#BukanUntukDijalani #Part3

pexels-photo-405254

Jika rindu datang bertandang, sebaiknya apa yang harus aku lakukan?”. Pertanyaan ini datang sesaat setelah pigura cantik berhiaskan prada perak bermotif ukiran khas Ubud menjadi objek pandanganku, di kala aku sedang berusaha menyelesaikan kewajiban masa laluku. Kadang, ada hutang yang tidak pernah habis untuk dibayar. Hutang budi.

Belenggu pikiran seperti ini, bagaimana cara melepaskannya? Adakah cara lain untuk melepaskan bayang-bayang hutang budi dari pikiranku? Atau cara yang paling sederhana sekalipun?

Dedaunan berhamburan diterbangkan angin sore. Burung-burung telah kembali ke sarang dan bersiap melanjutkan dongeng perjuangan untuk menjadi penerbang ulung di kaumnya kepada para penerusnya yang baru menetas sehari lalu. Senja telah tersemat hingga tenggelam di ufuk barat. Sementara, para penggiat malam mulai terbangun dari lelap tidurnya. Si burung hantu nampak mulai merapikan bulu-bulunya yang halus, mencoba mendendangkan melodi yang berbeda nanti malam. Tentang sunyinya malam ibu kota yang tidak lagi sunyi.

Seharusnya aku tidak memikirkan keputusan beberapa hari yang lalu. Tidak seharusnya. Yang perlu aku mantapkan saat ini adalah apa yang menjadi tujuan dan prioritasku. Karier. Yang perlu aku kuatkan dalam menghadapi hari-hari berikutnya adalah mental dan keyakinanku. Mental harus tetaplah terjaga, bagaimana pun caranya. Dan tentang keyakinanku, bahwa apa yang aku lalui saat ini hanyalah masalah irama dalam hidup. Semua orang mengalaminya, namun memiliki fase yang berbeda. Tetapi dengan inti yang sama. Inti dari hidup memberi warna atau diwarnai. Hidup ini seperti bentangan kanvas putih polos. Bidang ini akan terhiasi oleh baragam warna yang kita mau, anek pola dan motif atau gradasi yang kita kehendaki. Asalkan jodoh dan nasib memberi izin dan kuasa dalam memilih kuas dan warna yang cocok terpoles di atas kanvas itu.

Sudah hampir tiga puluh menit yang lalu aku di sini, menghabiskan segelas green tea latte ukuran grande, semangkuk mie rebus buatan Kang Jodi dan beberapa pemberitahuan panggilan terabaikan.

“Kita pernah membahagiakan satu sama lain. Saling menyakiti pun pernah, lalu inti dari pemikiran kamu apa, Sat?”

Percakapan ini seharusnya tidak pernah terjadi dalam platform messengger manapun. Sungguh.

Aku dapat membayangkan bagaimana sorot mata yang meminta penjelasan detil dariku. Senyum di wajahku membentang ala kadarnya.

“sebelum aku menjawab, jawab dulu pertanyaanku, boleh?”

“apa?”

“tadi pagi dan menjelang makan siang ini, kamu sudah cukup makan?”

“sudah, dua kali malah. Lalu?”

“:)”

“lalu?”

Aku berhenti mengirimkan simbol senyum itu. Aku harus benar-benar memilih dan memilah kata-kata uag seharusnya disampaikan dalam percakapan ini. Sedikit saja ada keliru, maka runyam selamanya. Menyampaikan isi pikiran secara singkat dalam aplikasi itu tidak mudah. Seperti membuat sebuah prosa yang harus disetorkan kepada guru bahasa Indonesia. Guru yang sedang aku hadapi saat ini adalah beliau. Beliau yang memintaku untuk membuat sebuah prosa. Prosa penjelasan tentang bagaimana kelanjutan hidup kami masing-masing.

“Aku harap semuanya baik-baik saja, Sep. Kita pernah diskusi ini sebelumnya kan? Masih inget kan?”

“iya…”

“Bagian mana yang paling kamu inget, Sep?”

“Udah deh, Sat, jangan bertele-tele. Fokus sama apa yang kamu mau sampaikan. Waktuku sedikit.”

“Tapi janji ya, kamu menanggapi pembahasan ini tanpa melibatkan emosi negatif?”

“Iya, janji”

“Aku mikirin omongan kamu lusa kemarin mengenai keputusan tidak langsung kamu tentang peluang yang baik menurut kamu dan mengasumsikan peluang ini juga sangat baik buat aku.”

“Keep going, Sat.”

“setelah kamu melontarkan pernyataan itu, aku nggak ambil pusing awalnya. Aku mengira, itu kondisi kamu sedang butuh untuk diperhatikan. Tetapi setelah itu, aku coba mencerna sekali lagi pernyataan kamu, berkali-kali. Kamu pun pasti merenung juga sebelum mengajukan pernyataan ini ke aku, kan, Sep?”

Merangkai kalimat ini tidak semudah jika disampaikan secara langsung, secara verbal. Semoga pilihan kata-kata tadi tidak begitu tajam. Dan semoga logika kamu jalan ya, Sep.

“Jadi, kesimpulan kamu apa? Dan ending dari semua ini gimana, Sat?”

Good Move, Sep. Tetap demikian ya.

“Pemikiran aku dan kamu pada dasarnya sama. Kita sama-sama punya hidup masing-masing, termasuk ritmenya Cepat, sedang atau perlahan. Dan kita dipertemukan dalam sebuah wadah yang justru membuat kita dapat mengenal satu sama lain.”

“Dan konyolnya, aku terlalu memaksakannya, Sat.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s