Pantai Lara

Sudah sepeluh menit aku menyusuri tepian pantai ini. Semakin kencang saja sang bayu berhembus. Betapa dinginnya malam itu.

Bintang-bintang tengah asyik memainkan lagu kesukaannya malam itu. Mereka berdecit dan berkejar-kejaran memainkan kemilaunya, namun tidak dapat ku dengar apa yang mereka katakan padaku. Hanya temaram cahaya-Nya yang bisa ku lihat dari bawah sini. Kelap kelip.

Langkah kakiku semakin jauh, entah kemana garis pantai ini berakhir. Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Yang aku tahu saat ini hanya menikmati malam, sama seperti malam sebelumnya. Suasana sudah sangat hening malam itu. Hanya deburan ombak yang berkejar-kejaran saja yang bisa ku dengar. Sesekali burung camar nampak terdengar dari kejauhan, namun sayup-sayup saja.

Ku hentikan langkah gontai kakiku. Ku hampiri seonggok batu karang yang begitu besar dan kokoh. Batu itu tidak begitu besar, namun terlihat teguh ditengah deburan ombak yang mencoba menumbangkannya. AKu ingin duduk diatasnya. Entah atas dasar apa, aku hanya ingin duduk diatasnya.

Ku perhatikan disekelilingku. Hanya kepekatan malam yang kulihat. Mungkin saja terjadi kerusakan pada penglihatanku. Mungkin, aku ke dokter mata saja lusa, untuk memeriksanya. Sudah lama aku merasakan sakit dikedua bola mataku. Namun sementara ini, aku hanya menahannya.Deburan ombak masih setia memainkan simfoni kesendirianku. Setidaknya, aku bisa sedikit berdamai dengan egoku.

Pantai ini selalu menjadi saksi bisu selama beberapa waktu terakhir. Namun ketidakberdayaanku semakin menjadi-jadi, melihat pantai ini tersiksa dengan kedatangan sampah-sampah dari segala penjuru arah. Adakah yang salah dengan pantai ini, hingga akhirnya pantai ini menjadi tempat pelampiasan atas sampah-sampah ini? Entahlah, aku hanya tidak berdaya dengan apa yang aku lihat dengan pantai ini. Namun pantai ini tidak bisa berbuat banyak. Dia seakan ikhlas dengan apa yang terjadi. Namun, aku tidak bisa menjelaskan kepada diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa menjadi sosok “pantai”. Pantai, suatu muara besar yang menjadi pintu masuk bagi air-air yang mengalir, yang sudah menempuh ratusan lintasan untuk mencapainya, hingga akhirnya menjadi satu dalam muara besar ini. Segala bentuk warna air yang mengarah menuju pantai, bersatu padu dalam muara. Betapa bijaknya sikap dari tempat yang bernama Pantai ini.

Aku ingin meniru sikap seperti ini. Namun apalah daya, aku hanya manusia biasa.

Kembali ku pandangi langit malam itu. Segerombolan awan hitam nampak mendekat, namun tidak mengurangi keceriaan bintang-bintang memainkan sinarnya. Sekali lagi aku memuji keagungan ciptaan Tuhan, betapa cantiknya bintang-bintang diatas. Aku ingin menikmati semarak keceriaan diatas sana lebih lama lagi. Akhirnya kuputuskan membaringkan tubuhku diatas batu karang itu.
Sang bayu tidak henti-hentinya berhembus disekelilingku, seakan memaksaku beranjak dari tempat itu. Memang, deburan ombak semakin kencang yang aku rasa. Namun, aku ingin tinggal lebih lama lagi.
Baru saja ku baringkan tubuh, tiba-tiba saja telepon genggamku berdering. AKu pikir, aku akan tidak terganggu didaerah pantai, dengan keyakinan jangkauan jaringan alat telekomunikasi pasti akan melemah atau justru akan berkurang sama sekali.

Terlihat dilayar, sebuah nomor yang tidak ku kenal, berusaha memaksaku untuk menjawab panggilannya. Sudah 3x panggilan itu aku abaikan. Entah keenggananku untuk menerimanya. Namun akhirnya, aku harus mengalah.

“ya, hallo?”

Tidak ada respon dari telepon yang ku jawab. Sial. Inikah kenikmatan yang dicari dari seorang diseberang sana yang berusaha memanggilku?

“Hallo?”kataku lagi. Dua panggilan sapaan halo, aku rasa sudah cukup terhormat bagiku untuk melakukannya. Namun Hening.

“Hallo?” kataku lagi. Ku pandangi layar telepon genggamku. Tanpa pikir panjang lagi, percakapan monolog ku akhiri sampai disitu. “Siapa itu? Sudahlah.”, keluhku dalam bathin. Ku pandangi kembali telepon genggamku. Banyak kenangan yang terjadi bersama telepon itu. Aku ingin melupakannya. Canda tangis bahagia haru masih bisa aku rasakan.

Dulu, sudah lama aku menginginkannya. Telepon genggam yang kudapatkan dari hasil jerih payah tabunganku. Dengan telepon genggam yang kumiliki, semakin membuat komunikasiku lancar dengan orang-orang yang berkepentingan. Entah itu teman, sahabat, saudara, kenalan. Atau hanya sekedar memesan makanan dimalam hari, ketika lapar dan dahaga menghampiriku. Dan berawal dari sebuah telepon genggam juga, aku mendapatkan sebuah hubungan teristimewa. Mungkin orang-orang menyebutnya sebagai pacaran. Namun aku tidak menyebutnya demikian. Sebuah hubungan istimewa lebih dari cukup bagiku, tidak kurang tidak lebih.

Hubunganku tidaklah istimewa seperti rekan-rekanku yang lain. Tidak Ada bunga, makan malam dan malam minggu. Pertengkaran mungkin menjadi sesuatu yang lumrah bagi sebuah hubungan. Aku pun mengalaminya, hanya saja tidak kami lakukan secara tatap muka. Jika orang lain bertemu secara jiwa dan raga, maka kami hanya mempertemukan jiwa melalui kata-kata dalam sebuah pesan. Selalu begitu, hari ke hari. Menurutku ini sangat aneh. Namun semakin menyenangkan. Entahlah, kesenangan apa yang kudapatkan.

Kami memang sudah cukup lama menjalaninya. Kepercayaan yang menjadi pondasi dasar dan utama bagi sebuah hubungan, kami pertaruhkan. Aku pernah mendengarkan sebuah bualan yang tidak bisa aku abaikan. “Kalian memang berjauhan, namun apakah kalian sanggup dengan hubungan lintas jarak ini? Apakah kau sangat mempercayainya? APa yang dia lakukan disana sesuai dengan apa yang dikatakannya di sms? Mungkin saja dia berbohong bukan?” Bualan ini sebenarnya sangat menyebalkan bagiku. Toh yang menjalani, adalah kami berdua. Kenapa bualan ini hadir mematahkan semangat kami dalam membina hubungan yang tidak biasa ini? Bualan ini muncul dari mulut seorang kawan, yang dapat aku katakan disini, dia tidak merelakan keadaanku yang kesepian dikala semua insan memadu kasih dengan pasangannya. Aku menghargai kecemasan itu, namun aku belum cukup alasan untuk menerimanya. Dan bualan itu, berlalu begitu saja, namun mengendap dalam benakku. Kemungkinan itu selalu ada.

Pikiranku masih terbawa jauh dalam arus kenangan lama. Pandanganku masih terpaku menatap langit. Sang bintang masih setia bermain tanpa mengenal lelah. Sang bayu pun tak henti-hentinya membujukku untuk beranjak dari tempatku berbaring. Aku acuhkan kembali.

Ku perhatikan dengan dalam kenangan yang terjadi bersama telepon genggam itu. Ternyata, apa yang aku jalani selama ini memang sia-sia saja, gumamku dalam hati. Kepercayaan yang telah kubangun dan keserahkan, hancur tidak berwujud hanya dalam beberapa detik saja. Aku masih terngiang-ngiang kejadian itu. Aku tidak bisa melupakannya. Aku juga berhak seperti yang lain Tuhan. AKu hanya ingin merasakan kebahagiaan seperti yang orang lain dapatkan. Ataukah aku belum pantas untuk mendapatkan secangkir saja teh kebahagiaan itu? Kenapa Kau begitu padaku Tuhan? Kenapa kau hadirkan kepahitan rasa dalam teh itu? Apakah aku pantas merasakannya? tanyaku dalam hati. AKu tidak marah kepada-Nya. Hanya saja itu sebuah perasaan dari ego yang tidak terbendung, yang tidak dapat aku kendalikan. Namun aku sangat beruntung, aku tidak mengucapkannya.

Aku mencoba mencari pesan gambar yang kuterima sudah lama. Sampai sekarang, aku masih menyimpannya. Berharap pesan itu adalah bohong, namun kenyataan tidak bisa kuubah. Pesan gambar itu memang nyata, tanpa rekayasa. Aku pun sudah memeriksanya. Pesan gambar itu aku terima dari sahabatku yang secara kebetulan satu rekan kerja dengan orang yang kujalin hatinya itu. Aku tidak tahu, motif apa sahabatku mengirimkan pesan gambar itu. Lama aku menyadarinya. Awalnya, aku pikir, dia melakukannya karena dia cemburu. Namun itu tidak mungkin, dia sendiri sudah memiliki seseorang yang sudah dicintainya, bahkan sebuah rencana yang lebih besar dan sakral sudah dicanangkan oleh mereka berdua. Pikiranku buntu. Pada akhirnya, aku sadar. Sahabatku sayang kepadaku dan mencoba membuka mata dan hatiku, sebuah kenyataan yang harus aku lihat dengan mata kepala sendiri.

Ku pandangi kembali pesan gambar itu. Dalam gambar itu, nampak seorang yang sangat aku kenal bersama pribadi yang lain. Mereka nampak begitu bahagia. Senyum ketir kembali terbit diwajahku. Entah untuk keberapa kalinya. Mereka bercumbu mesra diatas ranjang, yang menjadi pilihanku ketika aku menghadiahkan khusus untuknya.

Tidak terasa, setitik demi setitik air mata berjatuhan dipipiku. Aku juga manusia. Kadang ketegaranku ada batasnya.

Dulu kami sangat berpegang teguh atas hubungan ini, dan menjanjikan atas segala akibat yang timbul dari hubungan ini. Bahkan, harga diriku sebagai seorang yang dikenal sebagai pribadi yang rapuh kembali ku pertaruhkan. Karena aku pikir, aku akan memberikan kesempatan kepada diriku sendiri untuk menikmati manisnya madu cinta yang sudah lama tidak ku nikmati. Namun aku keliru. Aku menampuh jalan yang salah. AKu tidak layak mendapatkan perlakuan seperti ini atas egoku sendiri. Begitu pun dengan dirinya. Ia berjanji, dia akan memegang teguh janji putih yang kami ucapkan sebelumnya. Sesekali kami bertemu, jiwa dan raga kami bersatu, dalam sebuah pertemuan singkat kami.

Aku masih ingat malam itu, ketika kami hanya duduk berdua pada sebuah kafe ternama dikotaku. Sebuah makan malam, dalam rangka merayakan hari jadiku. Dan ia datang jauh dari kota seberang, hanya untuk membuktikan betapa berartinya aku bagi hidupnya. Dan aku terkesan. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan sedikitpun. Kebahagianku bukan hanya malam menjadi hari jadiku. Namun berlanjut hari kedua. Kami memutuskan menghabiskan waktu ke sebuah tempat yang tidak kalah romantisnya, disebuah desa yang menyajikan panorama alami nan segar. Hari ketiga, kami berbelanja di sebuah pasar seni, hari keempat, kami memutuskan untuk berdiam diri dirumah, berbincang satu dengan yang lain. Hingga akhirnya, hari kelima, aku mengantarkannya ke bandara. Aku tidak rela melihat kepergiannya kala itu, dari sudut jendela, ia melambaikan tangannya. Kenangan demi kenangan berputar begitu saja diotakku. Tentang bagaimana dia mendengkur. Bagaimana rambut dia berantakan di pagi hari. Bagaimana kami bertengkar ringan. Begitu seterusnya.

Dan aku tersadar kembali. Aku terjaga dalam lamunanku. Ku buka kelopak mataku. Sudah berapa lama aku tertidur di sini, pikirku. Ku perhatikan arlojiku. Hampir jam 6 pagi. Sedikitpun aku tidak merasakan kedinginan akibat hembusan sang bayu. Ternyata, bermalam beralaskan batu karang, berselimut angin pantai dan beratapkan langit penuh dengan bintang-bintang.

Segera saja aku bangkit, dan telepon genggam yang sudah lama ku genggam, ku lemparkan arah laut. Dengan tenaga penuh ku lemparkan, tanpa pikir panjang lagi. Dan langsung saja, telepon genggam yang ku lempar, langsung larut dalam deburan ombak. Aku hanya memandanginya. “Sudah saatnya aku bangkit, itu sudah berlalu. AKu harus memulai dari awal lagi.”, kataku dalam hati.

Ku pandangi kembali disekitarku, nampak para nelayan sudah datang dari melaut, dan mulai merapatkan perahu-perahu mereka ke bibir pantai. Beberapa diantara mereka, nampak tersenyum kepadaku. Aku membalas senyum ke arah mereka.

Kuhirup udara pagi ini. Begitu segar, sangat menyegarkan. “Terima kasih atas keteduhan yang kurasakan tadi malam, sekarang aku harus melanjutkan hidup”, kataku pelan. Ucapan terima kasih ini aku tujukan kepada batu karang, pantai, bintang-bintang, ombak dan teruntuk semua yang membuatku bermalam di pantai itu.

Dan langsung saja aku meninggalkan batu karang itu, menuju arah kendaraanku yang masih berdiri mematung ditempatnya. Dan tidak mungkin, pemandangan pagi ini aku lewatkan begitu saja. matahari terbit. Begitu indahnya. Sebuah isyarat kepadaku, untuk melanjutkan hidup. Apapun yang terjadi, matahari akan terus terbit di arah Timur dan tenggelam di ufuk Barat. Akan selalu seperti itu. Matahari akan menawarkan keteduhan disaat ia terbit, penyiksaan terik dikala siang hari dan kesejukan di senja hari.Karena begitulah hidup, manis dan pahit bersatu padu dalam cangkir kehidupan.
by
D.A.S

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s