PKS – Perjanjian Kerja Sama vs Perjanjian Kerja Suara – Part 1

“Pokoknya nanti, elo akan kerja dengan dinamika yang sangat tinggi. Elo pasti akan suka”.

Obrolan ini terjadi di sebuah resto di kawasan PIK sana, di hari minggu dan matahari sedang terik-teriknya menyinari dataran jakarta utara dan sekitarnya.

Anyway, familiar nggak dengan kalimat ini? well, ini yang gue alamin ketika dihire oleh sebuah perusahaan yang bergerak di industri teknologi informatika. (Bahasanya di-hire, hahahhaa, kebagusan ye? Yawes, biar lebih keren dan terlihat matching, gue gunakan istilah di-hire). Lanjut…!!!

Gue sebenarnya ogah posting tulisan ini, karena terlalu personal banget buat gue. Tetapi, gue mau ulas pengalaman ini agar menjadi cermin buat para junior gue yang tengah berjuang mencari pekerjaan di Jakarta atau di mana pun, agar pola pikirnya kepakek dan bener-bener rasional. Apalagi dalam mencari pekerjaan ini ada sangkut pautnya dengan persahabatan.

Pertemanan seseorang dengan pribadi yang lain sangat diuji banget, kadang-kadang. Ujiannya meliputi sebagian aspek bahkan seluruh kehidupan. Dan gue mengalami (lagi) phase ini. Jadi ceritanya, gue sedang hunting posisi di perusahaan-perusahaan di Sudirman yang memungkinkan mengangkat gue jadi staff mereka. Dengan jejak pengalaman yang gue punya – enggak perlu gue pamerin CV gue ya, hehehe – cukup acceptable-lah untuk diangkat jadi staff baru mereka. Namun begitu, sebagus apapun CV yang gue punya, selalu kalah bersaing dengan permainan channel orang dalam. To be honest, I’m sick of it. Tetapi, galah kesempatan selalu gue lontar dan tancapkan. Berkali-kali.

Nah, ketika dalam proses berupaya untuk mendapatkan posisi baru dan meninggalkan posisi lama di kantor yang lama, sebuah tawaran datang dari seorang teman akrab yang kebetulan juga dari Bali. Gue kira hubungan pertemanan kami hanya berlanjut dalam platform BBM, Whatsapp, Facebook or LINE. Nyatanya berlanjut sampai sekarang. Singkat kata, ketika ada kesempatan gue bercerita sama temen gue ini – oh ya, nama temen gue ini namanya Cika (bukan nama sebenarnya) – bahwa gue sedang akan pindah dari kerjaan lama. Dengan alasan, gue sudah jenuh dengan status karyawan outsourcing. Dan gue sempat utarakan juga bahwa kontrak kerja gue akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan, tepatnya akhir Agustus 2016.

Obrolan kami berlanjut hanya di LINE saja. Diskusi berbagai hal dan mengulang memori kenangan tentang masa-masa kami sekantor dulu. Dan hingga akhirnya, part obrolan kami seperti ini.

She : kamu di sana udah berapa lama?

Me : x tahun.

She : dapat berapa kamu di sana?

Me : xxx sekian

Yak, dan panjang lagi pembahasan kami. As a bitch friend – jangan diartikan dengan makna lain yeee – , maka obrolannya pun akan ngalor ngidul seperti itu. Hehehe. Membahas kedongkolan kerjaan masa lalu, masa-masa di mana kami ngamen bareng lintas kota, gimana galau-galaunya Cika dengan cowok sebelumnya bahkan bela-belain nelpon malam buta hanya untuk gue perdengarkan tangisan galaunya itu. Yes, hanya karena cowok. She really love that asshole boy friend. Selang beberapa hari, gue mendapati chat yang lain dan berkesan angin surga banget. Yeah right, ke surge aja gue belum, ini  sok-sokan memberi ungkapan angin surga. Hahaha.

Di hari minggu awal Agustus, gue diundang makan bareng. Dan akhirnya bisa ketemu juga dengan Cika ini, setelah beberapa kali hanya sekedar wacana dan (sempat) di-php-in juga untuk ketemuan. Temen baik aja masih suka PHP-in ya? Apalagi orang lain yang baru kenal. Noted to my self, kala itu. Ibu kota dengan segala lingkungan yang dinamis, dapat saja mempengaruhi seseorang berubah menjadi lebih baik atau menjadi semakin buruk. Dan gue sempat mengecap Cika ini, sedikit berubah. Hmmm, I think I’ve skip this part, sebelum ada pertumpahan darah. Hahhaa.

 

Back to story. Jadi, awalnya di Setiabudi One – my choice, lebih dekat dengan – dan karena repot dengan urusan parkir, Cika ngabarin gue untuk keluar dari gedung dan ke seberang jalan arah ragunan. Tempat makannya di Kemang aja, katanya. Ya sudah, sebagai yang diajak makan, gue nurut-nurut aja deh.

And here we go. Apa yang dibahas di salah satu resto di Kemang itu adalah sebagai obrolan pembuka dan memperkenalkan diri antara gue dan calon suaminya Cika. Walau sebenarnya, basa basi sudah terjadi di dalam mobil. As stranger and outsider, gue hanya mengiyakan dan ketawa sekedarnya selama di mobil dan mengurangi kadar SKSD dengan calon suaminya Cika. By the way, namanya Didit and his name is alias. Teteup pakek alias untuk menjaga privasi orang. Ya kan, Mas Didit?

Selama obrolan hangat kami yang mengulas tentang pekerjaan dan mengenai pribadi masing-masing dan sembari mengunyah daging terenak di dunia yang dihidangkan oleh pihak resto, gue diberikan ruang untuk mengenal karakter Mas Didit ini.

 

“Jadi ya, bok, lakik eyke ini orangnya galak, tapi asyik dan baik. Nanti santai aja ya, jangan tegang.” Demikian briefing yang gue terima sebelum pertemuan ini dan memang seperti yang diceritakan oleh Cika. Dan di gue sendiri ada sedikit rasa segan. Kalau ketemu orang kayak gini, pasti crangky abis berurusan dengan details. Dan karena dalam rangka berkenalan dengan calon bos, maka gue nggak boleh berpikiran yang tidak-tidak bukan? So, I did. Oh wait, kalau masalah fisik, si Mas Didit ini tinggi-lah, pantesan si Cika  betah, bisa dipanjat banget Mas Didit. Dalam bahasa kekinian, panjatable.  Yes, artikan sendiri maknanya ya.

Makanan yang dipesan kloter pertama tuntas dan setengah porsi kloter kedua terpaksa dibawa pulang karena masing-masing perut kami sudah tidak mampu menampung potongan daging ini. Obrolan tiga jam kurang di resto ini cukup memberikan gambaran, tentunya dari pihak Mas Didit sudah mengetahui potensi gue ini

Dalam perjalanan pulang, akhirnya muncul obrolan mengenai peluang bekerja di Company Mas Didit ini.

“Gue butuh orang yang bisa memvisualkan gagasan gue ke dalam suatu bagan atau animasi. Company gue memang membutuhkan orang-orang kreatif. Orang-orang yang dapat menuangkan gagasan gue ke dalam satu proses yang dapat menghasilkan….(panjang bener bahasannya, so teknikal. Jadi anggap aja Mas Didit lagi berceloteh ya)…Dan menurut gue, elo itu kreatif karena sudah menghasilkan buku, dan Cika juga sudah cerita gimana elo selama ini.

Oke, gue hanya menyimak aja obrolan itu tanpa merespon apa-apa selain kalimat pendek “oh begitu”. Jujur saja, yang gue tangkap waktu itu paham dan gue banget kayaknya. Berbekal pengalaman kerja yang gue punya, tentu untuk hal yang dijabarkan oleh Mas Didit, gue mengerti banget. Hanya saja, ada part yang belum gue klik sama posisi pekerjaan yang dimaksud oleh Mas Didit ini.

Kelanjutan cerita ini? Nanti ya, setelah gue selesai ngucek cucian yang udah lama gue rendam dari kemarin. To Be Continue dulu…

 

Iklan