Pelangi

Hiruk pikuk orang-orang di terminal keberangkatan domestik ini, membuatku agak sedikit canggung. Ini adalah kali pertama aku mencoba moda transportasi udara, meski aku sendiri mengalami ketakutan akan ketinggian. Namun, aku sudah melatih ketakutan special ini beberapa minggu terakhir. Sedianya, hari ini aku akan ke Cianjur, kampung halamanku. Menikmati libur tenang setelah disibukkan dengan kegiatan kampus yang sangat menyita waktu dan tenaga,yakni Ujian Akhir Semester.

“Rico…Rico” teriak salah seorang dibelakangku. Aku perhatikan dari tempatku terduduk, siapa pemilik suara nyaring itu. Hanya sebentar saja panggilan kilat itu menggema di ruang tunggu keberangkatan domestic yang sudah penuh sesak dengan penumpang. Namun, beberapa saat kemudian, suara laki-laki itu kembali bertalu-talu memanggil namaku. “Rico, Rico…” teriaknya memanggil dengan lantang. Aku pun menemukan pemilik suara itu, ia lalu datang menghampiriku. Nafas yang tersengal-sengal berusaha untuk ia kendalikan. Aku tidak bergeming sedikitpun, memberikan kesempatan dia untuk mengambil amunisi udara secara bebas untuk paru-parunya itu.
“Rico…” katanya lagi. “Rico…hah… ” Masih dengan kondisi yang tersengal-sengal, laki-laki itu berusaha kembali mengatur pola nafasnya.
“Ada apa kamu datang kesini?” tanyaku kepada laki-laki itu dengan datar. Pandanganku hanya bisa mengarah pada bungkusan berwarna merah pucat ditangan kirinya.
“Sebelum semuanya terlambat, aku cuman mau kasih ini sama kamu.” Laki-laki itu menyerahkan benda yang kulihat barusan. Aku enggan untuk mengambilnya. Namun, diriku yang lain berkata untuk mengambil benda yang disodorkannya kepada
“Apa ini?” tanyaku setengah heran. Laki-laki itu tidak menjawab. Ia terduduk lemas disebelah kiriku. “itu bukan apa-apa dibandingkan Ric, aku hanya berusaha mengganti apa yang telah aku rusak dengan tidak sengaja. Sungguh.”

Aku menghela nafas. Mendengarkan setiap kata penjelasan dari Rico. Baru kali ini aku membuka percakapan dengannya, setelah aksi bungkam aku lakukan selama lima hari belakangan ini. Bagiku, aksi bungkamku sangat beralasan. Tasbih yang biasa aku bawa kemana pun pergi, butir-butirnya tercerai berai karena ketidaksengajaan Reno, temanku ini.

“Maafin aku ya Ric, maaf sekali lagi.” Aku pun tetap memilih bungkam. Bingkisan itu masih ku pegang, tanpa berusaha untuk membukanya.
Aku mengalihkan pandanganku, ke arah kerumunan orang-orang sekitarku. Rata-rata membawa oleh-oleh dan beberapa tas jinjing yang sarat muatan. Suasana mudik hari raya sangat terasa.
“Aku minta maaf ya Ric, aku masih dibayang-bayangi oleh rasa bersalahku. Aku berusaha untuk mengganti tasbih itu dengan yang serupa. Namun aku tidak menemukannya. ” jelas Reno lagi.
Dengan ekor mataku, aku sedikit melirik ke wajah tirus Reno. Penyesalan yang begitu dalam memang tergambar jelas melalui sorot mata tajamnya itu.

Suara informasi khas dari seorang wanita dibalik pengeras suara bandara, mengisyaratkan aku untuk segera berkemas-kemas menuju pesawatku. Aku mengemasi barang bawaanku, ransel laptop, beberapa bungkusan oleh-oleh, dan bingkisan dari Reno. Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku meninggalkan Reno yang masih terduduk lemas dikursinya. Namun, ada semacam rasa bersalah memperlakukan Reno seperti itu. Rasanya terlalu berlebihan. Untuk membuyarkan semua rasa salahku, aku memilih untuk menyalakan lagu-lagu di play-list ponselku.

Dadaku berdebar sedikit cepat, ketika aku mendapatkan bangku berdekatan jendela. Aku tidak tahu bagaimana proses untuk penentuan lokasi duduk di maskapai penerbangan murah ini. Perhatianku teralihkan sedikit dengan peragaan mekanisme penyelamatan diri oleh pramugari-pramugari di depanku. Tetapi hanya sebentar saja, pikiranku kembali berkecamuk tentang penerbangan perdanaku kali ini. Keringat dingin mulai merembes di telapak tanganku.

Aku berusaha menenangkan diri. Aku membuka bingkisan pemberian Reno, yang masih terbungkus rapi. Sebuah tasbih dan sepucuk surat. Aku lebih memilih membaca surat itu terlebih dahulu.


Dear Rico,
Maaf atas insiden kemarin, yang membuat tasbih kesayangan pemberian almarhum Ibumu putus tanpa sengaja olehku. Oh ya, hari ini, aku berangkat ke Belanda untuk melanjutkan kuliahku dan menetap disana. Aku ingin menjelaskan semuanya, tetapi kemarahanmu membuatku untuk menahan diri untuk mengatakan ini disaat yang tepat. Aku menyesal dan sekali minta maaf untuk dua hal. Maaf atas tasbih dan keberangkatanku ke Belanda tanpa memberitahumu. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Best regard
Reno

Aku membacanya berkali-kali. Benarkah ini? Tidak mungkin. Reno melanjutkan kuliah ke Belanda? Kenapa dia tidak pernah menceritakan ini kepadaku sebelumnya. Padahal, aku ini sahabatnya sendiri. Dan…ah benar saja. Aku terlalu lama marah untuk sesuatu yang sepele. Sehingga, aku tidak mempunyai kesempatan mendengarkan cerita membanggakan dari sahabatku sendiri, tentang kepergiannya ke Belanda, bersamaan dengan kepergianku ke Cianjur. Andai saja kepergianku beda sehari, hari ini aku ikut mengantar Reno sampai di Bandara.

Rupanya egoku terlalu besar untuk dikalahkan kata maaf dari Reno. Aku tidak mampu berkata banyak. Aku kecewa. Bahagia dan bangga pun turut beriringan timbul dalam gejolak kekecewaanku. Pesawatku telah lepas landas, namun aku tidak menyadarinya.

“Mungkin tasbih ini akan menjadi salah satu alat cara mendoakan kesuksesanmu disana, Ren, sampai liburan Natal tahun depan, aku harap kamu kembali sesaat ke tanah air, memeluk erat persahabatan kita serta membicarakan kembali makna komunikasi yang sesungguhnya antar sahabat.” Kataku membatin.

NB : karena ngga menang di lomba menulis #ProyekMenulis @nulisbuku, gw posting disini ajaah. Hehehe

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s