Hello 2015

I’m glad to say happy new year.

Quick recap last year :

Banyak menunda, banyak ngeluh, banyak alasan, dan kurang ngantur waktu.

Engga perlu disela sih urusan begini, yang jadi penanggung jawabnya ya gue sendiri. Nyesel? Enggak, cuman sedikit menyayangkan aja. Enggak boleh lengah lagi sama kesempatan apapun yang ada di depan mata. Gue cenderung menyukai hal yang simpel untuk 2015, yakni bercerita.

Menceritakan topik yang belum tentu orang lain mau mendengarkan. Mengubah skeptis diri sendiri, secara perlahan mengirim pesan dan maksud dalam cerita yang gue uraikan, tentang hal hal yang bisa kendalikan dan dialihkan.

Udahan dulu, mata gue mulai mengatup, see you later.

Iklan

#Menuju2015 #EVALUASI #Desember2014

selamat pagi jakarta, sudirman dan sekitarnya. seperti biasa…kemacetan yang berusaha berdamai dengan diri gue sendiri. #apadeh

postingan ini ditulis pada tanggal 29 Desember 2014, 10.12 AM. Sekian. Kalau nanti postingannnya agak telat, dipermaklumkan aja ya. hehehe.

4 bulan menghilang di blog sendiri feel guilty-nya gede banget ya. Sejatinya engga ngilang-ngilang banget kok. Lagi coba benerin jadwal yang carut marut. hehehe. mulai beralibi lagi gue.

anyway, 2015 sebentar lagi. Pencapaian tahun 2014 lumayan. Dan pencapaian yang belum tersentuh banyak juga, 2015 means more hard work. Engga perlu disesali apa yang udah lewat – seharusnya engga dilalui malah dengan bengalnya ngotot pengen dilewati, HUMAN! – 2015 diperbaiki lagi tanpa alasan. I mean, jangan ada alasan yang mengada-ada, yang bikin melenceng dari track menuju target.

Teguran tebesar tahun 2014 adalah masuk Rumah Sakit karena gejala tipes, dan nistanya selama dirawat di RS, cuman sendirian aja. Persis seperti apa yang gue bayangin selama ini. Selama ini apa-apa sendiri, “kabur” ke ibu kota sendirian dengan mengambil tanggung jawab berlipat kepada diri sendiri. Mimpi dan kesehatan diri sendiri. Sendirian terbaring di ranjang RS – ya meskipun teman-teman kuliah atau kantor gue dateng, tapi sama aja engga ada yang nemenin gitu di RS – sempat menangis karena merasa kesepian. off the record aja, sengaja gue ngubungin temen beda angkatan selama kuliah dulu – Sintia batch 2 – gue minta dia nelpon gue (eh kebalik, gue yang nelpon kayaknya ya LOL) – dan dia dong yang dengerin secara langsung sesenggukannya gue, nasehat usang dengan dua kata “sabar ya” ikut serta menenangkan gue. Walau sebenernya, udah bosen dinasehatin dengan dua kata itu. “Sabar ya” *lelah*

Kata orang bijak di luar sana, elo akan berpikir secara jernih ketika elo terbaring sakit. Nah gue ngalamin yang begitu ternyata. Mungkin kedengarannya agak drama, tapi bener-bener moment itu gue nangis untuk banyak hal. Gue mengeluh dalam tangisan yang fals itu, dalam hati ingin teriak sekencang-kencangnya. Cuman bisa dilakuin dalam hati, kalau teriak di RS, bisa-bisa gue_nya dong yang diusir dari sana. hehe.

Well, long story. Intinya setelah makin ke sini, gue makin sadar. Sadar bahwa enggak selamanya gue bisa hidup sendiri. Gue perlu teman. Teman bobo, teman dengerin curhatan gue, temen pijet, temen satu rumah, selamanya. Gue engga suggesting mau cepet-cepet merried, handle mood diri sendiri aja masih awut-awutan. Tapi mulai berpikir bahwa gue perlu untuk berbenah lebih baik lagi, menuju tingkatan hidup dalam ajaran agama gue, Grehasta.

Udah dulu, kerjaan gue banyak. Blog you later.