Unek-unek sekedar unek unek

Sudah bulan juni aja. Udah dì bulan ke enam, apa yang udah gue lakuin selama 5 bulan kebelakang? Sepertinya belom ada apa-apanya. Masih berkutat sama bisnis yang tengah dirintis. Sementara hobby menulis masih terbengkalai. Damn!!!! Project buku ke tiga belum kelar juga. Gusti!!!

Lupakan sejenak. Ada yang keliru dengan gue beberapa hari belakangan. Gue masih mencari tau apa itu yang salah. Gue breakdown aja kali ya.

Yang pertama, gaya hidup.
Gue evaluasi aja. Selama ini dirantauan emg gaya hidup gue midle low, krena gue sadar mengikuti gaya hidup perkotaan sekelas jakarta, gue bakalan ambruk dlm itungan hari. Ambruk dri sisi cash flow. Boleh dibilang untuk urusan makanan misalnya, sangat sangat ngepress banget. Bayangin ajalah, buat makan sehari cuman 15rb, maksimal tnpa jajan. Sekalipun ud keras sama diri sendiri, tetep aja kecolongan. Ada aja alibi buat ngikutin keinginan. Zzzz.

Yang kedua, pergaulan.
Secara pribadi, gue bukan tipe orang yang gampang bergaul begitu saja. Kebawa sama kebiasaan gue yang malu-malu gitu buat memulai obrolan. Masih membekas sih jejak introvert terdahulu. Padahal sebenernya kalo ditilik lebih jauh, sangat-sangat tidak baik kalo gue terus-terusan menyendiri. Gue perlu bersosialisasi, minimal punya teman. Sejauh ini teman kuliah yang bisa gue andelin di kota jekardah ini. Belum semua sih yang bisa gue andelin sebagai closed friend. Bagi gue closed friend disini ngga serta merta temen doang, gue punya standard yang tinggi untuk urusan yang satu ini. Minimal dia tau kepribadian gue yang ganda ini.

Beberapa bulan belakangan, memang ada beberapa orang yang tengah gue dekati. Gue berusaha membuka diri, menerima kesempatan-kesempatan yang datang menghampiri. Toh, dengan membuka diri, gue bisa mendapatkan hal-hal baru yang sebelumnya gue tolak, dalam hal ini bergaul.

Dalam urusan pacar? Gue masih ragu dalam melangkah. Enggan untuk memulai. Dan enggan untuk melanjutkan hidup dengan kesendirian, dan sampai sekarang masih seperti itu. Ada ganjalan yang masih belum sempurna buat dilepas-landaskan. Ibarat kapal yang tengah berlabuh didermaga tanpa penghuni, gue itu masih mengaitkan tali pengaman pada tiang pancang salah satu dermaga, gue sebut tiang pancang ini sebagai zona aman dan nyaman. Aman dan nyaman dengan kesendirian tanpa merasa perlu tersakiti.

Yang ketiga, dream.

point yang ketiga ini adalah hak setiap orang. Bermimpi. Kata orang tua dulu, bermimpilah setinggi langit, segede-gedenya. Kalo mau, bermimpilah sampai orang lain enggan menakar beratnya mimpi yang lo punya. Sepanjang bermimpi itu gratis, lakukanlah. Gue sudah melakukan banyak hal dalam mimpi, beberapa sudah dibuat menjadi nyata, karena itulah hak gue. Ngga ada satu orang pun berhak menghalanginya. Dan di kota besar ini, gue masih punya tumpukan mimpi yang harus gue prioritaskan, AWARD.

Dari ketiga point diatas, mungkin ada pengaruh dengan apa yang gue lakukan sejauh ini? Kalo iya, gue akan perbaiki. Gue udah terlalu banyak berjanji kepada diri sendiri dan orang tua yang sudah mulai renta. Kesempatan demi kesempatan sudah gue ambil, dan hasilnya? Belum keliatan memang, but someday gue harap akan keliatan sedikit demi sedikit.

 

 

 

Iklan