Tiga Belas

Tidak ada sisa menit yang terbuang sia-sia. Setidaknya untuk enam bulan yang lalu. Aku dapat dengan cepatnya memanfaatkan waktu untuk mencapai apa yang aku rasa dan wajib dicapai setiap harinya. Bagiku, waktu adalah sahabat yang mengerti apa yang aku mau – bahkan minuman soda yang termasyur itu jelas kalah saing – dan lebih dari sekedar sahabat, waktu menuntunku untuk sadar lebih realistis. Realiatis tentang peran kesadaran.

Aku mengerti dengan klimaks, bahwa waktu tidak dapat dikompromi. Sehingga, kesepakatan kami waktu itu adalah aku dan waktu berkelana setiap hari, menyelesaikan setiap puzzle acak yang akan menentukan kehidupanku selanjutnya. Waktu mengajarkan cara untuk berpikir taktis terhadap keping godaan Sale dengan digit angka fantastis. Waktu juga mengajakku untuk melihat lebih jauh lagi bagaimana memantik semangat yang meredup. Dan waktu menjawab, betapa cukupnya tabungan sabar yang aku miliki selama ini. Dan waktu yang menyadarkan, bahwa kamu mengibakan orang lain bukan karena cinta.

Dan benar, waktu dengan sengajanya menghardikku. “You waste my power to build a shit of your shit. Stop it, pal”. Deru jantung mungkin tidak sekencang gemuruh roda besi kereta di landasan rel sepanjang sudirman-kota, namun iramanya yang cukup mengganggku. Apakah iya, aku hanya membuang kekuatan waktu hanya untuk menikmati apa yang aku pegang saat ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s