#NP BCL – Kecewa

Aku pernah membaca di mana kalimat ini

Jika kamu kangen dengan orang tersebut, segera datangi selagi jarak dapat kamu capai.

 Untuk kali ini aku berusaha mengikuti kalimat ini. Aku rindu kamu.

Jadi, tergeraklah keinginanku untuk mempersiapkan diri tepat sembilan puluh menit yang lalu, mematut diri di depan cermin. Apakah kemeja dengan motif garis yang menjadi pilihanku atau kaos putih polos saja yang akan aku kenakan dan memadukannya dengan jaket denim yang aku beli di pasar loak tetapi masih terlihat keren untuk aku kenakan. Memilih celana berbahan apa yang cocok dengan atasan yang aku pilih. Memilih sepatu dari deretan koleksi yang aku punya. Look what do yo do, Gin,  kangen sama kamu saja, aku begitu norak mempersiapkan diri hanya untuk bertemu dengan kamu.

Berkendara malam hari atau lebih tepatnya tengah malam menurut banyak orang akan menyebabkan masuk angin. Namun rinduku menggebu, seolah rindu ini akan menjadi penghangat tubuhku selama perjalanan menuju tempatmu. Mungkin keputusan Tuhan saat ini memisahkan kita di dua tempat berbeda menjadi alasan aku mempunyai rindu yang tidak dapat diukur dalam satuan berat. Namun, aku diajarkan dari kondisi ini adalah dapat menabung sabar dengan pelan-pelan. Suatu saat aku yakin, Tuhan mengijinkan atap yang sama menjadi peneduh kita berdua. Hanya saja, Tuhan belum begitu yakin dengan keingananku, keinginanmu. Dua keinginan yang entah bagaimana mengukurnya namun aku yakin, kamu menginginkan hal yang paling sederhana. Selalu bersama.

Jadilah aku menyunggingkan senyum, membayangkan senyum kamu yang selalu menghiasi pikiranku setiap malam-malam menjelang istrahat. Yang mengingatkan aku bahwa dunia ini sangat indah dan tidak begitu rumit ketika aku merasa lingkungan sekitar tidak lagi bersahabat. Yang mengusik duniaku setiap kali aku berusaha untuk mengabaikan semua tawaran-tawaran yang memungkinkan aku untuk lebih terpuruk. Dari senyumanmu, aku dapat lebih mengerti dan lebih paham bahwa kamu sinar penerang yang aku sangat tunggu sekaligus embun pembasuh kekecewaanku pada cinta.

Aku memutuskan untuk meredakan semua kecamuk rindu yang ada di benak. Memutar arah menuju kedai kopi. Terima kasih kepada pengusaha yang telah menyediakan tempat dua puluh empat jam untuk menampung orang-orang sepertiku yang tengah dimabuk rindu. Rindunya bukan selusin, sekodi atau berapa ratus eksemplar. Rindu yang aku punya tidak bertepi. Menanggalkan semua gejolak rindu ini dengan secangkir espresso ukuran sedang. Aku tahu, nikmat kafein ini akan menambah adrenalinku karena membuat terjaga sepanjang waktu lalu dalam durasi itu, rindu ini akan makin bergejolak. Dan sembari mensesap minuman pesanan, aku tergugah untuk mereduksi gejolak rasa ini yang kian menjadi dengan menuliskan sesuatu apapun pada selembar kertas. Menuliskan semua kekisruhan rasa yang timbul selama dalam perjalanan. Terbersit juga bahwa aku layak memperjuangkan apa yang aku yakin dan apa yang menjadi keyakinanku setelah Tuhan dan keluargaku, adalah kamu. Rumah yang akan aku tuju dan sebagai alasan terbaik dan terkuat untuk aku pulang.

Aku sadar, aku adalah orang yang kesekian kalinya yang hadir dalam hidupmu. Namun, aku merasakan hal langka selama aku hidup. Indahnya jatuh cinta adalah hal langka. Ketika melihat senyum dan pendar cahaya di matamu, aku tergugah untuk mencari tahu makna itu semua.

Namun pada akhirnya, rindu ini sedikit memudar ketika aku mendapati bahwa kenyataan pahit itu masih saja mengikutiku. Gerbang tempat tinggalmu memang terbuka, namun kamu belum ada di sana. Aku bernegosiasi kepada rindu layakkah aku tinggal sementara untuk menunggu dia pulang?, sebelum rindu menjawab pertanyaanku, akhirnya aku harus mengiyakan logika. Diperkuat dengan kabar bahwa kamu memang belum pulang dari aktivitas kerja.

Aku mengendarai kendaraan dengan hati yang sedikit hampa. Masih ada rindu yang masih mengepul di sana. Semakin aku menyadari pesan yang aku terima dari kamu yang membutuhkan waktu untuk diri kamu sendiri bahwa aku adalah orang asing yang mencoba mengusik duniamu. Aku pilu dalam perjalanan pulang dan menyesalkan diri kenapa rindu ini semakin menjadi saat mencoba berbaring memejamkan mata namun tidak bisa.

Jauh di dalam sana, hatiku meringis pelan dan pasti. Tersedu-sedu meluapkan kekecewaan kepada diri sendiri. B etapa bodohnya diriku membiarkan rindu yang tidak bertuan ini memperbudak dengan keji.

Maafkan aku, Gin. Aku tahu, apa yang aku lakukan ini sangat keliru. Sangat keliru.

Iklan