Aku sudah cukup bahagia, pasangan sebagai penyempurna

Kebangun dengan pikiran yang masih ke mana-mana itu adalah sangat mengganggu. Apalagi saat ini, kepala gue kayak mau pecah. Ada martil yang terbuat dari empedu?

Udah lama pengen nulis ini sebenernya, tapi baru kesampaian sekarang. Gue pernah baca di mana gitu ya. (Anggap aja gue lupa)

Gue mapan dan mandiri. Kesempurnaan dari bahagia yang gue punya sudah terpenuhi. Ada atau tidaknya pasangan, tidak akan mengurangi kebahagiaan yang udah terbentuk.

Wah salute bener yang bisa ngomong begini. Well, mari analisa bareng-bareng.

Kalau gue menganalisa terhadap orang yang mengutarakan pernyataan ini – hanya sudut pandang ya, jangan dianggap too much nanti – adalah seseorang yang telah melalui rangkaian cobaan hidup yang sangat kompleks. Mungkin ada puluhan lusin kekecewaan, kesengsaraan, kepedihan dan tangisan yang sudah tersimpan rapi di rak file yang tidak mungkin diungkap ke orang lain. Jangankan memikirkan pasangan, orang ini lebih berpikir bagaimana caranya bisa hidup dan berjuang di tengah kolam cobaan. Agar bisa terus bernafas di dalamnya. Himpitan cobaan datang silih berganti. Sekali lagi, memikirkan pasangan hidup yang dapat terlibat dalam proses hidup menjadi lebih baik tidak pernah terpikirkan. Kalau kata kasarnya, elo sibuk kerja terus, pacaran aja nggak sempet.

Mungkin sebagai orang yang belom pernah bisa mempunyai pasangan hidup – masih penjajakan sih (enggak perlu curcol gitu kenapa, nyet?) – mungkin gue akan berujar dengan kalimat pernyataan yang sama. Lemme straight this point of view.

Fokus kepada hal-hal yang dikejar membuat perubahan pola pikir berubah secara signifikan. Kejar target karir yang sangat tinggi, promosi jabatan yang diinginkan, cita-cita jangka pendek, menengah dan jangka panjang yang masih berhubungan dengan materi harus dapat dicapai – meskipun mempunyai pasangan ada di dalam cita-cita – tetapi bukan menjadi prioritas. Hidupnya semata-mata untuk karir. (Analisa pertama done)

Mungkin, cara merayakan kekecewaan terhadap penggalan pahit masa lalu menjadi pondasi keyakinan orang ini di kehidupan sekarang, menjadi bahan bakar semangat untuk mencapai apa yang dimau, terkecuali pasangan. Mungkin, masih terjebak dengan luka yang belom sembuh. Penyembuh luka yang tertoreh itu belom ditemukan. Traumatisnya mengakar banget ya kalo gini. (Analisa kedua done)

Kedatangan pasangan di hidup seseorang kadang menjadi ketakutan sendiri. Ada loh yang takut jika pasangannya merusak perlahan dunia yang telah menemaninya selama mencapai dan menemani hidup sendiri. Jangankan nanti satu atap, sekedar menemani makan siang saja pun kayaknya bakalan tidak bisa dinikmati dengan santai. (Analisa ketiga done)

Well, dari semua analisa itu, gue masuk yang mana ya? Point ketiga mode on : pernah. Point kedua mode on : pernah banget.

Udah mau ngomong gitu aja lewat tulisan ini. Analisa demi analisa emang nggak sinkron, hanya saja yang patut dipertanyakan : Seberapa lama kenyamanan sendiri ini akan tetap dapat dinikmati tanpa melibatkan pasangan hidup? Bukankah nanti, manusia akan menua dan butuh teman hidup?

Mean while i have to nenggak antalgin for this headache. Gilaaaa sakit banget.

 

 

Iklan

#Merayakan #Ketulusan

Tulisan hari ini meyakinkan bahwa aku mampu berdiri lagi dari keterpurukan langka : berhenti menuliskan semua isi kepalaku. Termasuk malam ini.

Mungkin, sabtu malam ini adalah sabtu terbaik yang aku catat di prasasti kenangan yang bersemayam khusus di salah satu sudut bagian tubuh terpenting manusia. Hati dan perasaaan sebagai seorang manusia yang memiliki simpati dan empati.

Jatuh Cinta tidak separah itu ternyata, kata Logika kepada hati. Sebuah retorika sebenarnya mempunya dua sisi yang sangat pantas untuk diulas. Namun aku enggan untuk membahas hal ini. Biarlah kali ini, aku memainkan sebuah lagu dengan lirik yang sama sekali tidak aku pahami maknanya dengan partitur yang masih baru dan sedang akan di-aransemen dengan musik yang belum aku ketahui komposisinya.

Sebuah pertanyaan yang memicu kepalaku terus menggagungkan hal ini sepanjang perjalananku menuju dimensi lain : Haruskah aku lanjutkan atau mungkin aku harus berhenti mengejar kamu? Yang hanya sekedar memberi ruang semu namun memaniskan. Atau kenyataan pahit, jalan yang aku tempuh tidak berujung pada tujuan yang aku tuju yakni dermaga. Dermaga yang tengah bersandar sebuah perahu yang dibangun oleh semangat optimis dan rasa cinta yang tinggi. Perahu yang siap berlayar dan meninggalkan dermaga untuk kemudian berkelana menyusuri setiap jengkal perairan. Semakin manis rasa yang ditinggalkan, menyekanya pun enggan, maka sebaiknya apa perlu aku pertaruhkan semua hal yang  telah dikorbankan meski hal itu tidak lumrah dan sangat tidak memungkinkan?

Entah kenapa, jika hal itu tidak aku lakukan, akan menjadi beban pikiran. Sekalipun jawaban tidak akan terlontar dari bibir kamu, aku akan sangat mengerti. Karena cara aku dalam merayakan rasa penasaran adalah melakukannya tanpa memikirkan apakah hal itu membuang waktuku atau tidak. Perkara berhasil tidaknya, aku tidak begitu ambil pusing. Sekali lagi, yang aku tahu bahwa aku telah melakukan hal yang benar terhadap apa yang sedang aku perjuangkan. Meski menurut kamu sendiri, aku sangat bodoh dan tergesa-gesa  memutuskan tindakan itu. Aku tidak peduli lagi. Aku yang mempunyai cara sendiri dalam mengutarakan dan menunjukkan seberapa besarnya keinginan aku untuk memiliki kamu. Hanya itu saja.

Aku tidak pernah mengusik masa lalu. Masa di mana aku sudah mencoba cara satu dan cara lain untuk meraih hatimu. Meski aku gagal suatu saat nanti. Namun bgitu, izinkan dan biarkan aku melihat untuk mendapatkan hatimu dengan caraku. Tidak perlu kamu merisaukan apakah luka yang timbul nanti betapa pedih dan sangat koyak, tidak perlu dipikirkan. Tidak perlu juga memikirkan bagaimana luka pedih itu sembuh dan pulih.

Kamu pasti akan berpikir sekilas, bagaimana aku dengan mudah menyerahkan hati ini kepada kamu. Sekali lagi, ini adalah bagian dari kenangan yang ingin aku punya. Dan aku melibatkan sosok kamu, sedikit saja. Mohon maaf sekiranya, aku tidak bisa memberi imbalan materi yang pantas.