#NP Dewa – Pupus

Mungkin, Tuhan sedang ingin mengajakku untuk ikut kelas akselerasi.

Sempat terpikir seperti itu ketika pikiran ini diupayakan untuk memainkan permainan dan ritme yang sama tentang patah hati. Menikmati setiap remah dan puing yang berserakan ke hamparan tandusnya harapan yang kian mengering. Aku pernah dan masih ingat bagaimana ladang harapan ini begitu terpelihara dengan baik, mendapat sentuhan perawatan premium dari hati yang paling amat ringkih. Cintaku.

Berfoya-foya di kesunyian malam adalah dambaan orang seperti aku yang tengah berusaha melepas belenggu sedih. Ingin sekali mengekang siksa patah hati ini menjadi sesuatu yang orang lain lakukan seperti seorang pemenang dalam pertarungan dari kumpulan orang-orang pecundang. Namun, tetap saja, sebagai pemenang dari kumpulan para pecundang adalah pecundang yang unggul. Menyedihkan sekali label ini.

Waktu mengajarkanku untuk tetap dingin ketika menghadapi hantaman cobaan yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak dapat menjabarkan secara pasti, satuan manakah yang dapat mengukur dan jumlah besaran yang akan dipakai dalam menakar hantaman cobaan hidup. Namun begitu, kali ini aku menyadari hantaman terbesar yang sedang aku hadapi adalah kehilangan jejak kamu.

Mungkin bagi sebagaian orang, memilki sebuah kehilangan adalah pertanda bahwa yang tidak dapat dinegosiasi kembali dengan waktu. Waktu memperkenalkan. Waktu menguji. Waktu pula memisahkan. Otoritas waktu bersifat kaku. Tidak dapat diajak kerja sama. Namun uniknya, waktu dapat dibeli dengan berbagai pertimbangan.

Mengagumi kini masih seperti awal mengenalmu. Tidak berkurang, tidak berlebih. Sekiranya terombang ambing oleh ego kita masing-masing, takaran kekagumanku selalu ada porsinya. Tidak kurang dan tidak berlebih. Namun yang patut aku mau tahu, apakah hal itu juga berlaku di kamu? Apakah sudut pandang terhadap kadar takaran kekaguman atau kesukaan atau keseganmu kepadaku seperti yang aku terka?

Menduga-duga untuk sesuatu yang tidak pasti adalah sebuah kewajaran yang akan terendap oleh pusara waktu suatu saaat nanti. Dan menduga-duga bahwa suatu saat kamu inginkan keberadaan aku di sampingmu sebagai pendengar tentang bagaimana kamu melalui hari itu dengan lugaskah atau tertekankah atau varian rasa yang diciptakan Tuhan untuk manusia dan setelah menit di mana kamu mengakhiri keluh kesahmu, aku di sana segera memelukmu dengan hangat sembari membisikkan kalimat pereda. Atau mungkin, aku menawarkan secangkir teh hangat madu yang telah aku seduhkan khusus untuk kamu? Ataukah kamu hanya akan terpaku saja ketika lontaran pertanyaan bagaimana harimu dari mulutku? Menduga-duga bahwa sepihak inikah rasa yang aku punya ketika rasa cecap yang aku tawarkan kepadamu akhirnya tidak bertuan? Tidak bertuan karena semua hal yang aku duga adalah kesemuan semata.

Menduga-duga seperti menduakan kepercayaan yang telah aku semai di hamparan ladang tandus yang telah aku airi dengan segala bentuk kepercayaan yang aku punya. Lahan ladang ini akan menjadi subur akan bibit cita-cita tentang kita berdua. Aku telah merencanakan bahwa suatu saat nanti akan tiba masanya, aku menyambut tanganmu untuk bersama memanen apa yang telah kita tanam dan rawat bersama.

Tetapi hidup ini tidak semudah yang diangankan, bukan? Tuhan memiliki cara dalam menentukan skenario masing-masing insan-NYA. Atau kemungkinan yang paling buruk, semua angan tidak akan pernah terwujud. Dalam satu kesepakatan, hal itu bisa terjadi jika pejuang angan itu mengalami keterpurukan. Terpuruk segala upayanya karena bertepuk sebelah tangan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s