauh hari. Yang sudah menjadwalkan kunjungan khas malam minggu harus pupus dan rela menebus cita-cita ini di kesempatan berikutnya. Yang mempunyai rencana kemping lucu di halaman rumah, merelakan tendanya koyak karena terjangan air hujan. Batalnya perjanjian seseorang yang sudah menunggu harap cemas di suatu resto lengkap dengan paduan busana yang sangat menawan, namun yang ditunggu tidak kunjung datang karena sempat kehujanan dalam perjalanan.

Semuanya mempunyai cerita tentang hujan. Termasuk gue.

Hujan ujian ini benar-benar tidak masuk akal awalnya. Gue bersandar pada waktu yang terus bergulir. Hujaman demi hujaman ujian ini tidak dapat disangka-sangka ternyata dapat menyebabkan beragam akibat yang tidak dapat dipecahkan maksudnya apa. Do i look hyperbola? Of course yes. Bagaimana tidak. Maksud dari pesan yang telah dienkripsi dengan sederhana ini – Thank to division who made this simple algorytm by You, My Lord – masih belum dapat gue cerna dengan cara yang paling sederhana : disimak, didengar, dibaca dengan penuh segala kerendahan hati, namun tidak berujung pada jawaban yang dicari.

Gue sedang mencari padanan kalimat yang tepat terhadap apa yang sedang gue alami ini. Semua bak penampung hujan ujian ini sudah ingin segera dijamah oleh pikiran untuk dicari solusinya. Kadang,bak penampung ini sangat mengganggu pikiran. You know that when your basket fill full with dirty clothes dan bawaannya gemas untuk segera dicuci, namun elo memilih untuk goleran. 

I Need some extra miles hoilday to turn off this kinda notification of problem. Yes, here we go, enjoy your vocation at My Mind Hero.

#NP Dewa – Pupus

Mungkin, Tuhan sedang ingin mengajakku untuk ikut kelas akselerasi.

Sempat terpikir seperti itu ketika pikiran ini diupayakan untuk memainkan permainan dan ritme yang sama tentang patah hati. Menikmati setiap remah dan puing yang berserakan ke hamparan tandusnya harapan yang kian mengering. Aku pernah dan masih ingat bagaimana ladang harapan ini begitu terpelihara dengan baik, mendapat sentuhan perawatan premium dari hati yang paling amat ringkih. Cintaku.

Berfoya-foya di kesunyian malam adalah dambaan orang seperti aku yang tengah berusaha melepas belenggu sedih. Ingin sekali mengekang siksa patah hati ini menjadi sesuatu yang orang lain lakukan seperti seorang pemenang dalam pertarungan dari kumpulan orang-orang pecundang. Namun, tetap saja, sebagai pemenang dari kumpulan para pecundang adalah pecundang yang unggul. Menyedihkan sekali label ini.

Waktu mengajarkanku untuk tetap dingin ketika menghadapi hantaman cobaan yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak dapat menjabarkan secara pasti, satuan manakah yang dapat mengukur dan jumlah besaran yang akan dipakai dalam menakar hantaman cobaan hidup. Namun begitu, kali ini aku menyadari hantaman terbesar yang sedang aku hadapi adalah kehilangan jejak kamu.

Mungkin bagi sebagaian orang, memilki sebuah kehilangan adalah pertanda bahwa yang tidak dapat dinegosiasi kembali dengan waktu. Waktu memperkenalkan. Waktu menguji. Waktu pula memisahkan. Otoritas waktu bersifat kaku. Tidak dapat diajak kerja sama. Namun uniknya, waktu dapat dibeli dengan berbagai pertimbangan.

Mengagumi kini masih seperti awal mengenalmu. Tidak berkurang, tidak berlebih. Sekiranya terombang ambing oleh ego kita masing-masing, takaran kekagumanku selalu ada porsinya. Tidak kurang dan tidak berlebih. Namun yang patut aku mau tahu, apakah hal itu juga berlaku di kamu? Apakah sudut pandang terhadap kadar takaran kekaguman atau kesukaan atau keseganmu kepadaku seperti yang aku terka?

Menduga-duga untuk sesuatu yang tidak pasti adalah sebuah kewajaran yang akan terendap oleh pusara waktu suatu saaat nanti. Dan menduga-duga bahwa suatu saat kamu inginkan keberadaan aku di sampingmu sebagai pendengar tentang bagaimana kamu melalui hari itu dengan lugaskah atau tertekankah atau varian rasa yang diciptakan Tuhan untuk manusia dan setelah menit di mana kamu mengakhiri keluh kesahmu, aku di sana segera memelukmu dengan hangat sembari membisikkan kalimat pereda. Atau mungkin, aku menawarkan secangkir teh hangat madu yang telah aku seduhkan khusus untuk kamu? Ataukah kamu hanya akan terpaku saja ketika lontaran pertanyaan bagaimana harimu dari mulutku? Menduga-duga bahwa sepihak inikah rasa yang aku punya ketika rasa cecap yang aku tawarkan kepadamu akhirnya tidak bertuan? Tidak bertuan karena semua hal yang aku duga adalah kesemuan semata.

Menduga-duga seperti menduakan kepercayaan yang telah aku semai di hamparan ladang tandus yang telah aku airi dengan segala bentuk kepercayaan yang aku punya. Lahan ladang ini akan menjadi subur akan bibit cita-cita tentang kita berdua. Aku telah merencanakan bahwa suatu saat nanti akan tiba masanya, aku menyambut tanganmu untuk bersama memanen apa yang telah kita tanam dan rawat bersama.

Tetapi hidup ini tidak semudah yang diangankan, bukan? Tuhan memiliki cara dalam menentukan skenario masing-masing insan-NYA. Atau kemungkinan yang paling buruk, semua angan tidak akan pernah terwujud. Dalam satu kesepakatan, hal itu bisa terjadi jika pejuang angan itu mengalami keterpurukan. Terpuruk segala upayanya karena bertepuk sebelah tangan

Aku sudah cukup bahagia, pasangan sebagai penyempurna

Kebangun dengan pikiran yang masih ke mana-mana itu adalah sangat mengganggu. Apalagi saat ini, kepala gue kayak mau pecah. Ada martil yang terbuat dari empedu?

Udah lama pengen nulis ini sebenernya, tapi baru kesampaian sekarang. Gue pernah baca di mana gitu ya. (Anggap aja gue lupa)

Gue mapan dan mandiri. Kesempurnaan dari bahagia yang gue punya sudah terpenuhi. Ada atau tidaknya pasangan, tidak akan mengurangi kebahagiaan yang udah terbentuk.

Wah salute bener yang bisa ngomong begini. Well, mari analisa bareng-bareng.

Kalau gue menganalisa terhadap orang yang mengutarakan pernyataan ini – hanya sudut pandang ya, jangan dianggap too much nanti – adalah seseorang yang telah melalui rangkaian cobaan hidup yang sangat kompleks. Mungkin ada puluhan lusin kekecewaan, kesengsaraan, kepedihan dan tangisan yang sudah tersimpan rapi di rak file yang tidak mungkin diungkap ke orang lain. Jangankan memikirkan pasangan, orang ini lebih berpikir bagaimana caranya bisa hidup dan berjuang di tengah kolam cobaan. Agar bisa terus bernafas di dalamnya. Himpitan cobaan datang silih berganti. Sekali lagi, memikirkan pasangan hidup yang dapat terlibat dalam proses hidup menjadi lebih baik tidak pernah terpikirkan. Kalau kata kasarnya, elo sibuk kerja terus, pacaran aja nggak sempet.

Mungkin sebagai orang yang belom pernah bisa mempunyai pasangan hidup – masih penjajakan sih (enggak perlu curcol gitu kenapa, nyet?) – mungkin gue akan berujar dengan kalimat pernyataan yang sama. Lemme straight this point of view.

Fokus kepada hal-hal yang dikejar membuat perubahan pola pikir berubah secara signifikan. Kejar target karir yang sangat tinggi, promosi jabatan yang diinginkan, cita-cita jangka pendek, menengah dan jangka panjang yang masih berhubungan dengan materi harus dapat dicapai – meskipun mempunyai pasangan ada di dalam cita-cita – tetapi bukan menjadi prioritas. Hidupnya semata-mata untuk karir. (Analisa pertama done)

Mungkin, cara merayakan kekecewaan terhadap penggalan pahit masa lalu menjadi pondasi keyakinan orang ini di kehidupan sekarang, menjadi bahan bakar semangat untuk mencapai apa yang dimau, terkecuali pasangan. Mungkin, masih terjebak dengan luka yang belom sembuh. Penyembuh luka yang tertoreh itu belom ditemukan. Traumatisnya mengakar banget ya kalo gini. (Analisa kedua done)

Kedatangan pasangan di hidup seseorang kadang menjadi ketakutan sendiri. Ada loh yang takut jika pasangannya merusak perlahan dunia yang telah menemaninya selama mencapai dan menemani hidup sendiri. Jangankan nanti satu atap, sekedar menemani makan siang saja pun kayaknya bakalan tidak bisa dinikmati dengan santai. (Analisa ketiga done)

Well, dari semua analisa itu, gue masuk yang mana ya? Point ketiga mode on : pernah. Point kedua mode on : pernah banget.

Udah mau ngomong gitu aja lewat tulisan ini. Analisa demi analisa emang nggak sinkron, hanya saja yang patut dipertanyakan : Seberapa lama kenyamanan sendiri ini akan tetap dapat dinikmati tanpa melibatkan pasangan hidup? Bukankah nanti, manusia akan menua dan butuh teman hidup?

Mean while i have to nenggak antalgin for this headache. Gilaaaa sakit banget.