Meneruskan apa yang seharusnya aku lanjutkan…

Judulnya agak sedikit (sok) bijak ya?

Well, setidaknya tumpukan berkas di depanku kali ini memang sangat mengganggu. Semakin mengganggu ketenanganku ketika atasanku berkata “Tolong berkas-berkas ini kamu analisa ya, besok pagi kita bahas.” Begitulah titah Sang Manager yang berlalu sejam yang lalu, dan meninggalkan gue sendirian di ruangan ini.

Sementara itu, gue harus mencari tahu ke arah pantry, mencari sisa-sisa kehidupan hari ini, adakah OB yang piket? Semoga masih ada. Dan gue butuh beberapa kafein untuk mengganjal mata yang sudah mulai mengatup. Gue addict racikan kafein buatan Bang Idam, OB yang selalu enerjik sepanjang waktu. Seandainya gue memiliki semangat yang sama.

Yang ada dalam pikiran gue saat ini begitu banyak. Prosentase hal yang berlalu lalang dalam pikiran gue itu terdiri dari :

  • Lapar 4%, mengingat-ngingat siang tadi, gue telah melahap dengan begitu rakusnya red velvet kiriman nasabah yang seharusnya enggak gue terima. well, as usual, klausa gratifikasi sedang gencar-gencarnya digalakkan. But who care, namanya pemberian, kenapa harus ditolak?
  • Capek 15%, sedari jam 8 pagi tadi, gue telah melahap meeting demi meeting yang sangat menjemukan. Membutuhkan perhatian khusus – konon katanya – dan pekerjaan gue merangkap sebagai notulen di setiap meeting. Masih mau jabatan gue? Yang mengarungi dan berlayar dalam lautan waktu, dari satu meeting ke meeting yang lain? Make sure your wises.
  • Antusias 10%, mengingat promo yang gue terima melalui milist bulanan yang begitu menggoda. Pasalnya, jam tangan yang sudah lama gue incer, kini sedang didiskon. Dan gue enggak sabar untuk melenggangkan kredit card gue.
  • Horny 6%, yes i do. Gue kepikiran untuk melakukannya dengan teman sekantor yang adorable banget, tapi hal itu tidak mungkin gue lakukan. Karena teman sekantor yang gue maksud adalah atasan gue sendiri.
  • Sisa dari pie prosentase, adalah kebingungan untuk mengalihkan semua kegelisahan gue yang akan gue hadapi sebentar lagi. Membolak-balikkan kalender setiap kesempatan di jam makan siang gue, bahkan sesekali dalam kesempatan meeting, melihat bulan yang sangat angker buat gue. 9 Agustus semuanya akan berakhir.

Dan gue masih di sini, meramu dan meracik prosentase-prosentase feelign tadi untuk menyelesaikan tugas gue yang seharusnya bisa dikerjakan esok hari. Yang gue tahu, kesabaran gue diuji. Sangat diuji. Menunggu Tiramisu Frappucino juga termasuk ujian kesabaran bukan?

*Scene dari novel Danu Atmadja Siregar*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s