PKS – PERJANJIAN KERJA SAMA VS PERJANJIAN KERJA SUARA – PART 2

Setelah lama break dari nulis karena banyaknya kesibukan, now i’m ready again.

Baru sampai di mana ini ya?

kemaren gue hutang cerita mengenai judul di atas ya? well, here we go.

Oke, gue hanya menyimak aja obrolan itu tanpa merespon apa-apa selain kalimat pendek “oh begitu”. Jujur saja, yang gue tangkap waktu itu paham dan gue banget kayaknya. Berbekal pengalaman kerja yang gue punya, tentu untuk hal yang dijabarkan oleh Mas Didit, gue mengerti banget. Hanya saja, ada part yang belum gue klik sama posisi pekerjaan yang dimaksud oleh Mas Didit ini.

Dan benar saja, part obrolan yang belom klik ini adalah gue handle kerjaan selain event bidang apalagi ya? Pertanyaan lain muncul : kenapa enggak ada surat perjanjian kerja atau apalah yang benar-benar legal? Setidaknya, jika suatu saat nanti ada wan prestasi dari pihak pemberi kerja – dalam hal ini Mas Didit – gue nggak bisa klaim apa-apa dong ya? Dan masih banyak pertanyaan demi pertanyaan yang menggelembung di benak gue.

Dan pada akhirnya, yang hanya bisa gue dengarkan saat itu “Elo kerja sama gue berdasarkan kepercayaan aja. Elo bagus kerjanya, gue apresiasi dengan setimpal” kata Mas Didit. Omongan dia ini enggak bisa banget gue jadikan pegangan. Yah, elo semua tahu kan, lidah manusia tidak bertulang, bisa saja omongan A diingkari menjadi omongan B. Tanpa perlu pikir panjang lagi, gue mengiyakan bergabung karena mengingat kerjaan di Bank tempat gue membina karir sangat mentok. Mentoknya karena apa? Nanti gue ceritakan lagi di kesempatan lain, ya.

Well, Awal September 2016, officially gue ikutan kerja di bawah naungan PT yang bergerak di bidang penjualan komputer dan solusi IT. Lokasi tempat usaha – dulu gue menyebut lokasi ini dengan sebutan Kantor, seperti orang kebanyakan menyebut demikian. Tetapi kali ini, gue enggan menyematkan istilah “kantor”. – di sebuah komplek rukan yang ada di Harco Mangga Dua. First Impression, like really? I get office like…ya sudah, mau diapain lagi. Hanya dua kata “ya sudah” ini saja yang berlaku sepanjang hari gue terapkan. Dikenalin sama staffnya yang udah mengabdi selama 8 tahun, ya sudah. Dikenalin sama orang accounting dan merangkap sebagai orang pajak, ya sudah. Ruangan kerja ada di lantai lima, which is harus naik tangga lumayan capek dan ditambah sudut elevasinya kebangetan, ya sudah. Kehilangan kenyamanan kerja yang dulu, ya sudah. And every single words ya sudah-thing tadi, gue akhiri dengan helaan nafas yang panjang. Perubahan memang membuat kita dipaksa untuk terbiasa dengan hal yang baru. Terbiasa tekan tombol lift ke lantai 20-an, maka sekarang harus terbiasa melatih kaki untuk menaiki anak demi anak tangga yang nggak begitu banyak, tetapi cukup melelahkan.

pexels-photo-374074

Oh tentu saja. Suprisingly, difasilitasi segala macam berupa email korporate, notebook baru, motor honda bebek dan akses penting yang membuat gue sedikit jumawa. Damn, gue dipercaya banget. Uhuy. (I tell you, ya, ini perasaan yang sebenarnya biasa saja dan kesannya gue paksakan senang dengan keberadaan fasilitas ini. Kenapa begitu? Buat gue, kerja di bank pride-nya jauh lebih besar dan ketemu sama orang-orang penting yang buat gue semakin termotivasi. I dont know why, first impression gue kurang engaged kali ini. Sure, ini bukan pertanda yang baik buat gue. But in the end, ya sudahlah ya.

Jalan beberapa hari, gue memulai status karyawan “percobaan” di perusahaan ini. Komitmen gue, tiga bulan di tempat ini enggak bisa berkembang, maka dengan segala rasa hormat yang tersisa, gue harus rela ganti pekerjaan lagi. Gue masih punya waktu yang sama untuk submit CV ke beberapa perusahaan melalui jobsid, jobstreet or whatever. Gue memberikan waktu untuk percaya dan bisa jalanin kerjaan ini apalagi di bidang yang sudah lama enggak gue geluti : IT.

Sempat timbul rasa percaya diri ketika akan dipinang oleh perusahaan ini, namun gue merasakan janggal ketika di minggu kedua dan minggu-minggu selanjutnya.Are you kidding me?

Ruangan yang cukup besar dan sistem sharing-room dengan atasan yang duduk di meja paling selatan, di meja tengah ada senior (baru sebulan kerja di tempat ini) dan ada meja gue yang difasilitasi monitor tambahan untuk bisa menyelesaikan pekerjaan lebih banyak dan tentu lebih banyak task yang bisa gue ambil. Demi memenuhi tantangan yang bernada sombong itu “Gue pengen elo bisa menyaingi kemampuan gue. Gue sebagai leader lo, gue akan mempush elo ke level yang paling maksimal. Kalo emang elo sampai mencret, mencret sekalian”…begitu titah Mas Didit yang mulia ini.

Seiring berjalannya waktu, ada masa yang membuat gue ingin keluar segera mungkin. Durasi perjalanan Mampang – Harco Mangga Dua – Mampang sangat menguras masa muda gue. Perjalanan yang tumben gue lakukan dengan motor sekalipun sangat menguras emosi, tenaga dan waktu gue. Coba ya, gue bandingkan – dan mungkin elo semua yang terbiasa naik kendaraan umum akan mengiyakan apa yang gue jabarkan kali ini – dulu terbiasa arah Mampang – Sudirman dengan durasi yang cukup selow, sekitar empat puluh menit dengan menggunakan moda transportasi umum Transjakarta. Biaya yang dikeluarkan pulang pergi setiap harinya sebesar Rp 5.500,00. Dan dengan transportasi ini, gue bisa melanjutkan tidur ketika ada jatah kursi kosong yang tersedia. Bahkan, buku-buku yang gue beli bisa dengan leluasa gue baca sambil berdiri. Bukan begitu, wahai pengguna jasa Transjakarta?

Kenyataannya berubah, bok.

Difasilitasin oleh perusahaan bukan berarti surga, justru jadi neraka level satu. Gue jadi merasakan apa yang dirasakan oleh pengendara motor senior. Menahan sabar karena antrian kendaraan yang ingin sesegera mungkin mendahului dan tiba di tujuan, asap knalpot yang itemnya kadang-kadang ngalahin kulit gue, belom lagi menahan denging telinga akibat bunyi klakson yang sahut menyahut dari depan sampai ke belakang antrian – udah kayak mau lahiran aja deh – dan ditambah lagi, pengujian sabar karena harus terjebak di situasi seperti itu.

Bukan begitu, wahai para pengguna motor senior?

Seminggu jadi biker lumayan, minggu kedua mulai bosen, minggu-minggu berikutnya…ehmmm ya sudah. Tetapi ditambah dengan drama “motor yang sudah diservis dan minta jajan karena ban bocor” itu sangatlah tidak seksi. Yeah right, sexy my ass.

Idealnya, motor sebagai kendaraan operasional adalah tanggungan perusahaan bukan? Setidaknya apa yang gue tahu saat itu. Si Revolinah ini kalo jadi manusia berjenis kelamin cewek, masuk kriteria boros. Setiap ada kesempatan pasti minta jajan servis. Dan ngenesnya adalah ketika gue tanyakan dan konfirmasi mengenai biaya yang timbul, si accounting dan si Mas Didit berujar sama ” Reimburse tidak bisa cair”.

Crap oh well crap…

 

(to be continue…)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan