#mengenangmu – sebuah perjalanan melupakan

Mungkin aku sedang dikutuk lagi oleh waktu. Mungkin.

Mungkin juga aku sedang dikoyak perasaan sendiri. Mungkin.

Mungkin juga aku sedang menikmati karma buruk yang sedang aku terka-terka selama ini. Bisa jadi.

Mungkin juga akunya aja yang bego? Sangat mungkin.

Jatuh cinta kepada orang yang datang dengan misi iseng-iseng sebaiknya diabaikan saja. Aku lupa mengabaikan syarat ini. Dan namanya juga iseng-iseng, hasilnya pun iseng-iseng. Aku menikmayi buah iseng-iseng yang terlalu diseriusin. Mau tahu hasilnya? Patah hati yang dibarengi dengan sakit hati.

Awal tahun 2018 aku mengira akan menjadi tahun yang akan membawa banyak peluang perubahan lebih baik – selalu berharap begitu saat pergantian tahun – menata diri lebih bijak dan dewasa, dan kesempatan lain berupa : lebih hidup dengan cinta tanpa batas. Namun sayangnya, racun cinta itu sendiri aku dapatkan beberapa minggu belakangan ini.

Kamu tahu nggak rasanya membenci orang yang kamu suka dan mencintainya dalam waktu yang bersamaan? Walaupun ia datang dengan misi iseng-isengnya? Walaupun ia hanya butuh pelarian dari dunianya yang monoton? Dan iseng-isengnya, kamu terjebak dalam kubangan iseng-iseng itu sendiri.

Wait…istilah apa sih ini? LOL

Biarkan aku menuliskan semua hal yang kusut terjadi di kepalaku beberapa minggu belakangan ini. Boleh?

You know what? Ive done stupid things. Rela bepergian malam hanya untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada dia yang datang secara iseng-iseng itu berupa pelukan yang ia mau. Tanpa berpikir panjang dan membuat pembenaran bahwa orang ini memang butuh untuk ditemani. Kenapa waktu itu aku tidak menyelesaikan konflik dalam kepalaku dengan ujaran “Halah, toh lahir dia sendirian. Manja amat. Namun, sayangnya, suara makian seperti ini kalah dengan suara yang lebih bijak lagi “mungkin dia memang butuh untuk ditemani”.

Kebodohan berikutnya : rela menunggu beberapa jam hanya untuk memberikan kejutan. Respon sebelum kejutan itu berjalan ” i hate you. Kita udah bicarakan ini baik-baik kan?”. My fault. “I need my time” katanya…okay.

Bisa dibayangkan gimana perasaan aku di atas motor saat berkendara menuju pulang ke rumah? Empty.

Ketika aku berusaha untuk mengikuti permainan dia, mulai menjauh pelan-pelan, maka seharusnya hal-hal seperti ini tidak pernah muncul, misalnya ” are you okay?” Atau “ke mana aja?”. Apa yang harus aku lakukan sebenarnya?

Segala postingan yang bersangkut paut tentang dia, terpaksa dihapus dengan alasan “proses melupakan butuh tindakan yang total”.

Namun begitu, aku lupa bahwa dalam proses benar-benar lupa, album kenangan di kepala dan hati masih dengan setianya bertengger di atas prioritas hidup. Salah ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s