Tiga Belas

Tidak ada sisa menit yang terbuang sia-sia. Setidaknya untuk enam bulan yang lalu. Aku dapat dengan cepatnya memanfaatkan waktu untuk mencapai apa yang aku rasa dan wajib dicapai setiap harinya. Bagiku, waktu adalah sahabat yang mengerti apa yang aku mau – bahkan minuman soda yang termasyur itu jelas kalah saing – dan lebih dari sekedar sahabat, waktu menuntunku untuk sadar lebih realistis. Realiatis tentang peran kesadaran.

Aku mengerti dengan klimaks, bahwa waktu tidak dapat dikompromi. Sehingga, kesepakatan kami waktu itu adalah aku dan waktu berkelana setiap hari, menyelesaikan setiap puzzle acak yang akan menentukan kehidupanku selanjutnya. Waktu mengajarkan cara untuk berpikir taktis terhadap keping godaan Sale dengan digit angka fantastis. Waktu juga mengajakku untuk melihat lebih jauh lagi bagaimana memantik semangat yang meredup. Dan waktu menjawab, betapa cukupnya tabungan sabar yang aku miliki selama ini. Dan waktu yang menyadarkan, bahwa kamu mengibakan orang lain bukan karena cinta.

Dan benar, waktu dengan sengajanya menghardikku. “You waste my power to build a shit of your shit. Stop it, pal”. Deru jantung mungkin tidak sekencang gemuruh roda besi kereta di landasan rel sepanjang sudirman-kota, namun iramanya yang cukup mengganggku. Apakah iya, aku hanya membuang kekuatan waktu hanya untuk menikmati apa yang aku pegang saat ini?

Iklan

#MembeliKenangan

One Upon time…

No, no, no. Enggak kayak gitu memulainya. Lets start in beginning.

Jadi begini, dalam perjalanan menuju tempat kerja – sebenarnya gue enggan menyebut tempat kerja itu sebagai kantor – dengan motor dinas yang dipercayakan kepada gue sebagai kendaraan dinas. Untuk pertama kalinya, gue sebagai pelaku kemacetan. Menyumbangkan satu motor ke balada macet ibu kota. Siap dihardik oleh orang-orang asing di jalanan karena tidak sengaja memotong jatah jalan atau menjadi objek klakson mobil-mobil mentereng mahal, SUV atau mobil LCGC (bener nggak sih nulisnya?). Jika kebetulan sedang beruntung, gue akan mengalami yang namanya diserempet oleh motor atau mobil. Belum sesiap itu ternyata gue. Belum siap untuk menerima cercaan kalimat yang memuat penghuni Ragunan. Dan sekali lagi, gue belum siap untuk tua di jalan dengan menyetir kendaraan sendiri untuk menuju lokasi kerja. Gue belum siap. Namun, gue telah membeli kenangan dengan tindakan yang telah gue lakukan. Membeli Kenangan berupa rasa pegal akibat menyetir dan menghadapi macet di jalanan Ibu Kota.

Isitlah Membeli Kenangan ini bukan sekedar romansa cinta. Romansa cinta ada di dalam romansa hidup. Membeli Kenangan adalah keputusan yang dapat terjadi begitu saja, tanpa paksaan dari pihak ketiga. Membeli Kengangan pun dapat terjadi karena hasil menimbang, antara lajur positif maupun lajur yang berseberangan dengan positif itu sendiri. Misalnya, seperti keputusan seorang Ayah yang menghadiahi anak semata wayangnya yang telah berhasil meraih predikat terbaik di sekolahnya, berupa perjalanan liburan ke Disney Land dengan harapan bahwa si anak akan lebih memacu diri untuk lebih baik dan baik lagi dalam mencapai prestasi akademik di sekolah. Pun seorang pramusaji pria yang baru saja mendapatkan gaji pertama dan berencana akan membelikan adik perempuan satu-satunya sebuah boneka teddy bear sebagai sosok pengganti dan teman bermain jika si pramusaji sedang bekerja.

Kenangan dapat dibeli dengan selembar mata uang komitmen. Setelahnya, selembar nota konsekuensi tidak tertulis akan diterima nanti setelah proses pembelian ini sudah terjadi. Pembelian dapat terjadi jika hal-hal siap untuk ditukarkan. Topiknya berat ya? Hehehe. Coba gue sederhanakan dengan analogi yang lain.

Sebagai bagian dari manusia yang dihadapkan oleh begitu banyak pilihan-pilihan dalam hidup, gue sebagai pendatang dari pulau seberang yang mencoba adu nasib dan sedikit gambling dengan keadaan tempat yang tidak begitu asing bernama Jakarta, secara tidak langsung apa yang gue lakukan ini adalah Membeli Kenangan. Membeli biasanya melibatkan uang dan selalu bersinggungan dengan uang. Untuk apa yang telah gue sampaikan tadi, bahwa kedatangan gue ke Jakarta adalah dalam misi Membeli Kenangan. Jika dilihat dari perspektif gue, maka Membeli Kenangan yang gue maksud menukarkan mata uang komitmen berupa waktu dan ego gue yang begitu besar – well, actually, kadar ego manusia pada dasarnya sama, namun akan jadi berbeda tolok ukurnya ketika sesama manusia berhadapan dan menghadapi ego manusia lainnya – dan bukti pembelian kenangan yang sudah gue lakukan adalah selembar nota konsekuensi yang akan gue terima nanti. Lembaran ini tidak berwujud, namun hanya dapat dirasakan. Dan untuk saat ini, gue sudah menerima lembar nota konsekuensi ini dengan begitu puas. Begitu pun lembar demi lembar mata uang komitmen yang telah gue gelontorkan untuk mendapatkan lembar-lembar lain dari nota konsekuensi.

Berbicara mengenai Membeli Kenangan, ada sebuah potongan obrolan di armada Bus Way, rute Dukuh Atas – Ragunan, dan gue sedang perjalanan menuju rumah sewa daerah Mampang. Obrolan ini terjadi – FYI, obrolan ini hasil menguping diam-diam, hehe – melibatkan seorang perempuan berumur tiga puluhan yang bercakap-cakap di telepon genggamnya.

“Untunglah kemarin gue pas sakit, udah ada pegangan kartu rumah sakit. Lumayan banget keluar angka tagihannya pas gue intip bentar dari susternya. Dua digit, Ren. Dua Digit. Dan kayaknya, elo perlu juga deh. Buat jaga-jaga, Ren. Kayak beli payung di cuaca panas…”

Mengutip potongan obrolan tadi, maka dapat disimpulkan bahwa si Mbak yang pernah sakit telah Membeli Kenangan yang sangat berharga. Jika ia tidak memiliki kartu rumah sakit, itu berarti ia akan mengeluarkan dana yang mencapai dua digit dan akan menambah beban finansial si Mbak. Si Mbak telah menukar selembar komitmen untuk selembar nota konsekuensi. Lembar nota konsekuensi ini sudah dirasakan langsung oleh mbaknya.

Potongan obrolan tadi hanya sebagai contoh dalam hidup nyata bahwa Membeli Kenangan telah dilakukan di saat yang tepat dan didasari oleh pemikiran yang bijak. Setiap orang mempunyai cara berpikir taktis, rumit atau sederhana. Berdasarkan potongan obrolan tadi, si Mbak telah berpikir panjang secara taktis bahwa apa yang telah ia beli suatu saat akan berguna bahkan sangat menolongnya. Mempertimbangkan berbagai sudut panjang dengan pendekatan “bagaimana nanti kalau…”. Dan akhirnya terbukti. Kartu rumah sakit menolongnya ketika ia dihadapkan dengan kondisi sakit. Rasa dari Membeli Kenangan yang telah ia lakukan adalah kelegaan. Lega, akhirnya ia dapat sembuh dan ditangani dengan baik oleh jasa dokter, para suster dan staff rumah sakit tempat ia dirawat. Tidak ada perasaan khawatir bahwa ia akan mengeluarkan dana cadangan untuk menutupi biaya yang timbul selama dirawat di rumah sakit. Dan menjadi lega dan bahagia karena ia telah memutuskan keputusan yang tepat.

Kadang atau sering kali ketika memutuskan sesuatu dalam Membeli Kenangan, selalu kita sadari bahwa ketika lembar nota konsekuensi yang kita rasakan sangat menyakiti pikiran dan perasaan, yang tidak lain bahwa si sesal akan selalu datang belakangan untuk mendaftar (Candaan terkini yang mengatakan, penyesalan selalu datang terlambat, kalau datangnya tepat waktu namanya pendaftaran).Si sesal menghantui pikiran dan menyiksa perasaan yang dapat menimbulkan rasa bersalah yang sebenarnya tidak ada gunanya sehingga pada akhirnya, rasa bersalah yang mendera ini akan menyita waktu, emosi dan tenaga. Sekali lagi, keputusan Membeli Kenangan dapat didukung oleh kondisi yang kondusif atau bahkan sangat tidak ideal. Dan rasa kenangan yang telah dibeli itu akan terasa manis, pahit, asam, asin atau kombinasi rasa-rasa yang ada di dunia ini, tergantung bagaimana kita bertindak untuk memutuskan Membeli Kenangan itu, di saat yang tepat dan ideal atau tergesa-gesa atau dengan keterpaksaan. Apa pun rasa kenangan itu, lembaran mata uang komitmen selalu ada di tangan kita, namun siapkah kita menerima lembaran nota konseskuensi ketika Membeli Kenangan itu terjadi?