Habibie Ainun

aku tak pernah pergi
selalu ada dihatimu
kau tak pernah jauh
selalu ada didalam hatiku
sukmaku berteriak menegaskan
ku cinta padamu

terima kasih pada
mahacinta menyatukan kita
saat aku tak lagi disisimu
ku tunggu kau dikeabadian

Kutipan lirik lagu OST Film Habibie Ainun yang dinyanyikan BCL ini, sempat membuat aku merinding. FYI, aku baru saja menonton filmnya hari ini (Jumat, 22 Maret 2013). Walau terhitung telat, namun bukankah ini bagian dari seni menonton? Film yang sudah tayang dibioskop, dan orang-orang sudah berbondong-bondong menontonnya,sedangkan aku baru kali ini menontonnya. Lantas apakah salah jika aku menjadi salah satu bagian dari rombongan penonton itu, meski dari kamar kontrakanku? Tidak salah bukan?

Ya, aku tahu, hampir semua yang akan membaca tulisan ini akan berkata, “Baru nonton ya?” atau dengan narasi ungkapan sebagai berikut “Kok baru nonton?”, atau sebagian kecil yang akan berkata seperti ini “bagus kan akting BCL sama Reza, menyentuh kan?”.

Apapun komentar orang tentang ‘ketelatan’ aku dalam update menonton sebuah film, bagi aku sendiri, aku tetaplah bagian yang dari jumlah angka penonton film ini yang menembus angka yang fantastis.

Saat adegan Pak Habibie mencium kening Ibu Ainun dalam perayaan ulang tahun perkawinan ke 48, ketika itu juga bulir-bulir air mataku menetes. Aku bisa membayangkan, bagaimana jika aku di posisi Pak Habibi, harus dengan tegar dengan kondisi istrinya itu. Mungkin aku tidak akan bisa mengikuti jejak-jejak perjuangan cinta mereka ditengah perlakuan waktu dan lingkungan yang tidak kunjung bersahabat, seperti yang kita ketahui. Saat itu juga aku teringat Ayah Ibuku. (Bersyukur aku selalu diingatkan dengan mereka, dan sekarang aku tengah berusaha untuk memberikan sedikit hadiah dari hasil jerih payah didikan mereka kepadaku)

“Salam hangat untuk Ibu Ainun. Cinta Sejati Bapak Habibie dan Ibu akan selalu menjadi inspirasi orang banyak, bahwa cinta tidak serta merta melulu mengumbar gombal dan nafsu. Namun lebih kepada pembelajaran yang jauh lebih berharga dari materi. Tentang Cinta Sejati yang sesungguhnya.”

Berkaca dari pengalaman hidup, khususnya Cinta antara Bapak Habibie dan Alm Ibu Ainun, aku pun memiliki sedikit bagian hidup itu pada Ayah Ibuku. Suatu ketika Ibu terbaring sakit, Ayah melayani dan mengambil alih semua hal yang ibuku lakukan. Ayahku bukanlah seorang insinyur yang bisa membuat pesawat terbang seperti Pak Habibie, namun beliau adalah seorang insinyur sekaligus pilot yang handal dalam menerbangkan asa cinta kepada Ibuku. Ibuku bukanlah Dokter anak seperti Ibu Ainun, namun ibuku sama hebatnya dengan dokter anak, yang senantiasa memberikan limpahan obat-obat yang tidak bisa dibuatkan resepnya oleh resep dokter anak sekalipun. Ayahku hanyalah seorang pensiunan PNS dan lulusan SMA, anak desa. Ibuku pun sama, hanya lulusan SMA. Namun, Ayah Ibuku memiliki kesamaan yang sama dengan Pak Habibie dan Ibu Ainun. Ayahku seorang yang keras kepala, dan Ibuku sangatlah pribadi yang mengalah. Bahwa keras lunak yang dimiliki oleh dua jiwa yang bersatu dalam naungan cinta, saling melengkapi satu sama lain. Bukankah, cinta itu sederhana bukan?

lembah yang berwarna
membentuk melengkung’
memeluk kita
dua jiwa
yang melebur jadi satu
dalam kesucian cinta

seperti lirik lagu diatas yang aku harapkan kisah cinta dari Ayah dan Ibuku. Kalian juga berharap demikian bukan? Tidak hanya orang tua kita saja, bukankah kita juga akan belajar banyak dari orang tua kita, tentang bagaimana memperlakukan cinta dengan hati.

 

 

Iklan

Close Friend : My Mom and Dad

Curi-curi waktu luang, masih ada waktu kurang lebih 15 menit coffee break. Lagu-lagu juga sudah terupdate. Saatnya pasang lagu-lagu yang baru aja di unduh.

****

Berbicara tentang Ibu dan Ayahku, memang tidak akan ada habisnya. Namanya juga orang tua yang mendidik dan membesarkan anaknya, banyak hal yang tidak dapat dibahas secara rinci, karena semuanya terekam dalam pita kenangan hidup. Bagiku, kenangan bersama mereka adalah hal yang sempurna dan memiliki nilai yang tidak sebanding dengan materi yang aku dapat selama ini.

Oh ya, Ayahku (Biasanya sih manggilnya Bapak (lagi normal, engga bertengkar), Nanang (istilah Bali untuk sapaan Bapak), Kakiang (istilah Bali untuk memanggil Kakek. Belum pantas disebut demikian karena memang belum memiliki cucu, tapi dari segi usia sudah pantas untuk memiliki cucu.)) seorang pensiunan PNS Pemkab di kota kelahiranku. Kegiatannya saat ini masih sama seperti sebelum-sebelum pensiun, mengurus tanah warisan dan menunggu kelahiran cucu yang belum kunjung datang dari sulung. (Sulung harusnya sudah naik pelaminan, tapi karena alasan A-Z sampai saat ini belum bisa direalisasikan.) Kesehariannya ganjil jika diliat oleh orang yang baru mengenal beliau. Namun, terlihat nyentrik jika sudah mengenal beliau. (Thats why i’m got his style)

Bagaimana menjabarkan sosok Ayahku ini ya? hmmm, saklek. Itu kata pertama yang aku bisa gambarkan. Memang ayahku ini memberikan didikan secara tidak langsung dengan cara seperti ini. Disiplin tinggi, itu kata kedua. Ya benar, beliau sangat disiplin.Saat masih anak-anak,sempat beberapa kali aku melanggar disiplin yang ditegakkan oleh beliau, dan efek dari kelakuan nakalku, hukuman yang kudapat bermacam-macam. Dicubit sudah biasa, Diomelin apalagi, tapi kalau diiket pakai handuk? Aku pernah mengalaminya, gara-gara pernah jatuh dari jurang sungai, sebelah barat rumahku. Keren bukan, jatuh dari jurang sungai, dan terperosok and terendam di sungai dengan posisi kepala ada dibawah.

Bukannya mendapat perlakuan khusus, karena kekhawatiran sebagai orang tua, Ayahku malah menghukumku. Karena saat itu, aku termasuk anak yang bandel, dan mungkin Ayahku sudah tidak tahu lagi bagaimana harus memberitahuku. Dan jadilah, tanganku diikat dengan handuk kecil, selesai mandi. Padahal, ikatan itu tidak seberapa, dengan sedikit gerakan saja, ikatan handuk itu bisa dengan mudahnya aku lepaskan. Tapi yang namanya anak kecil, waktu itu aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya.

Ayahku sekarang sudah memasuki usia 60 tahun. Entahlah melihat kondisi beliau sekarang, aku sangat-sangat khawatir. Apalagi dengan kesehatan beliau beberapa belakangan ini mengalami kemunduran. Dan sifat keras kepalanya muncul ketika aku menasehatinya. “Bapak jangan sering-sering kerja keras ngurusin kebun, pikirin juga kesehatan, jangan terlalu di porsir”. Omelanku ini sebenarnya standar. Dan Ayahku sendiri membela dirinya dengan nada seperti ini “Kamu diam saja, bapak ngurusin kebun itu kan buat kamu juga”. Skak Matt. Oke, aku selesai menasehatinya.

Kekhwatiranku semakin menjadi ketika aku hijrah ke jakarta. Kondisi ayahku tidak menentu. Kadang aku terima kabar dari ibuku, beliau sakit. Sudah beberapa kali rawat jalan, dan memang akhirnya sembuh. tetap saja tidak bisa membuat aku tenang.

Bapak, baleman nu megae ngalih pengupa jiwa, ngalih bekel idup. Milu ngacepang nah pak, pang bisa meli munyin pisaga ane setate ngeremehin tiang.” (Message spesial for my Dad)

Bagaimana pun, harapan seorang anak kepada Ayahnya, semoga beliau diberikan kesehatan lahir bathin dan mampu menikmati hasil jerih payah didikan yang diberikan kepada anak bungsunya.

 

All the best for my Dad, Made Rai Yasa

 

 

 

Parkir Hati

Dewa cinta itu

tengah singgah
menjalin dan menenun sutra kasih sayang
merajut dan menyulam bersama sang kekasih, Dewi cinta

hingga ujung penantian
penantian yang tiada bertepi
ku tutup syair kesendirian
akhiri saja
semua ini akan sia-sia
Gumamku dalam angan besar

mirip layaknya sebuah
parkiran
hatiku masih terpakir
terpakir tanpa ada komando
begitu urakan
pada lapangan parkir hati

nan jauh di ujung sekelilingku
nampak pula
komando-komando cinta
pluit-pluit puitis menjerit
memekikkan telinga
penantian akan komando
komando yang dapat berulah
berulah rapi
merapikan ritme roda hati
ritme suara hati
menjemput setiap pluit komando
cinta

sebuah ungkapan
terlontar
kesabaran akan penantian
kehadiran jodoh
sangatlah benar
benar akan kenyataannya
benar akan keberadaanya
bahkan…
semua takluk akan penantian itu
sangatlah indah

indah di sisi ujung
sesak di tengah hati
semua ada pembandingnya
sama saja seperti
dua sisi mata uang yang berlainan

namun, kendaraan hati
tak jua terparkir
terparkir untuk terpikir
bagaimana
siapa
akankah
hatiku terparkir
pada zona indah
dalam lapangan parkir mahadaya
luas tak bertepi
yang ku sebut
Parkiran Hati

Lukisan Hati Sang Perjaka

berdiri kukuh
pada tepinya malam
dingin menusuk kulit ari

bagimana kabar
kisah klasik malam minggu ku?
apakah sama seperti
yang ku lewatkan malam ini

betapa keras
betapa abadinya senyum
kesendirian itu
bisakah di pralina
bisakah di hapuskan
dan tergantikan oleh
bisikan mesra cicak

namun terlalu iri
dengan semuanya
bahkan sepotong roti kenikmatan
tak jua ku rasakan
nikmat

hatiku masih terpaku
baiknya tercabut oleh waktu
akan hadirnya diriku
yang termangu
serta menyambut
apa yang ku sebut
Malu…

Malu karena ku sendiri
tiada seorangpun dengar
isak perjaka muda
seperti ku
Malu karena ku sendiri
sendiri habiskan waktu
sedangkan kalbu-kalbu
membising di benakku
Malu karena ku hina
hina terabaikan
dari dunia maya
dan Malu
karena sosok adam dan hawa
tak jua mengunjungi
hanya tuk dengarkan sapaan
“sudahkah kau sampaikan pesan cintaku padanya?”

sayap, ranting dan dewi

aku ingat
dulu…
saat waktu hentikan
kepakan sayap-sayap
rantau
ku hinggap
padanya
salah satu ranting
ranting kokoh
berbuah keteduhan

dan bila
ku ulang lagi
ingatan itu kian
kuat
ku istirahat
untuk sejenak
dan ku lepaskan
penat-penat
sayapku

dan semakin kuat
ingatan itu
terulang lagi
ada bidadari tengah
menenun awan
dekat rasanya
terlempar senyum
dari bibir tipisnya
dan merona sudah
pipi suburku

“apa yang kau lakukan itu, dewi?”
tiada jawab ku
peroleh
hanya geraknya jadi
jawabnya
“kau akan menebar benih hujan?”
tiada untaian kata pun
ku peroleh

ku hela nafas panjang…
ku tahan dalam-dalam
Dewi tak nampak
lagi di depanku

namun ingatanku terhenti
terhenti pada titik
titik yang begitu ego
tak dapat bergerak
mundur pun enggan
diam mematung
dan ku sadari
sayap-sayap rantau
telah rapuh
ranting singgahan
begitu keropos
namun saja
bagitu cepat berlalu
dan tersadarku
tak ingat satu pun
apa yang ku rasakan

dan…
ku sadar
dan ku pahami
aku tak ingat
bagaimana terbang
dengan sayap-sayap kebanggaan
memiliki pun aku tak percaya
lalu tentang Dewi yang ku temui?
tidak
tidak ingat
tidak tahu satupun
tidak akan pernah sadar
bahwa hal itu
dunia
yang ku khayalkan

 NB : sudah pernah diposting di catatan Facebook milik penulis.