#BUKANUNTUKDIJALANI #PART1

pexels-photo

SATRIA

Beberapa orang membenci bergulirnya waktu terlampau cepat. Sangat cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam dan begitu seterusnya dan berlalu tanpa permisi. Hak waktu memang ditakdirkan begitu. Seolah, tampuk kendali ada mutlak di genggaman sang waktu. Memang begitu adanya. Berlalu tanpa permisi, tanpa jeda tanpa ada yang menahan. Waktu dapat diulur, namun tetap saja akan menjadi sia-sia jika tujuannya untuk sekedar membuang waktu. Namun, sisi baiknya, waktu dapat bermanfaat bagiku. Setidaknya seminggu belakangan ini. Terlalu singkat namun berharga buat egoku yang sempat kehilangan kebebasannya, seperti dulu. Sempat terenggut beberapa saat dan akhirnya, kebebasannya kembali mengambil alih kehidupanku. Seperti dulu.

Sebulan berlalu, mengerjakan banyak hal yang tertunda, menyingkirkan semua alasan yang menumpuk dan membakarnya dengan berbagai cara. Aku tahu, kedengarannya terlalu klise. Secara harfiah, membakar diartikan mengenyahkan suatu benda dengan bara api. Jika itu memang sebuah benda. Perlakukannya akan berbeda jika wujudnya tidak berwujud, seperti tumpukan alasan menunda yang telah berlalu beberapa pekan ini. Caraku membakar alasan ini, menyelesaikannya. Mencari tahu jawaban yang pantas dari alasan-alasan ini. Hampir semua jawaban sangat logis. Dan aku kembali menikmati egoku yang dulu, logika yang mendominasi.

Namun, ada sesuatu yang hilang. Bagian yang tak pernah aku pikirkan untuk mendapatkannya dalam hidup. Setidaknya beberapa tahun terakhir. Berteman dengan sepi awalnya sangat menakutkan buatku. Namun perlahan, sepi ini semakin bijak dan bersahabat denganku. Mengenal sepi ternyata tidak seburuk itu. Sepi sudah mengajarkan banyak hal untuk orang sepertiku. Sungguh. Sepi tidak begitu menakutkan. Ia hanya berusaha singgah dan mengisi hari-harimu untuk sementara waktu. Awalanya begitu. Namun, ia betah menghinggapi sehingga kekosongan yang dirasa sangat membuat orang yang dihinggapi kesepian berkepanjangan, hingga timbul pemikiran berikutnya, membunuh sang sepi. Dan keputusanku tepat. Membunuh kesepian dengan kegiatan yang sangat banyak. Hampir sepanjang waktu yang aku punya, dua puluh empat jam setiap hari, satu bulan dan tiga ratus enam puluh lima hari berlalu dengan berharga. Waktu menjadi teman terbaikku beberapa tahun belakangan. Dan sebenarnya, aku bisa dapat menerima kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku harapkan hadir dalam hidupku itu. Cinta.

“Siapa yang kamu bohongi sebenarnya, Sat?”

SEPULUH

“Seandainya kamu dapat mengerti bagaimana cara setiap orang dan bagaimana ia memperlakukan kesempatan. Kamu enggak akan sesepat ini menanggung rasa ketakutanmu, ya kan?”

Kalimat terakhir yang mendapatkan perlakuan khusus sampai dengan saat ini. Percakapan yang terjadi untuk terakhir kalinya. Di tempat yang tidak terhormat. Kurir pesan digital. Hanya bermodalkan perangkat lunak dan paket data. Sudah. Begitu saja tanpa ada kesan dramatis yang aku harapkan. Ada yang tahu cara melupakan percakapan ini?

SATRIA

Melepas penat malam ini dengan cara seperti yang biasa seperti malam-malam sebelumnya. Segelas Green Tea Latte ukuran grande dan tablet di meja pojok, Starbuck Skyline Thamrin. Perfect time. Seharusnya, pulang lebih awal untuk mengemasi pakaian untuk keperluan dinas esok hari. Mengejar penerbangan paling pagi, sebelum ayam-ayam koleksi Bang Zul ujung jalan kebangun dan mendendangkan nyanyian rutin yang enggak bisa ditolak oleh tetangga sekitar, termasuk aku.

Hujan mengurai hawa pengap polusi malam ini. Dahaga pertiwi yang begitu besar, terobati dengan guyuran debit air yang cukup banyak. Semoga pertiwi bahagia karenanya. Jika aku memantaskan diri, izinkan aku mengumpakan kesempatan yang aku punya sebagai hujan yang diharapkan pemilik ladang harapan di ujung sana. Pemiliknya yang terlalu takut dan sesat dengan perasaannya sendiri.  Kalimat yang akhirnya aku lontarkan kepada sang kurir pesan digital itu sekaligus membuat sesak di dada berkurang adalah kejujuranku berikutnya yang harus diakui.

“kesempatan itu akan selalu ada, Sep. Tergantung bagaimana kamu memanfaatkannya dengan bijak.”

SEPULUH

Aku masih ingat nasehat bijak yang aku dengar beberapa waktu belakangan ini, “Apapun yang menjadi takdir jodoh kamu, jika memang dibuat untuk kamu, dia akan kembali lagi ke kamu. Hanya saja, jalan kembalinya yang tidak biasa, dan kamu harus menerima cara-NYA memperlakukan jodoh kamu itu, baik jodoh materi, jodoh pertemuan, waktu dan orang.” Nasehat mama selalu dan ampuh menenangkan aku.

“iya ma, Sepu ngerti maksud mama”. Aku memeluk mama sekali lagi dengan erat. “Yang paling penting sekarang, mama buka kado dari Sepu ya. Ulang tahun kali ini mama harus dapat yang spesial dari Sepu. Jangan ditolak ya, Ma.”

Respon semacam  ini yang mampu aku sampaikan ketika menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuaku di Bintaro sana, beberapa hari yang lalu. Tempat yang terlalu nyaman untuk dibenci namun terlalu sayang untuk ditinggali lama-lama. Namun, buatku, mama memberikan komplemen pantas atas semua alasan-alasanku yang terkesan omong kosong itu. Hanya saja, aku merasakan kebohongan meletup. Sedikit. Tidak begitu besar, namun cukup membuat aku terdiam sesaat. Kebohongan berupa perasaan yang masih sedikit belum terpuaskan oleh keputusan dan ketakutanku sendiri.

Namun, kali ini, menghabiskan waktu di kantor dan menyelesaikan laporan bulanan dan hanya ditemani Mas OB, bukan jadi pilihan yang bijak. Keharusan menjalani rutinitas ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaanku. Lembur untuk kelangsungan karir adalah keharusan. Benar bukan? Namun, lembur ini terasa ringan karena senyum di wajah kembali membentang. Beberapa kali cermin aku tatap, sungguh sumringah yang aku rasakan, dan merasakan keanehan yang aku rasakan dalam waktu bersamaan. Namun, yang pasti, alasan mengapa aku tersenyum sumringah?

Karena seseorang telah mengembalikan senyum di wajahku dengan tepat. Aku selalu ingat nasehatnya “karena hasil tidak akan mengkhianati usaha.” Benar. Usahaku berbuah manis. Aku tidak sabar menunggu kedatangannya, usai dinas luar kotanya.

Iklan

#BUKANUNTUKDIJALANI #PART2

SEPULUH

Ada ribuan alasan untuk menjelaskan kondisi ketika seseorang menghadapi situasi yang menyudutkan. Alasan hujan turun dapat dijelaskan secara teori. Datangnya pujian dapat dijelaskan dengan bahasa psikologis. Datangnya kebahagiaan dapat dijelaskan dengan alasan skeptis. Bahagia menghampiri karena sudah pantas untuk bahagia. Bocah lima tahun akan sumringah dengan memamerkan gigi susunya ketika mendapatkan mainan yang diinginkannya. Seorang Ibu di pinggiran kota besar mendapatkan lonjakan rejeki karena barang dagangan berupa nasi kebulinya laku sebelum siang hari. Buat aku sendiri? Setidaknya buatku, enam bulan terakhir belakangan ini sangat mengesankan. Di atas level bahagia manapun. Walaupun sementara waktu. Bagaimana aku menjelaskannya? Semuanya terjadi begitu saja.

“hay, sudah lama menunggu?” sapanya dengan hangat sembari mengulur tangannya untuk kemudian aku balas dengan menjabat tangannya. “Satria”, katanya kembali memperkenalkan dirinya. Aku  sedikit grogi dengan melihat langsung bagaimana fisik visual dari orang yang aku ajak bertatap muka langsung. Wajahnya terlihat dewasa dengan rambut sedikit klimis, tinggi badan di atas rata-rata dengan berat badan ideal. Setidaknya menurut pengkuran estimasiku. Walau bukan pertama kalinya mengalami hal seperti ini, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Entahlah.

“enggak kok. Lumayan. Sorry, bawaan dari kantor banyak begini.”

Aku sendiri sangat malu membawa tas gym yang dengan sengajanya aku bawa serta di acara blind-date hari ini. Well, sebenernya bukan blind date. Ini cuman pertemuan casual aja, untuk mempertegas kembali obrolan yang terjadi di sosial media khusus kalangan LGBT. Dan beruntung juga, aplikasi semacam itu hanya berorientasi pada kenikmatan sesaat, namun untuk kali ini, aku sedang mendapatkan peruntungan yang baik. Bertemu di publik area.

“haha. Santai saja. Kita mau ngobrol di mana?”

“Di dalem aja?”

“kita di luar aja deh. Agak bosen kalau dalam mall.”

“oke. Yuk.”

Aku mengikutinya dari belakang. Suasana tegang yang aku rasakan sedikit mencair.  Orang ini jarang senyum kayaknya, pikirku. Hal-hal yang sedang bermain di kepalaku saat itu, bagaimana membangun suasana yang hangat dan obrolan yang menarik. Karena kadang, dua orang asing bertemu dan mencoba mengenal satu sama lain secara langsung, buatku butuh effort yang sangat luar biasa. Walaupun pekerjaanku bersinggungan dengan orang berbagai karakter di lapangan, aku sangat memikirkan hal-hal yang cenderung tidak memancing hal-hal awkward. Momen awkward

“Sep, Di sini aja ya, biar kamu nggak kejauhan ambil mobil dari gedung.”

“Boleh”.

Kami akhirnya memilih untuk menikmati roti bakar dekat plaza blok M untuk menghemat waktu.Pilihan yang sangat biasa bagi rakyat jelata sepertiku, namun sosok Satria ini bagaimana? Apakah pantas makan di pinggiran seperti ini? Melihat pembawaannya yang cukup mengesankan ini?. Dua porsi roti bakar dan dua gelas teh hangat manis untuk kami berdua sebagai menu penikmat obrolan kami. Memang ya, takdir kudapan dibuat bukan sekedar penghilang lapar, namun sebagai pelengkap suasana hangat. Kami benar-benar menikmati sajian sederhana ini. Eh, memangnya sudah boleh menggunakan istilah “kami” saat ini?. Calm down, Sep.

Sepertinya hanya aku yang berusaha menghidupkan suasana dalam obrolan ini, dan lawan bicara di depanku ini hanya mengamatiku dengan sorot mata yang tidak bisa aku terka. Mencoba tertarik dengan topik pembahasanku tentang pekerjaanku yang mungkin akan terdengar menjemukan untuk disimak. Seandainya aku bisa dapat memahami sorot mata itu atau mungkin akan aku selami sedalam apa makna sorot mata itu. Dan sorot mata itu juga yang membuat salah tingkah. Sajian roti bakar di hadapanku bahkan hampir tidak dapat aku habiskan dalam waktu singkat. Atau ada kemungkinan lain yang terpapar dalam sorot mata laki-laki ini? Mungkin. Aku hanya pandai berasumsi, seperti sekarang. Berasumsi dalam percakapan bodoh melalui whatsapp bahwa apa yang aku duga memang seharusnya sudah aku sadari jauh sebelum enam bulan berjalan. Tanpa perasaan apapun yang bersemi di hatinya. Mungkin.

“Dan konyolnya, aku terlalu memaksakannya, Sat”

Kalimat ini yang mampu aku sampaikan. Hapus, ketik, hapus, ketik, repeat again. Dalam benakku mengumpat “Kamu bodoh, Sep. Kamu bodoh! Membiarkan akal sehat kamu terjajah oleh keajaiban yang terlalu kamu percayai. Keajaiban yang kamu harapkan terlalu besar. Kamu bodoh, Sep. Bodoh!”

“Jangan menyalahkan diri sendiri gitu, Sep.”

“Sampai ketemu nanti malam ya.”

“Loh bukannya hari Jumat?”

“Malam ini”

“oke. Aku tunggu di tempat pertama kali ketemu”

329_brasil-gay-beach

SATRIA

Jika diijinkan memutar waktu, ijinkan aku kembali ke masa enam bulan yang lalu. Itu saja. Enam bulan ketika tanganku usil mengunduh aplikasi kencan buta. Yang hanya didominasi one-night-love. Pathetic. Untuk butuh teman mengobrol saja, aku harus menyuntikkan aplikasi nggak penting kayak gitu ke deviceku. But the hell, its done. Sekalinya membuat keputusan untuk sekedar menyapa pengguna di aplikasi itu, aku bingung untuk meneruskan obrolan yang terjadi ke arah mana. Apakah berlangsung sekedar obrolan di room chat itu, ataukah berlanjut ke follow up berikut. Getting fuck off. Sorry, for those words. In fact, most of them – the member of users – play that role. Looking for body-fucking. Semua hal-hal yang berbau kesehatan menjadi terpinggirkan. Dan apakah hal ini pantas untuk diterima oleh seorang single seperti aku? I dont think so.

Menyendiri dalam hitungan tahun itu bukan keputusanku. Keadaan yang memaksaku untuk berada di zona itu. Zona yan mengharuskan aku untuk memprioritaskan segala keegoanku, menyenangkan diri sendiri, pergi ke manapun aku pergi tanpa batasan untuk sekedar berlibur atau sekedar menghabiskan beberapa lembar dollar di berbagai negara – Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Maladewa, Shanghai, Jepang – mengejar mimpi-mimpi yang sempat tertimbun di benak sampai akhirnya dapat aku tarik dari timbunan mimpi ke dunia nyata. Sisi positif menjadi lajang – sekalipun di dunia yang tidak dianggap oleh orang timur – nampaknya sangat indah. Tanpa ikatan apapun. Tanpa ada pertanyaan dari orang terdekat bernada khawatir atau sekedar ingin tahu, “lagi di mana?”

Namun, justru waktu mengajarkan hal yang sedang berusaha mengalihkan duniaku. Kembali jatuh cinta. Waktu begitu menggodaku dengan cecaran cara yang beberapa kali aku abaikan. Konsentrasiku tidak boleh tergoyahkan. Sudah cukup jatuh cinta beberapa tahun yang lalu itu berakhir. Jatuh cinta pada sosok yang salah. Aku tidak dapat menjelaskan kenapa jatuh cinta kepada sosok yang aku anggap awalnya “tersedia” buatku dan aku rela melakukan apapun demi bersama dia. Seperti keledai dungu. Namun, keledai ini akhirnya tersadar bahwa cinta sempurna itu tidak pernah ada di dunia nyata. Dan di dunia yang tidak pernah sah di mata orang timur.

Aku pernah membaca kiasan ini, entah di mana. Kiasan atau perumpamaan atau prosa atau hanya sekedar kalimat bijak yang berujar “hidup ini seperti lapangan parkir”, selalu ada mobil yang datang untuk singgah, entah untuk keperluan yang singkat atau untuk singgah cukup lama di sana karena untuk urusan besar. atau bahkan memutuskan untuk tinggal sementara waktu untuk memikirkan ke mana tujuan selanjutnya. dan pada akhirnya semua kendali mobil ada di pengemudinya. akan meninggalkan lapangan parkir lalu berlalu begitu saja. atau akan berencana kembali lagi untuk urusan yang sama.

buat gue, orang yang gue kenal dan menamakan dirinya dengan nama unik, masih aku anggap mobil yang hanya sekedar parkir.

“Sepuluh”

Kesan unik ketika ia mempertegas namanya, walaupun bagiku nama itu terlalu unik buatku. Angka sepuluh? Its means a lot. At least for his parent, right?

Dan yang membuat aku tertarik ketika larut dalam obrolan panjang di kedai roti panggan itu, kumis tipis yang tidak dapat aku tolak keberadaannya. Menambah kharisma yang dimiliki laki-laki ini. Namun, saat ini dan seterusnya, apakah aku masih pantas memuja kharisma yang timbul gara-gara kumis itu? Adakah hak yang masih melekat di sini, di hati yang paling dalam, setidaknya kali terakhir malam ini?

SEPULUH

“Tapi janji ya, kamu menanggapi pembahasan ini tanpa melibatkan emosi negatif?”

Aku bisa apa, Sat. Dari awal menjalin keseriusan dengan kamu, segala daya upaya aku kerahkan. Dan kenapa dengan gampangnya kamu mengatakan hal logika seperti itu? Atau apalah yang menurut prinsipmu itu benar berdasarkan logika. Atau kamu berfikir, hubungan ini selayaknya arena bermain seperti di mall-mall yang suka kamu kunjungi itu?

“saya pulang dari kantor jam 10, karena masih ada beberapa berkas yang harus dibereskan.”

“oke, enggak apa-apa. Saya tunggu di sana.”

Bodoh rasanya. Dibayang- bayangi oleh ketakutan diri sendiri bahwa semua ini akan berakhir terlalu cepat. Aku terlalu membiarkan sisi ketakutanku menjalar ke mana-mana. Ketakutan itu pun berbuah dengan tidak manis. Keputusanku mengirimkan pernyataan “aku sedang berencana mengijinkan kamu sama orang lain.” Seandainya pernyataan ini keluar dari mulutku langsung, mungkin responnya akan berbeda. Namun, pernyataan tadi lepas begitu saja melalui pesan instan digital. Andai saja, ada teknologi yang dapat memutus ketakutanku, saat di mana aku masih berkutat dengan rajinnya. Tentang ketakutan kehilangan orang yang aku cintai.

 

#BukanUntukDijalani #Part3

pexels-photo-405254

Jika rindu datang bertandang, sebaiknya apa yang harus aku lakukan?”. Pertanyaan ini datang sesaat setelah pigura cantik berhiaskan prada perak bermotif ukiran khas Ubud menjadi objek pandanganku, di kala aku sedang berusaha menyelesaikan kewajiban masa laluku. Kadang, ada hutang yang tidak pernah habis untuk dibayar. Hutang budi.

Belenggu pikiran seperti ini, bagaimana cara melepaskannya? Adakah cara lain untuk melepaskan bayang-bayang hutang budi dari pikiranku? Atau cara yang paling sederhana sekalipun?

Dedaunan berhamburan diterbangkan angin sore. Burung-burung telah kembali ke sarang dan bersiap melanjutkan dongeng perjuangan untuk menjadi penerbang ulung di kaumnya kepada para penerusnya yang baru menetas sehari lalu. Senja telah tersemat hingga tenggelam di ufuk barat. Sementara, para penggiat malam mulai terbangun dari lelap tidurnya. Si burung hantu nampak mulai merapikan bulu-bulunya yang halus, mencoba mendendangkan melodi yang berbeda nanti malam. Tentang sunyinya malam ibu kota yang tidak lagi sunyi.

Seharusnya aku tidak memikirkan keputusan beberapa hari yang lalu. Tidak seharusnya. Yang perlu aku mantapkan saat ini adalah apa yang menjadi tujuan dan prioritasku. Karier. Yang perlu aku kuatkan dalam menghadapi hari-hari berikutnya adalah mental dan keyakinanku. Mental harus tetaplah terjaga, bagaimana pun caranya. Dan tentang keyakinanku, bahwa apa yang aku lalui saat ini hanyalah masalah irama dalam hidup. Semua orang mengalaminya, namun memiliki fase yang berbeda. Tetapi dengan inti yang sama. Inti dari hidup memberi warna atau diwarnai. Hidup ini seperti bentangan kanvas putih polos. Bidang ini akan terhiasi oleh baragam warna yang kita mau, anek pola dan motif atau gradasi yang kita kehendaki. Asalkan jodoh dan nasib memberi izin dan kuasa dalam memilih kuas dan warna yang cocok terpoles di atas kanvas itu.

Sudah hampir tiga puluh menit yang lalu aku di sini, menghabiskan segelas green tea latte ukuran grande, semangkuk mie rebus buatan Kang Jodi dan beberapa pemberitahuan panggilan terabaikan.

“Kita pernah membahagiakan satu sama lain. Saling menyakiti pun pernah, lalu inti dari pemikiran kamu apa, Sat?”

Percakapan ini seharusnya tidak pernah terjadi dalam platform messengger manapun. Sungguh.

Aku dapat membayangkan bagaimana sorot mata yang meminta penjelasan detil dariku. Senyum di wajahku membentang ala kadarnya.

“sebelum aku menjawab, jawab dulu pertanyaanku, boleh?”

“apa?”

“tadi pagi dan menjelang makan siang ini, kamu sudah cukup makan?”

“sudah, dua kali malah. Lalu?”

“:)”

“lalu?”

Aku berhenti mengirimkan simbol senyum itu. Aku harus benar-benar memilih dan memilah kata-kata uag seharusnya disampaikan dalam percakapan ini. Sedikit saja ada keliru, maka runyam selamanya. Menyampaikan isi pikiran secara singkat dalam aplikasi itu tidak mudah. Seperti membuat sebuah prosa yang harus disetorkan kepada guru bahasa Indonesia. Guru yang sedang aku hadapi saat ini adalah beliau. Beliau yang memintaku untuk membuat sebuah prosa. Prosa penjelasan tentang bagaimana kelanjutan hidup kami masing-masing.

“Aku harap semuanya baik-baik saja, Sep. Kita pernah diskusi ini sebelumnya kan? Masih inget kan?”

“iya…”

“Bagian mana yang paling kamu inget, Sep?”

“Udah deh, Sat, jangan bertele-tele. Fokus sama apa yang kamu mau sampaikan. Waktuku sedikit.”

“Tapi janji ya, kamu menanggapi pembahasan ini tanpa melibatkan emosi negatif?”

“Iya, janji”

“Aku mikirin omongan kamu lusa kemarin mengenai keputusan tidak langsung kamu tentang peluang yang baik menurut kamu dan mengasumsikan peluang ini juga sangat baik buat aku.”

“Keep going, Sat.”

“setelah kamu melontarkan pernyataan itu, aku nggak ambil pusing awalnya. Aku mengira, itu kondisi kamu sedang butuh untuk diperhatikan. Tetapi setelah itu, aku coba mencerna sekali lagi pernyataan kamu, berkali-kali. Kamu pun pasti merenung juga sebelum mengajukan pernyataan ini ke aku, kan, Sep?”

Merangkai kalimat ini tidak semudah jika disampaikan secara langsung, secara verbal. Semoga pilihan kata-kata tadi tidak begitu tajam. Dan semoga logika kamu jalan ya, Sep.

“Jadi, kesimpulan kamu apa? Dan ending dari semua ini gimana, Sat?”

Good Move, Sep. Tetap demikian ya.

“Pemikiran aku dan kamu pada dasarnya sama. Kita sama-sama punya hidup masing-masing, termasuk ritmenya Cepat, sedang atau perlahan. Dan kita dipertemukan dalam sebuah wadah yang justru membuat kita dapat mengenal satu sama lain.”

“Dan konyolnya, aku terlalu memaksakannya, Sat.”

 

#NEWYORK #MeetYou #ASAP

city-road-street-buildings res

Selamat pagi, Senin 2 Mei 2016. Greeting tidak biasa dari gue. Setelah sekian lama menganggur menulis di media ini. Alasannya? terlalu banyak alasan yang telah gue buat dan akan berakhir basi juga nantinya. Iya kan?

Sudah Bulan Mei, apa yang udah elo lakuin, Damar?

Pertanyaan ini terus mengiang-ngiang di benak gue. Sama halnya bulan-bulan sebelumnya. Atau bahkan di awal Tahun 2016, ketika sunrise pertama di hari pertama bulan Januari, pertanyaan yang menyapa adalah “Hayo, resolusi elo tahun ini apa aja, Dam?”. Mbok ya sopan dikit gitu ya, ketok pintu dulu kek. Duduk, minum dan rehat bentar.Masih pagi sudah ditodong sama pertanyaan yang enggak bisa dijawan dengan spontan. Dan satu pertanyaan belum terjawab, muncul pertanyaan berikutnya “Tahun ini jangan kebanyakan wacana ya, Dam?!”. Voice Over di kepala gue minta dikeplak pakek martil kayaknya.

Bulan Januari berakhir, Voice Over di kepala gue bertanya, “Sudah ngapain aja sebulanan ini, Damar Adhi Sanjaya?”. Gue sendiri diem dengan pertanyaan yang datang dari diri sendiri. jawaban untuk berkilah “Udah banyak dong. Jalan-jalan, ngegym, nonton dan banyak lagi.”.

“Thats not the point, Dude!” secara visual, kalau gue diomelin begini, yang gue lakuin adalah ngeloyor pergi dari si tukang ngomel.

Bulan Februari, si Voice Over datang lagi dengan pertanyaan yang berbeda tetapi maksudnya sama “Step berikutnya mau ngapain, Dam?”. Intonasi suara pertanyaan ini biasa aja, tapi agak jleb juga.

Bulan Maret, si Voice Over notice “Jangan kebanyakan keinginan kalau eksekusi mini, Dam!”

Bulan April, si Voice Over berkacak pinggang – eaaa berkacak pinggang, anggap aja begitu ya. yang bersangkutan sudah kehilangan akal gimana menasehati gue yang agak badung ini – “Mau sampai kapan elo begini, Dam?”.

Pertanyaan terakhir membuat gue termenung. Dalem banget. Pertanyaan ini merujuk ke segala aspek. Musti jawab gimana ya?

foto di atas, sebelum gue berceloteh dengan voice over di kepala gue sendiri,adalah salah satu view kota New York. Sebelahan sama Jonggol. zzzz. Yang jelas, untuk melihat langsung kota ini, dibutuhkan waktu penerbangan sekitar 23 jam. New York menjadi landscape yang selalu masuk dalam film-film Hollywood, kayak Sex and City misalnya. “Orang-orang datang ke New York dengan dua asalan, Cinta dan Labels”. Jangan ditanya kalimat versi inggrisnya, gue lupa. LOL.

Tapi, buat gue, kedatangan gue nanti ke New York adalah ingin menikmati suasana Central park yang termasyur itu. Mari bermain visual, gue yang semakin matang di umur 33, badan tegap muscle padat berisi, pakai setelan kemeja putih, celana  bahan warna abu-abu glossy, sepatu vantofel – bener ya nulisnya? – pakai kacamata hitam, di tangan kanan pegang hot chocolate ukuran grande starbucks, duduk di taman menikmati musim semi di Central Park.

pexels-photo-27031i

Semakin jatuh cinta sama New York, apalagi semenjak Penulis favorit gue, Ika Natassa menuturkan cerita mengenai kota ini dalam The Architecture Of Love. Gue makin tergerak untuk segera ke sana. Tujuan gue, Central Park.

Tetapi, Voice Over di kepala gue malah nyeletuk gini, “Cieh yang mau ke New York, tapi sekedar wacana doang, minim usaha.

ada satu kalimat sederhana yang membuat gue harus mengupayakan segera mimpi ini, “Stop made of stories and excuses. Kerja keras segera mungkin!”. Kalimat ini datang dari seseorang yang sudah berumur 35 tahun. Berpenampilan lebih mature dan berkecukupan materi.

Dia adalah Damar Adhi Sanjaya.