#BeranjakPergi #EngganMelupakan

Mungkin ini tahap transisi yang paling menyebalkan setiap kali gue untuk berkonspirasi dan bernegosiasi dengan pikiran dan hati. Told ‘ja. Emang susah untuk melupakan kenangan sama gebetan. Its was risky to forget all of memories. Let me share short story. Of course still about past person.

Gue harus mulai dari mana ya?

Jadi, perkara melupakan seseorang yang telah mencuri sebagian besar perhatian dan sebagian kewarasan yang gue punya. Seriously. Until i get this stress because i cant control that feeling. I said like as passengger of roller coaster. Enggak akan pernah tahu bagaimana menggambarkan rasa yang muncul saat tanjakan itu dijajal, setiap kelokan curam dijajal dengan kecepatan yang tidak selow bahkan saat turunan. Aku merasa di fase seperti itu. Fase menaiki roller coaster.

Lucu nggak sih, saat semua fakta yang terkuak terpapar di timeline social media manapun elo terhubung dengan (mantan) gebetan – facebook, twitter, instagram dan masih banyak lagi – harus ditelan pahit fakta itu sembari berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Sedangkan hati di dalam sana tidak bisa dibohongi, ingin menjerit sekencangnya.

Jalanan Kerobokan nampaknya menjadi jalan yang enggan gue lalui beberapa minggu yang lalu. Seperti umat penganut cinta mati yang lain, gue jadi trauma lewatin jalanan itu, just because there is too much memories about that person. Masih ingat bagaimana gue berusaha mengendap-endap untuk menyiapkan makan siangnya dan mengantarkan makanan itu langsung ke rumahnya dan tentu ada pesan singat “selamat menikmati makan siang” di atas bilah post it berwarna kuning. Masih ingat malam di mana gue dengan setianya berkendara cukup jauh ke rumahnya hanya untuk memberikan pelukan terbaik demi mententramkan hatinya yang tengah gundah – enggak habis pikir, kenapa gue bisa begitu kuat menahan angin malam? – hanya untuk memeluk tubuhnya dan merasakan detak jantungnyayang tidak beraturan? Dan gue masih ingat bagaimana decit pintu kamar menganga dan sebuah senyum yang meluluhkan dunia gue saat awal bertemu dan hingga gue dibuat gila karenanya. Perkara senyum yang membentang di wajahnya, enggak bisa gue sangkal lagi, bahwa gurat senyum terbaik yang pernah gue temukan.

Apakah gue terlalu tergesa-gesa untuk menawarkan diri saat itu sebagai stranger yang bersikeras memaksa dia sebagai dermaga terakhir?

Ps : based on friend experience.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s