The next one…(scene novel @danuatmdja)

Kenapa gue masih betah mengulas memori demi memori yang berbekas di benak gue tentang dokter hati gue ini. wait, dokter hati? yeah, boleh dibilang dia merangkap dokter hati gue. Mempunyai tubuh cukup atletis – dan belakangan ini semakin kencang saja otot-otot di sekujur badannya – adalah hal kesekian yang membuat gue menjatuhkan pilihan ke dia. Dokter yang penuh kharismatik dan sangat susah untuk ditaklukkan. Gue membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memenangkan hatinya. Kalau diceritakan, kalian semua akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mencernanya. Well, buat gue juga. Kalau menceritakan bagaimana awal mula bagaimana akhirnya si dokter mengiyakan ajakan gue sebagai pacar, kalian akan merasa boring dan cenderung terlalu imajinatif. Tetapi, kenyataannya memang hal itu terjadi di antara kami. Bagaimana gue memulai cerita ini?

Menceritakan kembali bagaimana hubungan ini sejatinya sangat-sangat membutuhkan waktu yang senggang, mood yang stabil dan tidak ada hal-hal sepele yang mengalihkan – gue lebih prefer menceritakannya di ruangan khusus, seperti pantry dan berhadapan dengan secangkir besar cokelat hangat – yang nantinya sangat menganggu konsentrasi gue dalam menjabarkan memori yang terlalu indah untuk dibakar. Seandainya memori ini berbentuk tumpukan berkas, sama seperti yang gue hadapi saat ini, maka alat pencacah kertas akan gue gunakan untuk menghancurkannya.

Ternyata gue enggak bisa melakukannya. Membakar kenangan yang melekat dalam memori otak itu sama beresikonya dengan membakar berkas kerjaan yang ada di depan gue saat ini. Dua-duanya mempunya effect domino yang sangat berpengaruh signifikan.

Pertama, seandainya gue membakar berkas kerjaan ini, otomatis gue akan dipanggil sama bos gue, dan esok hari dipastikan status gue bukan banker, melainkan unemployeer. Dan kalau gue membakar otak gue sendiri demi membakar memori kenangan bersama J, otomatis gue mati. Tamat.

Kedua, track record gue sebagai banker yang sangat dipertimbangkan dari sisi attitude dan prestasi kerja, akan sangat mempengaruhi dalam pertimbangan HRD di kantor lain, hanya karena aksi bodoh gue membakar berkas kerjaan penting. Memang, hanya sebuah kertas saja, tetapi nilai yang tertera di kertas itu setara dengan alphard keluaran terbaru sebanyak 20 unit?. Kalau pun gue selamat dari aksi pembakaran otak gue sendiri, trus bagaimana gue menata hidup dari awal? semua kuncinya ada di otak. Semua nalar ada di sana. Hot key semua ada di sana.

Ketiga, gue mulai stress membandingkan dua hal tadi untuk menjelaskan bagaimana nilai yang terkandung dari hubungan gue dan J.

Dan yang pasti, saat ini, gue tengah menunggu ajakan yang bersangkutan untuk dinner bareng. Walaupun kemarin, kemarin sebelumnya dan tempo lalu yang sebelumnya, sudah pernah gue ajukan dan kebanyakan ditolak karena alasan “Maaf Dan, aku ada acara sama temen-temen kantor” or “Aku lagi meeting sama dokter lain” atau “Aku lagi capek, barusan pasiennya banyak.” Gue bisa apa dengan alasan seperti tadi? Cuman mengangguk, dan jelas dia enggak bisa liat anggukan gue, karena via sambungan suara. Semoga kali ini, gue mendapatkan jawaban yang gue harapkan. He said yes for my dinner. Just and only two of us. I miss you already, J.

Iklan

3 pemikiran pada “The next one…(scene novel @danuatmdja)

  1. Semoga sehat selalu di,,,, sukses terus menempuh karir,,,,

    Inget jak awak di,,, be sukses jeg engsap….

  2. Menurut aku nih ya gak banyak yg buat novel bertema ngg ‘lovewinds’ . Karena problematika itu emg udh banyak di kalangan masyarakat skrg. Two thumbs up buat kak @danuatmdja 👍👍 yg berani bikin novel begini :9 twitter aku @ApertaPuteri btw kak wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s