Koma

Dear penakluk hati…

kamu tahu, aku dalam keadaan koma ketika ku menyapamu diseberang sana. Aku tengah menikmati pengobatan yang rutin ku jalani tiap hari. Tapi seperti normal saja bukan? tidak terlihat bahwa aku begitu sekarat dengan pengobatan yang melelahkan itu.

Sepanjang malam itu, aku menyapamu, bersenda gurau. Aku membaringkan diri saat itu, hanya saja berusaha untuk setia melanjutkan percakapan itu. Aku tidak begitu ambil pusing dengan posisi koma yang sudah lama hinggap dalam kurun 3 tahun terakhir.

Kenapa begitu hangat percakapan itu. Aku mulai menikmatinya. Teduh dan seakan sakit yang ku alami selama ini sedikit ringan. Ada apa sebenarnya? aku tak tahu. Yang aku tahu saat itu, adalah mengalihkan rasa sakit kedalam keteduhan dalam percakapan itu.

Kamu tahu? 3 tahun yang lalu, aku merasakan sesuatu yang pantas didapatkan oleh tiap orang. Masa-masa itu tidak pernah aku lupakan, ketika kepenatan, keindahan dan hiruk pikuk rasa tercurah dalam satu jalinan yang orang dewasa menyebutnya sebagai hubungan istimewa dibawah naungan cinta. Aku tidak setuju dengan pendapat pribadi dewasa itu sebelumnya, karena cinta adalah sebuah pengabdian yang tidak terikat, tidak ternilai, tidak berwujud. Dan sampai sekarang aku belum tahu bagaimana menjabarkan dari cinta itu sendiri. Dan kenapa Tuhan menciptakan cinta diantara kami, percikan-percikan kecil dari-Nya. Hanya saja, yang aku tahu, Cinta diciptakan untuk membudayakan manusia dikehidupan mereka, mengangkat derajat mereka dan memberi suatu kehormatan rasa dalam hidup.

Namun dalam kenyataanya, ada yang salah dengan pemberian Tuhan ini. Mungkin dapat aku katakan disini, sosok pembalik tabiat menyalahgunakan cinta ini sebagai pemuas bejatnya. Seonggok obsesi dan sebongkah materi menjadi alasannya. Dan berbagai intrik-intrik yang lain terselubung juga didalamnya. Sang pembalik tabiat ini berusaha mengendalikan pribadi-pribadi yang ingin mendapatkan sesuatu melalui jalan sesat. Dan kamu tahu? akulah korbannya.

Awalnya, aku bergumul dengan cinta ini. Manisnya aku rasa, pahitnya aku telan. Sungguh dinamika yang wajar dikala insan tengah termabukkan oleh cinta. Aku kira, masa-masa ini bersifat kekal. Dugaanku kali ini keliru, untuk sekian kalinya. Aku merasa hanya sebagai alat pemuas, tidak lebih dari sebuah aksesoris dari sekian koleksi yang dia punya.Tidak bisa aku pungkiri, aku kehilangan semua, aku sekarat, dan saat itu, aku koma.

Hari demi hari aku merasakan lumpuh didalam sana. Entah bagian yang mana, aku tidak bisa menjangkaunya. Aku hanya pemain amatir yang terlalu bodoh dengan apa yang ku mainkan. Dan aku merasa ketidakpantasanku mendapatkan sesuatu diluar tanggungjawabku, menjadi layak aku terima. Dimana algojo keadilan saat itu? aku bertanya dengan histeris, namun gema suara berdalih menjawab “Tidak ada yang pantas dan tidak ada yang adil untukmu”.

Kamu tahu? aku berkata pada diriku “Kamu hanya seonggok kotoran yang tidak pernah terpakai lagi. Tidak akan pernah.” Dan sekali lagi, aku merasakan kelumpuhan dalam hal yang lain. Aku merapatkan diri kedalam barisan keputusasaan. Sementara sorotan mata tajam iba menghampiriku. Hanya menghampiriku, tidak lebih. mencoba untuk menasehati, namun aku mengacuhkannya. Aku egois. Sebatang kara karena perlakuan tidak adil itu aku rasakan.

Hari demi hari terlewati dengan percuma. aku koma, tidak bisa merasakan apa-apa lagi dalam posisi seperti itu. Bulan pertama aku mencoba bangkit, tapi gagal. aku tenggelam lagi. Bulan kelima aku menguatkan diri, aku kalap dan koma lagi. Seakan sia-sia saja usaha ku waktu itu.

Mungkin keadilan saat itu tidak berpihak kepadaku.aku berpikir, sudahlah jalani hari tanpa melibatkan unsur (cinta) itu. Sedikit demi sedikit aku mulai bangkit dan meski terperosok kembali dalam kondisi koma itu, aku menikmatinya. Entah tetesan air mata tercecer dimana-mana, aku tidak tahu. dan pasti kau bertanya, pernahkah kau berpikir untuk mengakhiri drama sementara ini? Kamu harus tahu, aku ini sudah sangat bijak menikmati koma, bukan berarti mati sebagai kunci berikutnya untuk melepaskan diri dari koma itu. Sungguh pikiran yang kacau jika aku menurutinya. dan asal kamu tahu, aku tidak mau melakukannya, karena pembalik tabiat itu terlibat lagi dalam urusan pribadiku, antara aku dan kondisi koma yang aku alami.

Namun malam kemarin menjadi jawaban kunci atas penantianku. Pembuktian bahwa keadilan masih berpihak padaku terwudud. Kita sempat terlibat dalam percakapan dan senda gurau nan akrab bukan? Karena percakapan nan teduh itu, sedikit demi sedikit membangunkan aku dari koma itu. Bukan sakit yang aku rasakan, tapi sebuah harmoni nyaman dan syahdu yang ku dapatkan. Kau takkan pernah menyangka itu. Dan kau pikir aku membual? hahaha. kau bisa saja menuduhku bahwa aku hanya pembual kelas teri.

Ada sesuatu yang aku lihat dari sorot matamu. Aku tak tahu apa? Sorot mata yang hangat, teduh dan bersahabat. Mungkinkah saat itu kamu tengah menyelesaikan perawatan rutin untuk matamu? Hanya kamu yang tahu. Aku hanya senang melihat sorot mata itu. Maaf aku melakukannya lagi, lagi dan lagi,tanpa seizin darimu. Tiba-tiba saja aku terdiam, apakah aku merasakannya? Aku mengacuhkannya, karena ketahuan diriku yang menuntunku untuk selalu tahu diri dalam kondisi yang pantas untukku, namun tidak pantas aku dapatkan. Kamu pasti bingung membacanya bukan? jangan terlalu dipikirkan, hanya aku yang tahu 🙂

Ada yang lain dari sorot matamu itu. Sorot mata yang mengisyaratkan kepatutan untuk bangkit. Serta pengharapan kesempatan lainnya yang pantas aku dapatkan. Mungkin kamu bisa memberikan jawaban atas teka-teki yang mengalir dalam benakku. Dapatkah kau menjawabnya? Aku tidak menuntut mendapatkan jawaban apa yang aku harapkan. Hanya saja, aku merasa teduh jikalau sorot mata itu ku tatap. Aku tidak punya alasan yang cukup, kenapa aku harus melakukannya. Yang pasti, yang aku tahu…aku bangkit dari koma.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s