#4months #remaining (part 3)

Jakarta petang ini diwarnai oleh pencaran mentari diufuk barat sedikit meredup dari biasanya. Terhalang oleh gerombolan awan hitam pekat, bukan pertanda hujan, hanya saja pawai abu-abu itu mencoba menggoda kemilau pencaran agung sang senja.

Ngga akan romantis kalo gue hanya terduduk sendirian saat ini menikmati kudapan murah jalanan yang dibanderol goceng untuk 3 item potongan mengenyangkan untuk perut gue, sembari menunggu kehadiran balok besi tua beroda empat tiba di hadapan gue. Masing-masing 1 pcs, tahu isi, pisang goreng dan ubi ģoreng.

Kalian masih ingat dengan sesi cerita yang pernah gue sampaikan di postingan sebelumnya? Kali ini, perkenankan gue melanjutkan sedikit beban pundak yang gue jabarkan melalui rangkaian kalimat, yang satir dan cukup untuk dipahami.

Cerita tentang personal loan yang gue ajukan sendiri demi melabuhkan diri ke ibu kota ini, terjadi begitu saja selepas keputusan gue untuk resign dari kantor penyelia jasa telekomunikasi terbesar di negara ini. Untuk memulai fase baru, gue membutuhkan kucuran dana yang terhitung cukup besar buat gue. Dengan melihat peluang dari profesi kakak semata wayang, yang kebtulan memberikan fasilitas kredit dari kantornya maka gue pun mengajukan angka kredit yang ckup lumayan, seenggaknya bisa membantu target kakak gue achieve bulan itu. Long story by the way, i will skip, then balik ke proses mendapati gue akhirnya menjadi seorang banker dengan status pekerja outsource.

Doa dari seorang wanita yang menikmati masa-masa senja pun terlafal tiap hari, sesekali beliau menanyakan hal yang sama,”sube ngajeng dek?”. Gue membayangkan wajah bergurat khawatir dari seorang yang telah melahirkan gue menanyakan hal yang sederhana, apakah gue sudah makan atau belum. Gue sempat mengiyakan, mengangguk pelan seolah beliau melihatnya, namun kenyataannya, untuk mendekati kenyang pun gue berbohong putih. (Konon katanya berbohong itu ada dua jenis, bohong putih dan hitam. Putih dengan tujuan baik dan hitam untuk kepentingan sendiri, walaupun hanya berbeda tujuannya, tetap saja ada embel-embel bohongnya.)

Sampai akhirnya, doa-doa yang terpanjat setiap hari tanpa lelah, tibalah rejeki yang terjamah oleh tangan Tuhan itu, diberikan ke gue. 3 minggu sebelum masa percobaan gue terlewati di anak perusahaan broker tempat gue bekerja – lebih tepatnya direlokasi karena divisi atau team gue dibubarkan karena alasan klasik, efisiensi biaya operasional – maka terjadilah tebang pilih untuk penempatan posisi baru. Gue mendapatkan tawaran posisi baru sebagai programmer dengan gaji 2,2juta, lagi lagi dengan alasan masa percobaan. Dan kantornya berlokasi di tanjung duren. You know, apa yang terlintas dalam pemikiran saat ditawarkan posisi prestisius dengan gaji demikian? What the hell, wanna shouting very loud and giant, random words like big F.

Gue mengiyakan penawaran demi bertahan 1 bulan untuk kesempatan berikutnya. Maksudnya,deadline gue untuk dapetin job baru tinggal sebulan lagi, karena gue udah tau banget ending dari posisi atau bahasa kerennya adalah jabatan sebagai programmer ini cuman sebagai jabatan untuk gaji buta gue selama sebulan. Jujur saja, apa yang gue kerjain selama sebulan itu adalah benar-benar paham dengan alur bahasa pemrograman. Gue harua membedah dan modifikasi sistem yang udah ada. Kalau sudah begini, gue ngerjainnya setengah hati. Entahlah.

Selama sebulan itupula, dengan jam istirahat yang panjang, gue memanfaatkan waktu itu untuk windows shopping. Bukan untuk hunting baju-baju idaman yang akan menghuni lemari baju gue, melainkan penawaran posisi dengan gaji yang lebih masuk akal. Dan seperti yang gue bilang, penantian 3 bulan dari agen penyalur tenaga kerja outsource,  menghubungi secara personal ke gue by phone.

Me : selamat siang?
She : (obrolan pembuka seorang hrd yang antusias terhadap calon pekerja, gue skip)
She : mas udah kerja?
Me : kebetulan belom mbak
She : sudah pernah test sblmnya kan?
Me : sudah mbak, 23 agustus lalu.
She : lumayan juga ya. Oke gini mas, aku ada posisi buat mas, tapi gajinya umr mas, belom termasuk uang makan.
Me : boleh mbak, kerja dibidang apa itu?
She : (dia menjelaskan tentang posisi yang dicari oleh bank bumn ini, dan kriteria gue masuk berdasarkan cv yang gue lampirkan)
Me : kapan saya ke sana mbak?
She : senin minggu depan bisa mas?
Me : oke mbak
She : oke nanti saya sms picnya siapa ya. Trima kasih mas, semoga sukses, selamat aiang.

Setelah obrolan via telepon itu, sunggingan kecil terbit diwajah gue. I’ll tell you next time, jemputan umum gue udah lewat, gue milih naik transjakarta. Are you ready being sarden people on old bus?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s