Pantai Lara 2 : Ganendra

Senin, bulan ke delapan, minggu pertama.

Aku putuskan untuk menepi dari kebisingan dan hiruk pikuk pekerjaan yang sangat menyita waktu.
Hampir 3 bulan belakangan, aku tenggelam dan larut dalam kesibukanku. Ada saja yang aku
kerjakan. Entah itu mengerjakan sesuatu hal yang paling konyol atau yang paling berharga,
menuliskan semua apa yang sudah aku kerjakan.

Ku kemudikan kendaraan roda duaku menuju sebuah tempat penglarut kebosanan.Pantai Lara. Biasanya
tempat ini selalu aku kunjungi setiap beberapa waktu. Hampir setiap minggu aku kunjungi, hanya
sekedar menikmati hawanya, ato hanya sekedar menyempatkan diri untuk sekedar menikmati jajanan
yang disediakan oleh para pedagang disana. Namun karena kesibukanku, kebiasaan lamaku ini, tidak
bisa aku lakukan. Sekali lagi, alasanku adalah : karena kesibukanku.

Waktu tengah menunjukkan pukul 15.23 pada Arloji hitamku.”ah, sudahlah. Bolos kerja beberapa
jam, bukan jadi urusan yang besar kan.” kataku pelan. Demi menyemangati diri sendiri. Aku
bukanlah tipikal orang yang suka membolos kerja. Aku pekerja keras. Hanya saja, tingkat
kejenuhan seseorang bisa saja muncul tiba-tiba bukan?. Dan itulah yang aku rasakan sekarang.
Setibanya di pintu masuk pantai dan menyelesaikan urusan kontribusi kebersihan, segera saja ku
parkir kendaraan roda duaku pada tempat yang telah disediakan. Hari itu hari kerja, namun
sebagai salah satu tujuan objek wisata, para wisatawan mancanegara selalu ramai datang dan pergi
ke tempat ini. Dan aku pun salah satunya. Walaupun, kali ini, pakaian yang aku kenakan tidak
mencerminkan sebagai wisatawan. Tidak menjadi masalah bukan?

Segera saja, aku membenahi diri dan memilih tempat yang terbaik untuk berteduh. Kebetulan juga,
hari itu lumayan terik. Ku susuri jalan kecil disepanjang pinggir pantai. Semakin dinamis saja
pantai ini. Berbeda dengan kunjunganku sebelumnya, Lima bulan yang silam.

Mataku memandang jauh ke depan, arah selatan pantai. Berusaha mencari lokasi yang strategis.
Meski hari beranjak sore, namun masih menyisakan terik yang begitu menyengat. Sesekali
gerombolan anak-anak kecil berlarian menuju ke arahku. Entah apa yang mereka kejar. Mungkin
mainan baru dari salah satu anak orang kaya, yang lagi pamer. Atau mungkin sedang melakukan
permainan kejar-kejaran. Dan sebentar saja, kumpulan pepohonan waru berhasil kutemukan.
Nampaknya rindang dan teduh. Dan bonus buatku, sepi. Tanpa pikir panjang lagi, segera saja ku
percepat langkah kakiku menuju tempat itu. “Terima kasih Tuhan”, ucapku dalam hati.

Kumpulan pepohonan waru itu nampak begitu menggodaku. Menawarkan keteduhan khas. Segera saja,
aku melepaskan seluruh barang bawaanku. Sepatu kerja ku lepas. Hingga akhirnya terduduk
menghadap ke arah laut lepas. Ku hirup dalam-dalam hawa pantai itu. Ku hembuskan kembali. Begitu
seterusnya. Hingga benar-benar aku merasakan ketenangan yang aku cari.

Semilir angin pantai berhembus, membelai helaian rambutku yang sudah mulai panjang. Aku
membiarkannya. Dari kejauhan, aku masih bisa memperhatikan gerombolan anak kecil tadi, sedang
memainkan bola kaki dengan penuh riang dan semangat. Sedangkan sudut pantai yang lain masih
menyisakan beberapa gambaran lainnya. Masing-masing memiliki kepentingan tersendiri. Para
nelayan yang tengah menyiapkan peralatan melautnya untuk malam nanti. Para penjaga pantai masih
setia bersiaga. Dan di sudut ini, aku terduduk menyendiri.

Sebenarnya ada alasan yang sangat mendasar kenapa akhirnya aku memilih untuk ke tempat ini lagi.

Ada sedikit nanah yang tersisa dari masa lampau. Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana
menyembuhkan, mengeringkan nanah yang masih nyeri aku rasakan. Seiring waktu, seharusnya nanah
masa lampau bisa mengering dan akhirnya menghilang dengan seiring berjalannya waktu. Namun,
kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkan kesembuhan total seharusnya. Bukankah itu menjadi hak
bagi semua orang?

Entahlah….

Aku mencoba kembali untuk mengeringkan nanah ini. Dengan kedatanganku kemari, berharap semuanya
akan kembali normal. Mendapatkan kembali jati diriku. Aku merindukan sosok diriku sendiri dan
ketegaran yang pernah menjadi bagian hidupku. Namun sekarang, sehelai pun aku tidak memeliki
jejak-jejak ketegaran itu.

Aku rebahkan badanku. Menghempaskan beban penatku diatas gundukan milyaran butiran pasir. Aku
nyaman dengan butiran-butiran ini. Ku silangkan kedua tanganku, hingga akhirnya menjadi alas
kepalaku untuk berbaring. Hempasan sang bayu kembali seakan memahami apa yang aku rasakan. Ia
memang memahami keberadaanku disini, apa tujuanku. Ia memelukku dengan terpaan pelan dan
mendamaikan gejolak yang selama ini aku pendam. Pikiranku mungkin sedikit tamak, aku ingin Ia
berwujud sebagai sosok yang bisa memelukku, memberikan sandaran bahu, terlarut dalam rangkaian
cerita yang aku lontarkan. Namun, itu hanya keinginan egoku. Kalau pun ia berwujud seperti yang
aku harapkan, lalu bagaimana dengan pribadi-pribadi yang lain, yang juga ternyata merindukan
terpaan serta hembusan-Nya?. Bukankah, itu terlalu egois?

Ku hirup udara disekitarku. Menahannya beberapa saat, hingga akhirnya ku hembuskan pelan. Aku
masih bisa merasakan kedamaian yang Ia tawarkan melalui tempat ini. Aku harus bersyukur, sampai
saat ini aku dapat menikmatinya. Ku pejamkan mataku. Mencoba merasakan, mengerti dari maksud
hembusan sang bayu. Begitu tenang. Jika kau membayangkannya, seperti apa yang aku rasakan, maka
aku bisa gambarkan seperti ini. Ketika kau jatuh terjerembab ke dalam siksa derita, ia datang
menghampirimu. Bukan memberikan laso yang kau harapkan, namun jalan lain keluar dari siksa itu
sendiri. Ketika kau bertanya padanya, maka hembusan pelan yang ia berikan sebagai kepantasan Ia
memelukmu. Menenangkanmu, dengan membelai ragamu, “Kamu akan baik-baik saja, kawan”

Jauh. Sangat jauh anganku melayang. Gaung mesin kapal tidak bisa mengusik anganku yang tengah
larut. Larut dalam hamparan ribuan kubik kekecewaan. Bagaimana aku mengatakannya. Harta yang aku
anggap berharga selain keluarga, adalah sahabat dan cinta. Aku bersahabat dengan pribadi yang
ambigu, meski aku begitu mengenalnya telah jauh, namun masih sulit untuk menebak bagaimana ia
memperlakukan ku dibelakang. Ketika ia tidak bersamaku. Ketika haru biru tidak bersama kami.
Ketika kami terpisah oleh ruang pribadi masing-masing. Apakah ia sedang merencanakan sesuatu
yang tidak aku ketahui tentang keakraban yang sudah terjalin ini? Adakah beriak kesalahan yang
ia sembunyikan dari ku? Ato mungkin aku tanpa sengaja telah melukainya? Ia kini tidak seperti
yang ku kenal. Ia hanya larut dalam dunianya sendiri. Menari dan menyanyi dengan ironi yang
tercipta hanya untuk dia sendiri.

Pandanganku masih terpaku menggantung di atas sana. Dilangit sore dengan gurat pucat ke merahan.
Indah sekali. Sedikit teralihkan. Damai yang Ia tawarkan. Bagaimana cara menjelaskan kepada ia
yang menjadi sahabatku. Bahwa ia berubah seiring waktu tanpa aku sadari.

Pikiranku masih berantakan dengan apa yang tengah aku hadapi. Belum puas rasanya,
keingintahuanku dengan perubahan dramatis yang terjadi pada sahabatku. Sedikit asa yang ia
sisakan ketika berpapasan denganku. Aku masih ingat, bagaimana cara ia memperlakukanku dengan
dingin.

“Kamu apa kabar?”

“aku selalu berusaha baik. Bagaimana dengan kamu, Sas?”

“Sama seperti kamu”

Itu saja yang ku ingat. Selebihnya, hanya sebatas obrolan kecil yang sudah membasi.

Namanya Sastra, sahabatku terdahulu ketika kami masih bersama, bercengkrama dan bergulat dalam
kegiatan dan rutinitas yang sama. Kami dipertemukan dalam momen yang tidak disangka. Kami
berpapasan dalam suatu acara kolosal. Ia adalah seorang pribadi yang begitu perfeksionis,
amibisius dan supel. Sangat berbeda dengan pribadiku. Pesimitif, Moody dan sedikit tertutup.
Namun, siapa sangka, kelebihan dan kekurangan itu melengkapi persahabatan kami. Ia banyak
mengajarkan ku bagaimana harus bersikap. Bahwa, hentikan sikap yang aku punya. Bahwa aku akan
banyak kehilangan kesempatan yang tidak terduga. Aku harus bisa melunak dengan sikap negatifku
ini. Dan aku harus bisa berubah demi kebaikan ku nanti.

Dibalik pribadinya yang begitu mendekati sempurna, Tuhan menyertakan kelemahan lain yang imbang.
Ego-nya sangat tinggi. Ia sangar ketika pendapatnya tidak dihargai. Apa yang menjadi pola
pikirnya, harus dapat diterima oleh orang lain.

Sedapat mungkin aku memberikan cara tafsir pemahaman jalan pikir setiap orang berbeda.
Kepadanya, aku mempunyai cara untuk bisa sedikit menekuk ego kerasnya. Karena itulah komitmen
kami di awal, ketika kami memutuskan untuk menjalin persahabatan bagaikan saudara. Memang itulah
menjadi tanggung jawab serpihan dari sahabat itu sendiri. Saling mengingatkan dan mendukung.

Begitu banyak kenangan yang berputar dengan sendirinya ketika aku mengingat sedikit bagian
penggalan pengalaman bersama sahabatku, Sastra.

Entah kapan kami terakhir bertegur sapa. Baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi.
Aku tidak bisa mengingatnya kapan terakhir kali kami melakukannya.

“Ternyata kamu disini”

Aku tersentak kaget. Aku benar-benar tersadarkan dari lamunanku. Aku bangkit dengan begitu
cepat. Aku hanya mematung dan ternganga seakan tidak percaya dengan apa yang ku hadapi saat ini.

“Sastra…!!!”

“Ada apa Ganendra?”

aku tidak percaya. Ia berdiri tepat di hadapanku dengan stelan baju kerja.

Sastra hanya tersenyum simpul. Lalu ia duduk, tepat dimana aku berdiri.

“Kebiasaanmu ini memang tidak pernah lepas untuk datang ke pantai ini ya?” tanya ia kemudian.
Sastra memandang jauh ke arah laut lepas. Pandangannya tajam menghunus. Aku masih terdiam. Masih
tidak percaya dengan penglihatanku kali ini.

“Aku masih tidak percaya dengan tindakanmu sebagai bentuk protes kepadaku. Kenapa Gan?”

aku belum bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahku kelu. Tidak bisa mengutarakan apa yang harus aku
katakan di depan Sastra. Karena pertemuan ini, sekali lagi sangat dan terlalu dramatis buatku.
Kami bertengkar hebat. Aku menghargai ia sebagai sahabatku sampai aku merelakan diriku
dipermalukan di depan umum. Jika aku ingat kejadian itu, mungkin aku semakin tidak ikhlas
melihat ia didepanku. Namun, entah apa yang menahanku sehingga aku mematung dan terpaku di
tempatku. Aku hanya bisa memasukkan tanganku ke dalam saku celana kerjaku. Kami berdiam satu
sama lain cukup lama.

“Kenapa akhirnya kamu disini?” tanyaku akhirnya.

pertanyaanku tidak dijawabnya. Kembali kami membisu. Hanya deburan ombak yang mendominasi
diantara kebisuan kami.

“Sementara kamu berusaha meyakinkan aku, kamu pun tidak hirau dengan apa yang kamu lakukan. Kau
bodoh Gan!!!”

Sastra berdiri tepat dihadapanku. Mata kami saling berpandangan satu sama lain. Pandangannya
begitu tajam. Dengan sorot mata siap menghunus. Namun sekejap saja. Seakan ia tahu, bara
kemarahan yang timbul dari sorot mataku sendiri.

“Plakkk!!!!”

Hening.

Sastra hanya terengah-engah. Aku masih terdiam. Dan berusaha untuk tenang. Panas yang aku
rasakan di belahan pipi kiriku. Aku masih tetap tidak bergeming. Sastra sudah berpaling. Ku
perhatikan dengan seksama bahasa tubuhnya. Ia seakan menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
Namun, ia dikendalikan oleh egonya. Ia enggan untuk menyesal.

“Terima kasih Sas. Setidaknya aku tahu, apa yang kamu tahan selama ini.” kataku pelan.
“Setidaknya ini menjadi bukti bahwa aku memang tidak selayaknya menjadi sahabat yang
memuliakanmu. Yang bisa mendengarkan egomu, yang menuruti semua kerasnya inginmu.”

Sastra menoleh kearahku. “Lalu kenapa kamu lakukan itu kemarin lusa? KENAPA?!!!”. Suaranya
memekikkan telingaku. Namun aku tidak terganggu dengan hal itu. Ia menarik kerah kemejaku.
“Kenapa Ganendra? Kenapa?!!!” Teriaknya lagi. Aku berusaha menenangkan diri. Aku membiarkan
luapan emosi Sastra keluar begitu saja. Aku tahu ini sangat beresiko, namun apa daya, ego Sastra
begitu besar.

Kerah kemejaku sedikit melonggar dan segera saja ia hempaskan dengan kasar. Aku berusaha menarik
nafas dengan dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan.

“Kamu pikir, dengan tindakanmu tempo hari bisa bikin aku tenang Gan?” teriaknya lagi. “Kau
begitu bodoh dengan sikapmu itu. BODOH!!! Keledai dungu yang hanya bisa dicocok hidungnya.
Manusia macam apa kau ini? Sudah berkali-kali aku katakan, jangan pernah bertindak konyol”.

Mungkin saat inilah, aku berbicara. AKu berusaha menenangkan diri, sedangkan bathin bergejolak
ingin pergi dari pantai ini. Namun, aku tidak bisa menyimpan ini terlalu larut lebih dalam.

“Bisakah kamu bertindak dan berlaku selayaknya laki-laki dewasa, Sas?” kataku mengawali
perbincangan yang mungkin akan alot. “Apakah sudah lama kau tahan itu? Menamparku dengan begitu
keras? Katakan padaku, apa yang kau dapat setelah menamparku? Apakah kamu puas? Apakah kamu
merasakan perih yang ditinggalkan oleh tanganmu sendiri? Apakah kamu menyesal setelahnya?
Apakah…..”. Belum selesai ku luapkan emosiku, Sastra menghambur pelukan erat kepadaku. Erat.
Tidak kuasa aku menahannya. Aku berusaha tenang.

Yang terdengar hanya isakan tangis penyesalan. Aku tidak bergeming saat itu. Pikiranku
menerawang jauh lurus ke titik yang paling ujung dari tempatku berdiri. Hembusan angin menerpa
kami sesekali.

“Maaf Gan, maaf gan. Aku menyesal. AKu menyesal.”. Sastra semakin erat mendekap. “Aku menyesal
tidak mendengarkan sahabatku sendiri. Aku khilaf. Maafkan aku Gan. Maafkan aku.” serunya
diiringi isakan tangis yang semakin menjadi. Baru kali ini, aku memperhatikan ia serapuh ini.
Karena yang aku tahu, Sastra adalah pribadi yang kuat.

Sepatah kata pun tidak meluncur dari mulutku. Mulutku terkunci. Aku membiarkan ia meluapkan
penyesalan yang begitu besar kepadaku. Dalam hati aku bersyukur, akhirnya Tuhan, Kau sadarkan ia
dengan begitu jelas. Aku tidak tahu,bagaimana Kau tunjukkan jalan kebenaran, namun Kau sudah
kembalikan ikatan persahabatan kami, dengan cara yang indah.

“Aku tidak percaya kau lakukan itu di depan umum, demi melindungi aku. Aku tidak pantas dapatkan
itu kemarin jika hasilnya seperti ini. Kenyataan ini terlalu pahit dari empedu. Aku tidak pantas
kau bela. Harga dirimu lebih berharga dari egoku, Gan.” Isak tangisnya sedikit mereda. Aku
berusaha melepas dekapan keras Sastra. Dadaku sedikit tertekan. Kedua bahunya ku pegang erat.

“Sas, aku sadar saat itu yang aku pikirkan perfeksionis yang kau miliki. Bahwa semuanya harus
sempurna. Apalah dayaku yang jauh dari sikapmu yang sempurna itu. Aku hanya menjalankan tugas
sebagai seorang sahabat”. Kataku membela diri. “Aku tidak ingin membuat kau dikecewakan oleh
keadaan. Namun aku keliru melakukannya. Karena secara tidak langsung, aku membiarkanmu diatas
angin. Sehingga akhirnya terjadilah seperti ini. Kau larut dan terhempas terlalu jauh.” Kataku
lagi. Sastra berusaha mendengarkan sembari menghapus sisa isakan air mata yang sempat membasahi
pipi tirusnya.

“Pengorbananmu itu terlalu Gan.”

“Maksud kamu?”

“Kau tidak sadar, kau sendiri mengorbankan persahabatan kita. Tidakkah itu terlalu berharga
buatmu hingga akhirnya kau abaikan itu? Apakah kesungguhanmu menganggapku sebagai bagian dari
keluarga hanya bersifat sementara saja?”

Aku tertegun mendengarnya. Miris. “Tentu saja sangat berharga. Kau tahu itu, Sas. Aku sudah
menganggapmu sebagai bagian dari keluargaku yang hilang. Bagian keluarga beda darah yang
diijinkan oleh-Nya untuk aku miliki.”

“Lalu kenapa kau lakukan itu Ganendra?” Tanya Sastra menggarisbawahi.

“Aku hanya ingin mempertahankan perfeksionismu…” kataku melemah.

“Dan kau menghilang begitu saja?” tanya sastra lagi. “Kau menghilang tanpa memberiku kabar
dan..”

“Kau sendiri yang bilang padaku, jangan pernah ganggu hidupku lagi” kataku memotong pembicaraan.

“Tapi, itu bukan berarti kamu dengan seenak hati mengakhiri begitu saja.” Sastra mengiba.

“Aku akui, aku hanyut dalam duniaku sendiri. Itu juga sebagai akibat perbuatan bodohmu itu.”

“Dan sampai kapan kita akan saling menyalahkan satu sama lain?” tanyaku akhirnya. “Bukankah inti
dari persahabatan itu sendiri adalah saling mengerti, memahami, mengingatkan dan memuliakan satu
sama lain?” kataku lagi. Ia terdiam. “Bukankah ada semacam perjanjian yang tidak terlihat, bahwa
bagaimana pun kondisi sahabat kita, kita tidak akan pernah melupakannya, sedikitpun tidak akan
meninggalkan dan sedapat mungkin selalu menganggapnya ada setiap jengkal umur persahabatan itu
sendiri.”

Dan kami pun larut dalam canda tawa. Kami bernostalgia. Sudah lama kami tidak bertatap muka
seperti saat ini. Ia masih seperti dulu. Namun, sangat berbeda hari ini. Tanggul egonya sudah
karam. Kami berbincang lama hingga larut menenggelamkan kebersamaan dua insan sahabat.

“Sas, mungkin memang pantai ini yang meredakan kemelut yang terjadi diantara kita. Dan jujur,
aku merasa sakit ketika lembaran tanganmu mendarat dengan indah di wajahku.”

Sastra hanya tersenyum kecut.

“Please forgive me.”pintanya

Sastra mengiba lagi. Aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Dan aku harus mengucapkan
terima kasih kepada pantai ini. Menampung dan menerima semua kondisi yang dirasakan oleh semua
orang, mereka duduk dan bercengkrama. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadamu, Wahai
Pantai Lara… Selara apapun namamu, kau tetap misteri bagiku. Kau tawarkan kepedihan usang,
namun manjakan kemuliaan. Adakah hal lain yang tidak aku dapatkan selama ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s