Weekend Reads: WPLongform Picks

The WordPress.com Blog

For people who love language and the strange, wonderful things it can do, few things are more pleasurable than diving into a well-crafted piece of writing. Since the introduction of the WPLongform tag a couple of months ago, the task of finding such writing has become that much easier.

Follow the WPLongform tag on the Reader, and you’ll see that dozens of bloggers have made it a home for their in-depth, rich narratives. This week’s WPLongform Picks are no exception: radically different in topic, style, and format, they all present us with a remarkably sustained voice, a powerful use of narrative, and an unwavering attention to structure. They blew us away.

Monitoring

If you ever need proof that good writing can transform the most unexpected material into compelling storytelling, look no further than this post on Rose Glace’s Blog. We barely ever leave the confines of a school’s outdated…

Lihat pos aslinya 606 kata lagi

Iklan

Pelangi

Hiruk pikuk orang-orang di terminal keberangkatan domestik ini, membuatku agak sedikit canggung. Ini adalah kali pertama aku mencoba moda transportasi udara, meski aku sendiri mengalami ketakutan akan ketinggian. Namun, aku sudah melatih ketakutan special ini beberapa minggu terakhir. Sedianya, hari ini aku akan ke Cianjur, kampung halamanku. Menikmati libur tenang setelah disibukkan dengan kegiatan kampus yang sangat menyita waktu dan tenaga,yakni Ujian Akhir Semester.

“Rico…Rico” teriak salah seorang dibelakangku. Aku perhatikan dari tempatku terduduk, siapa pemilik suara nyaring itu. Hanya sebentar saja panggilan kilat itu menggema di ruang tunggu keberangkatan domestic yang sudah penuh sesak dengan penumpang. Namun, beberapa saat kemudian, suara laki-laki itu kembali bertalu-talu memanggil namaku. “Rico, Rico…” teriaknya memanggil dengan lantang. Aku pun menemukan pemilik suara itu, ia lalu datang menghampiriku. Nafas yang tersengal-sengal berusaha untuk ia kendalikan. Aku tidak bergeming sedikitpun, memberikan kesempatan dia untuk mengambil amunisi udara secara bebas untuk paru-parunya itu.
“Rico…” katanya lagi. “Rico…hah… ” Masih dengan kondisi yang tersengal-sengal, laki-laki itu berusaha kembali mengatur pola nafasnya.
“Ada apa kamu datang kesini?” tanyaku kepada laki-laki itu dengan datar. Pandanganku hanya bisa mengarah pada bungkusan berwarna merah pucat ditangan kirinya.
“Sebelum semuanya terlambat, aku cuman mau kasih ini sama kamu.” Laki-laki itu menyerahkan benda yang kulihat barusan. Aku enggan untuk mengambilnya. Namun, diriku yang lain berkata untuk mengambil benda yang disodorkannya kepada
“Apa ini?” tanyaku setengah heran. Laki-laki itu tidak menjawab. Ia terduduk lemas disebelah kiriku. “itu bukan apa-apa dibandingkan Ric, aku hanya berusaha mengganti apa yang telah aku rusak dengan tidak sengaja. Sungguh.”

Aku menghela nafas. Mendengarkan setiap kata penjelasan dari Rico. Baru kali ini aku membuka percakapan dengannya, setelah aksi bungkam aku lakukan selama lima hari belakangan ini. Bagiku, aksi bungkamku sangat beralasan. Tasbih yang biasa aku bawa kemana pun pergi, butir-butirnya tercerai berai karena ketidaksengajaan Reno, temanku ini.

“Maafin aku ya Ric, maaf sekali lagi.” Aku pun tetap memilih bungkam. Bingkisan itu masih ku pegang, tanpa berusaha untuk membukanya.
Aku mengalihkan pandanganku, ke arah kerumunan orang-orang sekitarku. Rata-rata membawa oleh-oleh dan beberapa tas jinjing yang sarat muatan. Suasana mudik hari raya sangat terasa.
“Aku minta maaf ya Ric, aku masih dibayang-bayangi oleh rasa bersalahku. Aku berusaha untuk mengganti tasbih itu dengan yang serupa. Namun aku tidak menemukannya. ” jelas Reno lagi.
Dengan ekor mataku, aku sedikit melirik ke wajah tirus Reno. Penyesalan yang begitu dalam memang tergambar jelas melalui sorot mata tajamnya itu.

Suara informasi khas dari seorang wanita dibalik pengeras suara bandara, mengisyaratkan aku untuk segera berkemas-kemas menuju pesawatku. Aku mengemasi barang bawaanku, ransel laptop, beberapa bungkusan oleh-oleh, dan bingkisan dari Reno. Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku meninggalkan Reno yang masih terduduk lemas dikursinya. Namun, ada semacam rasa bersalah memperlakukan Reno seperti itu. Rasanya terlalu berlebihan. Untuk membuyarkan semua rasa salahku, aku memilih untuk menyalakan lagu-lagu di play-list ponselku.

Dadaku berdebar sedikit cepat, ketika aku mendapatkan bangku berdekatan jendela. Aku tidak tahu bagaimana proses untuk penentuan lokasi duduk di maskapai penerbangan murah ini. Perhatianku teralihkan sedikit dengan peragaan mekanisme penyelamatan diri oleh pramugari-pramugari di depanku. Tetapi hanya sebentar saja, pikiranku kembali berkecamuk tentang penerbangan perdanaku kali ini. Keringat dingin mulai merembes di telapak tanganku.

Aku berusaha menenangkan diri. Aku membuka bingkisan pemberian Reno, yang masih terbungkus rapi. Sebuah tasbih dan sepucuk surat. Aku lebih memilih membaca surat itu terlebih dahulu.


Dear Rico,
Maaf atas insiden kemarin, yang membuat tasbih kesayangan pemberian almarhum Ibumu putus tanpa sengaja olehku. Oh ya, hari ini, aku berangkat ke Belanda untuk melanjutkan kuliahku dan menetap disana. Aku ingin menjelaskan semuanya, tetapi kemarahanmu membuatku untuk menahan diri untuk mengatakan ini disaat yang tepat. Aku menyesal dan sekali minta maaf untuk dua hal. Maaf atas tasbih dan keberangkatanku ke Belanda tanpa memberitahumu. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Best regard
Reno

Aku membacanya berkali-kali. Benarkah ini? Tidak mungkin. Reno melanjutkan kuliah ke Belanda? Kenapa dia tidak pernah menceritakan ini kepadaku sebelumnya. Padahal, aku ini sahabatnya sendiri. Dan…ah benar saja. Aku terlalu lama marah untuk sesuatu yang sepele. Sehingga, aku tidak mempunyai kesempatan mendengarkan cerita membanggakan dari sahabatku sendiri, tentang kepergiannya ke Belanda, bersamaan dengan kepergianku ke Cianjur. Andai saja kepergianku beda sehari, hari ini aku ikut mengantar Reno sampai di Bandara.

Rupanya egoku terlalu besar untuk dikalahkan kata maaf dari Reno. Aku tidak mampu berkata banyak. Aku kecewa. Bahagia dan bangga pun turut beriringan timbul dalam gejolak kekecewaanku. Pesawatku telah lepas landas, namun aku tidak menyadarinya.

“Mungkin tasbih ini akan menjadi salah satu alat cara mendoakan kesuksesanmu disana, Ren, sampai liburan Natal tahun depan, aku harap kamu kembali sesaat ke tanah air, memeluk erat persahabatan kita serta membicarakan kembali makna komunikasi yang sesungguhnya antar sahabat.” Kataku membatin.

NB : karena ngga menang di lomba menulis #ProyekMenulis @nulisbuku, gw posting disini ajaah. Hehehe

Posted from WordPress for BlackBerry.

Hari pertama bulan puasa di rantauan

Suasana jalanan ibu kota, depan kantor gw tidak sepadat hari2 biasanya. Hari ini adalah hari pertama puasa bagi umat islam. Dan ini adalah kali pertama gw ikut menikmati suasana puasa, dirantauan tepatnya jakarta.

Gw uda melakukan persiapan sebelumnya, dengan belanja bahan makanan pokok yang konon katanya harus siap sedia di meja belajar anak kosan, makanan cepat saji. Yang jelas bukan berarti MCD ato KFC, melainkan makanan berharga bersahaja dikantong anak kosan kalem seperti gw. Hehehe

Yap, gw uda menata kehidupan short time selama “puasa” di jekardah (baca : jakarta city) hehehe. Gw mengakali semuanya dengan cara yang hampir sama dengan yang gw lakuin di Bandung kemaren. (Off the record, gw kangen tuh treak2 tengah malem gila2an bkin video gaje menuggu sahur, hahaha)

Taktik yang gw maksud adalah sebagai berikut :
1) Gw ikut bangun pagi (sahur)
2) Cari warteg terdekat
3) Boyong semua makanan segar nan sedap yang fresh from wajan diatas kompor

Step yang ketiga ngga mungkin gw lakuin, secara kalo gw borong semua, pahlawan pattimura akan selalu bercokol dengan gigihnya memperjuangkan ketegaran gw meratapii penghuni dekil item itu.

Tapi ada serunya juga sih. Gw jadi bisa nulis disaat gw. Kebangun gara2 ngga bisa lanjutin mimpi jorok gw. Hehehe (becanda, pada dasarnya sih gw emang bertampang mesum)

Dan yang bkin gw seneng juga, kantor gw pulang lebih awal sejam dri biasanya. Tpi seneng gw kayak asep rokok, sementara. Seawal apapun gw plang, tetep aja bakalan kena macet. Oh Tuhan, dosa apa gw berhadapan dengan macet ini.

Tetapi semua itu bisa gw nikmati diperantauan ini, belajar lagi mengenai bagaimana tenggang rasa itu lebih bijak lagi.

Selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman ( o. ˘)з┌◦◦◦♥

Posted from WordPress for BlackBerry.

Sandera pikiran

Kemelut yang berkecemuk pagi ini, cukup membuatku gusar. Namun dalam keadaan yang demikian, aku harus bersyukur, setidaknya aku masih bisa merasakan bagaimana rasanya tertekan batin seperti ini.

Pikiranku bermain-main dengan hal yang prinsip dalam hidupku. Aku berusaha di Jalan Dharma menapaki setiap karmaku sendiri.

Energi-energi atman tak lagi bersamaku ataukan ia redup? Aku merasa kehilangan sedikit demi sedikit bara keyakinan yang berusaha ku jaga pencar cahayanya. Aku khawatir jikalau nanti tergantikan oleh sesuatu yang tidak ku inginkan.

Tuhanku, Ida Sang Hyang Widhi…aku adalah bagian atom yang paling terkecil dariMU. Aku hanya berusaha untuk kembali ke JalanMU, ke jalan Moksa yang hendak aku tapaki, dengan menyelesaikan semua kewajibanku di dunia.

Perkenankan aku menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menghadapi ujianMU.

Posted from WordPress for BlackBerry.

sembilu sang bayu

Begitu sempurna, hembusannya menawarkan kedamaian ketika kau pijakkan semua lelah kakimu diatas hamparan beriak pasir hitam pekat.

Tapi gundukan baris batu besar menghalanginya.

Namun, pelipur gelut rindu dari tanah jawa, aku sampaikan dalam gurat pena ini kepada pulau dewata.

Posted from WordPress for BlackBerry.

soto ayam ghedor depan plaza senayan

Hari ini random banged. Semua makanan tiba2 aja punya kaki sendiri, dan mendekat ke gue. Gue yang jalan menunduk pasrah, wait terlalu dramatisir. Gw nunduk karena chating and blesin email yang masuk. Uda males meratapi penghuni dompet yang gagg bertahan lama di ruang sempit dekil dan apek. Mereka memantaskan diri untuk pergi secepatnya dri rumah mungil mereka.

Well, gw seperti biasa mengawali hri itu dengan menumpang si dobel sik (baca : 66). Di Bali juga ada kok, malah bisa berenang and open tabel (baca : table). Tapi berhubung gw agak ambisius dan terlanjur sombong, gw ngga pernah open tabel di 66 Bali.

Anyway… Barusan gw bahas tentang makanan. Makanan malam ini super duper datangnya pake taxi alphard. (Stop, suka2 gw menganalogikannya seperti apa. Yang jelas malam ini, gw kekenyangan.

Perhentian perut gw ternyata masih ada satu porsi lagi. Gw hrus say thank full sama perjaka muda eksmud yang loyal. Ini kali kedua gw ditraktir setelah traktiran pulang dengan mobil bleki, kali ini traktiran makan dan traktiran pulang. Asooy banged. Gw ngga usah feeling sorry ke dekil. Karena tangan gw yang notabene penuh daki en keringet, engga menjamah lipetan kulit item kesayangan gw itu. Amanlah pokoknya.

Gw diajak makan di depan plaza senayan. Itu adalah tempat yang menurut gw adalah tempat kongkow yang prestisius. (Alasan kenapanya, gw cman bisa jawab : deket lapangan golf). Simpel.

Pilihan traktiran kali ini, jatuh ke gerobak soto yang aduhai ngalahin kece si suprix, motor butut gw yang uda diadopsi sama juragan barunya. (Kangen kamuh cibi #eh). gerobak soto itu membrandingkan dirinya dengan tajuk utama “Soto Ayam Ghedor”. Sampai disini, gw engga terlalu menaruh curiga dengan gerobak soto ini. Apalagi ke operatornya (baca : pemilik). Gw cman sedikit worry aja. Worry karena ntar gw hrus merogoh kocek dalem2, scara makan di tempat yang prestisius.

Dan langsung saja, si pemuda perjaka cool kece bin eksmud, selanjutnya kita panggil Dev, melakukan pesanan. “Sotonya loro ya buk.” Si ibu menganggukan kepala dengan segera. Ditangannya sudah tersaji semangkuk soto yang menunggu last of touching for kuah soto. Kuah soto sudah dituang, dan….

“Braaaggggg!!!!”

Gw kaget setengah kencing. Gw shock. Gw protes dong ke ibunya. “Wah si ibuk, pelan2 dong. Ngajak berantem neh?” Gw yang dasarnya emg gampang sewotan kalo digertak bgni (padahal sebenernya pengen cabut), cman bisa mencak2 gitu sebelum akhirnya sang suami tercinta si ibu memberikan greeting polos seperti. “Selow om, namanya juga perkenalan.” Gw diem. Dev ngga komen, cman mesem2 aja. Bahaya ini, kadar norak gw bertambah hanya gara2 gertakan ibu2 penjual soto ini. Gw memilih untuk cengengesan, dan pilihannya hanya itu. Kalo bisa sih, gw maunya setup layer tancep sklian sound sistem, ngadain nobar di lapaknya pemilik soto ini, buat membayar rasa bersalah gw, karena mencak2 si ibu engga jelas. I feel sorry mam, saya terlalu khilaf berbuat seperti itu.

Dan sampe akhirnya, selama perbincangan gw selama makan bareng Dev, otak kanan ato kiri yang berhasil menyimpulkan algoritma yang ciamik. Otak gw berhasil memberikan gambaran paling rumit, melebihi rumitnya pacaran ababil masa kini yang konon katanya pacaran sangat serius dan berujung pada garis2in silet di tangan mereka masing2. (Oke, sudah mulai ngaco. STOP).

Dan akhirnya, setelah soto itu tuntas dan bebas berkeliaran di lambung gw, otak gw menghasilkan kesimpulan. Kenapa soto itu membrandingkan diri dengan titel SOTO AYAM GHEDOR. Sensasi di akhir penyajian soto itu terletak di botol kecap besar menjulang gagah diantara piring dan panci kuah soto. Botol pekat hitam itu, di gebrak di meja gerobak dengan sensasi “bRaaaaag”. Sekali lagi… “Braaag…” Dan lagi “bragggg….” (Sebenernya sih cman sekali, gw aja yang suka reply. Karena gw inget, konon kalo kita melakukan sesuatu yang sama sampe 3x berturut, akan mendapatkan piring cantik”)

Terjawab sudah misteri branding soto ini. Dan secara rasa, lambung gw serasa digebrak. Sakit dong bor? Enggaklah Ler, enak super duper nendang. Nampol banged. Pas. Gw hrus mengaktifkan paket nodong gw yang selama ini gw nonaktifkan karena kinerja paket nodong yang gw punya sangat tidak masuk akal, dan sedikit mahal. Masa iya, bru dpt gratisan setelah kirim sms 10 kali. Engga bisa gitu dong.

Dan akhirnya, gw pun hanya bisa menempatkan soto ini dalam kenangan gw melalui foto ini. Simpel, blur dan agak kurang cahaya. Harap maklumlah, ngambilnya juga dri hape bebeh gw yang bgitu gw sayang, sama seperti sayang gw ke kopaja, meski tarifnya agak sombong dikit jadi 2500.

Perjalanan yang menyenangkan hari ini. I must be say thank you to My Lord. Ditengah kondisi petikemas gw yang uda hampir tidak ada penghuninya, Beliau menggerakkan umat yang lain dan mengarahkan kepada gw.

Quote : jangan pernah buang makanan. Kalo ayam pesanan lo ngga habis, bungkuslah. Dan berikan kepada teman lo yang lg perlu asupan gizi tambahan.

Ps : kalo temen lo ngga mau sama makanan bekas lo, lebih baik lo simpen and kasih ke orang yang temui di lorong2 jembatan penyebrangan yang selalu mentengadahkan tangannya demi sesuap nasi. Dan lo memberikan sesuap daging kepada mereka.

hello Juli

Bulan tujuh sudah dijajaki. Perjalanan melanjutkan cita-cita masih berkelanjutan. Banyak hal yang sudah aku capai sampai detik ini, meski itu bukan sesuatu yang besar. Namun, bukankah itu menjadi bagian dari perjalanan menuju langkah yang besar? Aku rasa iya.

Kehidupan di kota besar, sangat membuat aku depresi. Namun dengan kehadiran mahluk-mahluk unik disekitarku, yang mengajarkan kegilaan dalam menikmati hidup di ibu kota. Mereka ajarkan bagaimana berteman dengan kemacetan, menjual loyalitas tanpa mengorbankan hal yang paling berharga dari apa yang aku punya.

Aku merindukan deburan ombak pantai padang-padang, yang setiap saat ketika aku memiliki waktu luang, selalu menghampirinya. Berada ditengah-tengahnya, membasuh wajah yang penuh keharuan akan ketidak-mampuanku menahan waktu, karena berlalu begitu cepat. Dan sang Bayu disekitarku, merangkulku dengan hembusan damai.

Di kota besar seperti jakarta, kehadiran Sang Bayu, sangat aku harapkan, membawa bulir-bulir kedamaian laut yang selalu aku rindukan. Aku rindu ketika buih putih merayu dan berusaha mengajakku bermain ditepian garis pantai. Kadang Ibunya, sang ombak, sedikit menegurku karena mengacuhkan ombaknya.

Aku rindu untuk dibelai, ditenangkan dalam dekapan hembusan Sang Bayu…

Semoga saja, dalam bentuk rejeki aku bisa menemukan kedamaian itu dengan menghampiri dan berkeluh kesah tentang keringatku di ibu kota.

Tunggu aku