#BUKANUNTUKDIJALANI #PART1

pexels-photo

SATRIA

Beberapa orang membenci bergulirnya waktu terlampau cepat. Sangat cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam dan begitu seterusnya dan berlalu tanpa permisi. Hak waktu memang ditakdirkan begitu. Seolah, tampuk kendali ada mutlak di genggaman sang waktu. Memang begitu adanya. Berlalu tanpa permisi, tanpa jeda tanpa ada yang menahan. Waktu dapat diulur, namun tetap saja akan menjadi sia-sia jika tujuannya untuk sekedar membuang waktu. Namun, sisi baiknya, waktu dapat bermanfaat bagiku. Setidaknya seminggu belakangan ini. Terlalu singkat namun berharga buat egoku yang sempat kehilangan kebebasannya, seperti dulu. Sempat terenggut beberapa saat dan akhirnya, kebebasannya kembali mengambil alih kehidupanku. Seperti dulu.

Sebulan berlalu, mengerjakan banyak hal yang tertunda, menyingkirkan semua alasan yang menumpuk dan membakarnya dengan berbagai cara. Aku tahu, kedengarannya terlalu klise. Secara harfiah, membakar diartikan mengenyahkan suatu benda dengan bara api. Jika itu memang sebuah benda. Perlakukannya akan berbeda jika wujudnya tidak berwujud, seperti tumpukan alasan menunda yang telah berlalu beberapa pekan ini. Caraku membakar alasan ini, menyelesaikannya. Mencari tahu jawaban yang pantas dari alasan-alasan ini. Hampir semua jawaban sangat logis. Dan aku kembali menikmati egoku yang dulu, logika yang mendominasi.

Namun, ada sesuatu yang hilang. Bagian yang tak pernah aku pikirkan untuk mendapatkannya dalam hidup. Setidaknya beberapa tahun terakhir. Berteman dengan sepi awalnya sangat menakutkan buatku. Namun perlahan, sepi ini semakin bijak dan bersahabat denganku. Mengenal sepi ternyata tidak seburuk itu. Sepi sudah mengajarkan banyak hal untuk orang sepertiku. Sungguh. Sepi tidak begitu menakutkan. Ia hanya berusaha singgah dan mengisi hari-harimu untuk sementara waktu. Awalanya begitu. Namun, ia betah menghinggapi sehingga kekosongan yang dirasa sangat membuat orang yang dihinggapi kesepian berkepanjangan, hingga timbul pemikiran berikutnya, membunuh sang sepi. Dan keputusanku tepat. Membunuh kesepian dengan kegiatan yang sangat banyak. Hampir sepanjang waktu yang aku punya, dua puluh empat jam setiap hari, satu bulan dan tiga ratus enam puluh lima hari berlalu dengan berharga. Waktu menjadi teman terbaikku beberapa tahun belakangan. Dan sebenarnya, aku bisa dapat menerima kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku harapkan hadir dalam hidupku itu. Cinta.

“Siapa yang kamu bohongi sebenarnya, Sat?”

SEPULUH

“Seandainya kamu dapat mengerti bagaimana cara setiap orang dan bagaimana ia memperlakukan kesempatan. Kamu enggak akan sesepat ini menanggung rasa ketakutanmu, ya kan?”

Kalimat terakhir yang mendapatkan perlakuan khusus sampai dengan saat ini. Percakapan yang terjadi untuk terakhir kalinya. Di tempat yang tidak terhormat. Kurir pesan digital. Hanya bermodalkan perangkat lunak dan paket data. Sudah. Begitu saja tanpa ada kesan dramatis yang aku harapkan. Ada yang tahu cara melupakan percakapan ini?

SATRIA

Melepas penat malam ini dengan cara seperti yang biasa seperti malam-malam sebelumnya. Segelas Green Tea Latte ukuran grande dan tablet di meja pojok, Starbuck Skyline Thamrin. Perfect time. Seharusnya, pulang lebih awal untuk mengemasi pakaian untuk keperluan dinas esok hari. Mengejar penerbangan paling pagi, sebelum ayam-ayam koleksi Bang Zul ujung jalan kebangun dan mendendangkan nyanyian rutin yang enggak bisa ditolak oleh tetangga sekitar, termasuk aku.

Hujan mengurai hawa pengap polusi malam ini. Dahaga pertiwi yang begitu besar, terobati dengan guyuran debit air yang cukup banyak. Semoga pertiwi bahagia karenanya. Jika aku memantaskan diri, izinkan aku mengumpakan kesempatan yang aku punya sebagai hujan yang diharapkan pemilik ladang harapan di ujung sana. Pemiliknya yang terlalu takut dan sesat dengan perasaannya sendiri.  Kalimat yang akhirnya aku lontarkan kepada sang kurir pesan digital itu sekaligus membuat sesak di dada berkurang adalah kejujuranku berikutnya yang harus diakui.

“kesempatan itu akan selalu ada, Sep. Tergantung bagaimana kamu memanfaatkannya dengan bijak.”

SEPULUH

Aku masih ingat nasehat bijak yang aku dengar beberapa waktu belakangan ini, “Apapun yang menjadi takdir jodoh kamu, jika memang dibuat untuk kamu, dia akan kembali lagi ke kamu. Hanya saja, jalan kembalinya yang tidak biasa, dan kamu harus menerima cara-NYA memperlakukan jodoh kamu itu, baik jodoh materi, jodoh pertemuan, waktu dan orang.” Nasehat mama selalu dan ampuh menenangkan aku.

“iya ma, Sepu ngerti maksud mama”. Aku memeluk mama sekali lagi dengan erat. “Yang paling penting sekarang, mama buka kado dari Sepu ya. Ulang tahun kali ini mama harus dapat yang spesial dari Sepu. Jangan ditolak ya, Ma.”

Respon semacam  ini yang mampu aku sampaikan ketika menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuaku di Bintaro sana, beberapa hari yang lalu. Tempat yang terlalu nyaman untuk dibenci namun terlalu sayang untuk ditinggali lama-lama. Namun, buatku, mama memberikan komplemen pantas atas semua alasan-alasanku yang terkesan omong kosong itu. Hanya saja, aku merasakan kebohongan meletup. Sedikit. Tidak begitu besar, namun cukup membuat aku terdiam sesaat. Kebohongan berupa perasaan yang masih sedikit belum terpuaskan oleh keputusan dan ketakutanku sendiri.

Namun, kali ini, menghabiskan waktu di kantor dan menyelesaikan laporan bulanan dan hanya ditemani Mas OB, bukan jadi pilihan yang bijak. Keharusan menjalani rutinitas ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaanku. Lembur untuk kelangsungan karir adalah keharusan. Benar bukan? Namun, lembur ini terasa ringan karena senyum di wajah kembali membentang. Beberapa kali cermin aku tatap, sungguh sumringah yang aku rasakan, dan merasakan keanehan yang aku rasakan dalam waktu bersamaan. Namun, yang pasti, alasan mengapa aku tersenyum sumringah?

Karena seseorang telah mengembalikan senyum di wajahku dengan tepat. Aku selalu ingat nasehatnya “karena hasil tidak akan mengkhianati usaha.” Benar. Usahaku berbuah manis. Aku tidak sabar menunggu kedatangannya, usai dinas luar kotanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s