#Merayakan #Ketulusan

Tulisan hari ini meyakinkan bahwa aku mampu berdiri lagi dari keterpurukan langka : berhenti menuliskan semua isi kepalaku. Termasuk malam ini.

Mungkin, sabtu malam ini adalah sabtu terbaik yang aku catat di prasasti kenangan yang bersemayam khusus di salah satu sudut bagian tubuh terpenting manusia. Hati dan perasaaan sebagai seorang manusia yang memiliki simpati dan empati.

Jatuh Cinta tidak separah itu ternyata, kata Logika kepada hati. Sebuah retorika sebenarnya mempunya dua sisi yang sangat pantas untuk diulas. Namun aku enggan untuk membahas hal ini. Biarlah kali ini, aku memainkan sebuah lagu dengan lirik yang sama sekali tidak aku pahami maknanya dengan partitur yang masih baru dan sedang akan di-aransemen dengan musik yang belum aku ketahui komposisinya.

Sebuah pertanyaan yang memicu kepalaku terus menggagungkan hal ini sepanjang perjalananku menuju dimensi lain : Haruskah aku lanjutkan atau mungkin aku harus berhenti mengejar kamu? Yang hanya sekedar memberi ruang semu namun memaniskan. Atau kenyataan pahit, jalan yang aku tempuh tidak berujung pada tujuan yang aku tuju yakni dermaga. Dermaga yang tengah bersandar sebuah perahu yang dibangun oleh semangat optimis dan rasa cinta yang tinggi. Perahu yang siap berlayar dan meninggalkan dermaga untuk kemudian berkelana menyusuri setiap jengkal perairan. Semakin manis rasa yang ditinggalkan, menyekanya pun enggan, maka sebaiknya apa perlu aku pertaruhkan semua hal yang  telah dikorbankan meski hal itu tidak lumrah dan sangat tidak memungkinkan?

Entah kenapa, jika hal itu tidak aku lakukan, akan menjadi beban pikiran. Sekalipun jawaban tidak akan terlontar dari bibir kamu, aku akan sangat mengerti. Karena cara aku dalam merayakan rasa penasaran adalah melakukannya tanpa memikirkan apakah hal itu membuang waktuku atau tidak. Perkara berhasil tidaknya, aku tidak begitu ambil pusing. Sekali lagi, yang aku tahu bahwa aku telah melakukan hal yang benar terhadap apa yang sedang aku perjuangkan. Meski menurut kamu sendiri, aku sangat bodoh dan tergesa-gesa  memutuskan tindakan itu. Aku tidak peduli lagi. Aku yang mempunyai cara sendiri dalam mengutarakan dan menunjukkan seberapa besarnya keinginan aku untuk memiliki kamu. Hanya itu saja.

Aku tidak pernah mengusik masa lalu. Masa di mana aku sudah mencoba cara satu dan cara lain untuk meraih hatimu. Meski aku gagal suatu saat nanti. Namun bgitu, izinkan dan biarkan aku melihat untuk mendapatkan hatimu dengan caraku. Tidak perlu kamu merisaukan apakah luka yang timbul nanti betapa pedih dan sangat koyak, tidak perlu dipikirkan. Tidak perlu juga memikirkan bagaimana luka pedih itu sembuh dan pulih.

Kamu pasti akan berpikir sekilas, bagaimana aku dengan mudah menyerahkan hati ini kepada kamu. Sekali lagi, ini adalah bagian dari kenangan yang ingin aku punya. Dan aku melibatkan sosok kamu, sedikit saja. Mohon maaf sekiranya, aku tidak bisa memberi imbalan materi yang pantas.

 

Iklan

2 pemikiran pada “#Merayakan #Ketulusan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s