Tentang Hujan

Mungkin ini namanya yang berproses dalam hidup. Semua harus ditenggak kayak minum air putih yang ada kerak, kemungkinan ada bakteri yang masuk, ada sedikit apek sesekali dan beragam kemungkinan yang akan dirasakan setelah cairan ini melewati tenggorokan. (Edisi enggak bisa tidur setelah menyetir selama dua jam lebih perjalanan dengan roda dua yang sangat biasa saja sebenarnya, tetapi menjadi luar biasa karena diguyur hujan dan sempat terjadi insiden yang nyaris membuat dan menyumbangkan satu kejadian kecelakaan di rekam jejak laka lalu lintas Kepolisian Bajera Tabanan Sana)

Well, sampai di mana tadi? I got some crackers here. *enggak perlu posting bendanya ya, yang jelas gue enggak tahu kenapa gue ngambil biskuit merakyat ini dan sudah habis empat potong*.
Hmm, guyuran hujan memang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Untuk penikmat hujan, guyuran air ini sangat memberikan efek halusinasi akut. Ada yang berusaha menyembunyikan kesedihannya dan menangis di tengah-tengahnya. Cliche, but some people does. Ada yang hujan-hujanan untuk mendapatkan kebahagiaan sederhana, layaknya anak kecil, meskipun tubuh berbalut setelan kemeja kantor yang bersimbah keringat dan asam. Pun ada beberapa orang yang memang dengan sengaja mengundang hujan untuk terlibat dalam skenario photografi mereka sebagai penunjang dalam membuat portfolio pameran yang sangat berbeda. Bahkan ada sedikit orang yang hanya duduk termenung menyesali kepergian waktu dan di sela-sela keluh kesah bathin itu diperdengarkan serangkaian simponi hujan. Beberapa sisanya ada yang bersuka cita menyambut kedatangan hujan di balik selimut, dengan senyum sinis masing-masing dan berterima kasih bahwa doa kaum ini terkabul dan membatalkan semua rencana indah yang akan dijalankan oleh segelintir orang. 

Ada sekelompok orang yang membenci kedatangan hujan yang tanpa diundang merusak beberapa keinginan atau perencanaan hidup yang sudah dimatangkan jauh-jauh hari. Yang sudah menjadwalkan kunjungan khas malam minggu harus pupus dan rela menebus cita-cita ini di kesempatan berikutnya. Yang mempunyai rencana kemping lucu di halaman rumah, merelakan tendanya koyak karena terjangan air hujan. Batalnya perjanjian seseorang yang sudah menunggu harap cemas di suatu resto lengkap dengan paduan busana yang sangat menawan, namun yang ditunggu tidak kunjung datang karena sempat kehujanan dalam perjalanan.

Semuanya mempunyai cerita tentang hujan. Termasuk gue.

Hujan ujian ini benar-benar tidak masuk akal awalnya. Gue bersandar pada waktu yang terus bergulir. Hujaman demi hujaman ujian ini tidak dapat disangka-sangka ternyata dapat menyebabkan beragam akibat yang tidak dapat dipecahkan maksudnya apa. Do i look hyperbola? Of course yes. Bagaimana tidak. Maksud dari pesan yang telah dienkripsi dengan sederhana ini – Thank to division who made this simple algorytm by You, My Lord – masih belum dapat gue cerna dengan cara yang paling sederhana : disimak, didengar, dibaca dengan penuh segala kerendahan hati, namun tidak berujung pada jawaban yang dicari.

Gue sedang mencari padanan kalimat yang tepat terhadap apa yang sedang gue alami ini. Semua bak penampung hujan ujian ini sudah ingin segera dijamah oleh pikiran untuk dicari solusinya. Kadang,bak penampung ini sangat mengganggu pikiran. You know that when your basket fill full with dirty clothes dan bawaannya gemas untuk segera dicuci, namun elo memilih untuk goleran. 

I Need some extra miles hoilday to turn off this kinda notification of problem. Yes, here we go, enjoy your vocation at My Mind Hero.

Iklan

#NP Dewa – Pupus

Mungkin, Tuhan sedang ingin mengajakku untuk ikut kelas akselerasi.

Sempat terpikir seperti itu ketika pikiran ini diupayakan untuk memainkan permainan dan ritme yang sama tentang patah hati. Menikmati setiap remah dan puing yang berserakan ke hamparan tandusnya harapan yang kian mengering. Aku pernah dan masih ingat bagaimana ladang harapan ini begitu terpelihara dengan baik, mendapat sentuhan perawatan premium dari hati yang paling amat ringkih. Cintaku.

Berfoya-foya di kesunyian malam adalah dambaan orang seperti aku yang tengah berusaha melepas belenggu sedih. Ingin sekali mengekang siksa patah hati ini menjadi sesuatu yang orang lain lakukan seperti seorang pemenang dalam pertarungan dari kumpulan orang-orang pecundang. Namun, tetap saja, sebagai pemenang dari kumpulan para pecundang adalah pecundang yang unggul. Menyedihkan sekali label ini.

Waktu mengajarkanku untuk tetap dingin ketika menghadapi hantaman cobaan yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak dapat menjabarkan secara pasti, satuan manakah yang dapat mengukur dan jumlah besaran yang akan dipakai dalam menakar hantaman cobaan hidup. Namun begitu, kali ini aku menyadari hantaman terbesar yang sedang aku hadapi adalah kehilangan jejak kamu.

Mungkin bagi sebagaian orang, memilki sebuah kehilangan adalah pertanda bahwa yang tidak dapat dinegosiasi kembali dengan waktu. Waktu memperkenalkan. Waktu menguji. Waktu pula memisahkan. Otoritas waktu bersifat kaku. Tidak dapat diajak kerja sama. Namun uniknya, waktu dapat dibeli dengan berbagai pertimbangan.

Mengagumi kini masih seperti awal mengenalmu. Tidak berkurang, tidak berlebih. Sekiranya terombang ambing oleh ego kita masing-masing, takaran kekagumanku selalu ada porsinya. Tidak kurang dan tidak berlebih. Namun yang patut aku mau tahu, apakah hal itu juga berlaku di kamu? Apakah sudut pandang terhadap kadar takaran kekaguman atau kesukaan atau keseganmu kepadaku seperti yang aku terka?

Menduga-duga untuk sesuatu yang tidak pasti adalah sebuah kewajaran yang akan terendap oleh pusara waktu suatu saaat nanti. Dan menduga-duga bahwa suatu saat kamu inginkan keberadaan aku di sampingmu sebagai pendengar tentang bagaimana kamu melalui hari itu dengan lugaskah atau tertekankah atau varian rasa yang diciptakan Tuhan untuk manusia dan setelah menit di mana kamu mengakhiri keluh kesahmu, aku di sana segera memelukmu dengan hangat sembari membisikkan kalimat pereda. Atau mungkin, aku menawarkan secangkir teh hangat madu yang telah aku seduhkan khusus untuk kamu? Ataukah kamu hanya akan terpaku saja ketika lontaran pertanyaan bagaimana harimu dari mulutku? Menduga-duga bahwa sepihak inikah rasa yang aku punya ketika rasa cecap yang aku tawarkan kepadamu akhirnya tidak bertuan? Tidak bertuan karena semua hal yang aku duga adalah kesemuan semata.

Menduga-duga seperti menduakan kepercayaan yang telah aku semai di hamparan ladang tandus yang telah aku airi dengan segala bentuk kepercayaan yang aku punya. Lahan ladang ini akan menjadi subur akan bibit cita-cita tentang kita berdua. Aku telah merencanakan bahwa suatu saat nanti akan tiba masanya, aku menyambut tanganmu untuk bersama memanen apa yang telah kita tanam dan rawat bersama.

Tetapi hidup ini tidak semudah yang diangankan, bukan? Tuhan memiliki cara dalam menentukan skenario masing-masing insan-NYA. Atau kemungkinan yang paling buruk, semua angan tidak akan pernah terwujud. Dalam satu kesepakatan, hal itu bisa terjadi jika pejuang angan itu mengalami keterpurukan. Terpuruk segala upayanya karena bertepuk sebelah tangan