#BUKANUNTUKDIJALANI #PART2

SEPULUH

Ada ribuan alasan untuk menjelaskan kondisi ketika seseorang menghadapi situasi yang menyudutkan. Alasan hujan turun dapat dijelaskan secara teori. Datangnya pujian dapat dijelaskan dengan bahasa psikologis. Datangnya kebahagiaan dapat dijelaskan dengan alasan skeptis. Bahagia menghampiri karena sudah pantas untuk bahagia. Bocah lima tahun akan sumringah dengan memamerkan gigi susunya ketika mendapatkan mainan yang diinginkannya. Seorang Ibu di pinggiran kota besar mendapatkan lonjakan rejeki karena barang dagangan berupa nasi kebulinya laku sebelum siang hari. Buat aku sendiri? Setidaknya buatku, enam bulan terakhir belakangan ini sangat mengesankan. Di atas level bahagia manapun. Walaupun sementara waktu. Bagaimana aku menjelaskannya? Semuanya terjadi begitu saja.

“hay, sudah lama menunggu?” sapanya dengan hangat sembari mengulur tangannya untuk kemudian aku balas dengan menjabat tangannya. “Satria”, katanya kembali memperkenalkan dirinya. Aku  sedikit grogi dengan melihat langsung bagaimana fisik visual dari orang yang aku ajak bertatap muka langsung. Wajahnya terlihat dewasa dengan rambut sedikit klimis, tinggi badan di atas rata-rata dengan berat badan ideal. Setidaknya menurut pengkuran estimasiku. Walau bukan pertama kalinya mengalami hal seperti ini, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Entahlah.

“enggak kok. Lumayan. Sorry, bawaan dari kantor banyak begini.”

Aku sendiri sangat malu membawa tas gym yang dengan sengajanya aku bawa serta di acara blind-date hari ini. Well, sebenernya bukan blind date. Ini cuman pertemuan casual aja, untuk mempertegas kembali obrolan yang terjadi di sosial media khusus kalangan LGBT. Dan beruntung juga, aplikasi semacam itu hanya berorientasi pada kenikmatan sesaat, namun untuk kali ini, aku sedang mendapatkan peruntungan yang baik. Bertemu di publik area.

“haha. Santai saja. Kita mau ngobrol di mana?”

“Di dalem aja?”

“kita di luar aja deh. Agak bosen kalau dalam mall.”

“oke. Yuk.”

Aku mengikutinya dari belakang. Suasana tegang yang aku rasakan sedikit mencair.  Orang ini jarang senyum kayaknya, pikirku. Hal-hal yang sedang bermain di kepalaku saat itu, bagaimana membangun suasana yang hangat dan obrolan yang menarik. Karena kadang, dua orang asing bertemu dan mencoba mengenal satu sama lain secara langsung, buatku butuh effort yang sangat luar biasa. Walaupun pekerjaanku bersinggungan dengan orang berbagai karakter di lapangan, aku sangat memikirkan hal-hal yang cenderung tidak memancing hal-hal awkward. Momen awkward

“Sep, Di sini aja ya, biar kamu nggak kejauhan ambil mobil dari gedung.”

“Boleh”.

Kami akhirnya memilih untuk menikmati roti bakar dekat plaza blok M untuk menghemat waktu.Pilihan yang sangat biasa bagi rakyat jelata sepertiku, namun sosok Satria ini bagaimana? Apakah pantas makan di pinggiran seperti ini? Melihat pembawaannya yang cukup mengesankan ini?. Dua porsi roti bakar dan dua gelas teh hangat manis untuk kami berdua sebagai menu penikmat obrolan kami. Memang ya, takdir kudapan dibuat bukan sekedar penghilang lapar, namun sebagai pelengkap suasana hangat. Kami benar-benar menikmati sajian sederhana ini. Eh, memangnya sudah boleh menggunakan istilah “kami” saat ini?. Calm down, Sep.

Sepertinya hanya aku yang berusaha menghidupkan suasana dalam obrolan ini, dan lawan bicara di depanku ini hanya mengamatiku dengan sorot mata yang tidak bisa aku terka. Mencoba tertarik dengan topik pembahasanku tentang pekerjaanku yang mungkin akan terdengar menjemukan untuk disimak. Seandainya aku bisa dapat memahami sorot mata itu atau mungkin akan aku selami sedalam apa makna sorot mata itu. Dan sorot mata itu juga yang membuat salah tingkah. Sajian roti bakar di hadapanku bahkan hampir tidak dapat aku habiskan dalam waktu singkat. Atau ada kemungkinan lain yang terpapar dalam sorot mata laki-laki ini? Mungkin. Aku hanya pandai berasumsi, seperti sekarang. Berasumsi dalam percakapan bodoh melalui whatsapp bahwa apa yang aku duga memang seharusnya sudah aku sadari jauh sebelum enam bulan berjalan. Tanpa perasaan apapun yang bersemi di hatinya. Mungkin.

“Dan konyolnya, aku terlalu memaksakannya, Sat”

Kalimat ini yang mampu aku sampaikan. Hapus, ketik, hapus, ketik, repeat again. Dalam benakku mengumpat “Kamu bodoh, Sep. Kamu bodoh! Membiarkan akal sehat kamu terjajah oleh keajaiban yang terlalu kamu percayai. Keajaiban yang kamu harapkan terlalu besar. Kamu bodoh, Sep. Bodoh!”

“Jangan menyalahkan diri sendiri gitu, Sep.”

“Sampai ketemu nanti malam ya.”

“Loh bukannya hari Jumat?”

“Malam ini”

“oke. Aku tunggu di tempat pertama kali ketemu”

329_brasil-gay-beach

SATRIA

Jika diijinkan memutar waktu, ijinkan aku kembali ke masa enam bulan yang lalu. Itu saja. Enam bulan ketika tanganku usil mengunduh aplikasi kencan buta. Yang hanya didominasi one-night-love. Pathetic. Untuk butuh teman mengobrol saja, aku harus menyuntikkan aplikasi nggak penting kayak gitu ke deviceku. But the hell, its done. Sekalinya membuat keputusan untuk sekedar menyapa pengguna di aplikasi itu, aku bingung untuk meneruskan obrolan yang terjadi ke arah mana. Apakah berlangsung sekedar obrolan di room chat itu, ataukah berlanjut ke follow up berikut. Getting fuck off. Sorry, for those words. In fact, most of them – the member of users – play that role. Looking for body-fucking. Semua hal-hal yang berbau kesehatan menjadi terpinggirkan. Dan apakah hal ini pantas untuk diterima oleh seorang single seperti aku? I dont think so.

Menyendiri dalam hitungan tahun itu bukan keputusanku. Keadaan yang memaksaku untuk berada di zona itu. Zona yan mengharuskan aku untuk memprioritaskan segala keegoanku, menyenangkan diri sendiri, pergi ke manapun aku pergi tanpa batasan untuk sekedar berlibur atau sekedar menghabiskan beberapa lembar dollar di berbagai negara – Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Maladewa, Shanghai, Jepang – mengejar mimpi-mimpi yang sempat tertimbun di benak sampai akhirnya dapat aku tarik dari timbunan mimpi ke dunia nyata. Sisi positif menjadi lajang – sekalipun di dunia yang tidak dianggap oleh orang timur – nampaknya sangat indah. Tanpa ikatan apapun. Tanpa ada pertanyaan dari orang terdekat bernada khawatir atau sekedar ingin tahu, “lagi di mana?”

Namun, justru waktu mengajarkan hal yang sedang berusaha mengalihkan duniaku. Kembali jatuh cinta. Waktu begitu menggodaku dengan cecaran cara yang beberapa kali aku abaikan. Konsentrasiku tidak boleh tergoyahkan. Sudah cukup jatuh cinta beberapa tahun yang lalu itu berakhir. Jatuh cinta pada sosok yang salah. Aku tidak dapat menjelaskan kenapa jatuh cinta kepada sosok yang aku anggap awalnya “tersedia” buatku dan aku rela melakukan apapun demi bersama dia. Seperti keledai dungu. Namun, keledai ini akhirnya tersadar bahwa cinta sempurna itu tidak pernah ada di dunia nyata. Dan di dunia yang tidak pernah sah di mata orang timur.

Aku pernah membaca kiasan ini, entah di mana. Kiasan atau perumpamaan atau prosa atau hanya sekedar kalimat bijak yang berujar “hidup ini seperti lapangan parkir”, selalu ada mobil yang datang untuk singgah, entah untuk keperluan yang singkat atau untuk singgah cukup lama di sana karena untuk urusan besar. atau bahkan memutuskan untuk tinggal sementara waktu untuk memikirkan ke mana tujuan selanjutnya. dan pada akhirnya semua kendali mobil ada di pengemudinya. akan meninggalkan lapangan parkir lalu berlalu begitu saja. atau akan berencana kembali lagi untuk urusan yang sama.

buat gue, orang yang gue kenal dan menamakan dirinya dengan nama unik, masih aku anggap mobil yang hanya sekedar parkir.

“Sepuluh”

Kesan unik ketika ia mempertegas namanya, walaupun bagiku nama itu terlalu unik buatku. Angka sepuluh? Its means a lot. At least for his parent, right?

Dan yang membuat aku tertarik ketika larut dalam obrolan panjang di kedai roti panggan itu, kumis tipis yang tidak dapat aku tolak keberadaannya. Menambah kharisma yang dimiliki laki-laki ini. Namun, saat ini dan seterusnya, apakah aku masih pantas memuja kharisma yang timbul gara-gara kumis itu? Adakah hak yang masih melekat di sini, di hati yang paling dalam, setidaknya kali terakhir malam ini?

SEPULUH

“Tapi janji ya, kamu menanggapi pembahasan ini tanpa melibatkan emosi negatif?”

Aku bisa apa, Sat. Dari awal menjalin keseriusan dengan kamu, segala daya upaya aku kerahkan. Dan kenapa dengan gampangnya kamu mengatakan hal logika seperti itu? Atau apalah yang menurut prinsipmu itu benar berdasarkan logika. Atau kamu berfikir, hubungan ini selayaknya arena bermain seperti di mall-mall yang suka kamu kunjungi itu?

“saya pulang dari kantor jam 10, karena masih ada beberapa berkas yang harus dibereskan.”

“oke, enggak apa-apa. Saya tunggu di sana.”

Bodoh rasanya. Dibayang- bayangi oleh ketakutan diri sendiri bahwa semua ini akan berakhir terlalu cepat. Aku terlalu membiarkan sisi ketakutanku menjalar ke mana-mana. Ketakutan itu pun berbuah dengan tidak manis. Keputusanku mengirimkan pernyataan “aku sedang berencana mengijinkan kamu sama orang lain.” Seandainya pernyataan ini keluar dari mulutku langsung, mungkin responnya akan berbeda. Namun, pernyataan tadi lepas begitu saja melalui pesan instan digital. Andai saja, ada teknologi yang dapat memutus ketakutanku, saat di mana aku masih berkutat dengan rajinnya. Tentang ketakutan kehilangan orang yang aku cintai.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s