Menabung sabar dan usaha untuk mobil keluarga

“Bapak antar kamu ke airport ya?” beliau berujar menawarkan tumpangan ketika saya berkemas-kemas barang bawaan untuk esok harinya dibawa ke Jakarta – setahun yang lalu – dan kembali bergabung dengan para kalangan urban dan melanjutkan usaha dalam rangka membuat jadi nyata impian-impian yang dapat diwujudkan di kota besar itu. Just simple dream, earn more money, buat saya waktu itu.

Walau sebenarnya saya sangat berberat hati meninggalkan rumah – setidaknya menikmati suasana rumah selama lima hari dalam rangka merayakan hari raya Nyepi – seolah sudut hati yang lain ingin berontak dengan fakta yang sedang saya nikmati kala itu. Bapak yang sudah berumur, mengantarkan saya ke airport dengan mengendarai sepeda motor. Untuk perjalanan yang ditempuh, dari rumah menuju airport membutuhkan waktu setidaknya dua setengah jam dengan laju kendaraan rata-rata. Kalau dulu saya selalu semangat jika berpergian jauh dengan Bapak, namun seiring berjalannya waktu, saya justru khawatir dengan keselamatan dan kesehatan Bapak. Saya merasa segan jika beliau mengantar saya. Namun, Ibu tidak kalah semangat untuk meyakinkan saya sebelum kami berangkat. “Biarlah Bapak kamu yang antar ke bandara, toh Bapak kamu itu masih kuat kan? Bapak kamu juga belum pernah sama sekali ke bandara setelah direnovasi”.

Kadar bahagia saya sebagai bungsu dari dua bersaudara sedikit berkurang dengan adanya keterlibatan rasa sedih yang membaur di dalam kebahagiaan itu sendiri. Merasa masih diperhatikan dan masih diperlakukan sebagai bocah kecil oleh seorang Ayah yang kini sudah menua, membuat saya bertekad untuk menghadiahkan sesuatu yang diinginkan oleh Bapak selama ini. Sebuah mobil keluarga.

Sejak kecil saya sudah dikenal sebagai bocah yang sangat suka berkhayal. Salah satunya mempunyai sebuah mobil keluarga yang dapat membawa kami secara fisik ke tujuan yang letaknya cukup jauh dan membawa serta suasana kasih dan sayang keluarga kami di dalam mobil itu. Nyaman bercengkrama selama perjalanan, interior dalam mobil yang elegan dan dilengkapi oleh hiburan yang cukup untuk mengisi kekosongan waktu yang tercipta selama perjalanan.

Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Anggap saja saya sedang mengafirmasi diri bahwa suatu saat nanti, mobil impian yang menjadi kendaraan sehari-hari untuk kedua orang saya – termasuk melindungi beliau-beliau dari teriknya matahari dan guyuran hujan – sementara waktu saya wujudkan. Tepatnya setelah perayaan hari raya Nyepi tahun ini, saya membawa keluarga jalan-jalan sebelum saya terbang kembali ke Jakarta. Saya menyewa sebuah mobil dengan anggaran yang sangat terbatas. Pilihan saat itu, saya  jatuhkan ke mobil keluarga produksi Nissan dengan line-up Grand Livina tahun 2014. Menurut pengakuan pemilik mobil ini, Livina selalu menjadi pilihan untuk disewa. Mendapat penjelasan yang sangat logis, saya menjadi semakin mengerti mengapa pada akhirnya Nissan Grand Livina menjadi pilihan keluarga.

img1bc.png.ximg.l_4_m.smart

Sebuah keluarga mempunyai nilai-nilai keakraban – cinta, kasih sayang, toleransi dan memahami – sangat perlu dijaga dan berkesinambungan di mana pun dan kapan pun. Nilai-nilai inilah yang dimasukkan Nissan dalam merancang sebuah kendaaraan untuk keluarga. Saya pikir Nissan menganggap bahwa merancang sebuah kendaraan saja tidak cukup. Sebuah kendaraan – khususnya mobil – bukan sekedar melakukan fungsi dasarnya sebagai kendaraan, namun justru harus dapat menjadi sebuah rumah kedua bagi penghuninya. Sejauh apapun perjalanan yang ditempuh, penumpang di dalamnya harus dapat merasa tidak sedang dalam perjalanan. Dan Nissan Grand Livina merepresentasikan dengan tepat apa yang dibutuhkan oleh para keluarga di Indonesia, khususnya saya sendiri. Dan hal-hal tadi yang telah saya dapatkan di mobil ini. Apa yang saya dan keluarga rasakan benar-benar nyaman di dalam mobil ini, bagasi yang luas dan lega, jok yang empuk dan pas dan issue yang paling mendasar bagi keluarga sederhana saya adalah konsumsi bahan bakar mobil ini cenderung irit. Mungkin teknologi mesin terbaru yang sudah diterapkan di mobil ini. Dan hal ini yang membuat saya semakin kuat untuk ‘mengadopsi’ mobil ini nanti.

Ada sebuah ungkapan yang pernah saya baca di media sosial yang berujar kurang lebih seperti ini “Merantaulah sejauh mungkin dan kamu akan merasakan makna pulang”. Dan buat saya ungkapan ini benar adanya. Namun, makna pulang saya di kesempatan berikutnya jauh lebih bermakna dengan menambah kebahagiaan Bapak dan Ibu dengan menghadiahkan sebuah mobil impian dan dambaan keluarga sederhana yang bermanifestasi dalam Nissan Grand Livina.

Iklan