Teruskanlah…

 

lonely

Kamu masih inget kan gimana awal komitmen kita diawal? Terasa manis. Aku masih ingat bagaimana kamu menawarkan ketulusan yang kamu sodorkan melalui rangkaian kata-kata puitis itu.

Kamu bilang “Aku mau menerima kamu apa adanya, bukan karena ada apanya. Aku udah siap menerima kamu seutuhnya.”

Aku tidak bisa menolak permintaan tulus seperti ini. Aku hanya mendengarkan kata hati, yang berujar, katakan iya pada orang ini. Ia sudah menerimamu seutuhnya, kamu tidak akan menemukan pribadi seperti ini. Sampai kapan pun kau mencari seseorang yang kamu inginkan, itu hanya ada dalam lingkar bayang-bayang mimpimu. Kamu harus kembali ke dunia nyata, menghadapi hal yang ada dan buka bayang semu semata.

Aku engga bisa ngomong banyak selain ini. “terima kasih penawaranmu. Aku ikhlas menjalani apa yang aku dapati sekarang. Dan kamu datang menawarkan kehangatan yang dulu pernah aku rindukan. Kamu mencoba untuk mencairkan dinginnya kesendirian yang sudah aku jalani hampir lima tahun ini.”

Kamu terdiam sebentar. Mencoba mencari sisi lain yang coba kamu terka, dari sorot mata kita yang saat itu saling memandang. Mencari pembenaran satu sama lain. Aku mencari pembenaran, benarkah sosok dihadapanku ini menawarkan ketulusan sejati? Dan kau mencari pembenaran dariku, maukah aku menerima penawaran tulus dari hatimu itu.

Aku katakan “Kamu berjanji dengan kata-katamu. Dan aku siap untuk menerima kamu. Terima kasih telah datang dalam lingkar kehidupanku. Tolong semaikan kehangatan dalam hubungan ini. Aku sudah tidak tahu bagaimana rasanya keindahan dari cinta itu sendiri. Aku telah lama menghuni gua kesendirian yang dipenuhi oleh kekelaman dan dingin yang menyayat.”

Senyum merekah diwajahmu itu. Aku pun merasakan desir damai yang sempat aku rindukan. Aku tidak salah memilih untuk kondisi ini. Aku akan beranjak dari tanah sepi dan gersang tidak berpenghuni dengan hingar bingar keramaian. Kamu mendekatiku, aku pun sama. Sama seperti langkah besarku untuk berpindah ke hulu kedamaian yang sebenarnya. Dan kita pun berpagut mesra, mengalahkan romantisme rembulan yang kala itu menebar cahaya keanggunan ke hamparan lautan gemintang. Malam itu sunyi, namun semarak dengan dawai semi dari jangkrik yang sahut menyahut merayakan kemenangan kamu, memenangkan hatiku.

Awal hubungan ini, sudah bisa aku tebak. Racun yang sudah kita teguk, bereaksi dengan sangat tidak normal. Kebiasaanku setiap pagi yang begitu biasa saja, sekarang berubah lebih dari dinamis. Aku mempunyai alasan untuk melakukan “Morning call”. Kegiatan yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku selalu bangun tepat pukul 05.12. Meraih ponselku, melirik deretan kontak telepon, lalu menghubungi nama yang tertera dalam daftar istimewaku saat ini. Cinta, begitu aku menyebut daftar itu. Sekiranya itu berlebihan, aku tidak merisaukannya.

Kata pertama ketika kau menjawab panggilanku,adalah kata yang umum, namun sangat mengena bagi yang dimabuk candu cinta ini. Sayang. Aku belajar untuk mengatakannya. Kau berikan kesempatan kepadaku untuk mengatakan kata ini. Karena kau mengharapkan aku, mengatakan ini, disetiap awal perjumpaan kata, di setiap ujung percakapan kita.

Sejalan beriringnya waktu, keindahan dalam hubungan ini seperti diterkam oleh badai yang tidak dapat diprediksi kekuatannya. Badai ini cukup amibigu. Aku ragu untuk mengayuh bersama dalam bahtera ini. Tapi melihat kau sebagai pemegang kendali, aku percayakan padamu, meski tersisa gurat kekhawatiran dalam benakku.

Aku memiliki hal nyata yang harus kujalankan. Begitu juga kau, sayangku. Kau dan aku masing-masing memiliki kewajiban yang sama di dunia ini. Menjalankan karma yang harus diselesaikan. Tidak lebih dari kewajiban seorang manusia yang dilahirkan ke bumi karena tugas kehidupan pada masa lalu. Kita beranjak dari alam sana, diutus kembali menjelma dan bereinkarnasi sebagai manusia dan phala sebagai bekal kita untuk menyelesaikan episode kehidupan yang akan kita selesaikan.

Kadang, ego yang menyertai pribadi masing-masing, mencoba mengoyak hubungan ini. Pelan tapi pasti, hubungan ini akan menjadi cacat dan tidak akan bisa dipertahankan kalau salah satu mempertahankan ego-nya. Aku sadar itu. Karena cinta bukan semata manis belaka, pahit pun akan aku cecap. Harmonisasi rasa yang lain pun turut hadir nantinya, tergantung bagaimana kita menjalani dan cobaan mencoba mengoyak hubungan kita ini.

Suatu ketika, ada saat kamu larut dalam duniamu. Perhatianmu terbagi. Akulah menjadi alasan untuk duniamu yang baru. Tetapi kau juga tidak menolak dunia yang lain. Tawaran ini kau iyakan, dan aku mengijinkanmu. Tetapi aku tidak sadar akan akibat yang telah aku berikan untukmu.

Setiap detak jantungku, adalah tentang kamu. Setiap hal ingin aku bagi bersamamu. Setiap pilihan adalah hal yang penting aku bicarakan padamu. Setiap bulir kegembiraan aku semaikan padamu. Dan setiap kesedihan yang ingin aku adukan padamu, adalah keharusan yang ingin aku bagikan padamu. Berlaku sebaliknya. Semuanya tentang kita. Kamu dan aku, saying.

Semakin hari, kau larut dalam dunia barumu. Rutinitas mesra kita, kau anggap bukan hal istimewa lagi. Bahkan kau lupa bagaimana caraku menuangkan teh ke dalam cangkirmu. Aku mendengarkan keluhanmu tentang dunia barumu yang sedikit tidak masuk akal, dan membesarkan hatimu. Kau pun kembali dapatkan kenyamanan. Aku tersenyum. Tetapi tidak kau lakukan balik untukku.

Aku ingin mengadu padamu, tetapi kesempatan itu kau alihkan dengan alibi yang tidak masuk akal. Ketika aku berusaha menjawab setiap pertanyaanmu, kau lewatkan begitu saja dengan hambar. Aku ini seperti orang asing bagimu.

Dalam kebersamaan kita pun, aku merasa kosong. Ragamu bersamaku, tapi hati dan pikiranmu berada ditempat lain, yakni di dunia baru, dan kau terjebak disana. Aku kehilangan sosok itu, saying. Aku ragu, apakah akar cinta ini dapat bertahan. Aku berusaha sendiri untuk mempertahankannya. Aku berusaha menggemburkan tanah yang menjadi tempat tumbuh akar itu. Itulah usahaku, lalu usahamu?

Aku tidak paham bagaimana cinta itu bekerja. Entah aku harus memaafkanmu sebagai pelindung setia rongga rapuh yang aku miliki, yang justru kau merusaknya tanpa sadar. Akankah racun yang kau tanam secara tidak langsung, dapat aku tangkal dengan penawar bisa yang ku buat sendiri dari bulir-bulir kesabaran? Tidak selamanya bulir-bulir kesabaran itu selalu ada.

Ketika kau sadar dan tenggelam dalam duniamu sendiri, yakinlah bahwa ada seorang diluar duniamu, menghendaki segenggam kecil perhatian. Berbagi prosentase sedikit saja. Tanpa mengharapkan untuk lebih diutamakan. Kau akan paham, bagaimana suatu komitmen yang terbilang berharga itu, akan usang sebelum waktunya, karena akibat ulahmu sendiri. Jangan sia-siakan aku, cinta. Kamu akan menyadarinya ketika aku tidak lagi bersamamu, tidak lagi menyertaimu setiap nafas. Tidak berharmoni lagi dalam denyut nadi cintamu. Jika kau bersikukuh, aku akan mengerti. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar paham. Dan ketika waktu itu tiba, kau akan sadar, aku tidak lagi bersamamu. Aku tidak akan bersisa. Karena kau melebur dirimu dengan duniamu, melupakan dunia lain yang kau harapkan sebelumnya.

Teruskanlah….

Inspired song by Agnes Monica – Teruskanlah

Iklan

#Oktober #Wish #Better

#np Agnes Monica feat Titi Dj – Hanya Cinta Yang Bisa

Intip bentar playlist yang gue mainin di youtube…

playlistagmo

Tujuannya apa? engga ada motif apa-apa. Cuman mau pamer aja. hehehehe. Iya secara engga langsung gue ngasih ketegasan kenapa gue ngefans banged sama Agnes Monica. Apalagi makin kagum sama doi, dengan kehadiran kerja sama di project album internationalnya doi, dengan menggaet berbagai musisi ternama dan orang-orang yang pernah terlibat dalam project artis-artis amerika seperti Lady Gaga, Beyonce, Rihanna. Salah satunya Timbaland. Satu single yang sudah beredar berjudul Coke Bottle. Ini merupakan langkah berikutnya dari sekian langkah yang udah doi tempuh. Secara detilnya gue engga tahu. Lalu fans macam apa gue ini? Kok gue engga tahu perkembangan idola gue secara rinci?

Yang pasti, yang gue tahu, spirit agnes monica mengantarkan doi sampe di titik ia berdiri sekarang. Gue bisa merasakan aura kerja keras yang doi lakuin, penuh disiplin. Agnes pernah bilang dengan lantang dan penuh semangat “Dream, Believe, and Make it Happen”. Dan doi percaya dengan apa yang ia mimpikan, kemudian membuatnya menjadi nyata.

Postingan ini bukan membahas gimana perjalanan perjuangan seorang agnes. Gue hanya mencoba membandingkan dengan apa yang gue mimpikan dan gue realisasikan sampai detik ini gue tulis bagian ini.

Gue pernah bermimpi, suatu saat gue bakalan mempunyai  museum yang dipenuhi oleh piagam-piagam penghargaan dari hasil jerih payah gue, sekecil apapun itu. Misalnya, ketika gue masih duduk di bangku sekolah dasar. Kalian semua pasti tahu gimana boringnya duduk di bangku sekolah dasar selama 6 tahun dengan baju berwarna merah putih. Selama bangku sekolah dasar gue pernah memimpikan gimana bangganya megang piala kemenangan dalam kejuaraan menyanyi. Gue usaha, meyakinkan diri bahwa gue bisa menyanyi. Namun, bakal bibit skill nyanyi gue ngga diliat oleh guru-guru. Gue maklumi aja. Karena buat gue, menyanyi adalah meluapkan emosi, pikiran dan stress. Tetapi kesempatan untuk show off kemampuan menyanyi gue, terkabul dalam upacara perpisahan dan kenaikan kelas. Dan kesempatan itu gue dapetin dua kali. Dan saat itulah gue merasakan gimana nyawa tambahan yang gue dapetin dari sorot mata penonton, meski gue sendiri memang grogi saat itu. 🙂 Tetapi, goal gue untuk mendapatkan piala dalam kejuaraan menyanyi masih jauh dari jangkauan gue. Namun, dengan kesempatan kecil itu dengan perform di acara sekolah,  itulah piala tertinggi yang pernah gue raih. Benar, piala yang tidak berwujud, yakni adu mental, bagaimana menghadapi audience. Dengan bangga, piagam ini gue tempati di museum pribadi gue. 🙂

Flash back kebelakang, perjuangan gue untuk mendapatkan penghargaan yang paling tertinggi saat itu boleh jadi proses mahal yang pernah dibilang sama Agnes. Hasil adalah nomer sekian, tetapi proses menuju kesana itulah yang harus lo nikmati. Jangan pernah berhenti ditengah jalan ketika lo sudah mulai berjalan menyusuri langkah-langkah dalam menggapai apa yang lo mau, apa yang lo impikan. Dan moment sekolah dasar itu jadi penampar mental gue sekarang. Gila ya, buat uji mental aja pas SD perjuangan banged ya? kalau sekarang?

Gue jawab adalah sama. Gue engga pernah ngebayangin, gimana gue empat tahun lalu yang cuman bisa memutuskan untuk jadi anak tahu diri, yang manut sama orang tua, engga memaksakan diri untuk kuliah. Jadi apa ya gue sekarang dengan ijasah SMA gue? Apakah gue menyesal dengan track record usaha gue untuk dapetin kesempatan mengenyam pendidikan diperguruan tinggi? Sempat putus asa Tapi engga sampe disana, karena insting nekat gue, akhirnya gayung bersambut. Dua kali beasiswa berturut-turut gue dapetin untuk mengejar obsesi kuliah dan meraih gelar sarjana. Bertambah lagi piala dan piagam tak berbentuk itu, gue bingkai di museum pribadi gue.

Lalu mimpi gue yang lain? apakah prosesnya menuju mimpi-mimpi itu sama kerasnya? Gue jawab berkali-kali lipat.

 

mimpi

banyak orang yang menganggap gue sebagai orang pemimpi, engga pantes jadi apa yang gue pengen. Gue sih cuman bisa bersulang, angkat gelas. Gue yang lebih tahu mana yang pantas buat gue, termasuk menerima omongan pecut semacam itu. Karena ini bagian dari proses pengejaran mimpi-mimpi gue. Karena selalu ada award dibalik kerja keras.