Secangkir teh dan telepon

Sayup-sayup kicauan burung gelatik terdengar olehku. Mataku masih enggan terbuka. Ku tarik kembali selimut tebalku. Badanku terasa ringan, usai demam kemarin. Aku ingin sekali melanjutkan tidur panjangku, namun niat malasku ini terpatahkan. Telepon genggam ku berdering.

Panggilan pertama begitu nyaring. Mungkin volume deringnya terlalu kencang. Panggilan pertama aku acuhkan. Dan terima kasih, akhirnya panggilan itu berakhir tanpa ku jawab. Ku buka mataku, dan ku lihat jendela kamarku, seberkas cahaya mentari berusaha menembus celah-celah tirai. Dan sebentar saja aku berusaha mengingat, hari ini hari apa? hmmm, ternyata jumat minggu kedua di bulan sepuluh. Ku tarik kembali selimut tebalku, merapatkan tubuhku. Mungkin inilah kenikmatan yang berujung dengan rasa malas yang tinggi, ketika kau masih terlena dengan selimutmu. Jangan pernah kau tiru kebiasaan buruk ini, kawan.

Telepon genggamku kembali berdering. Nada dering yang menjadi favoritku, berdering bertalu-talu. Sangat memekikkan telinga. Ku raih telepon genggamku. “Hallo”, jawabku sekenanya. “Belum bangun?”, sahut penelepon tadi. Sebuah sunggingan kecil mulai menghiasi wajahku pagi itu. Sebuah senyuman penuh makna, hanya aku yang tahu. “tidak juga, aku sempat terjaga. Aku kira rentenir telepon yang memanggilku pagi seperti ini”, jawabku seadanya. Ayolah kawan, hanya itu yang bisa aku katakan. Katakanlah, nyawaku belum utuh menjawab panggilan itu.

“Bagaimana semalam?”, tanya dia lagi. Senyumku mulai mengembang lebar. Permulaan yang sangat baik. Pagi hari ini, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, aku sudah tersenyum sampai dua kali. Tidak pernah ku lakukan semenjak beberapa waktu terakhir. “Semuanya baik-baik saja, terima kasih atas nasihatnya”. Percakapan itu semakin hangat saja. Mungkin kebiasaan pagi menyantap secangkir besar teh hangat, tergantikan oleh percakapan ini. Ku lirik jam kecil di meja belajarku, ah…pantas saja. Pukul 06.45. Kembali ku tenggelamkan diri dalam selimut tebalku sembari meneruskan percakapanku dengan penelepon pagi ini.

“Kamu bangun jam berapa?” tanyaku. Aku hanya berusaha memastikan saja, jangan-jangan dia menjadi alarm pribadiku, yang rutin membangunkan aku dengan telepon darinya. “Setengah jam yang lalu. Kamu masih demam?” dia bertanya kembali. “Tidak, aku sudah bermandikan keringat pagi ini, mungkin akibat obat yang ku telan semalam dan beberapa perhatian yang aku dapatkan dari kamu”, jawabku sedikit membual. Tapi harus aku akui, aku sangat terbantu dengan hal-hal ringan seperti ini dari dia. Entah kenapa, sesuatu yang kurasakan berbeda. “Sudah ku bilang kan, kamu akan sembuh. Jangan pernah bandel lagi ya?” ancam dia. Rasa takut tidak menghinggapiku, namun rasa takjub yang begitu besar muncul dalam anganku. Sial, kenapa baru sekarang kau muncul, dengan ancaman ringan seperti ini, pikirku lagi. “Kau tahu, aku sangat khawatir dengan kondisimu kemarin, kamu hanya sendiri saja disana, tidak ada mendampingi.” Lanjutnya berucap di telepon. “Kau harusnya tidak menyia-nyiakan apa yang sudah dianugrahkan Tuhan selama kau sehat dan kau mampu melakukan apa yang kau mau. Tetapi hari ini, kamu harus belajar untuk bersyukur lagi”. Aku terdiam mendengar nasihatnya, benar apa yang dia katakan. Aku harus belajar bersyukur lagi. “iya.” jawabku pelan. “Kamu pergi ke kantor hari ini?” tanyaku lagi. “hahahahaha” dia tertawa diujung sana. Memangnya ada yang salah dengan pertanyaanku ini? Menurutku, pertanyaan yang normal dan sah-sah saja aku tanyakan kepada dia, karena bagiku Hari Jumat adalah fakultatif, bisa saja di perusahaan tertentu memberlakukan hari libur. “Kamu ada-ada saja. Jelaslah, aku ke kantor hari ini? Kamu masih setengah sadar atau masih mengigau? Atau kamu masih berada dibawah efek obat semalam yang kau telan?” goda dia lagi. Ku tarik kembali selimut tebalku dan semakin erat ku rapatkan ke tubuhku. Godaan yang ringan. Sungguh mesra. Mungkin inilah yang aku rindukan selama ini, digoda pada pagi hari.

“ah, kamu bisa saja.” jawabku pelan. “Sekedar ingin tahu, kau mengenakan baju bermotif apa untuk hari jumat?”, tanyaku lagi. Aku hanya bisa bertanya dan bertanya. Sumpah, bukan karena kehabisan topik pembicaraan, namun rasa keingintahuan ku tentang apa yang dia pakai. Karena menurutku, tiap hari akan sangat berbeda dengan apa yang kau kenakan. Apa yang kau kenakan, akan mempengaruhi apa yang disebut dengan mood. “Yang pasti, aku memakai baju.” jawabnya pelan. Kembali sebuah sunggingan kecil terbit diwajahku. “iya aku tahu, mana mungkin kamu tidak memakai apa-apa, tanpa sehelai benangpun ditubuhmu. maksudku…”. Belum selesai aku bicara, dia menjawab kemudian. “Aku pakai baju kantor. Batik mungkin aku suka memakainya. Karena elegan jika aku memakainya. Namun, aku harus menuruti aturan kantorku. Aku memakai seragam dari kantorku.” jawabnya dengan lugas. “hmmm, gt ya? baguslah, jadilah pegawai yang patuh aturan ya?” jawabku dengan nada menggoda.Kali ini aku yang menggodanya, karena Kegiatan goda-menggoda ini harus seimbang dilakukan satu sama lain.

“Siap, laksanakan.” jawabnya seperti seorang inspektur upacara. “Kamu sudah minum air hangat pagi ini? Aku saranin, minum teh hangat” imbuh dia lagi. Ah, aku pikir teh hangat sudah sangat tergantikan oleh telepon pagi ini. Haruskah aku membuatnya, sedangkan aku harus meninggalkan sementara percakapan ini? Tidak. aku tidak mau melakukannya, jawabku dalam hati. Memang, teh hangat dipagi hari, dikenal ampuh untuk menyegarkan badan dan pikiran. Dan berlaku untuk penyembuhan bagi mereka yang baru saja pulih dari sakit. Paling tidak, itu yang aku tahu dari orang tuaku. Sebuah nasihat ketika aku dapatkan, sebelum merantau, melanjutkan jenjang pendidikanku.

“iya, nanti aku buat. Kamu ngantor jam berapa? Kamu sudah makan? Sudah mandi?” tanyaku bertubi-tubi. Untuk kedua kalinya aku katakan kepadamu kawan, aku tidak kehabisan topik pembicaraan. Hanya pertanyaan ini yang sering muncul untuk orang-orang kantoran seperti dia. “iya, ini juga mau mandi kok.” jawab dia pelan. Aku sedikit tersanjung dengan pernyataan darinya. Dia mungkin sengaja membangunkan aku, sembari ingin mengetahui bagaimana keadaanku sekarang. Dan dia melakukannya sebelum aktivitas mandi dilakukan. “Boleh aku temani?” Godaku lagi. “hahaha, bisa saja. silahkan. hahahaha.” Kami pun tertawa dengan celotehan ini. Menurutku ini cuman candaan belaka, tidak ada unsur apa-apa didalamnya.

“sudahlah, aku siap-siap dulu ya? Nanti aku hubungi lagi. Tenaga batre teleponku sudah melemah.” Sahut dia kemudian. Senyumku mengempis kemudian, ingin rasanya aku teruskan percakapan itu. Tapi, aku tidak boleh bersikap mementingkan egoku. Setidaknya, sapaan hangat seperti pagi ini, yang kerap aku rindukan sudah aku dapatkan lagi. Sapaan ini tidak berlaku bagi teman-temanku yang kerap menghubungiku ketika mereka dalam kondisi darurat yang membutuhkan campur tanganku. Itulah tugasku bagi teman-temanku. Guardian Angel.

“ya sudah kalau begitu. Selamat beraktivitas ya.” kataku mengakhiri telepon itu. Mataku sudah enggan terpejam lagi. Dan ku beranjak dari ranjang tidurku. Mengambil gelas kesayanganku dan mulai menyeduh teh hangat. Sebentar saja teh hangat itu siap dinikmati. Sangat nikmat memang, apalagi suguhan senampan pisang goreng, seandainya ada dihadapanku kali ini. Namun, sudah tergantikan dengan sebuah pesan singkat, yang baru saja dikirimkan oleh dia, sang penelpon. Sebuah pesan singkat yang menggambarkan ciuman dan pelukan.

Pagi nan tenang, beranda hati
14 Oktober 2011
M.A.S

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s