#Just #Begin #Hardwork #For #More #Achieve

Awal tahun ini sebenarnya udah gue lalui dengan sedikit resolusi. Hidup sehat, mengurangi hal-hal yang engga penting. Contohnya, berBBM ria after office hour biasanya memakan waktu sampe 2 jam, sekarang udah engga lagi. Bukan engga lagi, boleh dibilang mengurangi kegiatan bersosial media semacam itu. Recent Update engga gue aktifin, karena justru itu jadi bikin gue kepo dengan status update yang didominasi oleh keluhan-keluhan yang memancing energi negatif dalam diri gue.

Padahal ya, keputusan sepele kayak gini emang rada susah. Biasanya udah getol banget kalo engga update status, tapi gue ngga pengen hal ini jadi sesuatu hal keharusan. Dan efeknya dari aktivitas “silent-user” yang gue terapin, cukup memberikan dampak yang signifikan. Gue bisa memaksimalkan apa yang seharusnya gue kerjakan. 1 hari begitu terasa bermanfaat dan 24 jam yang tersedia buat gue setiap harinya engga terlewat begitu saja. Dan efek berikutnya adalah, beberapa teman sempat tanya : kok engga pernah say hello atau kok ngga pernah ada kabarnya sih atau yang paling parah adalah “songong ya ngga pernah bbm”.

Ngga ada keharusan gue merespon hal itu. Semua alasan yang gue terima dan bentuk protes dari teman, engga begitu gue ambil pusing. Sudah terlihat jelas dari status yang gue pasang di profil messenger “BUSY”. Sudah cukup merepresentasikan kalo waktu gue emang ngga begitu banyak waktu untuk sekedar chat, terutama di jam kantor. Dalam artian gue ngga bisa membalas pesan yang masuk secara cepat dari biasanya. Paling banter, gue balas pesan itu paling cepat 1 jam setelah pesan itu masuk. Dan paling lama dibalas setelah pulang kantor.

Tahun lalu boleh dibilang bukan tahun keberuntungan gue dalam memulai karir di Ibu kota, tapi sebagai tahun yang sarat pembelajaran. Pembelajaran gimana rasanya kecopet untuk pertama kalinya. Gimana rasanya dimain-mainin sama perusahaan yang lagi cari orang buat dijadiin marketing hanya sekedar mengejar margin. Gimana rasanya jadi pengangguran yang bener-bener mengadu peluang pekerjaan yang ada. Paitnya keadaan yang harus gue terima ketika teman-teman sejawatan gue udah keterima kerja dan mendapatkan gaji yang bikin gue ngiri. Semua yang gue lalui tahun lalu itu engga gampang. Tapi gue nikmati prosesnya. Termasuk gimana rasanya jatuh dari metromini dengan kecepatan yang cukup kencang, hanya demi sebuah tempat yang masih belum gue ketahui untuk wawancara kerja.

Tahun lalu juga pernuh semangat kemilau kasih sayang, meski singkat. Gue lupa hitungan berapa bulan yang gue nikmati dengan seseorang yang gue suka dan pertahankan. Gue berharap lebih terhadap sosok ini tetapi dia sendiri yang memilih mundur dalam pusara hubungan yang penuh dengan ujian ini. Sudah menjadi resiko sendiri kalo seandainya memilih untuk menjalani sebuat ritme hubungan yang terpaut jarak yang cukup jauh disertai waktu yang begitu sangat minim, dan untuk bertemu raga saja perlu persiapan yang cukup matang dari segi finansial. Ada harga yang pantas dibalik sebuah komitmen LDR.

Gue mengalami kekecewaan ketika dia memutuskan menyudahi apa yang ia minta diawal komitmen. Gue inget banget gimana “kepo”-nya dia tentang perasaan gue ke dia sendiri, apakah hanya sekedar PHP ato beneran naksir dan suka? Gue jawab dengan sejujurnya. Dan hari itu adalah moment yang paling engga bisa gue lupain.

Perjumpaan Awal Tahun

 

Setelah percobaan untuk memaafkan diri sendiri dan memberikan kesempatan ke gue sendiri untuk merasakan jatuh cinta yang ternyata tidak berhasil lagi, keadaan itu memaksa gue berada pada satu titik. Gue merasa lebih nyaman dengan menyendiri. I Love my self a lot and more. Hanya gue yang memahami diri sendiri, apa yang gue mau dan apa yang pantas gue dapatkan dari kerja keras yang udah gue upayakan.

Apa yang ingin gue sampaikan ditulisan ini? Perubahan yang mendasar dalam kehidupan sehari-hari, karena gue pengen 2014 ini engga berlalu sia-sia. Banyak wish-list yang ngga kewujud ditahun kemarin. Gue pengen apa yang gue tulis diatas kertas bekas dimalam pergantian tahun kemarin, bisa gue wujudin dialam nyata. Bagian ini tidak akan berakhir dengan menyedihkan, karena penentu ending setiap perjuangan hidup hanya gue yang bisa tentuin. Gue pengen endingnya indah dan dipenuhi dengan achievement.

 

 

Iklan