Pantai Lara 3 : Ratna

Pukul 05.00. Aku terjaga dari lelap tidurku. Mataku membuka perlahan, dan berusaha untuk mengatup lagi. Namun, seakan antara keinginan dan reaksi tubuh sendiri tidak sejalan, justru membuatku gusar. Ya benar, mataku enggan untuk mengatup lagi, sedangkan keinginanku untuk berbaring dan tenggelam dalam selimut beludruku tidak dapat ku kabulkan.

Segera saja aku bangkit, menanggalkan belaian hangat selimut beludru merahku. Aku terduduk di tepian ranjang, sembari memandang ke arah daun jendela. Masih terlihat gelap. Sang mentari belum hadir menggodaku dengan sinar paginya. Dan sedikit terperanjat, aku mengingat sesuatu hal yang harus aku lakukan hari ini. Aku memeriksa kalender mini yang ada di atas mejaku. Ah, benar saja. Pantas aku tersadar begitu cepat pagi ini. Aku harus segera bergegas menuju tempat yang seharusnya aku datangi.

Sebenarnya, hal ini tidak harus aku lakukan. Pergi untuk melakukan sesuatu yang bodoh. Hanya saja aku telah berjanji kepada diriku sendiri, untuk mengunjungi tempat ini tepat 11 hari setelah kejadian yang tidak ku ijinkan terjadi dalam lembaran hidupku. Tepat akhir tahun lalu, 31 Desember 2010. Kepekaanku atas kejadian itu masih terasa. Sayatan secara fisik memang sudah sirna, namun sayatan yang aku rasakan secara bathin, belum sepenuhnya beranjak dari tempatnya. Masih kurasakan perih di dalamnya. Dalam keadaan seperti ini, aku memang membutuhkan suasana yang mendukung untuk pemulihan diriku. Semua kerabat dan teman terbaik yang aku punya, memberikan itu. Hanya saja, beberapa diantaranya aku merasakan hambar.

Tibalah Kakiku menginjak bibir tempat ini. Hembusan sang bayu menerpaku, seakan menyambutku dan berkata “Selamat datang”. Dan ku tanggalkan alas kakiku. Ku hirup dalam udara pagi ini dalam-dalam, hingga akhirnya ku hembuskan pelan. Ku lakukan berulang kali, dan sedikit kedamaian aku temukan.

Aku berjalan menyusuri bibir pantai. Di tangan sebelah kiri, telah terjinjing plastik berukuran sedang warna merah, yang berisikan segenggam bunga warna-warni dan sebuah amplop putih.

Langkah kakiku terhenti, dan memandang ke arah lautan lepas. Gemuruh ombak masih sayup-sayup ku dengar. Ku perhatikan arlojiku, waktu telah menunjukkan pukul 05.50. Pandanganku beralih menuju kantong plastik yang ku bawa serta. Ku buka amplop putih yang turut serta ada didalam bungkusan kecil itu. Dan segera saja, ku keluarkan isinya. Nampak barisan kalimat dengan tinta hitam dengan tulisan yang begitu indah, tersusun rapih dilembaran kertas putih polos.

Untuk Galih, penggalan kasih yang selalu kuakui.
Terima kasih kau telah membawa hal-hal yang konyol, yang aku pinta ke pantai ini. Agak sedikit merepotkanmu. Maafkan aku galih.

Kau tahu, mungkin dalam waktu yang akan datang, kau akan sering mengunjungi tempat ini. Alasannya mengapa, kau akan mencari tahu dengan sendirinya. Karena aku tahu, kau mulai terbiasa dengan apa yang aku pinta.

Kau masih ingat, ketika kau menceritakan bagaimana kakimu gatal karena menginjakkan kakimu untuk pertama kalinya diatas buliran pasir putih tempat ini. Seakan kau terbakar, ingin segera beranjak pergi. Ketika itu, aku hanya berusaha mengingatkanmu, melalui bahasa tatapan mataku. Kau berusaha menolaknya, namun pada akhirnya, kau dapat mengatasi rasa gatal yang timbul. Itu semua hanya fantasi yang ada dalam pikiranmu, sehingga itu menjadi kenyataan. Masihkah ingat kau dengan kejadian itu, Galih? Saat itu, kau mengenakan pakaian kerjamu, lengkap dengan dasi kesayanganmu, berwarna biru langit.

Tempat ini memang memberikan arti tersendiri bagiku. Sebelum aku mengenalmu, hampir semua waktu luang, ku habiskan di tempat ini. Sampai sekarang pun, kau masih bertanya-tanya, mengapa aku begitu damai dengan tempat ini, sehingga bermalam pun aku rela disini. Benar bukan? Kau tidak usah mengelak ketika membaca bagian ini, karena itu sama saja membohongi dirimu sendiri.

Baiklah, aku ceritakan sekarang. Tapi berjanjilah kepadaku, setelah membaca seluruh suratku ini, simpan bulir-bulir air mata yang terbit di kedua sudut bola matamu. Karena aku tidak ingin melihat kau terjerembab dan berselimut pilu. Aku ingin kau bahagia, meski aku tidak bisa memberikan kebahagiaan itu secara fisik. Namun, dari tempatku berpijak, aku bisa melihat dan merasakan apa yang kamu rasa. Terkadang, itu pun tidak adil bagiku, hanya merasakan perasaanmu sepihak. Tetapi, aku tidak akan menuntut itu padamu. Barisan kata yang ingin aku garis bawahi untukmu adalah, Aku ingin Kau berharga untukku, seperti mentari yang selalu memberikan seberkas cahaya untuk pagi.

Pertama kali aku datang ke tempat ini, bersama Kakek, saat aku berusia 3 tahun. Beliau tersenyum dan sedikit terpingkal melihat ekspresi polosku, bermain air, hampir bergelut dengan ombak hingga akhirnya pakaianku basah oleh permainan ombak pantai ini. Saat itu, Kakek berkata “Wah, nana, Om Ombaknya nakal ya, kamu dibuat basah”. Aku hanya terdiam saat itu, hanya melakukan hal yang sulit dicerna bagi pikiran orang dewasa, yakni mencubit ombak. Aku berusaha mencubit ombak itu dengan semangat. Kakek hanya tersenyum dengan tingkah polosku. Dan sebentar saja, aku mulai bosan, dan mulai merengek nyaring kepada kakek. “Om ombaknya nakal” teriakku. Dan akhirnya, tangis mungilku pecah. Kakek segera menghampiriku, dan mulai menggendongku. Kakek bilang kepadaku “Om Ombak engga nakal, Ratna. Om Ombak hanya mau berteman dan akrab sama Ratna.” Aku tidak perduli dengan omongan Kakek, dan tangisku pun pecah sejadi-jadinya. Hingga akhirnya, Kakek membawaku pulang, tepat digendongan punggung ringkih itu.

Terlihat konyol bukan? Menurutmu, Nana kecil dengan nana besar, adakah perbedaannya? Jangan kau jawab Galih, karena mungkin aku akan mengejarmu dan mulai mencubit bagian sensitif dari tubuhmu, yakni pinggang sebelah kiri.

Aku ingat sekali, ketika Kakek pergi selamanya saat usiaku 8 tahun, aku merasa terpukul dengan hal itu. Tidak ada lagi dongeng usang yang ia bagikan kepadaku sebelum aku tidur siang, Belaian tangan renta tak lagi mengelus rambut ikalku. Tidak ada lagi yang membuatkanku teh jahe hangat. Dan tidak ada lagi yang mentraktirku kue cubit yang dibeli dengan uang pensiunan Kakek. Hingga akhirnya, seminggu setelah Kakek pergi, aku pun ke tempat ini. AKu berteriak ke arah laut lepas. Meneriakkan nama Kakek dengan sekencang-kencangnya. Tangisanku tersedu-sedu. Hingga akhirnya, sang bayu seakan turun dan membelaiku pelan. Hembusannya seperti tangan kakek membelai rambutku. Namun, kali ini, seluruh anggota badanku, merasa tersentuh oleh hembusannya. Sejuk yang kurasa. Mendamaikan asa yang berontak.

Pada malam harinya, aku bermimpi, bertemu dengan sesosok yang begitu damai. Ia mengulurkan tangan, sembari menyebutkan namanya, Bayu. Perawakannya seperti kakakku, Yuda. Kau masih ingat bukan? Dia ingin menjadikanku sebagai temannya. Dia berkhilah, bahwa Kakek meminta bantuannya untuk menemani kesendirianku, setelah Beliau terlebih dahulu menghadap dan berbagi pengalaman serta bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi selama hidup. Dan Kakek sudah menceritakan semua tentang aku kepada Bayu. Namun, sebagai anak yang masih polos, aku hanya bisa mengiyakan dan mengganggukkan kepala.

Itulah mengapa aku sering ke pantai ini. Aku merasa nyaman jika sesuatu hal buruk terjadi padaku, maka pantai ini pelarianku. Dan Bayu, Sang Angin setia bersamaku, mengeringkan pipiku yang basah oleh karena guyuran air mataku. Dengan leluasa aku bercerita dan bercengkrama dengannya, meski hal itu sangat ganjil untuk kau terima Galih. Tetapi inilah sisi lain yang tidak kau sadari, dan mengapa baru aku ceritakan sekarang.

Galih, maafkan aku ketika aku berbohong kepadamu beberapa waktu yang lalu. Ketika aku mengatakan padamu, bahwa aku harus berkunjung ke suatu tempat diluar kota, dan aku harus pergi sendiri. Saat itu, aku tidak mengatakan tujuan pasti kepergianku. Semata-mata aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Aku mendengar kabar, bahwa di hari yang sama ketika aku berangkat, Kau tengah berjuang dalam lomba Sains tingkat Propinsi. Aku tidak mau mengacaukan konsentrasimu.

Aku bingung, bagaimana awalnya menulis surat ini. Aku takut, sebelum usai kau membaca seluruh goresan pena yang tertuang dalam lembaran ini, kau sudah merobeknya terlebih dahulu. Namun, aku yakin,kau tidak akan melakukan itu.

Galih, aku tahu ini sangat berat bagimu. Kita bersama dalam hitungan waktu yang tidak begitu lama. Namun, goresan pelangi yang kau torehkan dalam kanvas hidupku, memberikan nuansa lain. Meski aku diijinkan menikmati semua ini hanya sebentar, kau sudah memberikan semuanya apa yang akan dan sudah aku inginkan. Aku sangat merasa berdosa, belum dapat memberikan sesuatu yang istimewa untukmu. Aku hanya merepotkanmu. helai demi helai kasih sayang kau tenun untuk menemani sisa-sisa kesempatanku hidup di dunia. Kau sabar dengan semua sisa-sisa yang tersisa apa yang aku punya.

Dan bunga yang kau bawa serta ini, apakah sudah sesuai dengan apa yang aku pinta? Aku menginginkan bunga yang sama dengan namaku. Ratna. Apakah kau sudah mengusahakannya? Maaf meragukanmu. Tebarkanlah bunga-bunga ini ke laut lepas, sebagai tanda bahwa aku merindukan pantai ini. Lakukanlah setiap bulannya, di tanggal 11. Karena tanggal itu menjadi tanggal berharga bagi kita. Tanggal yang menegaskan kita, bahwa kita adalah Galih dan Ratna yang berucap janji sebagai dua insan yang saling mengasihi dalam naungan cinta.

Aku tidak akan memaksa kau, untuk terus melakukannya selama hidupmu. Aku tidak boleh egois, hidupmu harus berlanjut. Ketika Ratna lainnya menghampirimu, berjanjilah kepadaku. Perlakukan ia, seperti memperlakukanku. Perlakukan dengan kasih sayang. Dan, ketika kau siap untuk memulai merenda kasih yang baru, tanggalkanlah permintaanku ini. Berjanjilah.

Walau fisikku sudah terbenam dibawah sana, namun jiwaku akan selalu ada bersamamu. Setiap hela nafasmu, aku ada disana. Tetaplah menjadi Galih yang aku kenal.

Dari seorang yang merindu,
Ratna

Air mataku tidak tahan keluar dari sumbernya. Aku menahan tangis dan sesak yang timbul karena membaca surat terakhir ini. Hanya ini yang ia sisakan untukku. Aku jatuh bertekuk lutut. Kakiku lemah bergetar. Ku kepalkan kedua tanganku, hingga akhirnya ku hentakkan pada hamparan pasir yang ada di depanku. “KENAPA!!! KENAPA SECEPAT ITU KAU MENGAMBILNYA!!! KENAPA!!!” Teriakku lantang. Tidak ada seorang pun yang akan menjawab teriakan parau seperti ini. Hanya deburan ombak bertalu-talu mengiringi isakan tangisku. Aku berusaha tegar, aku berusaha mengumpulkan puing-puing ketegaran yang masih tersisa. Ku jumput dan mulai menebarkan sedikit demi sedikit bunga-bunga ini, seperti yang ia pinta. Air mataku tak kuasa mengalir deras. Aku berusaha bangkit, berdiri tegap.

Bagiku, ini perpisahan yang indah.”Aku hanya berharap, semoga kau melihatku disini selalu tersenyum untukmu, dan temani kesendirianku ketika aku datang ke pantai ini, membisikkan kata-kata sederhana di daun telingaku melalui bantuan sahabatmu, Sang bayu. Aku akan mengerti.” Kataku sembari menebar bunga-bunga Ratna. Kakiku masih belum bergetar. Deburan ombak menerpa kakiku, seakan berkata “Menepilah, tenangkan pikiranmu. Aku akan sampaikan salammu kepadanya.”

Aku enggan beranjak dari tempatku berdiri. Dan setelah itu, aku tidak ingat bagaimana sekelilingku berwarna pucat lalu gelap.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s